Sephia

Sephia
Candle light dinner


__ADS_3

Terhitung sudah dua minggu Sephia bekerja kembali di perusahaan Danar. Ruangan yang dulu ditempati oleh Made pun sudah beralih fungsi menjadi ruangan Sephia. Pekerjaannya pun kurang lebih sama dengan pekerjaannya saat berada di perusahaan Kalla, tidak membuatnya kesusahan untuk cepat beradaptasi.


Pagi itu, Sephia mengingatkan kembali pada Danar jika hari ini dia akan bertemu dengan klien dari salah satu hotel di Bali.


"Sayang, kamu ada makan siang bareng dengan Kadek Aryasa loh, jangan lupa," ujar Sephia saat ia masuk ke ruangan kekasihnya.


Sephia menyerahkan beberapa proposal yang masuk dan sudah dia periksa.


"Kamu ikut ya, makan siang," ujar Danar.


"Kalo gak ikut boleh gak? aku mau makan bareng sama tim keuangan, boleh ya," ujar Sephia menghampiri kursi Danar dan berdiri di sisi tunangannya.


Danar menutup laptopnya, menarik tubuh Sephia untuk mendekat.


"Sama siapa aja?"


"Anak-anak biasalah ... kamu sama Made aja ya yang makan siang sama kliennya." Sephia menyugar rambut lelaki itu lalu mengalungkan tangannya pada leher Danar.


"Ya sudah kalo gitu ... di restoran apa?"


"Rempah restoran di Kuta, sudah aku reservasi setengah satu nanti."


"Terus apa lagi?" tanya Danar lalu meraih tubuh Sephia untuk duduk di pangkuannya.


"Cuma itu aja, proposal jangan lupa di cek lagi, tadi sih udah aku cek, tinggal kamu tanda tangani kalo oke," kata Sephia yang sudah berliuk tubuhnya lantaran tangan Danar sudah menyusuri lehernya.


"Sebentar yuk," goda Danar.


"Gak ah ... udah jam berapa ini, aku siapin dulu keperluan kamu, jangan lupa cek proposal ... besok pagi kamu ketemu sama beberapa perusahaan itu."


Sephia bangkit dari pangkuan tunangannya yang sudah cemberut karena ajakannya di tolak. Sephia tersenyum melihat kelakuan kekasihnya, lalu berjalan kembali ke arah Danar. Menangkup wajah lelaki itu hingga mendongak kepadanya.


"Udah kan ... jangan cemberut lagi," kata Sephia yang baru saja memberikan ciuman lembut di bibir Danar.


"Gak berasa ... terlalu cepet ... gak asik," celetuk lelaki itu.


"Kalo mau berasa ntar malem ya." Gadis itu kembali menggodanya lalu segera berlalu dari hadapan Danar.


...----------------...


Waktu berjalan begitu cepat, Sephia masih asyik dengan pekerjaannya hingga ia sendiri lupa jika sekarang waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, dan anehnya Danar belum juga pulang.


Sephia meraih ponselnya, berusaha menghubungi Danar namun tak ada jawaban. Pesan serta telpon pun tak ada sama sekali, ponsel itu kembali ia letakkan.


Waktu menunjukkan pukul lima sore, akhirnya Danar mengirimkan pesan agar Sephia pulang ke rumahnya dan akan di antar oleh Made. Sephia sedikit bingung kenapa lelaki itu tiba-tiba pulang tanpa dirinya, apakah dia sakit tapi seingat Sephia sebelum pergi kekasihnya itu terlihat baik-baik saja.


Sephia bergegas merapihkan pekerjaannya, lalu menuju ruangan Made, tanpa mengetuk pintu Sephia terkejut ketika mendapati sosok yang ia kenal ada di ruangan itu.


"Ups ... sorry," ujar Sephia yang terkejut ketika mendapati tangan Ni Luh sedang di genggam oleh Made.


Sepertinya duda beranak satu itu sedang melakukan pendekatan dengan Ni Luh. Sephia tersenyum tipis, ia melihat wajah Ni Luh yang merona merah menahan malu saat kepergok oleh Sephia.


"Aku gak ganggu ya?"

__ADS_1


"Gak Phi ... gimana?" tanya Made.


"Tadi aku terima pesan dari Danar, aku pulang bareng sama Bli Made ... bisa?"


"Oh iya tadi dia memang pesan ke aku, nganterin Phia pulang ... udah siap?"


"Udah ... Mbok Ni Luh mau pulang bareng sekalian?" tanya Sephia mencolek lengan sahabatnya itu.


"Hah?"


"Pulang bareng sama Bli Made ... mau?"


Ni Luh menatap Made seakan mencari jawaban, lalu Made mengangguk. Tak butuh waktu lama, mereka pun berjalan menuju parkiran basemant.


"Sejak kapan?" tanya Sephia pada Ni Luh.


"Apanya?"


"Pake nanya," Sephia terkekeh. "Deket sama Bli Made."


"Oh." Ni Luh tersenyum.


