Sephia

Sephia
Hari bersamamu


__ADS_3

Cumbuan mereka memang tak pernah sampai lepas dari kendali, namun tetap saja meresahkan. Bisa saja semuanya terjadi jika salah satu dari mereka tak sadarkan diri. Danar masih ingat betul pesan ibunya, tapi entah mengapa dia melakukan dengan orang yang salah. Kalau pun terjadi dan melakukan hal itu ia hanya ingin dengan Sephia.


"Tidur gih," ujar Danar memberikan kecupan di kening Sephia.


Sephia meringsuk masuk ke dalam pelukan lelaki itu. Menjadikan lengan Danar sebagai bantalannya, tempat tidur itu terlalu cukup untuk dua tubuh yang saling berpelukan tanpa sehelai benang pun yang menutupi bagian atasnya.


Danar membelai lembut pundak Sephia, Sephia masih mengecupi dada lelaki itu.


"Besok gak usah kerja ya," kata Danar dan Sephia mendongakkan kepalanya.


"Kenapa?"


"Gak usah aja ... aku pengen menghabiskan hari sama kamu."


"Kan udah semalam ini, masih belum cukup?"


"Mana pernah cukup kalo sama kamu."


Sephia tersipu-sipu baginya segala yang terlontar dari Danar tadinya hanyalah gombalan namun semakin hari Sephia sudah terbiasa. Danar memang tipe pria yang selalu mengungkapkan perasaannya.


"Lagi gak?" tanya Danar pada Sephia yang masih membuat lingkaran di atas dada Danar.


"Gak ... tadi katanya nyuruh tidur."


"Iya ... gimana mau tidur kalo begini," ujar Danar yang masih merasai puncak dada Sephia menempel di tubuhnya.


Ciuman lembut berlabuh kembali di bibir Sephia, rematan di dada pun kembali terasa. Danar meninggalkan beberapa tanda kemerahan di sana, sesekali dia menyesap pucuk dada itu, sesekali dia juga memainkan lidahnya hingga desahan Sephia lolos begitu saja.


"Danar ... udah," kata Sephia ketika jari jemari Danar menyentuh bagian sensitifnya yang masih berbalut bahan berenda itu.


"Sebentar aja, aku butuh untuk melepaskannya," ujar Danar yang kembali mengukung tubuh Sephia di bawah sana.


Danar terus menerus menggesekkan bagian tersensitif itu pada Sephia hingga semuanya menjadi lembab dan basah.


Sephia menutup wajahnya, baru kali ini dia merasakan yang seperti ini. Benar-benar Danar melakukannya, membasahi pakaian dalam mereka hingga menyeruak masuk ke dalam penciuman Sephia.


"Danar ... ah," desahan itu kembali terdengar.


Danar seakan tak perduli, ia memandangi wajah kekasihnya di bawah sana dan sedikit menekan bagiannya hingga terjadi kembali pelepasan itu.


Nafas yang tersengal-sengal dan debar jantung dua manusia ini yang tak beraturan. Danar berkali-kali mengecupi gadis itu. Lalu berkata,


"Maaf ya ... jadi basah," ujarnya tersenyum.


"Jorok kamu tuh," wajah Sephia sebal.

__ADS_1


"Tapi kamunya mau ...."Danar beranjak dari tempat tidur melangkah ke kamar mandi, sebelumnya membongkar koper dan mencari ganti di dalamnya.


Sephia menggeleng, sungguh ini baru pertama kali baginya. Debarannya begitu kencang, entahlah perasaan takut, senang, bahagia bercampur menjadi satu.


Malam panjang mereka ditutup dengan posisi tidur yang saling berpelukan hingga pagi menjelang.


...----------------...


Tepat pukul sembilan pagi, Sephia membuka matanya. Terkejut karena ini masih hari Jumat, dia masih harus bekerja. Tetapi, ketika melihat Danar yang masih terlelap tidur akhinya Sephia mengurungkan niatnya untuk mandi dan bekerja.


Seperti kata Danar semalam, hari ini mereka akan menghabiskan waktu bersama.


"Bangun," bisik Sephia lembut.


Danar semakin merapatkan dekapannya.


"Sayang, bangun," kata Sephia memberi sebutan kata sayang pada Danar.


Mata Danar terbuka, senyuman terukir di wajahnya. Kata-kata itu bagaikan alunan yang masuk ke dalam pendengarannya, syahdu dan romantis.


"Panggil apa tadi?"


Wajah Sephia memerah menahan malu, benar-benar cinta ini memabukkan. Baru kali ini Sephia mencintai seseorang lebih dari apapun. Walau tanpa Sephia sadari, hubungan mereka seakan terintai masalah berat. Dan itu hanya Danar yang tahu.


