Sephia

Sephia
Pindah


__ADS_3

"Teh, barang-barang yang di kardus belakang udah pada di keluarin? di bawa ke depan ya ... biar di angkat sama Fadil ke mobil truk" titah Bu Widya.


"Udah Bu, semua udah Phia keluarin ... yang belum masuk cuma yang kecil-kecil kok," jawab Sephia.


Iya, hari ini tepatnya hari Sephia dan keluarganya akan meninggalkan rumah dimana Sephia menghabiskan masa kecilnya. Berat memang tapi semua sudah harus diikhlaskan.


Bapak Asep Sudrajat, memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya di Purwakarta. Tepat tiga hari yang lalu Pak Asep sudah berstatus sebagai seorang pensiunan guru, tepat di umur 55 tahun. Bapak mengajukan pensiun karena dirasa bahwa ia ingin menikmati masa tua di kampungnya.


Rumah yang mereka tempati sekarang pun sudah laku terjual, Bu Widya beserta anak-anaknya hanya memberikan dukungan untuk keputusan lelaki setengah baya itu. Bapak hanya ingin dekat dengan keluarga besarnya, sedangkan Ibu, sebaik-baiknya istri sudah pasti selalu berada di sisi suami. Mereka adalah paket lengkap dari sebuah hubungan pernikahan yang bahagia.


Fadil juga haru memutuskan untuk kost dekat dengan kampusnya, sementara Sephia ia masih ingin menikmati masa menganggurnya dan menghabiskan waktunya bersama keluarga.


"Phia ... barang-barang di kamar kamu udah semua kan?" seru ibu dari teras depan.


"Ini tinggal koper Phia, Bu."


"Kalo sudah semua ... kita berangkat sekarang, Phi," ujar Bapak.


Bapak akhinya memutuskan membeli sebuah mobil keluaran tahun lama, hanya untuk transportasi mereka jika akan pergi bersama-sama. Keluarga ini memang terbiasa hidup sederhana, pekerjaan Bapak yang hanya seorang guru membiasakan mereka hidup apa adanya. Kedua anak Pak Asep, Sephia dan Fadil pun dapat melanjutkan kuliah juga karena mereka berusaha keras untuk mendapatkan beasiswa.


Perjalanan Ciomas ke Purwakarta hampir mencapai waktu lebih dari tiga jam. Tiba di sebuah rumah bergaya lama, cukup asri dengan halaman yang luas sesuai cita-cita Bapak yang ingin bercocok tanam dan memelihara beberapa burung kesayangannya.


Setelah merapikan barang-barang dan membereskan setiap ruangan serta kamarnya sendiri, Sephia merebahkan dirinya. Lelah sangat tubuhnya namun dia menikmati kebersamaan ini.


Ibu masuk mengantarkan satu gelas susu hangat dan roti bakar yang di beli Fadil di simpang jalan besar sebelum masuk ke dalam area rumah mereka.


"Istirahat, minum dulu susu dan makan roti ini ... kalo gak mau makan malam minimal perut Teteh harus ke isi."


"Makasih Bu," Sephia mengambil satu potong roti lalu memakannya.


"Phia, setelah ini rencananya gimana?"


"Phia mau melamar kerja."


"Bagus kalo gitu ... Ibu gak mau kamu terlalu lama di rumah dan gak produktif, Phia masih muda, sebisa mungkin nikmati masa muda Phia dengan hal-hal positif."


"Iya Bu ... tapi, kalo misalnya Phia ngelamar kerjanya di Jakarta lagi, gak papa?"


"Kalo ibu pribadi sih gak papa, asal Phia bisa jaga diri ... tapi gak tau kalo Bapak, kalo Bapak kan Phia tau sendiri banyak pertimbangkan ngelepas kamu tuh ... inget waktu Phia ijin mau mutasi ke Bali ... Bapak berat sekali kan, terus apa akhirnya Sephia sendiri yang mengundurkan diri karena kangen keluarga."

__ADS_1


Iya, Sephia mengaku jika kepulangannya ke Bogor kala itu karena rindu dengan keluarganya bukan karena permasalahan percintaannya.


"Kalo Jakarta kan deket Bu, Phia bisa pulang seminggu atau dua minggu sekali ke Purwakarta, lagian naik travel dah sampe aja depan rumah nanti mah ... ya Bu, boleh ya Phia coba di Jakarta lagi," bujuk Sephia.


"Bilang sama Bapak deh ... Ibu mah ikut apa kata Bapak aja."


...----------------...


