Sephia

Sephia
She has gone


__ADS_3

"Kenalin ... Kalla, nama aku Kalla," ujarnya mengulurkan tangan pada Sephia dan membuka kacamata hitamnya.


"Sephia." Sephia tersenyum.


"Kayak judul lagu," Kalla tertawa.


"Kurang lebih begitu," jawab Sephia.


"Jangan bilang, nasibnya sama." Kalla kembali kepo.


"Bisa jadi." Sephia menolehkan kepalanya pada Kalla.


"So ... kembali ke Jakarta?"


"Iya ... demi kebaikan semuanya."


"Hhmm, setelah itu rencananya?" tanya Kalla lagi.


"Kamu kepo ya," Sephia lagi-lagi tersenyum.


"Haha ... banget." Tawa Kalla membuat beberapa orang di samping mereka menoleh.


"Setelah itu istirahat di rumah, habiskan waktu sama keluarga ... dua minggu aku rasa cukup, setelahnya cari kerja lagi."


"Di Bali kerja bagian apa?"


"Keuangan dan pajak."


"Hhmm ...." Kalla mengeluarkan kartu nama di dompetnya. "Kalo kamu udah kelar leha-leha di rumah, bisa coba kesini ... bilang rekomendasi dari aku, tapi sebelum kesini kamu telpon nomer aku yang ini." Kalla menjelaskan.


"PT. LANGIT KELANA development and construction," gumam Sephia.


Kalla mengangguk.


"Kallani Putra Kelana, Direktur?"


"Iya, kenapa? gak meyakinkan ya wajahnya?"


Sephia kembali tertawa, "meyakinkan kok ... hebat, masih muda jabatannya udah direktur," kata Sephia.


"Sebenernya kartu nama itu lebay," katanya. " Tapi siapa tau, kelebayan kartu nama itu bisa jadi keberuntungan buat kamu." Kalla menarik sudut bibirnya.


"Aku coba, semoga ada tempat buat aku, makasih ya."


Jarak tempuh Bali-Jakarta membutuhkan waktu hampir dua jam, selama itu pula obrolan dari yan serius hingga konyol menjadi hiburan untuk mereka.


Sesaat Sephia bisa sedikit lebih tenang. Sekilas Kalla terlihat sepertinya tulus membantunya. Semoga saja, ini titik awal dia memulai semuanya.


"Gimana? udah di jemput?" tanya Kalla yang masih setia menemani Sephia berdiri di area kedatangan.


"Sebentar lagi, udah masuk area Bandara kata adik aku," jelas Sephia.


"Oh, oke ... kalo aku tinggal gak papa ya."


"Silahkan, terimakasih banyak." Sephia mengulurkan tangannya.

__ADS_1


"Sama-sama, senang kenalan sama kamu, aku tunggu kabar baiknya, semoga bisa secepatnya gabung dengan perusahaan." Kalla menyambut uluran tangan Sephia.


"Aku duluan ya," ujarnya pada Sephia lalu melangkah menjauh dan menjawab panggilan teleponnya, "Iya, Sayang ... aku ada di depan store donat ya ... oh, aku udah liat kamu ...," ujar Kalla menjawab panggilan di seberang sana.


Sayang? Sephia tersenyum tipis, ketika sayup terdengar jawaban Kalla saat itu.


"Teteh ...." seruan dari seorang lelaki yang melambaikan tangan padanya.


"Fadil," Sephia berlari menarik kopernya mendekati adik lelakinya.


"Ibu ... Bapak ...." Bergantian Sephia memeluk orang-orang yang dia cintai itu.


"Ini mobil siapa? kok bisa jemput Teteh pake mobil?"


"Nyewa ...." Sang ayah menjawab dengan mengusak kepala anak gadisnya.


"Ayo naik, cepet ... lanjut ngobrol di mobil aja," kata Fadil yang sudah berada di dalam.


...----------------...


Jakarta keesokan harinya,


Danar terbangun dari tidurnya, malam tadi baru saja dia tiba di Jakarta. Setelah mengantarkan Wulan ke apartemen, Danar tak perlu banyak berbasa-basi dengan wanita itu. Dia langsung menuju rumahnya bertemu dengan orangtuanya.


Sedikit terkejut Mama Diana, ketika mendapati anak keduanya datang tiba-tiba. Saat ditanya pun Danar tak banyak bicara, dia hanya menjawab ada pekerjaan yang harus dia selesaikan.


Dan pagi ini dia terbangun, karena ponselnya tak berhenti bergetar di atas nakas. Danar raih ponselnya, nama Made tertera di layar.


"Apa De? ini hari Minggu De ...," ujar Danar.