"Sayang ...."


"Kerjaan kamu itu." Ponsel Sephia di atas nakas berbunyi. Gadis itu bergerak di atas tubuh Danar meraih ponselnya.


Dada yang belum tertutup sehelai benang itu pun kembali terlihat. Danar seakan mendapatkan sarapan pagi yang tiba-tiba terhidang di depan mata.


"Sstt ... Danar, stop," Sephia menyingkirkan tangan Danar dari pucuk dadanya. "Ini Mbok Ni Luh pasti dia nanya kenapa aku gak ke kantor."


"Bilang kamu gak enak badan." Danar mendudukkan tubuhnya di sandaran dinding tempat tidur.


"Ya Mbok," jawab Sephia, suara cicitan di seberang sana membrondongnya dengan banyak pertanyaan.


"Aku gak enak badan Mbok, kayaknya masuk angin." Sephia meraih piyamanya memakainya perlahan sedangkan Danar sibuk mencegah gadis itu menutup bagian dadanya sehingga mata Sephia membelalak seakan memberikan peringatan pada Danar.


Pembicaraan antara Sephia dan Ni Luh berakhir setelah Sephia meminta izin pada Ni Luh untuk disampaikan pada Bu Ratna. Walaupun Ni Luh menaruh curiga tak percaya akan alasan Sephia.


"Kamu mau makan apa?" tanya Sephia pada Danar saat ia akan beranjak dari tempat tidur.


"Makan kamu lagi boleh gak?" goda Danar.


"Dasar ... aku bikinin spaghetti mau?"

__ADS_1


"Apa aja yang penting kamu yang bikin."


Sephia beranjak, terlebih dahulu membuka jendela dan pintu agar udara di dalam bergantian masuk. Lalu menuju dapur kecil dan memulai aktivitasnya memasak di sana. Sementara Danar masih berbaring menikmati acara tivi dan menyalakan ponselnya, ada beberapa pesan masuk diantaranya pesan dari Wulan.


*Aku butuh bicara sama kamu.


Aku sudah di Indonesia sekarang.


Masalah kita harus ada kejelasannya, Danar.


Kamu menghindar beberapa minggu ini.


Bukan berarti kamu melupakan janji dan tanggungjawab kamu, kan?


Jawab pesan aku!!!


Danar* ....


Danar menonaktifkan kembali ponselnya setelah dia memberitahukan Made jika hari ini dia tidak ke kantor. Dan meminta Made mengirimkan seseorang untuk mengantar mobilnya ke kediaman Sephia.


Perasaannya mendadak tak menentu, Wulan sudah di Indonesia itu berarti sewaktu-waktu bisa saja Wulan ke Bali atau bertemu dan berkenalan dengan orangtuanya di Jakarta. Semoga pemikiran kedua tidak terjadi, Danar mengkhawatirkan kesehatan orangtuanya. Jika pun Pak Hermawan dan Mama Diana tahu itu harus dari dirinya sendiri jangan sampai dari Wulan, pikirnya.


Begitu pun dengan Sephia, pikirnya. Sebisa mungkin masalah ini harus dia redam, bagaimanapun harus ia selesaikan tanpa menyakiti perasaan Sephia dan keluarganya.


Danar meraup wajahnya kasar, ia masih memperhatikan gerak gerik Sephia di dapur kecil itu. Setelah makan pagi menjelang siang ini selesai, dia akan membawa Sephia berkencan. Berkencan layaknya sepasang kekasih.


"Sudah selesai," ujar Sephia membawa dua piring berisi spaghetti, sosis dan serta telur mata sapi untuk Danar.


"Telur mata sapi?" tanya Danar bingung.


"Biar kuat," kekeh Sephia.


"Tau darimana?" Sephia tak menjawab hanya tertawa.


"Setelah ini kita kencan ya."


"Kencan?"


"Iya, nonton, makan malam, denger live music di kafe, mau? oh ya aku rencananya mau beliin kamu AC, sumpah gerah banget aku Phi, apalagi tadi malem kita ...." Danar mengerling nakal.


"Terserah kamu aja, aku ikut." Sephia menyantap spaghettinya dengan perasaan berbunga-bunga.


Menghabiskan hari bersama Sephia setidaknya membuat Danar sedikit melupakan masalah besar dalam hidupnya. Membuat Sephia bahagia itulah tujuannya. Dicintai seseorang dengan cara yang tulus seperti Sephia baru kali ini Danar rasakan.


jangan lupa like dan komen yaaaah..

__ADS_1


enjoy reading 😘


__ADS_2