Setelah membujuk sang Ayah dengan berbagai macam cara, akhirnya Pak Asep pun menyetujui permintaan Sephia asal Sephia berjanji untuk pulang dua minggu sekali atau paling lama sebulan sekali.


Dengan bekal restu dari Bapak, hari ini Sephia mencoba menghubungi lelaki yang memberikannya kartu nama saat berada di pesawat dari Bali menuju Jakarta.


"Selamat pagi," sapa Sephia melalui sambungan telepon.


"Iya, pagi."


"Em ... aku Sephia, masih ingat?" tanya Sephia takut-takut.


"*Sephia mana?"


Aseeeem*! lupa dia gerutu Sephia dalam hati.


Kalla terkekeh. "Ya jelas aja aku ingat ... nama yang kayak judul lagu kan?"


"Nyebelin." Sephia cemberut.


"Gimana? apa yang biasa aku bantu?"


"Aku ... maksud aku tawaran kamu buat gabung di perusahan kamu masih terbuka kah?"


"Tawaran yang mana? aku pernah nawarin sesuatu?" goda Kalla.


"Ah, ya sudah kalo gitu, emang kamu gak niat buat ngebantu aku ternyata."


"Dih ngambek ... kalo ngambek jodohnya makin jauh loh." Lelaki itu kembali membuat wajah Sephia cemberut.


"Aku serius ... aku butuh pekerjaan, kalo memang kamu butuh besok aku datang untuk melamar."


"Melamar aku? astaga ... kamu sweet banget," Kalla terkekeh, kedua lesung pipi nya kembali terukir.

__ADS_1


"Kalla aku serius."


"Aku juga ... kalo kamu mau kita bisa ke KUA sekarang."


"Astaga ...." Sephia menepuk keningnya.


Dia merasa kenapa dirinya selalu bertemu dengan lelaki-lelaki seperti ini, penuh dengan gombalan dan kata-kata yang kadang membuatnya melambung jauh.


*Melambung ... kata-kata penuh dengan ungkapan perasaan ... ah, Sephia merindukan lelaki itu ... sekarang mungkin semuanya sudah berubah.


"Halo ... gimana? jadi*?"


"Apa?"


"Ngelamar kerja atau bener-bener mau ke KUA?" Kalla lagi-lagi menggodanya.


"Jadi ... ngelamar kerja, ada posisi apa yang bisa aku ajukan?"


"Ada dua ... pertama, aku butuh sekretaris, kedua di bagian keuangan tapi divisi keuangan yang aku butuhkan ini adalah bagian keuangan yang menghandle beberapa projects besar ... dan harus mau ditempatkan di daerah dimana projects itu dilaksanakan, gimana?"


Sephia terdiam, jujur untuk posisi sekretaris dia tidak mempunyai kemampuan di bidang itu. Karena memang dia tidak ada pengalaman untuk menjadi sekretaris. Namun, keuangan projects dan harus mau ditempatkan dimana projects berlangsung dan itu bisa lebih dari enam bulan.


Jika ia pilih keuangan projects, maka sudah jelas dia tidak akan diberikan ijin untuk pergi terlalu jauh dari kedua orangtuanya. Namun jika sekretaris yang ia pilih, maka akan butuh waktu maksimal satu bulan untuk beradaptasi dengan pekerjaannya dan tidak menutup kemungkinan ia juga akan sering keluar kota jika suatu saat dibutuhkan.


"Gimana?"


"Kalo gitu saya pikir-pikir lagi aja dulu deh," ujar Sephia karena memang ini pilihan rumit.


"Fasilitas yang kamu dapat jika menjadi sekretaris, ada uang makan, ongkos bahkan uang untuk tempat tinggal dengan nominal tertentu. Kalo kamu memilih menjadi keuangan projects, fasilitas yang kamu terima sama dengan sekretaris tapi di tambah dengan uang insentif setiap bulannya, cuma ya itu kamu harus siap berpindah-pindah, sekarang aku balikin ke kamu ... mana yang kamu pilih? take it or leave it," ujar Kalla panjang lebar meyakinkan Sephia.


"Diputuskan sekarang? apa gak pake interview?"


"Interview formalitas," ujar Kalla, "jangan lupa yang menentukan di sini aku," katanya lagi.


Sephia menghela nafas nya, "Oke, aku pilih untuk jadi sekretaris kamu," jawabnya dengan tegas.


"Sip, gitu dong ...."


***enjoy reading 😘

__ADS_1


jangan lupa like komennya biar dunia ini aman 😂***


__ADS_2