
Jumat sore Sephia berjanji menemui Wulan di butik yang Wulan kelola selama ini. Wanita hamil itu sudah menunggunya di ruang kerjanya.
"Phia, masuk ... masuk," ujarnya meminta Sephia masuk.
"Sorry, aku telat ... macet Mbak," ujar Sephia memulai pembicaraan.
"Gak papa ... nih udah aku siapin."
Wulan berjalan ke sisi dimana ada beberapa model baju tergantung di sana. Dia memperlihatkan satu kebaya bermodel kutu baru dari bahan sutra dengan corak dan warna keemasan berikut kain yang akan melilit sebagai bawahannya.
"Ya ampun, ini bagus banget ... halus Mbak," ujar Sephia takjub.
"Mama bilang, acaranya hari Jumat depan ya, Phi?"
"Aku malah belum tau, Mbak ... Danar belum kasih kabar."
"Ish, Danar itu kebiasaan dari dulu ... suka dadakan, kalo gak diingetin ya gak inget." Lalu Wulan terdiam seakan sadar sekarang dia berbicara dengan siapa.
"Eh, maaf ya, Phi," Wulan tersenyum tak enak hati.
"Gak papa ... emang itu kebiasaan dia, suka dadakan, kayak tahu bulat di gorengnya dadakan." Sephia terkekeh.
"Bisa aja kamu ... eh, tapi ini ukurannya pas gak ya? soalnya aku pake ukuran aku jaman belum hamil ... kamu coba dulu deh."
Setelah memastikan ukuran itu pas di tubuh Sephia, Wulan juga memberikan satu Bros cantik untuk Sephia.
"Aku balik ya Mbak, makasih loh ini ... aku jadi ngerepotin." Sephia menautkan satu sama lain pipi mereka.
"Hati-hati di jalan ... besok Danar datang?"
"Aku bilang gak usah ... nanggung sekalian aja hari Kamis biar berasa ...."
"Berasa apa?"
"Kangen Mbak." Mereka pun tertawa.
Iya, perasaan canggung itu sudah mulai terkikis, seringnya berbalas pesan dan di tambah lagi pertemuan seperti ini. Hitung-hitung menjalin hubungan baik antara calon kakak dan adik ipar, begitulah kira-kira.
...----------------...
Dua hari menjelang hari H, Sephia sudah mengajukan cuti. Dan hari ini Sephia sudah berada di Purwakarta, karena keluarga bapak semua ada di Purwakarta, jadi ibu merasa terbantu untuk diadakannya acara pertunangan esok hari. Yang Sephia tahu, saat ini Danar sudah berada di Jakarta.
"Lagi apa?" Suara Danar terdengar parau di seberang sana.
"Luluran."
"Apa?"
"Luluran."
"Apa itu?"
"Ish, itu loh yang seluruh tubuh di pakein rempah."
"Biar apa?"
"Biar cantik," Sephia tertawa. "Kamu baru bangun tidur ya?"
__ADS_1
"Kamu gak di apa-apain juga udah cantik, Phi ... iya, aku baru bangun ngantuk banget."
"Udah siap buat besok?"
"Udah dong ...."
"Kata ibu, hari ini mau di pasangin tenda di halaman, takut ruang tamu gak cukup."
"Astaga ... kan yang dateng cuma keluarga inti dan beberapa saudara aja, Sayang ... pasti ibu masak-masak ya di rumah?"
"Iya lah ... terus kalo gak masak, masa mau di jamu pake air putih."
Tawa itu pun mewarnai hari mereka, rasa deg deg an menuju hari dimana akan terucap kata mengikat pun terasa tinggal hitungan detik.
...----------------...
30 Oktober 2020,
Pagi itu pukul 10 keluarga Danar sudah tiba di kediaman Sephia. Penyambutan oleh pihak keluarga Sephia pun terasa ramah dan hangat.
Hari itu Danar memakai batik tulis berwarna hitam dengan corak berwarna putih seperti simbol perwayangan. Danar terlihat gagah, senyumnya merekah. Beberapa keluarga membawa hantaran atau buah tangan, untuk diberikan pada keluarga Sephia.
Sephia belum nampak di sana, lama menunggu maka kedua belah pihak pun saling berbincang untuk mengenal satu sama lain. Dan nampaklah Sephia, polesan make up yang begitu natural, dengan rambut yang di sanggul rendah dan simpel, berjalan dengan anggun menggunakan kebaya pemberian dari Wulan.
Cantik ... selalu cantik, itulah yang pertama kali terucap di hati Danar.
Danar tersenyum begitu pun Sephia, mereka duduk berseberangan. Kata sambutan dari pihak keluarga Sephia pun terlontar, begitupun maksud dan tujuan kedatangan keluarga Danar yang diwakilkan oleh Agung selaku anak tertua.
Serta beberapa prosesi seperti pemberian hantaran dari pihak lelaki ke pihak wanita telah semua dilakukan. Hingga sampailah permintaan izin dari Danar kepada orang tuanya serta kepada kedua orang tua Sephia.
Prosesi lamaran yang berjalan dengan lancar hingga sampai lah saat dimana bertukar cincin sebagai simbol jika mereka sudah terikat.
"Banget ... makasih karena kamu mewujudkan semuanya."
Danar tersenyum, "kamu yang sudah membuat aku berani mengambil keputusan ini, Sayang ... terimakasih sudah mau menunggu," ujar Danar menangkup kedua pipi gadis itu.
"Nanti malam, aku bilang ke Bapak untuk minta izin bawa kamu ke Bali, aku udah siapin satu rumah kontrakan di sana, aku gak mau kamu nge kost lagi ... bahaya," bisik Danar.
