
Siang itu pasangan suami istri yang sedang berbahagia ini sudah berada duduk di depan ruang praktek dokter kandungan. Jemari yang saling bertaut, dengan kepala Sephia yang bersandar di pundak Danar.
"Kok aku bisa gak sadar ya kalo hamil," kata Sephia yang baru sadar jika bulan ini dia belum mendapatkan halangan.
"Pengen terus sih, jadinya lupa." Danar terkekeh.
"Haid aku itu kadang maju seminggu kadang mundur seminggu, aku kira itu biasa ini sudah seminggu lebih dikit sih sebenernya."
"Udah gak usah diinget inget yang penting anak aku ada di sini," ujar Danar meraba perut Sephia.
Mereka beranjak ketika nama Sephia di panggil, memasuki ruang praktek dokter lalu melakukan beberapa tahap pemeriksaan. Menurut dokter kandungan, usia kehamilan Sephia berumur enam minggu, masih sebesar biji kacang hijau katanya. Pasangan suami istri itu terlihat bahagia ketika melihat hasil USG anak mereka.
"Sindrom Couvade atau sering disebut kehamilan simpatik, ini terjadi pada pria yang mengalami gejala-gejala yang dirasakan oleh ibu hamil, seperti mual-mual, pusing, hingga sakit punggung. Sama seperti yang Pak Danar rasakan," ujar dokter wanita yang sudah berumur sekitar 45 tahun itu.
"Berapa lama Dok?" tanya Danar.
"Tergantung, tapi biasanya akan hilang dengan sendirinya ... saran saya jangan terlalu di rasa, buat untuk aktivitas saja."
Danar mengangguk angguk, benar kata dokter itu jangan di rasa, jika terlalu di rasa semua aktivitas yang harus dia kerjakan di kantor akan kacau.
"Untuk Ibu Sephia sendiri, karena ini kehamilan masih sangat rentan saya sarankan jangan terlalu capai," ujar sang dokter.
...----------------...
Hari beranjak sore ketika mereka keluar dari salah satu rumah ternama di Denpasar. Raut wajah bahagia menyelimuti dua insan ini. Danar tak sedikitpun melepaskannya gengaman tangannya dari Sephia.
"Mau mampir kemana?" tanya Danar saat mereka sudah berada di mobil.
"Mall ... Discovery Mall, mau? aku mau duduk di taman sambil liat sunset di sana."
Ya, rasanya sudah lama sekali Sephia tak melakukan rutinitas itu selama kembali ke Bali. Duduk di sebuah taman Mall yang menghadap langsung ke pantai Kuta, biasanya dia dan Ni Luh saling bercerita di temani secangkir kopi dari salah satu brand ternama dan membeli beberapa potong BreadTalk sebagai cemilan mereka.
Dan sore ini, Sephia ingin melakukannya bersama Danar. Duduk di salah satu kursi taman, bercerita tentang apa saja termasuk calon bayi mereka.
"Usianya baru enam minggu," kata Sephia, "itu berarti hanya selisih dua minggu dari kehamilan Nami ya, Sayang."
Danar menyeruput kopi nya lalu mengangguk.
"Kita kenapa gak duduk di salah satu coffee shop itu." Tunjuk Danar.
"Lebih enak di sini, mau berlama-lama gak ada yang suruh pulang." Sephia tertawa. "Aku sering banget dulu kesini sama divisi keuangan, cuma pengen liat sunset sambil ngobrolin apa aja, termasuk ngomongin kamu."
"Ngomongin aku?"
"Iya, bos yang sok cool, tukang maksa," ujar Sephia mencium pipi suaminya.
"Tapi cinta ... iya gak?"
__ADS_1
"Terpaksa ...."
"Kok terpaksa?"
"Di pepet terus soalnya kayak angkot," kekeh Sephia.
"Cintanya aku itu kamu," ujar Danar merapikan rambut Sephia yang tertiup angin.
"Aku percaya kok."
"Harus percayalah," ujar Danar. "Perjuangan aku ngedapetin kamu itu gak mudah, nyari kamu berbulan-bulan eh pas udah ketemu, aku harus bersaing sama sahabat aku, untung dia sadar," ujar Danar tersenyum tipis.
"Gak usah di bahas deh."
