
Sephia masih diam terpaku, berdiri di ambang pintu kaca dengan tangan terlipat di depan dada. Sementara Danar bersandar pada pagar pembatas balkon.
"Apa kabar?" Danar memecah keheningan.
"Baik, kamu?"
"Gak baik."
Sephia mengangguk.
"Kemana aja?" tanya Danar lagi lalu menghembuskan asap rokoknya ke langit malam.
"Hah?" Sephia mengangkat wajahnya.
"Kemana aja kamu, Phi?"
"Ada ... aku gak kemana-mana." Sephia kembali menatap ke depan. Cahaya lampu di gedung- gedung pencakar langit mewarnai malam itu.
Danar melangkah mendekat, sebelumnya dia mematikan rokoknya.
"Aku cari kamu selama ini, tapi kamu seperti hilang di telan bumi." Danar sudah berdiri di hadapan Sephia.
"Jangan pernah mencari sesuatu yang gak pasti, karena cuma wasting time," kata Sephia dan dia memberanikan diri menatap mata yang selama ini dia rindukan.
"Aku ngerasa gak wasting time, kalo yang aku cari memang benar-benar berharga," jawab Danar.
"Selamat atas pernikahan kamu," ucap Sephia sedikit tercekat, "sudah mau jadi bapak kan?" Sephia tersenyum.
"Iya, bapak dari anak-anak aku sama kamu."
"Mimpinya jangan terlalu sering, gak baik ... buat hati," canda Sephia. "Aku pamit pulang ya, sampein ke Kalla." Sephia membalikkan tubuhnya.
Danar raih tangan itu, menahan Sephia untuk pergi dari tempat itu. Seketika tubuh ramping itu berbalik lagi dan berbenturan dengan tubuh Danar.
"Jangan pergi lagi, Phi," Danar mendekapnya dalam pelukan.
Sephia terpaku, tak membalas pelukan itu, kedua tangannya masih berada di sisi masing-masing.
"Hampir setengah tahun aku seperti orang gila, nyari kamu kemana-mana, ternyata sebenarnya kamu dekat banget sama aku, maafin aku ... aku minta maaf, Phia."
__ADS_1
"Aku tersiksa dengan kesalahan ku sendiri, maafin aku, sudah cukup kamu hukum aku dengan menghilang tanpa jejak."
"Danar," Sephia menjauhkan dirinya dari Danar. "Lupain ... semua udah berlalu, hidup kita udah masing-masing sekarang," ujar Sephia.
"Masing-masing gimana?"
"Kamu udah punya keluarga kecil Danar, aku juga udah ngelanjutin hidup aku lagi, bahkan sudah merasa lebih baik sekarang, ada Kalla ada Nami, mereka semua baik sama aku."
"Kamu salah paham, Phi. Aku gak pernah menikah, semua salah paham ... Wulan yang kamu liat waktu itu, dia hamil anak kakak aku, bukan aku ... semuanya hanya jebakan, aku gak pernah ngapa-ngapain sama dia."
Panjang lebar Danar menjelaskan yang terjadi pada Sephia, hingga akhirnya Wulan dan Agung menikah. Dia berkeliling Ciomas hingga sampai Purwakarta, setiap kembali ke Jakarta. Dan ternyata kenyataannya, selama ini Sephia sebenernya sudah ada di dekat Danar melalu Kalla.
"Maafin aku," ujar Danar yang sudah berada di antara lutut Sephia yang duduk di atas sofa. "Aku pengen kita kayak dulu lagi, aku pengen kita selalu menghabiskan waktu sama-sama lagi, Phi."
Danar genggam tangan gadis itu, menciumi telapak tangannya.
"Aku masih cinta kamu," ujar Danar lirih.
Mata Sephia berkaca-kaca, berusaha untuk tidak berkedip, ia takut air matanya jatuh di hadapan Danar.
"Aku tau rasanya sakit yang kamu rasa Phi, karena aku merasakan hal yang sama, aku tahu kamu berusaha menata hati kamu, aku tau kamu sulit menyembuhkan luka yang sudah aku toreh ... tapi ijinin aku menata dan menyembuhkannya kembali, dengan cara aku, dengan cara aku nge bahagiain kamu," jelas Danar.
"I still love you," suara itu begitu dekat di telinga Sephia.
"Aku mohon ...."
"Aku mau pulang ...." Sephia beranjak, meraih tas nya.