"Apa sih? ini masih pagi jangan maen teka-teki, kenapa? ada masalah?"


"Semua baik ... aku tadi di tawarkan motor sama Ardi, katanya motor itu mau di jual ... tapi aku bilang itu motor cewek, kenapa di jual ke aku."


"Terus motor itu hubungannya sama aku apa?" tanya Danar geram pada Made.


"Ada hubungannya, jadi itu motor sama Ardi di jual karena yang punya sudah pulang kampung.'


"Astaga ... ya hubungannya apa? ya biarina aja yang punya pulang kampung, masa yang repot aku." Danar semakin kesal dengan telpon yang tidak jelas ini.


"Mungkin kamu tertarik Dan, karena ...."


"Karena apa?"


"Motor itu punya Sephia ...."


"Hah? punya siapa?"


"Sephia ...."


"Jangan bercanda De," Danar bangkit dari tidurnya.


"Sephia mengajukan surat pengunduran diri, Senin nanti baru akan diserahkan ke HRD, Ardi bilang semua barang-barang Sephia sudah di jual, hanya tinggal motor itu saja, makanya aku kasih tau ke kamu, mungkin berminat."


"Gila ...." Danar mengacak rambutnya. Hatinya perih, sudah ... ini benar-benar berakhir, Sephia benar pergi darinya. Danar kembali menjambaki rambutnya.

__ADS_1


"Dan ... jadi gimana ini motor?"


"Beli ... ambil, taro di rumah aku ... kamu urus semuanya, uangnya lebihkan dari harga jual."


"Oke."


"Dan satu lagi, kumpulkan semua data mengenai Sephia, dimana dia tinggal ... kirim alamatnya ke aku, segera ... aku gak mau nunggu besok, SEKARANG!"


Danar melempar ponselnya ke atas tempat tidur.


Sialan ... Phia, kamu dimana??


Danar raih kembali ponsel itu, kembali ia coba menghubungi nomer gadis itu. Kali ini nomer itu sudah benar-benar tidak aktif.


Selang berapa lama, Made kembali menelpon.


"Gimana?"


"Pak Putu masih di Singasari, dia akan kasih datanya besok."


"Astaga ... aku bilang aku butuhnya SEKARANG!"


"Gak bisa Dan, aku juga gak mungkin minta sama staf HRD yang lain, mereka juga masih libur, ingat ini hari Minggu."


"Hubungi Ni Luh atau Ardi."


"Sudah ... mereka bilang Sephia sudah tidak lagi memakai nomor yang lama, semenjak keberangkatan dia kemarin."


"Argh ... shit! oh ... Made tolong kamu ke kost Sephia, di sana ada yang bernama Teh Nita, coba kamu cari informasi melalui dia, aku tunggu kabarnya hari ini juga!"


Danar menutup percakapan pagi itu dengan kekesalan yang luar biasa di hatinya. Ketukan di pintu membuatnya tersadar.


"Iya Ma ...." Danar membuka pintu kamarnya.


"Kamu kenapa sih? suara kamu sampe ngangetin Mama."


"Maaf Ma ... cuma masalah kerjaaa."


"Turun dulu, ini udah mau siang ... kamu belum sarapan, ditanya papa di halaman belakang, sana hampiri dulu," titah Mama Diana.


"Danar mandi dulu, nanti Danar temui Papa ... Mas Agung kemana?"


"Pagi sekali dia sudah pergi ... itu juga satu tiba-tiba menghilang, heran Mama sama kalian kalo yang satu datang yang satu menghilang," wanita cantik yang sudah berumur itu menggerutu lalu keluar dari kamar Danar.


Danar kembali mengingat ingat dimana Sephia tinggal, seingat Danar Sephia hanya pernah berkata jika ayahnya seorang guru, dan Fadil adiknya hanya seorang mahasiswa yang mendapat beasiswa di universitas negeri di Bogor.


"Hhmm ... mungkin aku bisa cari info tentang adik Sephia yang mendapat beasiswa di universitas negeri itu," gumam Danar. Setahu Danar universitas negeri di Bogor ada beberapa tidak terlalu banyak.


"Tapi ini Minggu ... astaga ini bikin aku tambah gila!" lelaki itu menggerutu tak karuan.


***mari mencari 😂


cobaaaak aku mau liat jempolnya... diarahkan tolong ketemapt seharusnya... btw terimakasih banyak buat temen-temen yang udah kasih mawar sekebon, secangkir kopi buat aku apalagi vote yang tiada paksaan itu bertengger di lapak ini... makasih banyak yaaaah kesayangan semuanya 😘😘😘


enjoy reading 😘***

__ADS_1


__ADS_2