Sephia

Sephia
Yes, i do


__ADS_3

Matahari pagi ini belum juga menampakkan batang hidungnya, namun Danar sudah terbangun. Melihat gadis cantik yang tergolek di sebelahnya, rasanya enggan dia membangunkannya.


Kemarin dia sudah membuat janji pada Made akan bermain golf pagi ini. Berharap Sephia akan ikut bersamanya agar tahu kegiatannya mengisi hari libur. Gadis itu tidur dengan posisi tengkurap dengan selimut yang menutupinya sebatas punggung. Pundaknya terekspos, membuat Danar mendaratkan ciuman di sana.


"Sayang, bangun yuk."


"Hhmm, aku masih ngantuk," jawabnya.


"Ikut aku yuk." Danar masih menciumi pundak itu.


"Kemana?"


"Main golf ... aku sama Made, janji ketemu hari ini, mau ikut ya?"


Sephia menoleh kearah Danar, sedikit mengangkat tubuhnya.


"Sama Ni Luh?"


"Ajak aja."


"Oke ... aku mandi dulu." Gadis itu beranjak dari tidurnya.


"Mau kemana?"


"Mau mandi ... tadi ngajakin pergi."


"Masih ada setengah jam lagi." Danar menarik kembali lengan Sephia.


Dada Sephia yang tak terbalut bra itu menggoda mata Danar untuk menghabiskan sisa waktu setengah jamnya dengan rutinitas pagi mereka.


"Sakit ah ...." Sephia mengaduh saat tangan Danar meremat dadanya lalu memainkan jari-jarinya di pucuk dada gadis itu meski masih berbalut tank top.


"Kapan kita nikah, Phi?"


"Kapan?"


"Aku serius ... hhmm." Danar masih menjelajahi lekuk tubuh Sephia, wanita itu menegang ketika tangan Danar menyentuh kewanitaannya.


"Hhmm ... masih pagi, Sayang." Tubuh Sephia mulai bergerak kesana kemari tak dapat menahan sentuhan dari tunangannya itu.


"Jadi kapan kita nikah?"


Kembali tangan Danar masuk melalui celah baju Sephia, bermain-main di perut gadis itu.


"Tiga bulan lagi? cukup gak waktunya untuk persiapan?"


"Serius?" Danar menghentikan gerakan tangannya.


"Tadi ngajakin nikah, sekarang aku kasih tau waktu yang tepatnya malah nanya serius, gimana sih."


"Tiga bulan lagi ... oke, siap aku ... di Bali? Jakarta? adat atau internasional?"


"Cuma pengen pake kebaya cantik dengan melati yang menjuntai di sisi rambut aku terus berjalan anggun ke arah kamu," ujar Sephia dengan mata berbinar-binar.


"Ini serius kan?" tanya Danar tak percaya.


"Ah, gak tau ah ... kamu mah gitu, aku tuh serius ... masa kita mau gini-gini terus."


"Gini-gini gimana?"

__ADS_1


"Ya gini-gini kayak yang sekarang kamu lakuin sekarang ini." Sephia kesal lalu menyingkirkan tangan Danar dari dadanya.


"Aku juga gak mau gini-gini terus, aku mau yang nyata ... yang gak takut-takut mau ngapa-ngapain kamu, aku pengen tiap hari pulang kerja bareng sama kamu, ngelakuin kegiatan di rumah bareng, tidur bareng, punya anak dari kamu." Danar menumpukan sikunya untuk menopang wajahnya saat memandangi wajah Sephia.


"Nikah sama aku, Phi." Netranya menatap mata sembab yang baru saja terbangun dari tidur itu.


"Kan emang kita mau nikah," kekeh Sephia.


"Kan kamu gitu ... ini namanya momen romantis, harusnya kamu jawab dengan yang romantis juga." Danar terlihat kesal.


"Momen romantis tuh gak bangun tidur Sayang, ini kita gosok gigi aja belum ... kamu dah ngajak nikah aja."


Lagi-lagi Sephia tertawa, Ya Tuhan tunangannya ini memang selalu bisa membuatnya terkekeh karena keromantisan yang "receh" seperti kata orang-orang jaman sekarang.


"Rusak udah momennya," sungut Danar, lalu bangkit dari tidurnya.


"Eh ... mau kemana?" Sephia menarik lengan lelaki itu dan menahannya, Sephia pun beralih posisi dengan duduk di tempat tidur.


"Mau mandi," jawab Danar kesal.


"Sini ...," ujar Sephia menepuk sisi yang kosong di sebelah kirinya.


"Apa?"


"Iya aku mau ...."


"Mau apa?" tanya Danar bingung.


"Tuh kan sekarang kamu nya yang gitu ...," kesal Sephia.


"Ya apa?"


"Will you marry me?" ungkap Danar.


"Yes, i do ...," jawab Sephia lagi.


