Sephia

Sephia
Meminta izin


__ADS_3

Setelah menyelesaikan makan malamnya, Danar dan Sephia menyusul bapak dan ibu ke teras depan. Di meja teras sudah tersaji makanan kecil dan empat cangkir berisi teh hangat. Sepasang kekasih itu ikut duduk bersama.


"Teteh cuti?" tanya Pak Asep.


"Iya Pak, sengaja cuti karena pulang ada sesuatu yang mau Phia sampaikan sama Bapak dan Ibu."


"Tentang apa? Nak Danar, teman Sephia? Kalo Bapak boleh tau, teman seperti apa?" Pak Asep sudah terlihat sedikit santai tapi tetap saja pertanyaannya membuat Danar kikuk.


"Iya Pak, saya teman Sephia ... lebih tepatnya lebih dari sekedar teman, saya dekat dengan Sephia, Pak," ujar Danar jujur.


"Lalu tentang apa yang ingin kalian bicarakan?" kali ini wajah Pak Asep berubah sedikit serius.


Danar dan Sephia saling menatap, sama-sama memberi isyarat satu sama lain siapa yang akan memulai.


"Nak Danar, kalo boleh Ibu tau ... kerja? maksud Ibu kerja satu kantor dengan Phia?"


"Sudah gak Bu, setelah Sephia resign dari Bali kita sudah gak satu kantor."


"Oh, jadi dulu satu kantor?" Ibu Widya mengangguk angguk.


"Danar atasan Sephia waktu kerja di Bali, Bu," kata Sephia.


"Oh begitu."


"Jadi maksud kedatangan saya ke mari ... memohon ijin untuk membawa Sephia kembali ke Bali," ujar Danar sedikit tercekat lalu melihat raut wajah kedua orang tua Sephia.


"Dengan tujuan?" tanya Pak Asep dengan wajah yang berubah lagi


Deg


Danar terdiam. Dengan tujuan apa? hanya untuk agar Sephia dekat dengannya? bisa berdua dengan Sephia dan menghabiskan waktu bersama dengan kekasihnya setiap malam? Apa Danar harus berkata seperti itu? Yang ada Danar malam ini juga, Danar hengkang dari rumah Sephia.


"Saya ingin mengikat Sephia, Pak." Tegas Danar


"Hah?" Mata Sephia terbelalak, terkejut bercampur senang dan terharu.


Skenario ini tidak ada di dalam naskah yang kemarin mereka rancang. Setahu Sephia, Danar hanya meminta izin agar Sephia kembali bekerja di Bali dan ikut bersama dengan Danar. Bukan mengikat. Astaga ... Sephia bahagia sekaligus terkejut dengan kata-kata yang terlontar dari mulut kekasihnya.


"Iya, aku ingin mengikat kamu ... menjalin hubungan dengan lebih serius, jika kamu belum menyanggupi untuk pernikahan mari kita mengikat dengan tali pertunangan." Tatapan mata Danar tak lepas melekat pada binar mata indah Sephia.

__ADS_1


Ibu Widya yang mendengar anak gadisnya di "lamar" tanpa persiapan mengatupkan kedua tangannya. Seingatnya siang tadi, Sephia hanya akan mengenalkan sosok kekasih Sephia pada dirinya.


"Ehem ...." Pak Asep berdehem membuyarkan tatapan pasangan itu. "Jadi, maksud Nak Danar ingin bertunangan dengan Sephia?" Danar mengangguk. "Keluarga Nak Danar sudah mengetahui?"


"Rencana saya sepulang dari Purwakarta, saya juga akan memperkenalkan Sephia kepada keluar saya, Pak."


"Hah?" Lagi-lagi Sephia terkejut. Danar benar-benar memberikan kejutan padanya hari ini.


"Saya ini sebagai orang tua hanya bisa memberikan yang terbaik untuk anak-anak saya. Jika mereka bahagia maka saya bahagia, jika mereka tersakiti, saya yang akan pasang badan untuk mereka. Jika keseriusan Nak Danar membuat putri saya bahagia maka semua saya serahkan pada kalian, kalian lah yang akan menjalaninya, hanya pesan saya jika nanti kalian menikah ... pernikahan itu bukan main-main, pernikahan itu bukan tentang kamu atau Sephia tapi tentang semua yang ada di belakang kalian yaitu kami keluarga kalian ... dan itu gak akan terpisahkan sampai kapanpun. Menikahi Sephia itu berarti beserta keluarganya, begitupun Sephia menerima lamaran kamu berarti dia juga menerima keseluruhan dari kamu termasuk keluarga kamu, paham maksud saya?"


