Sephia

Sephia
Kalla Nami Wedding


__ADS_3

"Danaaar ... Phia, kalian di dalam?"


"Mama ...." Mata sepasang kekasih itu terbelalak karena terkejut.


"Pake baju ... cepet," ujar Sephia panik sementara Danar terkekeh. "Danar, buruan ah ... gak lucu tau!" Sephia merapikan pakaiannya.


Danar berjalan santai menuju kamar mandi, dirasa aman Sephia membuka pintu kamar.


"Mama, sudah pulang?"


"Iya, Mama kasian papa kalo terlalu capek ... jadi gak lama kalian pulang Mama pamit pulang juga ... Danar mana?' tanya Mama Diana melongok ke dalam.


"Danar ... emm itu Ma ...." Sephia bingung harus bilang apa.


"Danar sakit perut Ma, minta kerokin sama Phia ... kayaknya masuk angin," ujar Danar keluar dari kamar mandi, dengan mode orang yang perutnya lagi kesakitan. "Baru mau di kerokin, perut Danar udah mules lagi."


"Udah minum obat?" tanya Mama Diana.


"Belum, maksudnya setelah di kerokin baru minum obat," ujar Danar berbohong.


"Ya udah kalo mau kerokan ... oh iya Phia, Mama tadi udah hubungi salah satu wedding organizer katanya sih bagus, mereka ada di Bali nanti saat kalian di Bali temui ya ... Mama kasih contacts nya ke kamu," kata Mama Diana masih memperhatikan Danar yang ber-acting sakit perut.


"Iya Ma, nanti Sephia sama Danar temui di sana," kata Sephia lagi.


"Ya sudah, kalo mau kerokan ... itu mukanya udah gak enak banget kayaknya." Mama Diana berlalu.


Plakk


"Aduh ... sakit Sayang." Danar meringis.


"Kamu itu ...." Sephia meninggalkan Danar dengan wajah cemberutnya.


"Sayang, ayo kerokan ... jadi gak?"


"Kerokan sana, sama dinding," ujar Sephia kesal dan Danar tertawa.


...----------------...


Setelah penentuan hari pernikahan mereka, Danar dan Sephia kembali lagi ke Bali. Namun baru saja satu minggu kembali, mereka sudah harus ke Jakarta lagi karena acara pernikahan sahabat mereka, Kalla dan Nami.


Hari ini, sepasang kekasih itu mengenakan pakaian berwarna senada. Berjalan beriringan masuk ke sebuah restoran bernuansa Eropa, dengan taman yang di hiasi dengan bunga-bunga warna warni. Nuansa acara yang santai, bahkan kedua pengantinnya saja berbaur dengan para tamu.


Memang Danar dan Sephia melewati acara adat yang di lakukan saat selesai akad pagi tadi. Mereka hanya menghadiri resepsi pernikahannya saja. Danar yang mengenakan setelan jas berwarna hitam dan Sephia mengenakan dress hitam dengan model potongan dress tanpa lengan, melangkah menuju kedua pengantin.


"Bro," ujar Danar menepuk bahu Kalla.


"Hei ...." Kalla menoleh ke asal suara. "Gue kira gak dateng," ujar Kalla yang sore ini menggunakan setelan jas berwarna putih.


"Dateng lah, demi sahabat," kata Danar memberikan pelukan pada Kalla. "Selamat Kal, semoga selalu bahagia," ucapnya tulus.


"Nami, selamat ya ... akhirnya," ucap Sephia memeluk wanita yang sekarang sudah berstatus istri Kalla. "Semoga selalu berbahagia."


"Makasih, Phia ...." Nami menggenggam tangan Sephia. Nami terlihat cantik dengan gaun pengantin berwarna putih dengan model kerah sabrina, memperlihatkan leher jenjang dan pundak mulus wanita itu.


"Kalla ... selamat ya," ucap Sephia mengulurkan tangannya pada Kalla.


"Makasih Phia," jawab Kalla.


Tatapan mata Kalla tak dapat Sephia definisikan seperti apa. Sephia berharap cinta itu tak datang lagi di hati Kalla, Sephia berharap tak ada lagi yang terluka dan Sephia berharap sebaiknya mereka pura-pura lupa dengan yang terjadi selama ini.

__ADS_1


Ya, yang lalu biarlah berlalu ... semuanya sudah berada di tempatnya masing-masing. Bahwa cinta akan menuju ke tempat yang seharusnya.


"So, kalian sendiri kapan?" tanya Kalla.


"Awal tahun ... dateng ya, di Bali," jawab Danar bangga sekali.


"Ya ampun, ternyata kalian gerak cepat juga," ujar Nami terkekeh.


"Biar di iket gak kemana-mana lagi Nam," Danar tertawa.


Acara pernikahan Kalla dan Nami malam ini berjalan dengan sangat lancar dan meriah.


"Mau pulang?" tanya Danar yang baru saja mengambil minuman dan berjalan ke arah Sephia.


"Sebentar lagi ya." Sephia masih ingin menikmati malam ini melihat bagaimana prosesi pernikahan Kalla dan Nami.


"Acara mereka santai sekali ya," ujar Sephia.


"Mungkin waktu akadnya sudah sakral jadi sekarang tinggal hepi-hepi nya," jawab Danar.


"Oh iya, bisa jadi."


"Besok kita gimana?" tanya Danar.


"Pulang dari Jakarta kita temui lagi team wedding organizer nya ya, aku mau bahas konsep desainnya ... jangan terlalu kaku," kata Sephia.


"Sayang, aku ke toilet dulu ya," ujar Danar.


"Jadi ... awal tahun?" tanya suara itu mengagetkan Sephia.


"Kalla ... ngagetin."


"Nami mana?" tanya Sephia.