"Aku antar." Danar meraih tangan itu dan memohon dengan tatapan matanya.
Danar mencari kartu akses apartemen Kalla, lalu mengirimkan pesan pada sahabatnya itu, jika ia mengantarkan Sephia pulang, sementara kartu akses dia titipkan pada pihak apartemen.
Kecanggungan di dalam taksi masih terasa, namun genggaman tangan Danar tak sedikitpun ia lepaskan, seperti berkeringat rasanya telapak tangan Sephia.
Danar menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi penumpang, menatap gadis yang dia rindukan itu. Perasaan di hatinya bersorak girang, perasaan yang terpendam itu seakan membuncah. Sekarang yang dia pikirkan adalah tetap mendapatkan maaf dari Sephia, membuatnya percaya kembali padanya, walaupun harus pelan-pelan seiring waktu berjalan.
Sampai di kost Sephia,
"Tangan aku gak bisa di lepasin dulu?"
__ADS_1
"Eh, sorry," Danar salah tingkah.
Sephia merogoh kunci kamarnya di dalam tas, membuka kamar itu lalu menghidupkan AC agar tak terasa pengap. Kamar itu sangat rapih, sama seperti kamar kost Sephia di Bali dulu, pikir Danar.
"Kost nya bagus," ujar Danar menghempaskan tubuhnya di tempat tidur.
Sephia menoleh, menggeleng melihat kelakuan lelaki itu yang tak pernah berubah jika sudah melihat tempat tidur.
"Fasilitas kantor," jawab Sephia.
"Kamu di sayang banget sama Kalla," kaya Danar sedikit cemburu.
"Karena aku juga sayang sama dia," jawab Sephia santai melangkah menuju lemari pakaiannya.
"Kamu juga sayang sama Kalla?" tanya Danar yang sudah berada di balik tubuh Sephia.
Hembusan nafas Danar, membuat jantung Sephia berdegup kencang. Rasanya masih sama, jantung yang bertalu, kupu-kupu yang seakan banyak menggelitik di perutnya, dan sentuhan yang bagai sengatan listrik menjalar pada tubuh Sephia.
Sephia membalikkan tubuhnya, "iya, aku juga sayang sama Kalla, sayang sama Nami ... mereka seperti keluarga bagi aku."
"Aku?"
Sephia terdiam, dia menelan salivanya kasar, jarak mereka begitu dekat. Sungguh dia merindukan lelaki di hadapannya ini. Lelaki yang membuat hatinya patah dan rapuh.
"Kamu?"
"Iya aku," wajah Danar mendekat, ia belai pipi gadis itu lembut, menyematkan helai rambut ke balik telinga Sephia, pandangannya turun pada bibir gadis itu.
"Kamu ... saat ini--"
Danar menautkan bibirnya pada bibir Sephia, terserah Sephia akan berpikiran seperti apa, namun yang jelas dia sudah tak bisa lagi menahan rasa yang bergemuruh sedari tadi.
Dia hanya ingin meluapkan kegembiraannya menemukan seorang yang sudah sangat lama membayanginya di setiap waktu.
Sephia terkesiap, ia merasakan bibir itu hangat dan manis. Sudah lama sekali ia tak merasakannya. Danar menciumnya lama, menggigit kecil-kecil bibir itu. Bibir itu manis sekali, ini seperti mimpi bagi Danar.
Euforia ini harus dirayakan sebenernya, tapi saat ini dia hanya ingin bersama Sephia. Danar menyudutkan Sephia ke pintu lemari, ia tekan tengkuk leher gadis itu. Ia tak ingin ini cepat berakhir, setidaknya biarkan dia merasakan lidah ini saling berbelit, saliva ini bercampur, bahkan berbagi oksigen pun seperti tak sempat ia lakukan.
Sephia membalas dengan sama lembutnya, Ya Tuhan dia rindu ini, dia rindu sentuhan lelaki ini, air matanya menetes. Tangan Danar merengkuh pinggangnya agar lebih mendekat. Bibir itu saling bertaut dan membalas seakan menjawab semuanya selama ini, jika mereka memang masih saling mencintai. Masih dengan kening yang saling menyatu dan nafas yang masih menderu, Danar mengusap bibir itu, menciumnya sekilas sekali lagi, lalu memulainya kembali seperti semula.
__ADS_1
***enjoy reading 😘
jangan lupa like dan komen kalo sayang sama Chida 😘***