
Sudah satu bulan hubungan mereka kembali terjalin. Ini kali pertama giliran Danar yang datang ke Jakarta untuk bertemu Sephia. Lelaki itu duduk di sofa ruangan kerja Kalla, menyilangkan kakinya dan bersandar di sofa. Padahal ini baru hari Kamis, namun Danar sudah berada di Jakarta.
Sephia masuk membawakan dua cangkir kopi untuk dua lelaki di ruangan ini. Gadis yang menggunakan rok diatas lutut berwarna krem dan kemeja putih tulang serta high heels berwarna senada dengan bawahannya itu menarik mata Danar untuk menatapnya tanpa berkedip.
"Masih siang ini, woy." Suara Kalla membuyarkan pikiran Danar.
"Makanya buruan, biar gak lama gue nunggu di sini."
"Dih, siapa suruh lo kesini ... udah tau masih jam kerja," seloroh Kalla, menutup laptopnya. "Masih ada laporan yang mau di tandatangani gak, Phi?"
"Ada, sebentar aku ambil."
Kembali mata Danar mengikuti langkah kaki Sephia keluar dari ruangan Kalla.
"Seneng banget kayaknya lo ya," kata Kalla menghempaskan tubuhnya di sofa.
"Seneng lah, gak ada alasan lagi buat gue galau."
"Dih, belom ketemu aja uring-uringan terus lo."
"Iyalah, gak ada lawan." Danar tertawa.
"Double date ... mau?"
"Kemana?"
Sephia kembali masuk ke dalam, memberikan berkas dan pena kepada Kalla. Danar melihat interaksi antara Sephia dan Kalla, rasanya seperti ada sesuatu di hatinya mengganjal.
"Puncak ... gimana? besok sore kita jalan."
"Villa gue, villa lo?" tanya Danar lalu meraih tangan kekasihnya untuk duduk di sebelahnya.
"Villa gue aja, eh ... tapi gue tanya Nami dulu dia ada jadwal gak." Kalla beranjak mencari ponsel di mejanya.
"Sayang, ini di kantor ... gak enak sama Kalla," ujar Sephia melepaskan genggaman tangan Danar.
"Bila perlu kita ciuman di depan dia," bisik Danar membuat Sephia mendaratkan pukulan di paha lelaki itu.
Sephia lalu beranjak keluar meninggalkan dua lelaki yang sedang merencanakan double date Jumat sore nanti. Kalla memperhatikan Sephia keluar dari ruangan itu, sembari bertanya pada Nami.
"Oke, Nami kosong jadwalnya sampai Minggu sore. Deal jadi ya besok," ujar Kalla.
"Sejauh apa hubungan lo sama Sephia?" tanya Kalla pada Danar, seperti seorang kakak yang bertanya pada kekasih adiknya.
"Sejauh apa maksud lo?"
"Lo tau maksud gue, masa mau gue perjelas."
"Oh itu."
"Iya, itu ... udah?"
__ADS_1
"Belom lah ... lo sendiri sama Nami?"
"Gue? kan gue udah tunangan." Kalla menyunggingkan senyum.
"Dasar lo."
"Hebat juga sih lo bisa tahan."
"Yang hebat itu lo, bisa gak jadi-jadi gimana caranya," mereka pun tertawa.
...----------------...
Danar sudah menunggu Sephia di dalam mobilnya, ia meminta seseorang untuk mengantar mobilnya ke kantor Kalla siang tadi saat dia tiba dari Bali. Gadis yang ia tunggu pun akhirnya datang juga. Sephia masuk ke dalam mobil, dan memberikan kecupan di pipi Danar.
Lelaki itu memperhatikan Sephia, lalu melajukan mobilnya menuju sebuah kafe untuk makan malam.
"Besok kerja, roknya jangan pendek-pendek, Phi," ujar Danar meletakkan tangannya di atas paha Sephia.
"Kenapa? ini kan gak pendek." Sephia menyingkirkan tangan lelaki itu.
"Gak enak liatnya, bikin ...."
"Bikin apa?"
"Bikin yang liat kamu jadi mikirnya kemana-mana."
Sephia membelai pipi Danar, dia tahu apa yang Danar takutkan.
"Yang pikirannya kemana-mana itu kamu, Sayang ... liat aja itu tangan di singkirin tetep aja nangkring lagi di sini." Sephia terkekeh.
"Kita mau kemana?"
"Makan, aku laper."
