
Akhir April 2021,
Danar terbangun dari tidurnya pagi itu. Matahari baru saja menampakkan wujudnya, sinarnya menyeruak masuk melalui celah tirai jendela. Danar tak menemukan Sephia berada di sampingnya, masih terlalu pagi untuk Sephia bangun di jam seperti ini.
Danar beranjak bangkit, menyugar rambutnya lalu berjalan membuka pintu kamar mereka. Danar menuju dapur, biasanya Sephia akan berada di sana namun tetap tak ia dapati istrinya itu. Danar melangkah ke teras depan berharap istrinya berada di sana, tetapi tetap saja Danar tak menemukan Sephia, melangkahkan kakinya lebar-lebar menaiki tangga ke lantai dua yang memang jarang mereka kunjungi kecuali jika ada keluarga yang datang.
Danar bernafas lega ketika akhinya ia menemukan Sephia sedang berada di balkon, duduk di sisi taman kecil yang ia buatkan untuk Sephia. Wanita itu sedang menyesap secangkir kopi latte. Menikmati sejuknya udara lagi dan menemani bunga-bunga yang akan bermekaran.
"Aku kira kamu kemana," ujar Danar membelai kepala istrinya.
"Aku gak bakal kemana-mana ... pasti selalu sama kamu."
"Aku tau."
Danar duduk di samping Sephia menggenggam tangan istrinya erat. Jari jemari mereka saling bertaut, semalam Danar kembali membuat Sephia melayang ke angkasa. Suaminya itu tak akan pernah melewatkan kesempatan untuk menanamkan benih di rahimnya.
"Mau sarapan apa?" tanya Sephia menoleh pada lelaki itu.
"Yang ada aja, roti aja deh yang cepet."
"Kenapa harus cepet-cepet?"
"Aku mau bawa kamu ke suatu tempat." Danar tersenyum.
"Kemana?"
"Rahasia."
"Sayang," ucap Sephia.
"Iya."
"Kalo semisalnya aku lama mendapatkan anak lagi, kamu mau gak kalo kita ikut program?"
"Bayi tabung?" Sephia mengangguk. "Kita gak pake bayi tabung aja jadi, Phi ... udah gak usah mikir yang aneh-aneh deh, kamu kadang suka mikirnya jauh," ujar Danar.
Sephia menghela nafas panjang, ia hanya takut saja sesuatu terjadi, hanya itu.
"Mandi?" tanya Danar mengerlingkan alisnya.
"Sebentar lagi," jawab Sephia.
"Sekarang yuk, biar gak kesiangan perginya ntar ... belom packing loh." Danar menggandeng istrinya menuntunnya turun ke bawah.
...----------------...
Pukul dua siang, Danar memacu kuda besinya menuju Munduk, kabupaten Buleleng. Perjalanan memakan waktu dua jam lebih sedikit. Kali ini Danar benar-benar membawa Sephia menikmati bulan madu mereka, karena Sephia menolak pergi keluar negeri maka Danar membawanya pergi untuk beberapa hari ke depan. Cukup menikmati hari mereka tanpa di ganggu oleh kesibukan kantor dan segala permasalahannya.
__ADS_1
Hanya menempuh waktu yang tak begitu lama, mereka menemukan suatu tempat tersembunyi yang sangat indah. Pemandangan alam yang masih sangat alami. Danar menghentikan mobilnya di sebuah resort mewah. Udara yang sejuk, pemandangan pegunungan hamparan pepohonan terlihat dari balkon kamar mereka.
"Kamarnya bagus banget Sayang," ujar Sephia mengelilingi kamar berornamen kayu itu.
Pemandangan langsung menghadap pada hamparan hijau pepohonan di bawah sana, yang kebetulan resort mereka berada di ketinggian.
"Sayang," panggil Sephia ketika melihat kamar mandi kamar itu.
Jacuzzi yang penuh dengan taburan mawar merah menambah suasana romantis sore itu.
"Ya ampun," ujar Sephia menangkup bibirnya dengan kedua tangannya. "Kamu persiapin ini semua?"
"This is our honeymoon, honey." Danar merentangkan tangannya, Sephia memeluk erat tubuh suaminya.
"Makasih," ujar Sephia menautkan bibirnya pada bibir Danar.
"Kita habiskan empat hari di sini, aku pengen kita berdua gak mau di ganggu siapa-siapa," bisik Danar.
"Mau nyobain gak?" Sephia menggoda lelaki itu melangkah menuju jacuzzi sambil melepaskan satu per satu pakaian yang dia kenakan.
"Siapa takut," ujar Danar melepaskan semua pakaiannya dan menyusul Sephia masuk ke dalam air bertabur mawar itu.
