Sephia

Sephia
Makan malam


__ADS_3

"Cantiknya ... Jadi ini yang namanya Sephia?" tanya Mama Diana pada Danar diikuti raut wajah Wulan yang berubah dari tersenyum dan terlihat bingung.


"Sephia?" Matanya menuntut penjelasan dari Danar.


"Ini Wulan Ma," ujar Danar.


"Eh Wulan ya? oh mungkin Mama salah denger siang tadi ... maaf ya." Mama Diana mencoba mencairkan suasana. "Mama tinggal dulu ya."


"Saya bantu Tante," ujar Wulan.


"Gak usah kalian di sini aja, Mama gak buat apa-apa kok, lagian ada mbak yang bantu di belakang, udah ngobrol aja." Wanita itu lalu berlalu ke dalam meninggalkan Danar dan Wulan.


Danar yang sedari tadi sudah duduk di sofa, masih fokus dengan chat yang dikirimkan oleh Made.


"Kampung Cibinong RT 03 RW 02 Desa Ciapus Kecamatan Ciomas."


"Astaga ... ini nama jalannya mana?" balas Danar.


"Cuma itu yang tertera," balas Made lagi.


"Shit!" gumam Danar kesal.


"Kamu kenapa sih?" tanya Wulan yang dari tadi juga kesal karena kelakuan Danar yang benar-benar dingin padanya.


Danar hanya diam tak juga dia tanggapi.


"Danar!" Wulan melempar bantal sofa padanya.


"Apa sih!" Danar menatap tajam pada Wulan.


"Kamu gak nganggep aku ada di sini!" Wulan marah.


"Apa selama kita menjalin hubungan kamu pernah nganggep aku ada?" Danar menjawab sama emosinya.


"Siapa Sephia?" tanya Wulan berapi-api.


"Bukan urusan kamu!"


"Urusan aku! kamu calon suami aku!"


"Jangan mimpi kamu!"


Danar bangkit meninggalkan Wulan terdiam di sana, menghempaskan tubuhnya pada sofa. Sedangkan Mama Diana mendengarkan pertengkarannya mereka dari dalam dapur.


...----------------...

__ADS_1


Hampir setengah jam lebih, Danar meninggalkan Wulan di ruangan tengah seorang diri. Akhirnya dia memutuskan untuk turun ke bawah meski enggan.


Di sana sudah didapatinya Wulan dan kedua orangtuanya sedang bercengkrama bercerita, entah apa yang diceritakan oleh Wulan pada kedua orangtuanya, yang terlihat oleh Danar adalah mereka tertawa bersama. Sungguh Danar tidak menyukai itu.


"Kita makan yuk, nungguin Mas mu sepertinya masih lama," ujar Mama Diana.


Danar membantu Pak Hermawan untuk berjalan menuju ruang makan. Sudah tersaji berbagai menu di meja itu, padahal siang tadi Danar hanya mengatakan pada Mama Diana kalau dia akan mengenalkan seseorang pada mereka, tidak perlu memasak bermacam-macam hidangan. Hanya pertemuan biasa saja, sayangnya Mama Diana menangkap maksud Danar adalah mengenalkan wanita spesial di hidup anak tiri kesayangannya itu, yang bernama Sephia, yang Mama Diana dengar saat Danar sedang melakukan hubungan telpon.


"Wulan, ayo di coba, semua Tante yang bikin," ujarnya.


"Mama tuh seneng di rumah, bikin apa aja buat anak-anaknya, jadi anak-anaknya terbiasa di rumah dan terbiasa makan masakan rumah, ya kan Ma," ujar Danar sedikit menyinggung Wulan.


"Sebisa mungkin kita tuh jadi istri harus bisa dan selalu ada untuk anak-anak dan suami ... terkadang, kita sudah memberikan sesuatu yang terbaik saja masih bisa kecolongan dalam mempertahankan rumah tangga, jadi lakukan yang terbaik jika suatu saat kalian berumah tangga," ujar Mama Diana yang memang memberikan petuah itu berdasarkan pengalaman hidupnya.


"Singkirkan keegoisan, harus bisa ikhlas dan menerima satu sama lain, harus bisa memaafkan bukan memanfaatkan," kata Mama Diana lagi.


Seperti sebuah sarkasme bagi Wulan perkataan itu langsung tepat pada sasarannya. Wulan hanya bisa menunduk dan berpura-pura menikmati makanan yang ia santap.