Mengukir senyum di pagi hari itu adalah bentuk membagikan kebahagiaan secara sederhana. Dan kali ini Danar dan Sephia melakukannya untuk kebahagiaan mereka. Hubungan yang perlahan-lahan menapak dari satu proses ke proses berikutnya kini menuju hubungan yang lebih serius lagi.


Bukan hanya di penuhi akan hasrat namun karena mereka memang saling menyayangi dan mencintai, bukan hanya aku dan kamu namun nantinya akan berubah menjadi kita.


...----------------...


"Jadi sama Bli Made udah sejauh mana?" tanya Sephia pada Ni Luh pagi itu.


Mereka memandangi para lelaki itu dari kejauhan, membiarkan keduanya menyalurkan hobi "mahal" mereka.


"Belum jadian," jawab Ni Luh.


"Astaga, lama banget."


"Aku kan jual mahal," Ni Luh terkekeh.


"Dasar ... eh, tapi bukan karena status Bli Made seorang duda kan?"


Ni Luh mengangkat kedua bahunya


"Lalu?" tanya Sephia lagi.


"Aku harus meyakinkan hati aku dulu," ujarnya.

__ADS_1


"Mau seyakin apa?"


"Menjalani hubungan dengan seorang duda itu gak gampang, Phi ... apalagi ada anaknya, urusan dengan mantan istrinya, pasti masih sering berhubungan untuk masalah anak, aku gak tau apa aku bakal legowo apa gak nya saat tau dia terima telpon atau berjalan bersama mantan istrinya demi anaknya."


"Hhmm ... iya juga sih, liat mantan kekasih Danar di depan mata aja awal-awal rasa dadaku perih," ujar Sephia mengingat kejadian yang dulu.


"Makanya, jadi aku harus benar-benar berpikir ... kalo masalah sayang dan cinta seiring waktu pasti ada jika terus bersama, tapi ya itu tadi aku gak tau apa aku bisa terima dengan ikhlas keadaan setelahnya."


Ungkapan hati Ni Luh pagi ini seakan membuat Sephia berpikir, jika suatu hubungan tidak dilandasi dengan keikhlasan maka semua akan berjalan tak sejalan.


Sore itu, Danar dan Sephia sudah berada di sebuah restoran di pinggir pantai.


"Siapa?" tanya Sephia saat Danar mengarahkan ponselnya pada Sephia.


"Video call ... Kalla," jawab Danar. Lalu dia menjawab panggilan video call dari sahabatnya itu. "Sini, dekat aku." Pinta Danar pada Sephia.


"Gimana Kal? tumben pake video call segala," ujar Danar.


"Gue mau ngabarin ke kalian berdua ...," Wajah Kalla berseri di seberang sana.


"Apaan?"


"Bulan depan gue nikah ... ini undangan khusus buat kalian berdua." Kalla menunjukkan satu undangan pernikahan yang di tujukan untuk Sephia dan Danar.


"Cieee ... akhirnya," ujar Sephia ikut berbahagia. "Nami mana?" tanya Sephia.


"Masih di kamar mandi," jawab Kalla mengedikkan kedua alisnya, mengisyaratkan sesuatu.


"Nikah woy nikah ... kawin mulu lo," timpal Danar, lalu mengaduh karena pukulan dari Sephia.


"Selamat berbahagia ya buat kalian," kata Sephia tulus.


"Makasih, Phia," jawab Nami yang sudah bergabung dengan mereka. "Kalian kapan?"


"Secepatnya ... doain ya." Sephia menatap mata Danar.


"Tadi pagi sih dia udah jawab Yes, i do," ujar Danar.


"Wah ... romantis banget." Nami kegirangan saat mendengar kabar gembira itu.


Wajah Sephia merona, tangan Danar mengacak rambutnya lalu merangkul gadis itu dan memberikan kecupan di pipinya.


"Kallaaa ... mereka romantis banget, mana di pinggi pantai lagi." Nami menahan rasa irinya melihat kebahagiaan kedua sahabat mereka.


"Mau liat yang lebih romantis lagi gak?" Danar memutar mode kamera menunjukan matahari terbenam di depan sana diiringi deburan ombak.


"Kallaaa ... aku mau ke Bali," Nami heboh dengan sendirinya.


"Ada lagi yang lebih romantis, Nam," ujar Danar semakin membuat iri Nami dan Kalla.


"Apa?" tanya Nami.


Kamera ponsel itu pun di putar balik ke arah Danar dan Sephia, lalu memperlihatkan sepasang kekasih itu sedang berciuman dengan latar belakang matahari terbenam dan cahaya semburat jingga sore itu.


"Kallaaa ... aku mauu," rengekan Nami mengakhiri perbincangan sore itu dengan kemenangan yang terpancar di sudut bibir Danar.


***enjoy reading 😘


jangan lupa like dan komen setelah membaca 😘***

__ADS_1


__ADS_2