Sephia

Sephia
Aku kangen kamu


__ADS_3

Sephia menghentikan aktivitas mereka, ia tertunduk malu saat silahturahmi bibir itu kembali terjadi. Masih berdiri kaku di hadapan Danar. Danar membelai rambutnya lembut. Mengecup kening gadis itu.


"Aku kangen kamu, Phia."


Sephia menatap mata lelaki itu, mata itu begitu sendu, senyumnya yang selalu membuat jantung Sephia berdebar setiap kali melihatnya kini hadir kembali.


"Aku mau mandi," ujarnya berusaha melepaskan tangan Danar dari pinggangnya.


"Jawab aku ... kamu kangen aku?" Danar semakin mengeratkan kedua tangannya di pinggang Sephia.


"Kamu gak pulang?" Sephia mengalihkan pembicaraan.


"Jawab dulu," Danar memaksa. "Kalo kamu gak jawab aku gak pulang."


"Aku mau mandi," akhirnya Danar melepaskan pelukannya.


"Kamu gak jawab, aku gak pulang," gumam lelaki itu dan tersenyum. "Yes!" hatinya bersorak.


Keluar dari kamar mandi, Sephia mendapati lelaki itu sudah tertidur. Masih mengenakan kemeja dan celana panjang yang ia kenakan saat tiba di Jakarta.


Sephia ikut merebahkan tubuhnya di sisi Danar, dia pandangi lelaki itu. Rasa ini masih sama, sayang bahkan cinta ini tak berubah. Ingin rasanya Sephia "jual mahal" tapi tetap hati itu tidak bisa berbohong.


Sesering apapun kita mengatakan aku benci kamu, aku gak suka sama kamu tapi jika rasa itu masih ada semua mengalir begitu saja. Begitupun yang terjadi tadi, jujur dia merindukan semua tentang Danar, ciumannya, sentuhannya, perhatiannya bahkan sikapnya yang selalu memaksa pun Sephia suka.


Entah akan dibawa kemana hubungan ini, tapi satu yang pasti Sephia bahagia Danar datang kembali padanya. Karena sejauh apapun kita pergi, jika cinta pasti tetap mengikuti.


Sephia memejamkan matanya perlahan, menyelimuti tubuh mereka. Harum tubuh Danar dia hirup lama-lama, Sephia takut keesokan paginya ini hanya mimpi. Senyum pun terukir di sudut bibirnya, Sephia tidur dengan membelakangi lelaki itu.


Danar membuka matanya perlahan, sinar matahari pagi masuk melewati celah tirai berwarna abu-abu. Suara riuh di luar sana pun terdengar, aktivitas pemilik kamar kost saling bergantian berceloteh. Danar mendapati gadis itu meringkuk menghadapnya.


Helai-helai rambut yang menutupi wajah Sephia, ia singkirkan perlahan. Gadis itu menggeliat, namun masih memejamkan mata. Danar tatap lama wajahnya, seakan dalam mimpi. Danar tak pernah menyangka akan mendapatkannya lagi, Danar juga tak pernah menyangka bahwa semesta begitu baik padanya setelah apa yang dia lalui selama ini.


Ciuman tadi malam, membuktikannya bahwa perasaan Sephia masih sama seperti dulu, Danar yakin itu. Menatap Sephia tidur bahkan dengan mulut yang sedikit menganga pun masih terlihat cantik bagi Danar.


Sephia kembali mengeratkan selimutnya, ia kembali meringkuk, membenamkan wajahnya pada dada Danar yang tidur menyamping menghadapnya. Danar biarkan itu, bahkan tangan Danar sudah ikut melingkar di pinggang Sephia. Danar kembali memejamkan matanya, kembali lagi ikut terhanyut pada buaian kenyataan yang bagaikan mimpi ini.


Pukul setengah sembilan pagi, Sephia membuka matanya. Dia kira ini mimpi, sudut bibirnya mengembang. Ini bukan mimpi, ini kenyataan, benar Danar yang ada di sisinya saat ini. Menatap setiap inci wajah laki-laki itu, bahkan sekarang pun dia bisa memeluknya.


"Kayak mimpi ya?" Danar berbicara masih dengan memejamkan matanya.


Wajah Sephia merona, entah sejak kapan lelaki itu terbangun. Malu rasanya ketika dia ketahuan sedang memperhatikan Danar dalam tidur.


"Pasti kangen kan?" kali ini matanya terbuka.


"Kangen gak? peluk aja kalo mau tau ini mimpi apa bukan." Danar menggoda. "Apa perlu aku cium lagi, buat ngeyakinin kamu kalo ini nyata."


Sephia hanya terdiam, menatap netra itu lama.


"Mau aku cium lagi?"


Sephia menggeleng, sumpah demi apapun pasti wajahnya saat ini merah seperti memakai blush-on. Danar membelai pipi itu lembut, tangannya menyusuri leher Sephia. Gadis itu memejamkan matanya menikmati setiap sentuhan Danar.


"Astaga ...." Sephia terkejut, hari ini jadwalnya membangunkan Kalla karena Kalla akan berangkat ke Lombok siang ini.


"Kenapa?" Danar ikut terkejut.


"Aku baru ingat, aku harus bangunin Kalla, dia pasti kesiangan ... dia harus ke Lombok siang ini, pesawat jam 12."


"Ya ampun," Danar menepuk keningnya. "Sampe bangunin dia pun harus kamu?" Sephia mengangguk lalu duduk dan meraih ponselnya.

__ADS_1


"Ini hari libur, Phi ... Kalla punya Nami, Nami pasti mengingatkan semua hal jika Kalla lupa."