"Mama itu di rumah ini seperti bidadari tanpa sayap," ujar Danar memberikan senyumannya pada Mama Diana dan menoleh kepada Pak Hermawan.


"Kadang aku sampai tidak habis pikir, terbuat dari apa hatinya, bisa tulus menyayangi kami," ucap Danar dengan kesungguhan.


"Kamu lebay," Mama Diana terkekeh.


"Ih, aku mah serius Ma ... mau cari yang kayak Mama," ujar Danar melirik Wulan.


Makan malam yang dipenuhi dengan obrolan santai namun kadang tersentil oleh sedikit sindiran dari Danar, agar Wulan merasa sadar diri itu pun tak ayal dari tatapan tajam Mama Diana pada Danar yang seakan memperingati anaknya untuk berkata lebih sopan.


"Itu Mas mu baru datang, kerja saja yang ada dipikirannya, sampai acara kumpul keluarga seperti ini kadang terlewatkan," dengus sang Mama kesal.


"Biarkan saja, memang watak dia seperti itu, salah satu cara dia mengisi kesendiriannya," ujar Pak Hermawan yang sedari tadi hanya menikmati obrolan anak istrinya.


Suara langkah kaki itu mendekat, memasuki ruang makan, hingga sosok yang dibicarakan pun akhirnya menampakkan diri.


"Malam semuanya," ujar Agung yang terkejut mendapati Wulan kekasihnya berada duduk berdampingan dengan Danar adiknya.


...----------------...


Wulan terkejut ketika dia mendengar suara yang sangat dia hapal selama hampir satu tahun ini. Sosok yang menyebalkan, lelaki yang dulu sempat berlabuh dihatinya namun ketika dia sadar ternyata cinta itu semakin tumbuh lelaki itu pergi tanpa kabar. Lalu kembali lagi setahun belakangan ini dengan menawarkan sebentuk perasaan yang dulu pernah ada di hati Wulan.


Iya, Agung adalah teman tapi mesra Wulan saat mereka satu tempat kuliah saat menyelesaikan kuliah di Inggris. Pertemanan yang dilandasi tanpa status namun akhirnya menumbuhkan benih rasa di dalam hati. Ketika itu mulai bersemi, Agung meninggalkannya tanpa alasan.


Hingga satu tahun belakangan mereka bertemu di Belgia, saat Wulan sedang menghadiri fashion week disana. Dan semuanya dimulai lagi sejak saat itu.


"Lembur terus Mas," ujar Danar membuyarkan pandangan Agung pada Wulan.

__ADS_1


"Hah?"


"Lo lembur terus, sekali-kali nikmati hidup," kata Danar lagi.


"Kamu udah makan?" tanya Mama Diana.


Mata Agung masih tertuju pada wanita yang menunduk dihadapannya. Menatapnya tajam seakan menuntut penjelasan dari wanita itu.


"Agung, kamu udah makan?"


"Ah, iya Ma ... udah tadi di kantor," jawabnya singkat.


"Mama ambilin jus ya ... tadi Mama buatin kamu jus strawberry."


"Gimana kantor Mas?"


"Panas!"


"Panas?"


"Maksud gue, hari ini panas ... di kantor biasa aja."


"Lo kapan balik ke Bali?"


"Segera Mas, cuma ada yang mau gue selesaikan dulu di sini," Danar masih asik mengupas buah jeruknya."Oh iya, kenalin ini Wulan Mas."


"Pacar?" tanya Agung dan Wulan mengangkat wajahnya.


Danar hanya tersenyum, namun tak menjawab.


"Aku permisi sebentar, toilet di sebelah mana?" tanya Wulan.


"Naik ke atas aja, pake toilet di atas ... setelah tangga kamu ke kanan," jelas Danar.


Wulan percepat langkahnya menaiki anak tangga itu, tanpa menoleh ke belakang.


"Papa, mau aku kupasin jeruk? atau apel?" tanya Danar.


"Apel aja."


"Aku permisi ke atas dulu, gerah," ujar Agung meninggalkan adik dan kedua orangtuanya lalu berlari kecil menaiki anak tangga.


"Ngapain kamu di sini?" tanya Agung yang sudah menunggu Wulan keluar dari kamar mandi dengan wajah yang semakin pucat.


***enjoy reading 😘

__ADS_1


jangan lupa bantu Chida untuk memperbanyak like dan komen yaaaah😘😘😘***


__ADS_2