
Awal Januari 2022, hujan masih deras di luar sana. Sedangkan pagi itu, ruang rawat inap tempat dimana Sephia akan menghabiskan waktu tiga hari ke depan terlihat ramai, penuh gelak tawa dan kebahagiaan. Semua keluarga berkumpul di sana, bapak dan ibu Sephia serta kedua orang tua Danar. Ni Luh dan Made masih setia menemani pasangan orang tua baru itu.
Danar terlihat duduk di samping sang istri, merangkul pundak Sephia yang sedang tersenyum memperhatikan para kakek dan nenek sedang membicarakan tentang bayi mereka. Bayi dengan berat 3,3kg dan panjang 49cm itu tertidur nyenyak di dalam pelukan ibu Widya.
"Kamu istirahat aja," bisik Danar pada istrinya.
"Iya, setelah semua pulang ... aku istirahat," jawab Sephia menatap Danar lalu membelai pipi suaminya. "Kamu capek ya?"
Danar menggeleng. "Yang capek itu kamu ... aku gak."
"Siapa namanya Dan?" tanya pak Hermawan yang sudah terlihat lebih sehat dari waktu ke waktu.
Danar menoleh pada Sephia, lalu tersenyum. Nama ini memang ia persiapkan sebagai kejutan untuk Sephia. Nama yang berarti seorang pemimpin yang berwibawa. Ia mengharapkan anaknya bisa menjadi harapan kedua orang tua dan keluarga besarnya kelak.
"Antara Hermawan Sudrajat." Danar tersenyum.
Ia sengaja menyisipkan nama sang ayah dan ayah mertuanya di nama anak-anak mereka nanti.
"Antara?" tanya Made. "Bali sekali," ujar Made dengan mengacungkan kedua jempolnya.
"Apa artinya Bli?" tanya Sephia.
"Antara itu diambil dari bahasa Sansekerta, diharapkan anak lelaki kalian menjadi pemimpin yang berwibawa dan percaya diri, dia juga seorang petualang," jelas Made.
"Asal jangan jadi petualang cinta kayak bapaknya," sahut mama Diana.
"Mama boong banget ... aku setia Ma orangnya, ya kan Sayang?" Danar melirik Sephia, Sephia membalas dengan mencebik.
"Siap-siap puasa," goda mama Diana.
"Emang lama?" tanya Danar polos.
Semua orang yang berada di sana pun tertawa, begitupun Sephia yang hanya bisa tersenyum malu karena kelakuan suaminya.
"40 hari Dan," sahut Made yang tak mampu menahan tawanya.
"Lama ya ...." Danar membayangkan bagaimana mungkin bisa menahan selama 40 hari, satu minggu tanpa menyentuh Sephia saja dia sudah kelimpungan.
"Gak usah di hitung, nanti malah tambah lama," ledek mama Diana lagi.
"Kita pulang dulu saja kalo begitu," ujar ibu Widya, "biar para kakek istirahat."
"Oh iya Bu, di rumah semua udah di siapin mbok Marni, nanti supir kantor yang antar semua ... sama Made juga ya De, lo sekalian anterin Ni Luh, dia juga butuh istirahat ... Ni Luh thanks ya," ujar Danar.
Ruangan itu mendadak sepi, hanya tinggal Danar, Sephia dan Antara bayi mereka.
__ADS_1
"Bawa sini Sayang, mungkin Tara haus," ujar Sephia merentangkan tangannya agar Antara beralih ke pelukannya.
"Itu sudah jadi hak milik Tara ya Phi?" Danar menatap bayi mungil itu melahap puncak dada Sephia.
"Tuh kan haus ... iya, anak Bunda haus ya," Sephia membelai lembut kepala Antara, menatap bayi itu menyesap ASI milik Sephia. "Ini udah jadi haknya Tara Ayah ... Ayah harus bisa berbagi sama anaknya ya ...." Sephia terkekeh.
"Ya ampun ... padahal Ayah suka banget itu Nak," ujar Danar mencium pipi Antara mendekat dada Sephia.
"Haha ... ciumnya Antara dong bukan yang satu nya." Sephia benar-benar di buat tertawa oleh ulang Danar.
"40 hari itu lama, Sayang ... mana bisa aku tahan," rengeknya.
...----------------...
Ini hari pertama Antara berada di rumah, bayi itu membuat rumah mereka semakin ramai. Mas Agung dan Wulan pun ikut datang meramaikan penyambutan anggota keluarga baru mereka. Lintang, putri mereka sekarang sudah berumur satu, gadis kecil itu begitu lincah. Ulahnya yang sering mencuri kesempatan untuk menciumi Antara tak luput dari pantauan orang-orang di sana.