...----------------...
Pagi kembali menyapa, Danar baru saja membuka matanya saat ia kembali melihat Sephia menggunakan bikini kali ini bikini itu berwarna hitam.
"Iya," Sephia merangkak naik kembali ke atas tempat tidur tepat di atas tubuh suaminya.
"Gak bosen?" suara parau khas bangun tidur itu seraya berbisik.
"Sama kamu lagi, yuk." Ajak Sephia.
Danar tersenyum, istrinya ini sekarang memang lebih terlihat agresif dari biasanya, terkadang Sephia tanpa malu dan segan mencumbuinya terlebih dahulu, tetapi Danar suka hal itu.
Dan di sinilah mereka, di sebuah kolam renang yang berada di ketinggian langsung menatap keindahan alam di pagi hari. Udara sejuk serta suasana romantis begitu sangat mendukung. Danar dan Sephia berada di ujung kolam, suami istri itu asik bercumbu satu sama lain.
"Kapan-kapan kita kesini lagi ya," ujar Sephia melepaskan cumbuannya.
Danar memeluknya dari belakang, meletakkan dagunya di pundak Sephia.
"Kapan aja kamu mau, kita bisa kesini setiap saat," ujar Danar mengeratkan pelukannya. "Dingin?" tanyanya pada Sephia, istrinya itu menggeleng.
"Aku suka di sini, sejuk jauh dari keramaian sepertinya asik untuk menyendiri."
"Kenapa harus menyendiri jika ada teman berbagi cerita." Danar membalikkan tubuh istrinya. "Aku kurang cukup pantas kah untuk mendengar segala keluh kesah kamu?" tanya Danar.
"Aku hanya mengumpakan, Sayang ...." Sephia mengecup bibir suaminya. "Sarapan kita kayaknya udah siap," kata Sephia.
__ADS_1
"Mau naik sekarang?" Sephia mengangguk.
Danar membantu istrinya memakaikan kimono, lalu melangkah ke sebuah meja makan yang sudah tertata dengan beberapa menu sarapan di pagi hari.
"Kapan kita pulang?" tanya Sephia saat ia sudah menyelesaikan makannya.
"Terserah kamu."
Sephia terkekeh,
"Kok ketawa?" tanya Danar lagi.
Sephia beranjak dari kursinya, meraih tangan Danar dan mengajaknya masuk ke dalam kamar mereka. Sephia menutupi semua tirai, dia melepaskan kimono serta bikini yang masih melekat basah di tubuhnya.
"Kamu mau lagi?" bisik Sephia membuat Danar tersenyum.
"Kamu banyak berubah sekarang," ujar Danar lalu menautkan bibirnya.
Danar menciumi istrinya dengan lembut, sementara tangannya meremas bokong Sephia yang semakin padat. Desahan Sephia mulai terdengar saat tangan Danar naik ke atas dadanya.
"Sebentar, aku ada sesuatu buat kamu," ujar Danar lalu menuju ke lemari mereka mencari sesuatu di koper yang ia bawa kemarin.
Sephia masih berdiri menunggu dengan tubuh yang polos, wanita itu seakan sudah biasa saja dengan penampilannya seperti itu di depan Danar. Danar merengkuh pinggang Sephia, ia memperlihatkan sebuah kalung berukir inisial nama mereka.
"Selamat ulang tahun, istri." Danar tersenyum lalu mengalungkan kalung emas putih berinisial DS pada leher Sephia.
"DS?" Sephia meraba kalung itu.
"Danar Sephia." Danar memberikan kecupan di kening Sephia.
"Aku cinta sama kamu," ujar Sephia memeluk Danar.
"Aku juga," bisik Danar.
"Sayang, ini semakin hangat,"
"Apa?" Sephia menarik dirinya.
Danar menarik Sephia kembali ke dalam pelukannya, menyesap bibir Sephia merebahkannya di atas tempat tidur. Danar berdiri dengan gagahnya, melepaskan penutup terakhir di tubuhnya. Sephia membiarkan lelaki itu membuka lebar kedua kakinya, Danar kembali menciumi Sephia dengan lembut melepaskan lalu memulainya kembali, perlahan turun menyusuri di setiap bagian-bagian sensitif Sephia hingga akhirnya lelaki itu berada di bawah sana membuat Sephia tak dapat menolak.
"Sayang ... udah." Tubuh Sephia tak lagi dapat menahan.
"Mau sekarang?" Danar mengulur waktu, Sephia mengangguk, matanya begitu memohon.
***enjoy reading 😘
sorry late up... jangan lupa kasih Chida like dan komen ya 😊***
__ADS_1