
Pukul setengah tiga siang, Sephia dan Danar sudah berada di ruang rawat salah satu rumah sakit di Denpasar. Sementara di luar sana hujan mengguyur kota Denpasar sesaat setelah mereka sampai di rumah sakit tadi.
"Masih sakit?" tanya Danar menatap Sephia yang meringis menahan sakit dengan menggigit bibir bawahnya.
"Sshhh ...." Sephia bergerak perlahan memiringkan tubuhnya menghadap Danar.
Danar menciumi telapak tangan istrinya, membelai kening wanita itu lembut, memberikan kekuatan lewat sentuhan-sentuhan lembutnya.
Tak berapa lama, dokter kandungan yang menangani Sephia beserta dua orang perawat pun masuk.
"Gimana Ibu Phia?"
"Sakit Dok ... rasanya kayaknya sudah di bawah sini," ujar Sephia menunjuk perut bagian bawahnya, "terus pinggang rasanya panas gitu, Dok." Sephia masih meringis kesakitan.
"Kita cek yuk," ujar sang dokter.
Dokter memakai sarung tangan untuk memeriksa seberapa besar sudah terbukanya jalan lahir. Danar sedikit meringis, lagi-lagi dia harus melihat benda asing selain miliknya masuk ke tubuh istrinya. Mengusap wajahnya lalu menyugar rambutnya, seakan ia merasa bersalah pada Sephia.
"Ugh ...." Sephia mengaduh saat dokter memeriksanya.
"Baru bukaan lima, Ibu Phia sabar ya ... mudah-mudahan seperti perkiraan saya dua atau tiga jam lagi sudah bisa di lakukan persalinan. Sebaiknya jalan-jalan di sekitar koridor rumah sakit juga boleh atau biasanya pasangan muda seperti kalian akan berdansa mengikuti alunan musik, biar tenang."
Dokter kandungan memberikan saran pada mereka lalu berpamitan dan berjanji akan datang kembali saat waktunya tiba. Dan menyerahkan pemantauan pada dua perawat yang bersamanya tadi.
"Mau jalan-jalan?" tanya Danar menciumi telapak tangan istrinya.
"Di sini aja Sayang, tadi Ni Luh aku suruh pulang buat ambil birth ball, ujar Sephia.
"Ni Luh ada di luar aku suruh beli makanan buat kita, aku sudah suruh Made yang bawa birth ball nya sekalian koper pakaian kamu sama bayi kita."Jelas Danar masih memeluk istrinya yang terduduk di sisi tempat tidur.
Danar meraih ponselnya, perlahan alunan suara Sia dengan Snowman pun terdengar. "Ayo, Phi ... biar gak terlalu pokus sama sakitnya," ujar Danar mengulurkan tangannya, merengkuh pinggang sang istri.
Pelan-pelan mengikuti alunan musik yang lembut, tubuh mereka bergerak kesana kemari. Sephia menenggelamkan wajahnya pada dada Danar, Danar sesekali memberi sentuhan pada perut sang istri, mengecup puncak kepala Sephia. Membelai lembut punggung istrinya.
"Rileks ya," ujar Danar masih membuat tubuh mereka bergerak.
"Kalian sweet sekali," ujar Ni Luh yang masuk bersamaan dengan Made.
Sephia melepaskan dirinya dari pelukan Danar. Made meletakkan birth ball agar Sephia bisa memakainya.
"Isi dulu perutnya, Phi." Ni Luh menyodorkan satu bungkus roti kegemaran Sephia.
__ADS_1
"Aku kok gak napsu ya, Mbok."
"Harus di isi, biar ada tenaga nanti pas persalinan." Ni Luh membukakan bungkus roti itu.
"Makan dulu, nanti baru duduk di birth ball ya, ujar Danar.
"Keluarga kalian baru berangkat sore ini," kata Made memberitahukan kepada Danar.
"Iya, tadi mama udah telpon, mereka berangkat sore ini, mudah-mudahan sebelum lahir mereka sudah sampai."
"Sayang," panggil Sephia, lalu memberikan sisa roti pada Danar. "Udah ... aku mau minum," pintanya.
Ni Luh memperhatikan kedua pasangan itu, rasa di hatinya mengatakan entah kapan saatnya tiba pada dirinya. Made melirik dengan tangan di lipat di depan dadanya. Lelaki itu seperti merasa bersalah sudah menggantung hubungan mereka. Ketidaktegasannya sebagai seorang lelaki membuat Ni Luh perlahan menjauh.
"Aduh ... Sayang, kok rasanya gini?" tanya Sephia memegangi perutnya.
