Sephia

Sephia
Sakit


__ADS_3

September 2020,


Danar kembali ke Jakarta, empat bulan berlalu sejak kejadian itu. Setiap kembali ke Jakarta, Danar selalu menyempatkan diri mencari Sephia di Sadang. Aneh memang, mencari sesuatu yang tak pasti, namun begitulah cinta jauh dari kata realistis.


Sephia benar-benar seperti di telan bumi, tak ada satu pun titik terang yang bisa di dapat. Pernah satu kali Danar memberikan ultimatum kepada Ni Luh jika ia tidak memberikan informasi tentang Sephia maka selama tiga bulan, gaji nya akan di potong sebesar 15%.


Walaupun itu hanya sekedar ancaman yang hanya sekali lewat, namun berhasil membuat Ni Luh berkata jujur pada Danar. Ni Luh mengatakan jika Sephia sudah bekerja di Jakarta, tapi Ni Luh tak pernah menanyakan nama perusahaan serta bergerak di bidang apa, Sephia hanya memberitahukan posisinya di kantor tempat dia bekerja.


Setelahnya Ni Luh memberikan nomer ponsel Sephia kepada Danar, namun nomer yang di tuju sudah tidak aktif. Hanya nomer itu saja yang Ni Luh tahu. Seakan memang semesta belum berpihak pada mereka.


...----------------...


"Phi, jadwal aku besok apa?"


"Hhmm, besok itu ada jadwal main golf dengan teman SMA."


"Ah, iya ... hampir lupa, kamu mau ikut? nemenin Nami sekalian."


"Besok pagi aku pulang ke Purwakarta, sudah sebulan belum pulang."


"Ya sudah kalo gitu, mau balik kan? sekalian aku anterin," ajak Kalla.


"Gak usah, aku mau ke mall dulu, mau beliin bapak sama ibu sesuatu," tolak Sephia.


"Ish, gajian ya? jangan lupa cicilan handphone yang kemarin ilang di Semarang belum kelar," kekeh Kalla lalu pergi meninggalkan Sephia.


"Jahat banget sih," Sephia menggerutu, "dasar bos gila ... untung baik."


Iya, dua bulan lalu ponsel milik Sephia harus raib di telan copet, entah copet atau tertinggal di suatu tempat. Sephia benar-benar tidak sadar. Oleh sebab itu, dia kehilangan nomer-nomer penting termasuk nomer Ni Luh dan Ardi.


Minggu pagi, Danar sudah berjanji akan bersua dengan Kalla, teman SMA nya yang sempat bertemu dengannya saat mengantarkan Pak Hermawan kontrol ke rumah sakit. Selama ini Danar dan Kalla hanya berkomunikasi melalui telepon atau chat saja.


Begitupun saat Danar beberapa bulan lalu bercerita tentang kisah cintanya pada Kalla, jika ia mencintai seorang gadis yang sekarang hilang bak di telan bumi.


Berjanji bertemu di sebuah tempat bermain golf yang biasa Danar kunjungi jika waktu senggang.


"Dan ...." seru Kalla, sedikit berlari mendekat pada lelaki yang sudah lengkap dengan stik golfnya itu. "Udah lama?"


"Baru juga ... kesana yuk," ajak Danar mendekati lapangan golf.


"Masih suka aja lo dengan olahraga ini," ucap Kalla berjalan bersisian dengan Danar.


"Hobi Kal, sama kayak lo masih suka juga berenang kan?"


"So, sudah ketemu?" tanya Kalla pada Danar mengenai gadis yang dia cari.


Danar menghela nafas, mengambil ancang-ancang untuk memukul bola jauh ke depan. Ayunan tongkat stik lelaki itu memang patut diacungi jempol.


"Keren ... makin keren gaya main lo," tepuk tangan dari Kalla.


"Biasa aja ... giliran lo."


Kalla mengambil posisi, dua kali mengayunkan tongkatnya dan ...


"Anjiiirrrrr, belajar dari mana lo," Danar terbelalak melihat ayunan tongkat Kalla yang melambung kan bola tinggi dengan posisi yang tepat.


"Belajar dari lo dong ... baru aja tadi." Mereka pun tertawa. "Lo belom jawab pertanyaan gue tadi," ujar Kalla.