Berhenti di sebuah kafe yang terlihat nyaman, Sephia masuk bersama Danar. Menempati satu tempat duduk, namun melewati sepasang suami istri.
"Mas," sapa Danar.
"Loh kamu?" Agung terkejut melihat adiknya sudah berada di Jakarta.
Sephia yang berada di samping Danar pun tersenyum, terlebih Sephia merasa canggung ketika melihat wanita cantik yang sedang berbadan dua itu.
"Eh, kenalin Mas ... ini Sephia, Sephia ini Mas Agung ... kakak aku, dan ini Wulan, istrinya."
Sephia mengulurkan tangannya pada pasangan suami istri itu.
"Mas, jangan bilang sama Mama gue pulang ya," ujar Danar menarik kursi untuk Sephia dan dirinya.
"Lah, emang kenapa?"
"Nanya lagi lo ... pokoknya jangan bilang gue pulang, tadi si Beno gue suruh nganter mobil, gue pesen ke dia kalo yang bawa mobil dia bukan gue ... pokoknya jangan bilang gue ada di Jakarta."
__ADS_1
"Terus kalo gue gak bilang di Jakarta, lo mau pulang kemana?"
Danar hanya tersenyum, mengedipkan matanya mengisyaratkan sesuatu.
"Kenapa gak di kenalin sama Mama sih?" tanya Wulan.
"Ntar ... nyari momen yang pas," seakan menyindir Wulan.
"Pesan apa Sayang?" tanya Danar pada Sephia. "Gue tempatnya Sephia, rencana gue mau ambil apartemen sih, tapi kayaknya gak jadi aja."
"Apartemen gue kosong, lo pake aja kalo lo lagi di Jakarta, maksud gue kalo lo gak mau pulang."
"Ini gimana sih, malah di dukung adeknya gak pulang," sahut Wulan.
"Kakak adik harus saling mendukung, Lan ... kalo gak saling mendukung lo gak jadi nikah sama Mas Agung," jawab Danar santai.
"Iye nikahnya sama lo, terus lo stress bertahun-tahun gara-gara gak jadi sama Sephia." Agung tertawa.
Sephia hanya tersenyum melihat kegilaan kakak beradik itu. Sedangkan Wulan selalu jadi santapan sindiran oleh Danar jika sedang berkumpul bersama.
Double date yang tak direncanakan hari ini, akhirnya membawa Sephia berkenalan secara langsung dengan Wulan. Ternyata Wulan tak seburuk yang dia bayangkan. Tapi Wulan memang terlihat lebih manja dan selalu ingin diperhatikan. Beruntungnya dia mendapatkan suami seperti Mas Agung yabg terlihat sayang padanya.
"Ajak ke rumah Dan, kan Mama pernah bilang kalo lo udah ketemu Sephia kenalin ke Mama," kata Agung.
"Iya, nunggu pas momennya baru gue bawa pulang kenalin ke Mama Papa."
"Akhir bulan kan anniversary Mama Papa, gimana kalo akhir bulan aja?" Wulan memberikan ide.
"Boleh juga sih ... mau ya Phi? aku kenalin Mama Papa," ujar Danar menggenggam tangan Sephia yang sedari tadi hanya diam melihat mereka mengatur rencana.
"Aku ikut aja." Sephia menatap Danar.
Danar mengecup pipi gadis itu di depan kakak dan kakak iparnya membuat Sephia malu.
"Sudah berapa bulan Mbak Wulan?" tanya Sephia saat kedua lelaki tadi berlalu menuju smoking area.
"Masuk tujuh bulan," jawab Wulan.
"Sebentar lagi ya," ujar Sephia lalu.
"Iya, udah mulai posisi susah."
"Ngidam aneh gitu?"
"Gak juga sih biasa aja, mungkin karena biasa di tinggal-tinggal sama Mas Agung, jadi yang di dalem juga gak rewel."
"Phia ... aku minta maaf atas semua yang terjadi antara kamu dan Danar," kata Wulan lagi.
"Lupakan Mbak ... mungkin memang harus melalui seperti ini dulu," jawab Sephia tersenyum.
"Semoga disegerakan ya kamu gabung di keluarga Hermawan Wicaksana," ujar Wulan tulus.
__ADS_1
Percakapan sekedarnya itu akhirnya mencairkan suasana canggung antar amereka berdua. Danar yang melihat dari jendela kaca pun mengulas senyum.
enjoy reading 😘