"Dulu aku pernah bermimpi punya keluarga kecil yang bisa membuat aku bahagia," ujar Sephia yang berdiri bersisian dengan Danar sambil memperhatikan wajah-wajah bahagia yang sedang berkerumun memandangi Antara.
"Dan sekarang aku bahagia memiliki kamu dan Antara dalam hidup aku," kata Sephia lagi meraih tangan Danar lalu menciuminya.
Danar merangkul pundak istrinya membawa Sephia ke dalam pelukannya.
"Aku harusnya yang berterima kasih sama kamu, Phi ... dengan adanya kamu di hidup aku, kamu merubah semuanya menjadi indah." Danar mencium kening istrinya lalu mereka saling melempar pandangan satu sama lain.
"Eh iya Sayang, itu kamu ...." Danar menunjuk baju Sephia yang sudah mulai basah di daerah dadanya.
"Ini sepertinya harus di pompa, sayang kalo terbuang," ujar Sephia membawa Antara masuk ke dalam kamar mereka diikuti oleh Danar.
Danar bagai keong yang selalu menempel dan mengikut kemanapun istri dan anaknya pergi.
"Ini pompa ASI nya sama botol," ujar Danar memberikan pompa ASI pada Sephia yang sedang menyusui Antara.
"Sabar Nak ... nanti keselek loh," ucap Sephia memiringkan tubuhnya.
"Antara kenapa napsu banget sih ...." Danar menggelengkan kepalanya melihat kelakuan bayi berusia tiga hari itu menyesap susu Sephia.
"Itu artinya dia gak mau berbagi." Sephia tersenyum pada bayi kecil itu yang sudah mulai menutup matanya karena mengantuk.
"Masih lama ya?" tanya Danar ikut berbaring di sebelah putra mereka.
"Apanya?"
"Itu nya," ujar Danar yang sudah mendekatkan wajahnya pada Sephia. "Aku hitung-hitung sebelum kamu lahiran aku gak kamu kasih udah tiga hari di tambah tiga hari ini berarti udah mau seminggu, Sayang," rengek Danar.
__ADS_1
"37 hari lagi ... kamu harus sabar," ujar Sephia membelai mesra pipi suaminya.
"Gak ada cara lain apa?" tanya nya dengan mata yang sendu.
"Hhmm."
"Pake cara lain bisa kan?" Danar berbisik di telinga Sephia, wanita itu mulai goyah.
"Cara apa?"
"Selagi nunggu 40 hari," ujar Danar membawa tangan Sephia ke bagian bawah tubuhnya.
Sephia menahan tawanya, alih-alih takut Antara akan terbangun.
"Kayaknya belom bisa Sayang."
"Kenapa?" tanya Danar mengecup sekilas bibir Sephia.
"Kita harus jaga stamina buat gantian begadang setiap malam."
"Semenjak Antara lahir kita gak pernah ngerasain begadang loh, Phi."
"Masa sih? aku bangun terus tengah malam walau cuma buat kasih ASI ke Antara ... ya emang sih Antara gak rewel, anteng."
"Iya ... kayak sekarang dia udah anteng, ayo Phi," ajak Danar.
"Kemana?"
"Kamar mandi," kekeh Danar.
"Ngaco kamu ... di luar rame orang."
"Kita bikin cepet," ujarnya menarik tangan Sephia untuk bangkit dan mengikuti langkahnya menuju kamar mandi.
Danar menutup pintu kamar mandi, menyudutkan Sephia ke dinding, menekan tengkuk leher istrinya menautkan bibirnya pada bibir Sephia. Menyesapnya perlahan, membuai Sephia dengan lembut. Tangan Danar turun ke dada Sephia, dada itu semakin berisi. Danar membuka satu per satu kancing kemeja tunik istrinya, menyingkapkannya lebar. Dia kembali menyusuri leher hingga dada Sephia dan Sephia menikmati setiap sentuhan yang Danar berikan.
"Sayang," ujar Danar tertahan dan menuntun Sephia untuk duduk di toilet yang tertutup.
Kembali Danar menyesap bibir Sephia, menggigitnya bergantian sementara tangannya sudah membuka resleting celana hingga celana panjang beserta boxer yang ia pakai tergeletak di bawah sana.
"Sebentar aja, Phi," ujarnya dengan mata sendu dan memohon lalu menuntun kepala istrinya untuk menyambut kelakiannya.
***enjoy reading 😘
like dan komen kalian selalu aku nantikan 😍
__ADS_1
Chida ❤️***