"Belom ketemu Kal, kayak di telan bumi ... menghilang begitu saja."

__ADS_1


"Cinta banget kayaknya," goda Kalla.


"Banget ... eh cewek lo gak jadi ikut?"


"Gak ... ada operasi mendadak," jawab Kalla. "Lo gue kenalin sama sekretaris gue mau gak?"


"Ah, gak ... gue belom tertarik Kal, masih mau nyari yang kemarin aja ... susah gue kalo dah cinta," jawab Danar kembali mengayunkan tongkatnya.


"Nyesel lo kalo gak suka, gue kalo gak ada Nami mungkin udah gue yang gantiin mantan pacarnya," kekeh Kalla.


"Cantik?" tanya Danar.


"Perfect." Kalla menautkan ibu jari dan jari telunjuknya.


"Serius?"


"Banget lah ... tipe kita kan sama," Kalla makin tertawa.


"Bahaya," Danar ikut tertawa.


"Anaknya pinter, cantik, dia punya aura kayak apa ya ... suka aja gue liatnya, tapi ya itu prioritas nya sekarang cuma kerja dan kerja, gue takut dia gak ketemu jodohnya."


"Ya lo jadiin lah," ujar Danar santai.


"Nami? gila lo ... Nami itu sama perfect nya dengan sekretaris gue, eh malah sahabatan sekarang, kemana-mana berdua, udah kayak anak kembar ... makanya mau gue kenalin ke elo, kali lo berminat."


Danar menggeleng, "ntarlah belom saatnya."


Seharian itu Danar dan Kalla menghabiskan waktu bersama. Layaknya sahabat apapun jadi bahan cerita mereka hingga kerjasama tender yang akan Danar ikuti, memberikan proposal furniture untuk hotel yang Kalla kerjakan di Bali.


...----------------...


"Masih di kost, aku ijin ya Kal ... badan aku gak enak dari semalem, kayaknya masuk angin AC travel deh."


"Ya udah istirahat, lagian hari ini gak ada jadwal dan meeting kan?"


"Hari ini kamu free cuma kemarin ada beberapa berkas laporan dari keuangan dan proyek yang harus kamu tanda tangani," ujar Sephia.


"Kamu udah minum obat, Phi?"


"Udah, udah sarapan juga ... oh ya, bilang ke Nami aku gak jadi tidur di apartemen dia ya ... nanti malah nularin dia sakitku ini."


"Hhmm, masih sempat-sempatnya mikirin nginep," omel Kalla. "Ya udah istirahat, kabarin kalo ada apa-apa ya."


Sudah dua hari terhitung hari ini Sephia tidak masuk kerja, telpon Kalla pun tak ia jawab. Membuat Kalla khawatir, alih-alih Sephia sendiri di kost nya. Kalla melajukan mobilnya sore itu menuju kost Sephia, terlihat kamar Sephia yang tertutup rapat. Ketukan beberapa kali tak ada jawaban.


"Phi ... Phia."


Tak ada jawaban, namun handle pintu mulai terbuka.


"Astaga Phi, kamu kenapa?" Kalla panik ketika melihat wajah gadis itu memucat.


Ia letakkan tangan di dahi Sephia, panas tubuh gadis itu luar biasa. Secepat kilat Kalla mengambilkan sweater dan sandal untuk Sephia yang mungkin berdiri pun ia tanpa sadar. Merangkul gadis itu hingga masuk ke dalam mobilnya.


Kalla menelpon Nami namun tak ada jawaban, Kalla mengarahkan mobilnya ke rumah sakit tempat Nami bekerja, berharap bertemu dengan kekasihnya dan mengupayakan pengobatan terbaik untuk Sephia.


Masuk ke ruang IGD, Sephia mulai dilakukan pemeriksaan oleh dokter yang berjaga di sana. Kalla tetap melakukan panggilan kepada Nami, namun nomer yang dituju tak aktif, akhirnya ia menanyakan keberadaan Nami pada staf di sana, Nami sedang membantu persalinan salah seorang pasien.


Dokter yang memeriksa Sephia pun akhirnya memberikan keterangan bahwa Sephia terkena tipus, Sephia di minta untuk rawat inap namun menolak, dengan alasan ia tak suka dengan rumah sakit. Akhirnya Kalla mengalah, Kalla berharap Nami yang akan menemani Sephia di apartemen milik kekasihnya itu.