"Itu ... lagi kumpul sama keluarga aku," jawab Kalla melambaikan tangannya pada Nami yang sedang melihat ke arah mereka. "Makasih ya, sudah datang," kata Kalla lagi.


"Aku seneng kalo melihat kalian bahagia gini," ujar Sephia tulus menoleh pada Kalla.


"Aku juga ikut bahagia atas pernikahan kamu nanti," ujar Kalla.


"Kal."


"Phia."


Kata mereka bersamaan.


Sephia tersenyum begitu pun Kalla.


"Kamu dulu," ujar Sephia.


"Aku minta maaf atas yang terjadi sama kita ... waktu itu," ucap Kalla mengingatkan tentang ciuman mereka saat itu.


"Aku sudah lupain, anggap saja suatu kesalahan ... dua manusia yang lepas kendali dan terbawa suasana," ujar Sephia. "Aku harap kamu lupain dan jangan pernah kita bahas lagi."


Kalla mengangguk, setidaknya saat ini perasaannya sedikit lega atas ungkapan permintaan maafnya yang bisa terucapkan langsung berhadapan dengan Sephia.


"Kamu sendiri mau bilang apa tadi?" tanya Kalla.


"Oh iya ... Kal, aku minta kamu jaga Nami jangan sekali-kali nyakitin dia atau berpaling dari dia, kamu lihat wajahnya sekarang? dia bahagia banget, ini adalah momen yang dia impikan selama ini setelah kerja kerasnya membina karier, apapun yang kamu lihat pada Nami itu adalah cerminan diri kamu, begitu juga sebaliknya. Jaga cinta kalian Kal, cukup kita yang pernah melakukan kesalahan itu, jangan pernah kita ulangi lagi," pinta Sephia.

__ADS_1


Kalla menganggukkan kepalanya, lalu dia mengukir senyuman, lesung pipi yang ia miliki itu pun kentara terlihat. Lesung pipi yang waktu pertama kali Sephia lihat saat mereka berkenalan dulu, ciri khas seorang yang ramah dan baik hati. Dan Sephia berharap itu jangan pernah berubah.


"Sayang," sahut Danar.


"Udah?" tanya Sephia. "Ini aku udah pamitan sama Kalla," ujar Sephia agar tak terlihat canggung.


"Kal, balik dulu ya ... gue tunggu di Bali, tanggal gue info menyusul ya, lo tinggal dateng berdua sama Nami, ongkos pulang pergi, hotel bintang lima selama tiga hari, spesial honeymoon gue yang tanggung ... kado pernikahan buat kalian," ujar Danar memberikan kejutan pada Kalla.


"Waw ... serius lo? keren ini baru namanya pengusaha sukses," Kalla tertawa kegirangan.


"Ya minimal nanti saat gue nikah lo melakukan hal yang sama," Danar tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah Kalla yang berubah kesal.


"Anjrit, gue kira lo kagak perhitungan." Kalla meninju bahu Danar.


"Haha ... becanda gue, enjoy your time and see you in Bali." Jabatan tangan persahabatan serta pelukan hangat itu sudah kembali lagi.


"Kayaknya aku ketinggalan sesuatu nih," seloroh Nami.


"Kita dapet endorse Sayang, dari Danar ... hotel bintang lima spesial honeymoon di sponsori oleh Bapak Danar Hermawan Wicaksana," ujar Kalla lalu merangkul pundak istrinya.


"Astaga ... makasih banget, berarti kado ke Maladewa dari mertua aku, aku skip di bulan berikutnya dong," ujar Nami kegirangan yang seperti mendapatkan ekstra hadiah.


"Wah, menang banyak dia ... aku cabut lagi deh," ujar Danar menggoda pasangan pengantin itu.


"Buset, lo perhitungan banget, Dan." Kalla tertawa


Dan semuanya berjalan sebagaimana mestinya, persahabatan dan kehidupan yang kembali berjalan normal lagi.


...----------------...


"Kenapa?" tanya Sephia melihat Danar tersenyum, saat mereka menuju pulang ke rumah.


"Gak apa-apa, cuma mikir aja sih, kayak Kalla sama Nami itu setelah nikah hari ini ada malam pertama gak ya," ujar Danar tersenyum tipis.


"Kamu tuh ada-ada aja mikirnya," sahut Sephia, "kita langsung pulang ya?"


"Kenapa? udah jam 10, Sayang."


"Oh ya udah."


"Kamu mau ke suatu tempat?"


Sephia menggeleng. "Sebaiknya emang kita harus pulang, besok pagi stafnya mbak Wulan ke rumah buat ukur baju kita sebelum kita pulang ke Bali," ujar Sephia.


Danar menepikan mobilnya saat melintasi sebuah taman kota.


"Kok berhenti di sini?"


Danar melepaskan sabuk pengamannya, lalu mendekatkan tubuhnya pada Sephia, membuat posisi jok mobil yang Sephia duduki sedikit jatuh ke belakang.


"Sayang, jangan gila deh ... ini di mobil, di liat orang," kata Sephia.


Danar memberikan kecupan di bibir dan pipi Sephia, lalu membelai lembut rambut gadis itu.


"Tidur dulu, perjalanan kita lebih kurang 45 menit sampe ke rumah, nanti kalo sudah sampe aku bangunin," ujarnya membawa sebelah tangan Sephia dan menaruh di atas pahanya untuk dia genggam lalu kembali melanjutkan perjalanan pulang. Dan Sephia pun tersenyum.


maaf ya dua hari ini aku up nya cuma 1 kali, karena kenyataan dalam hidupku dua hari ini sangat liku 😂 mudah"an besok udah bisa up 2 seperti biasa.


enjoy reading 😘

__ADS_1


jangan lupa buat kasih like dan komen ya...


__ADS_2