"Pernikahan juga bukan hanya tentang perasaan cinta, tapi perbedaan di antara kalian, tentang bagaimana kalian menahan rasa egois dan menang sendiri, tentang bagaimana kepercayaan serta kesetiaan dalam hubungan kalian, itu yang utama."


"Jadi bukan hanya menikah, punya anak, cari uang yang banyak, bukan cuma itu tapi pondasi yang ada di dalamnya yang harus kalian utamakan."


Wejangan yang diberikan Pak Asep kepada mereka berdua begitu menohok, terutama tentang kepercayaan dan kesetiaan. Hati Sephia mencelos, pelajaran yang ia dapatkan selama menjalin hubungan bersama Danar adalah bagaimana mempertahankan rasa percaya dan setia pada Danar. Begitupun mungkin yang dirasakan oleh Danar sekarang.


"Pada intinya," sambung Pak Asep lagi. "Secara tidak langsung Bapak terima lamaran Nak Danar, niat Nak Danar Bapak terima begitu juga dengan ibu, tetapi ... untuk mengizinkan Sephia ikut ke Bali bersama dengan Nak Danar, Bapak belum bisa izinkan jika ikatan diantara kalian belum jelas."


"Saya akan bicarakan pada kedua orang tua saya, Pak," ujar Danar mantap.


"Lamun Danar kulem di bumi tiasa, Pak?" Sephia meminta ijin kepada bapak agar Danar dibolehkan menginap di rumah mereka.


"Boleh, tapi tidurnya di kamar Fadil jangan di kamar Teteh," Pak Asep berlalu dari hadapan mereka di susul oleh Ibu Widya.


"Kamu kok gak bilang mau lamar aku? gak romantis banget nge lamarnya begini." Sephia cemberut.


"Sayang, kamu kalo dihadapkan kayak aku tadi mau jawab apa? waktu bapak tanya tujuan aku bawa kamu ke Bali ... masa aku jawab biar bisa tidur bareng Pak, gitu?"


"Ngaco."


"Makanya ... sekalian aja aku bilang mau mengikat kamu, toh emang tujuan akhirnya akan seperti itu." Danar menatap Sephia.


"Berarti kamu serius?"


"Serius lah ... emang selama ini aku gak serius? bela-belain nyari kamu, dan bertahan hingga detik ini." Danar meletakkan kepala Sephia ke bahunya lalu membelai pipi gadis itu lembut.


Malam dengan langit yang berbintang, duduk di depan teras rumah, menatap kolam ikan kecil milik Pak Asep. Sephia tengadahkan wajahnya pada Danar yang berada disisinya.


"Makasih ya ... makasih untuk semuanya."

__ADS_1


Danar merogoh saku celananya, ia keluarkan sebuah kotak berwarna hitam berbahan beludru. Danar berikan pada Sephia.


"Aku gak romantis ya?"


"Apa ini?"


"Buka dong." Senyum Danar merekah. "Buat kamu."


Sebuah cincin berwarna putih dengan bentuk yang sangat sederhana.


"Aku beliin buat kamu, tadinya bukan untuk lamaran yang kata kamu gak romantis ini ... hanya sebagai hadiah, tapi karena momennya tepat, jadi sekalian aja ya," ujar Danar memasangkan cincin itu di jari manis Sephia.


Mata gadis itu berkaca-kaca, seharian ini hatinya di buat tak karuan oleh Danar. Hingga tepat malam ini, Danar membuat hatinya semakin berbunga-bunga.


"Nanti malam, kamar kamu jangan di kunci ya," ucap Danar menangkup kedua pipi Sephia.


"Kenapa?"


"Aku gak bisa tidur sendiri kalo bukan di kamar aku," ujarnya nakal.


"Modus kamu mah." Sephia terkekeh.


"Aku serius Sayang, aku gak mau tidur sendiri," Danar merengek. "Aku janji nanti aku pasang alarm jam empat subuh buat pindah, ya boleh ya."


"Kamu mau kita gak jadi nikah, gara-gara begitu." Sephia mencium bibir Danar sekilas.


"Bukannya kalo ketauan begitu, langsung cepet dinikahin?"


"Mau nya kamu itu."


"Phi ...."


"Iya."


"Ciuman yuk," belum sempat Sephia menjawab, bibir gadis itu sudah menyatu dengan bibir Danar. Sephia membalas ciuman itu sama lembutnya, tubuh mereka semakin mendekat. Tangan Danar meremas paha Sephia, sedangkan tangan gadis itu berada pada rahang Danar. Desahan kecil Sephia terdengar samar.


"Phia, sudah malam ... lekas masuk." Suara ibu mengagetkan mereka.


***tiduuurr sudah malam 😂

__ADS_1


enjoy reading 😘


like nya di banyakin dooong 🤗***


__ADS_2