"Gak kebalik ya ... apa gak lebih bahaya aku tinggal sendiri terus tiba-tiba kamu dateng," Sephia mencebikkan bibirnya dan Danar tertawa renyah.
"Dan ... ikut pulang gak?" tanya Agung yang sudah bersiap untuk kembali ke Jakarta, mengingat sang ayah tidak boleh terlalu lelah
"Gak deh ... gue mau di sini dulu Mas, bantu-bantu beresin tenda," kekeh Danar.
"Gaya lo ... yang ada malah bukan tenda yang lo beresin malah Sephia yang jadi korban."
"Dih, pikirannya ... tapi bagus juga ide nya," pukulan pun melayang di bahu Danar. "Mas, tinggalin mobil ya," ujar Danar lagi sebelum Agung berlalu.
Sephia mendapatkan pelukan hangat dari calon ibu mertua serta calon kakak iparnya, keluarga itu memang hangat, beruntungnya Sephia. Setelah semua berpamitan, Danar mendekati Pak Asep untuk meminta izin membawa Sephia kembali ke Bali.
"Jika Bapak berkenan dan mengizinkan ... saya pribadi, jujur gak bisa Pak, jauh dari Sephia," ujar Danar dengan percaya diri.
"Bapak ngerti, hanya saja Bapak khawatir ...."
"Saya pastikan, semua akan baik-baik saja Pak, saya janji," ucap Danar sungguh-sungguh seakan tahu apa yang dikhawatirkan oleh Pak Asep.
"Asal kamu berjanji, menjaga dan selalu memperlakukan Sephia dengan baik ... Bapak perbolehkan."
__ADS_1
Restu itu pun di dapat oleh Danar, hatinya bersorak gembira. Sudah tak ada lagi jarak yang akan menghalanginya. Sephia tersenyum dari kejauhan, melihat senyum gadis itu seakan membawa Danar ingin cepat-cepat merengkuhnya ke dalam pelukan.
"Apa gak sebaiknya tidur di sini aja Danar," ujar ibu saat Danar akan berpamitan untuk kembali ke Jakarta.
"Danar pulang saja Bu," ujarnya.
"Besok juga hari Sabtu kan, nanggung kalo kamu pulang, daripada kamu besok bolak balik jemput Sephia lagi ... pake pakaian Fadil Ibu rasa muat, sekalian tidur di kamar Fadil biar nanti Fadil tidur di ruang tengah," titah Ibu Widya.
"Kenapa jadi Fadil yang kena imbasnya, ya?" Wajah laki-laki berumur 20 tahun itu berubah.
"Biar Danar yang tidur di ruang tengah Bu," ujar Danar.
Sephia hanya menggelengkan kepalanya, Ibu Widya memang sudah menyukai Danar dari sejak pertama kali mereka bertemu, Ibu Widya percaya Danar adalah lelaki yang baik, bukan karena dia dari keluarga terpandang, namun sisi lain Danar yang memang benar sayang sekali dengan putrinya.
"Ini bajunya, ganti dulu gih," kata Sephia memberikan celana pendek serta kaos untuk tidur malam ini.
"Ganti dimana?"
"Di kamar Fadil lah ... masa di kamar aku."
Danar menoleh ke kanan dan ke kiri, rumah itu sudah nampak sepi, Danar juga tak menemukan keberadaan Fadil yang entah kemana. Sementara Pak Asep dan Ibu Widya, sudah di yakini terlelap karena lelah.
"Ganti di kamar kamu ya?" goda Danar, menarik pinggang Sephia merapat padanya.
"Danar, nanti ibu bangun." Tubuh Sephia tiba-tiba menegang saat Danar menyusuri lehernya dengan bibir.
Sedikit menyesap ceruk leher itu hingga meninggalkan bercak kemerahan dan membuat Sephia menggerutu karena bercak itu pasti akan terlihat.
"Sayang ... nanti tiba-tiba Fadil masuk gimana?"
Danar sudah merebahkan tubuh Sephia di sofa, lelaki itu dengan lembutnya membelai setiap inci tubuh Sephia.
"Sayang ...." Sephia mendesah ketika tangan Danar meremat dadanya.
"Kita bikin cepet ya," ujar Danar yang sudah mengungkung tubuh Sephia di bawahnya.
Kancing piyama Sephia sudah terlepas, dada itu terlihat sangat sempurna. Danar membenamkan wajahnya di sana, memainkan lidahnya pada pucuk dada Sephia, membuat Sephia meremas rambut lelaki itu.
"Danar nan--- ah," desahan pelan gadis itu mulai terdengar.
Danar menekankan tubuhnya pada Sephia, membuat gerakan mundur maju lalu mencium kembali bibir Sephia dengan liar. Danar bergerak cepat membuat dada Sephia pun ikut turun naik. Pakaian Danar yang masih lengkap ia pakai sedikit memberikan gerakan yang terbatas.
"Phi ... aku gak tahan," ujarnya dengan tatapan mata yang sayu namun rahang mengeras yang seakan menahan sesuatu.
"Hhmm ...." Sephia ikut menikmati ritme yang Danar lakukan.
"Phi ...." Danar mengerang serta menekan bagian sensitifnya, "aduuuhh."
"Kenapa?"
"Basah lagi," ujar Danar mengukir senyum lalu mencium kembali bibir gadis itu kali ini dengan lembut.
"Kamu butuh ganti yang di dalam gak?" Sephia terkekeh, karena dia yakin Danar tak akan tahan dengan dalaman yang lembab dan bercampur noda itu.
***sudaaaaah... ayooo tidur 😝
enjoy reading 😘
__ADS_1
jangan lupa like dan komen setelah membaca 😂***