"Ni Luh tolong panggil perawat," ujar Danar memapah istrinya untuk kembali ke tempat tidur.
Seorang perawat masuk, melakukan pemeriksaan pada bagian milik Sephia. Tangan Sephia mencengkeram lengan Danar.
"Sakit, Sayang." Sephia mengaduh air matanya menetes.
"Sudah mulai pembukaan tujuh ya, saya siapkan ruang bersalin, Ibu jangan panik ... tenang, atur nafas ... Bapak mohon di bantu ya," ujar perawat itu.
"Sakit ...." Mata Sephia memohon, menahan rasa sakit yang semakin lama semakin terasa sangat luar biasa.
"Harus kuat ... biar adek juga kuat, kita mau ketemu dia kan? jadi Bunda nya harus kuat," ujar Danar yang sebenarnya tak tahan melihat istrinya menahan rasa sakit itu.
"Permisi." Dua orang perawat masuk untuk memindahkan Sephia ke ruang bersalin.
"Kamu ikut kan?" tanya Sephia tanpa melepaskan genggaman tangannya pada Danar.
Danar mengangguk, dia membantu kedua perawat tadi mengangkat Sephia ke saru tempat tidur yang lain.
"De, gue tetep kalo keluarga gue dateng ya," ujarnya pada Made lalu melangkah lebar mengiringi istrinya.
...----------------...
"Sudah bukaan sembilan Ibu," ujar dokter, lalu memberikan perintah agar Sephia tetap bersabar.
Tak lama dokter mengatakan, "kepala bayi udah keliatan ya, kalo saya bilang Ibu mengejan, Ibu mengejan ya ... oke, siap ... satu dua .... sekarang Ibu."
__ADS_1
Sephia sekuat tenaga memberikan dorongan agar bayi mereka keluar. Tangannya mencengkram kuat lengan Danar, kuku-kukunya terbenam di sana, kadang dia mencubit Danar kuat-kuat. Lelaki itu hanya dapat menahan rasa sakitnya, ini tak sebanding dengan rasa sakit yang Sephia rasakan.
"Sabar Ibu ... sekali lagi yuk ...." Napas Sephia tersengal-sengal, dia mengatur deru jantungnya.
"Sayang ...." Sephia menatap Danar yang sudah meneteskan air mata melihat perjuangan Sephia untuk suatu kehidupan baru.
"Sekarang Ibu," ulang dokter itu lagi.
Sephia kembali memberikan dorongan, dan akhirnya suara bayi kecil itu pun terdengar nyaring memenuhi ruangan itu.
Danar membelai kepala istrinya, tersenyum lalu memberikan ciuman terimakasih oada Sephia. Air mata mereka sama-sama mengalir, air mata haru menyambut anggota baru di keluarga kecil mereka.
"Lengkap, sehat ... laki-laki ya Pak," ujar dokter.
Danar menerima bayi kecil itu, lalu memberikannya pada Sephia untuk diberikan kehangatan dalam pelukan ibunya.
"Hey, anak ganteng ... ini Bunda," ujar Sephia meneteskan air matanya. Lalu menatap Danar yang tak lagi dapat memberikan sepatah katapun untuk anaknya, bayi itu begitu sempurna.
"Makasih Sayang, makasih ...." Danar menciumi kedua belahan jiwanya.
"Bibirnya mirip kamu," kata Sephia pelan.
"Iya, tapi matanya kayak kamu ... hidungnya juga," ujar Danar memperhatikan makhluk kecil itu.
"Itu berarti dia benar anak aku ... ugh," Sephia mengaduh kembali.
Danar mengalihkan perhatian Sephia agar tidak merasakan sakit saat dokter melakukan kewajibannya sekali lagi di bawah sana. "Sayang, kok dia kayak nyari sesuatu?" tanya Danar saat melihat bayi mereka meraba-raba dada Sephia dengan bibir mungilnya.
"Iya, itu dia sedang mencari susu Bunda nya," ujar perawat yang berada di samping mereka.
Danar mengangguk angguk memperhatikan bayinya begitu cepat mencari puncak dada Sephia.
"Ah ...." Sephia mengaduh kembali saat ia baru sadar ketika di bawah sana dokter masih menyelesaikan tugasnya.
"Sakit?" tanya Danar. "Maafin aku ya ... aku bener-bener minta maaf," ujarnya bersungguh-sungguh memberikan kecupan bertubi-tubi di wajah istrinya.
Sephia tersenyum lalu mengangguk, dia sudah tak lagi merasakan sakit ketika dokter mengatakan semua sudah selesai.
***enjoy reading 😘
tinggalkan like dan komen ya***...
__ADS_1