"Sini," ujar Danar meraih lengan Sephia untuk mendekat. "Kita jaga ini baik-baik ya." Danar membelai perut Sephia.
Sephia bersandar pada pundak suaminya.
"Kamu mau cewek apa cowok?"
"Apa aja yang penting sehat, kamu sehat anak aku sehat ... itu sudah cukup buat aku."
"Danar ...."
"Iya."
"Yang mana?"
"Jika suatu saat kamu merasa aku menjauh dari kamu, maka tarik hati aku kembali buat kamu ... begitupun sebaliknya, masih ingat?"
"Tentu aku ingat ... kok bilang gitu?"
"Hubungan berumah tangga gak melulu mengenai ****, Sayang ... apalagi sebentar lagi kita akan punya anak, bisa saja sewaktu-waktu kesibukan kamu membuat kita bosan satu sama lain, jadi tolong ingatkan aku jika itu terjadi, tarik kembali hati aku buat kamu." Sephia menatap netra itu lama.
"I will." Danar menangkup kedua pipi Sephia memberikannya kecupan sekilas. "Aku pasti tarik hati kamu kembali buat aku, begitu juga sama kamu ... kita sama-sama saling mengingatkan."
"Ya ampun."
"Apa?" Danar terkejut.
"Kita lupa ngabarin mama sama ibu."
...----------------...
Dua minggu berjalan sudah, Danar masih dengan keluhannya dan permintaan ingin ini dan itu. Berbanding terbalik dengan Sephia yang terlihat santai dengan kehamilannya.
"Sayang, jadi pulang gak?"
__ADS_1
"Ayo ... tapi tunggu sebentar." Danar kembali sibuk mengirim beberapa email lalu menyadari Sephia begitu terlihat pucat sore itu.
"Udah ... ayo kita pulang." Ajak Danar. "Sayang, kamu pucat loh, kenapa?"
"Gak tau, aku ngerasa gak enak perutnya," jawab Sephia seperti menahan sesuatu.
"Kram?"
"Gak tau."
"Periksa ke dokter ya," ujar Danar lalu duduk di samping istrinya.
"Jadwalnya dua minggu lagi."
"Ya gak papa, kita periksa sekarang aku takut kamu dan anak kita kenapa-kenapa." Danar terlihat khawatir.
"Aku mungkin kecapean kali ya, kerjaan lagi banyak-banyaknya."
"Kan aku udah bilang sama kamu, biar aku yang kerjain masih ada Made juga, kamu cukup mengerjakan hal-hal kecil."
"Tapi kan itu tugas aku, masa mau aku serahin ke Made dia punya kerjaan yang lain."
"Stop! aku gak mau berdebat, kita ke dokter sekarang aku gak mau terjadi apa-apa." Danar menatap Sephia dingin.
Beberapa hari belakangan ini memang pekerjaan Danar sedang banyak-banyaknya. Sephia berniat mengurangi beban suaminya tetapi dia sendiri lalai akan kesehatannya dan bayi di dalam kandungan.
Pasangan suami istri itu berjalan berdampingan, memasuki lift dan keluar ketika pintu lift itu terbuka. Dengan santainya Sephia berjalan tanpa melihat tanda peringatan saat lantai itu sedang dibersihkan.
Hampir saja Sephia terpeleset jika tangan Danar tak menahannya.
"Phia!" Suara Danar begitu lantang terdengar.
Beberapa orang yang berada di sana melihat ke arah mereka. Lelaki itu terlihat begitu marah, Sephia benar-benar tak melihat sekelilingnya, bahkan lantai yang licin hampir saja membahayakan dia dan janinnya.
"Maaf, aku bener-bener gak liat." Sephia menggenggam erat tangan Danar.
"Kamu tau gak bahayanya kayak apa kalo tadi sampe kejadian kamu kepeleset di situ," kata Danar saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Aku tau, aku sudah minta maaf, kan."
"Tapi tetep aja itu bahaya, Phi. Tolong pikirkan janin yang ada di kandungan kamu, kita udah janji bakal jaga dia baik-baik, tapi kamu ...."
Ucapan Danar terhenti ketika ia melihat Sephia meringis kesakitan memegang perutnya.
"Sayang ... Phia, kamu kenapa?"
***enjoy reading 😘
__ADS_1
jangan lupa ritualnya ya***...