"Masalahnya Nami, pagi ini ada operasi persalinan."


"Kamu nge handle jadwal dua orang sekaligus?"


"Ini bentuk balas budi aku sama mereka." Sephia mendekatkan jari telunjuknya pada bibir Danar agar diam.


"Kal, udah bangun?"


"Udah ... lagi siap-siap ke Bandara,"


"Ah, syukurlah ... aku takut kamu lupa."


"Gak, tadi sebelum Nami pergi semua alarm di hidupkan sama dia," kekeh Kalla. "Danar di kost kamu?"


"Hah?"


"Biasa aja gak usah hah gitu, enjoy your time ya ... selesai kan sampe ke akar-akarnya."


Sephia tertawa, dan itu jelas Danar lihat. Ada rasa cemburu pada sahabatnya itu.


"Kayak pohon, ada akarnya ... hati-hati ya." Sephia mengakhiri percakapannya.


"Kamu dekat banget sama Kalla," Danar masih berbaring di tempat tidur.


"Iya, mereka baik."


"Kamu gak bosen jadi obat nyamuk mereka?" Danar meraih tangan Sephia.


"Gak, lagian gak tiap hari bareng mereka, aku buatin kamu sarapan."


"Ikut ke Bali sama aku, kita tinggal di sana lagi, kamu bisa kerja lagi di kantor, mau?"


Deg


"Aku gak bisa ...." Sephia menarik dirinya.


"Kenapa?"


"Aku belum bisa."


"Kamu belum yakin sama aku? atau kamu masih ragu sama perasaan kamu buat aku? atau kamu gak mau ninggalin Kalla dan semua perhatian dia?"


"Apa sih." Sephia mengerutkan alisnya. "Kenapa Kalla di bawa-bawa."


"Karena kamu suka semua perhatian yang dia kasih buat kamu."


"Ya memang karena dia baik, dia yang selalu ada buat aku sama Nami."


"Dan kamu selalu ada buat dia kalo Nami sibuk, ya kan?"


Benar yang dikatakan oleh Danar, Kalla selalu bersamanya jika Nami sibuk, tapi bukan berarti ada perasaan lain di hatinya. Bahkan Nami menaruh kepercayaan pada Sephia atas Kalla.


"Kamu gak jelas," sungut Sephia beranjak dari tempat tidur.


"Jadi kasih alasan ke aku, kenapa kamu gak mau ikut aku ke Bali." Danar ikut beringsut dari tempat tidur.


"Ya karena aku belum siap Danar, gak secepat itu juga ... aku juga belum tentu bisa ninggalin ibu dan bapak, sementara Fadil juga jauh dari mereka," ujar Sephia.

__ADS_1


Sephia benar, tidak secepat itu ... sedangkan hubungan mereka baru saja akan di mulai. Danar harus bersabar lebih lama lagi, mungkin hubungan jarak jauh lebih baik di banding tidak sama sekali.


Danar meraih lengan Sephia untuk merapatkan dirinya pada Danar.


"Berarti kita jauhan?" tanya Danar.


"Jauhan?"


"Iya, aku di Bali kamu di Jakarta ... mana aku tahan Phi," Danar mulia mendaratkan ciumannya pada leher Sephia.


Sephia ingin tertawa rasanya, hubungannya baru saja dimulai lelaki ini sudah seperti keong siput yang menempel padanya.


"Kamu bisa pulang kesini atau aku kesana," ujar Sephia.


"Bener?" tanya Danar


"Sebulan dua kali?" tanya Danar lagi


"Apanya?"


"Saling berkunjung, aku gak mau sebulan sekali ... lama!"


"Uang tabungan aku habis kalo sebulan dua kali," ujar Sephia menangkup kedua pipi Danar.


"Aku yang kesini."


"Tapi aku juga mau ke Bali, aku kangen sama Bali," kata Sephia yang sudah membayangkan pantai-pantai eksotis itu.


"Kita bertukar, kadang kamu ke Bali kadang aku yang kesini, uang tabungan kamu simpen buat bekal nikah." Danar terkekeh.


"Bekal nikah? kok pake uang tabungan aku?"


"Karena uang tabungan aku buat ongkos pesawat bolak balik sampe kita nikah nanti." Keduanya pun tertawa, Danar mengecup bibir itu.


"Aku belum mandi," ujar Sephia.


"Mandi gak mandi, rasanya masih sama," Danar kembali menautkan bibir mereka.


Sephia melepaskan ciumannya,


"Kita belum sarapan," ujarnya.


"Aku sarapan kamu aja," Danar kembali mencium bibir itu dengan lembutnya lalu berubah menjadi liar dan memburu.


Dia hempaskan kembali tubuh Sephia di tempat tidur. Ciuman itu semakin menuntut, Danar menyusuri leher gadis itu, tangannya sudah mulai turun di antara leher dan dada. Lutut Sephia menekuk, daster berbahan katun itu pun sudah terangkat di atas pahanya.


Suguhan seperti ini sungguh membuat Danar, semakin ingin menghabiskan waktunya hanya didalam kamar berdua saja dengan gadis itu.


"Aku kangen kamu, Phia," ujar Danar menatap Sephia dengan mata yang sendu, sementara tangannya sudah menelusup masuk melalui daster yang tersingkap itu.


Sephia menatap mata lelaki itu, sentuhan ini memabukkan untuknya, sentuhan yang bahkan begitu ingin dia rasakan selama ini.


"Aku juga kangen sama kamu, Sayang."


***bubar bubaaarrr... 😝


enjoy reading 😘


Chida boleh minta like, komen, bunga dan kopi gaaaaak???? 😂***

__ADS_1


__ADS_2