"Malah senyum." Sephia tertawa melihat Ni Luh yang benar-benar malu.


"Sejak kamu hilang dari peredaran, dia intens nanyain kamu siang dan malam."


"Modus banget," kata Sephia membuka pintu mobil, Made sedari tadi menunggu kedua gadis itu di dalam.


"Modus banget sama kayak bos nya." Mereka pun tertawa.


"Sayang ...," panggil Sephia lalu menghidupkan lampu.


"Jangan dihidupin lampunya," sahut Danar dari arah dapur.


"Apa?"


"Matiin lagi lampunya ... aku ada di dapur."


"Kamu ngapain di dapur?" Sephia melihat sosok itu masih dengan pakaian kerjanya siang tadi, namun sekarang sudah berbalut appron (celemek memasak).


"Ayo," ujar Danar menuntun Sephia keluar ke taman kecil di belakang.


Suara gemericik air dari kolam ikan menambah suasana romantis malam itu. Lilin menyala di atas meja makan. Sudah terhidang dua steak yang Sephia yakin steak itu dibuat sendiri oleh Danar. Ada dua gelas tinggi di sana dan satu botol sampanye.


"Duduk dong ... kok bengong." Danar menarik kursi untuk Sephia.


Entah sejak kapan meja makan bundar dari kaca itu berpindah tempat berada di teras belakang rumah itu. Sepertinya Danar menyiapkan semua ini siang tadi setelah pertemuan meeting nya.


"Dalam rangka apa?" tanya Sephia pada Danar setelah lelaki itu memberikan kecupan di pucuk kepalanya.


"Gak ada ... aku cuma pengen romantis-romantisan aja sama kamu," ujar Danar santai dan duduk berlawanan dengan Sephia.


"Kamu yang masak ini semua, Sayang?"

__ADS_1


"Iya dong ... nih cobain." Danar memberikan satu potongan daging steak pada Sephia. "Enakkan?"


"Enak ... tapi masih sedikit keras." Sephia terkekeh.


"Haha ... anggap udah lembut, Sayang ... atau setelah ini aku kasih kamu daging yang lembut banget." Danar selalu penuh dengan kata-kata yang bermakna dalam hal menggoda.


"Maunya kamu ...."


"Aku melupakan sesuatu ... sebentar." Danar kembali ke dalam rumah.


Sayup terdengar alunan permainan piano dari dalam, semakin terdengar jelas di telinga Sephia. Alunan piano Kiss The Rain milik seorang musisi Korea, Yiruma, begitu merdu terdengar.


Suasana romantis kali ini memang tak kalah dengan candle light dinner di hotel berbintang atau di tepi pantai seperti kebanyakan orang yang merayakan. Cukup di pinggir kolam ikan menikmati masakan dengan daging sedikit keras, ditemani alunan musik yang mendayu-dayu lalu di tutup dengan segelas sampanye.


"Dansa?" pinta Danar.


"Aku gak bisa ...."


"Coba dulu," ujarnya mengulurkan tangannya pada Sephia yang sudah tersipu.


"Kamu bikin aku geli," kekeh Sephia.


"Kenapa?"


Danar menarik tubuh Sephia merapat padanya. Bergerak begitu lembut mengikuti irama alunan musik. Mata mereka saling mengunci, Danar memberikan kecupan singkat pada kening Sephia.


"Sok romantis," jawab Sephia.


"Belajar romantis ... sudah cukup aku belajar gombalnya." Sudut bibir mereka pun mengembang.


"Jadi dagingnya masih keras ya," kata Danar lagi.


"Hooh ... besok-besok biar aku yang masak, kamu cukup cari uang yang banyak aja, buat nge bahagiain aku sama anak-anak kita," Sephia membalas kecupan di pipi Danar.


"Aku kasih daging yang lembut mau?"


Lelaki itu perlahan memberikan ciuman lembut di bibir Sephia, dan selalu membuat Sephia terhanyut. Tangan Danar yang sedari tadi sudah membelai lembut bagian punggung belakangnya sekarang sudah mulai turun meremas bokong gadis itu. Ciuman mereka saling berbalas, seakan enggan untuk saling melepaskan hanya untuk sekedar berbagi udara.


Nafas yang semakin menderu itu pun seakan menuntut untuk memberikan sesuatu yang sudah bergelenyar menunggu buncahan rasa itu terlepas dari kubangannya.


"Danar ...." Sephia melepaskan ciuman mereka lalu menarik diri dari pelukan lelaki itu.


"Kenapa?" Danar menyematkan helaian-helaian rambut Sephia.


Lalu kembali Danar membawa Sephia kedalam pelukannya, pelukan yang hangat dan nyaman yang selalu Sephia rindukan. Mencium harum tubuh lelaki itu saja sudah membuatnya sangat tenang.


"I love you."


"I love you too."


***I love you guys 😘


enjoy reading 😘

__ADS_1


jangan lupa like dan komen nya yaaaah 🙏***


__ADS_2