__ADS_1


"Kamu tinggal sama Nami dulu untuk beberapa hari ke depan, kalo kamu di kost siapa yang mau rawat kamu, Phi ...."


"Gak usah Kal, aku gak papa di kost, aku malah ngerepotin kalian berdua."


"Hei ... itu lah gunanya sahabat, kamu tuh udah aku anggap kayak keluarga Phi, apalagi Nami sayang sama kamu sudah kayak saudara sendiri, jadi jangan sungkan ... kita harus saling menjaga." Kalla mengusak rambut gadis itu.


Sephia selalu bersyukur untuk orang-orang baik yang selalu ada di sekitarnya. Matanya berkaca-kaca menatap Kalla.


"Makasih Kal."


"Gak usah nangis, gitu aja cengeng." Kalla tersenyum, "tunggu di sini, aku mau ambil obat dulu ya." Kalla meninggalkan Sephia di ruang tunggu.


Gadis itu mengeratkan sweater nya, wajahnya sudah tak lagi pucat seperti sebelumnya, hanya masih terlihat lemas karena hawa panas dari dalam tubuhnya.


Setengah jam menunggu Kalla yang tak kunjung datang, Sephia akhirnya memutuskan untuk menyusul lelaki itu.


"Kal ... sudah?" tanya Sephia saat menemukan Kalla sedang berbincang dengan seorang pria dan wanita yang sedang hamil mungkin sekitar lima atau enam bulan, karena perutnya mulai terlihat membesar.


"Ah, iya ... sini Phi,"


Sephia mendekat, dan jantungnya berdetak kencang tak karuan, dia diam terpaku, pikirannya mulai kacau.


"Phia ... sini, kenalin temen aku, Danar ... Danar, ini Sephia," ujar Kalla santai tanpa tahu apa yang sedang berkecamuk di pikiran kedua insan yang masih menyimpan rindu di dalam hati mereka.


Mereka saling terdiam, netra yang saling mengunci. Bagaimana bisa pertemuan ini terjadi, Sephia sudah jauh berlari, dan Danar yang selalu mengejar akhirnya bertemu dalam situasi seperti ini.


Sephia mengulurkan tangannya, dan tersenyum tanpa mengatakan sepatah kata pun. Danar menyambut uluran tangan itu. Tangan itu begitu hangat, Danar yakin saat ini Sephia sedang tidak baik-baik saja.


Sephia kembali tersenyum pada wanita yang sedang mengandung itu, mengulurkan tangannya juga tanpa sepatah katapun. Namun hatinya sakit melihat kenyataan.


"Kal, aku lelah ... kita pulang sekarang ya." Pinta Sephia.


Kalla mengangguk, "gue balik dulu, besok hubungi gue lagi Dan, masih lama kan lo disini?"


Danar mengangguk, Wulan yang berada di sampingnya pun ikut tersenyum. Sephia berjalan lebih dulu, tanpa menoleh sedikit. Kalla sedikit berlari untuk mensejajarkan dirinya dengan Sephia.


"Kal ... lelaki itu masih melihat ke arah kita?" tanya Sephia, Kalla menoleh ke belakang, melihat Danar yang masih diam memandang mereka.


"Iya, kenapa?"


"Aku mau kamu tolongin aku sekali lagi boleh?"


"Iya." Kalla terlihat bingung.


"Genggam tangan aku, berlaku lah mesra selayaknya kita pasangan kekasih." Pinta Sephia.


"Hah?"


"Sekarang Kal, aku mohon."


Kalla meraih tangan Sephia, Sephia menoleh pada Kalla memberikan senyuman manis lalu bergelayut manja di lengan Kalla layaknya sepasang kekasih.


Danar melihat dari kejauhan, hatinya terenyuh ... pikirannya kacau, bagaimana bisa? Kalla harus menjelaskan ini semua padanya.


Sementara di tempat lain, gadis berbalut blazer putih memperhatikan Kalla kekasihnya, sedang memberikan tatapan penuh cinta pada Sephia sahabatnya.


Kalian harus menjelaskan ini semua padaku batin Nami dengan tangan yang sudah mengepal.


***enjoy reading 😘

__ADS_1


jangan lupa like dan komennya yaaaah 😘***


__ADS_2