
Terhitung satu minggu memasuki hari H. Sephia sudah mengajukan cutinya, bertemu dengan Danar pun hanya melalui video call, Mama Diana memang ingin sekali pasangan ini benar-benar melakukan pingitan.
Sedangkan untuk acara pernikahan semua yang menghandle adalah mama Diana dan ibu Widya, mereka mengikuti prosesi yang sudah di atur oleh pihak WO. Kartu undangan telah di sebar dua minggu lalu, undangan pun tidak terlalu banyak untuk keluarga pengusaha seperti mereka.
Siang ini Sephia menikmati perawatan tubuh di sebuah klinik kecantikan sementara Danar masih mengurusi perusahaannya.
"Lagi dimana?" tanya Danar saat panggilan video call nya untuk kesekian kalinya baru di jawab oleh Sephia.
"Lagi di klinik dr. Ayu Aesthetic & Skincare, kan aku udah bilang tadi pagi."
"Oh iya aku lupa," ujar Danar lalu memperhatikan wajah Sephia yang terlihat sedikit memerah. "Itu mukanya kenapa kok merah?"
"Ish, Sayang ini tuh perawatan ... mau di bikin cantik, biar kamu pangling besok kalo ketemu."
"Ada-ada aja, setelah ini mau kemana?"
"Setelah ini pulang, tapi besok aku mau ke spa bareng mbak Wulan, perawatan kulit ... kamu mau ikut?"
"Emang boleh ketemu?" tanya Danar.
"Gak tau," Sephia tersenyum.
"Kamu aja deh sama Wulan, besok Mas Agung dateng, aku mau ajak dia ke gudang liat produksi."
Sephia mengangguk. "Kamu udah makan?"
"Belom ... kamu?" Sephia menggeleng. "Makan bareng?"
"Aku takut ketahuan sama ibu kalo kita ketemu," ujar Sephia.
"Mama sama ibu lagi sibuk ngurusin pernikahan kita, aku jemput ya," tawar Danar.
"Tapi ini kayaknya masih satu jam lagi deh," Sephia meraba wajahnya.
"Ya udah satu jam lagi aku kesana," ujar Danar kegirangan yang akhirnya bisa mencuri kesempatan dalam per pingitan ini.
...----------------...
"Makan apa?" tanya Danar saat mereka ada di sebuah kafe tempat pertama kali mereka pernah makan siang bersama sebelum menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih.
"Apa ya?" Sephia membolak balik daftar menu.
"Danar, apa kabar?" tanya suara itu dan membuat mereka mengangkat wajah ke arah suara itu.
"Cindy," ujar Danar terkejut.
"Apa kabar?" tanya wanita itu lagi.
"Baik," ujar Danar yang langsung berdiri dari tempat duduknya dan mengulurkan tangannya.
"Sekarang di Bali?" tanya wanita bernama Cindy itu lagi.
"Iya, kamu sendiri?"
"Liburan, itu sama anak aku." Tunjuk wanita itu pada seorang anak berumur sekitar tiga tahun bersama seorang baby sitter.
"Oh ...." Danar mengangguk.
"Ehem." Suara Sephia berdehem membuyarkan obrolan mereka.
"Oh ... Cin, kenalin calon istri aku," ujar Danar, Sephia mengulurkan tangannya dan tersenyum. "Cindy ini dulu ...."
"Teman SMA Danar," ucap Cindy tersenyum.
"Oh ...." Sephia tersenyum.
"Eh, duduk Cin ... gabung?" tawar Danar.
__ADS_1
"Ah, gak usah aku udah selesai ... kasian udah di tunggu juga sama anak aku," tolaknya.
"Oke." Danar menelan salivanya kasar.
"Berkesan banget kayaknya," ujar Sephia dengan nada sinis saat wanita itu berlaku dari hadapan mereka.
"Apanya?"
"Ya si Cindy itu."
"Oh ... dia, cuma teman SMA," jawab Danar lalu memanggil pelayan agar mencatat pesanan mereka.
"Teman apa teman ... yang aku liat seperti lebih dari sekedar teman," kata Sephia.
"Hah? gak lah ... teman kok," Danar terperanjat.
"Kalo teman gak gitu ngeliatnya ... aku tuh calon istri kamu, aku tuh perhatiin gelagat kamu, awas aja macem-macem," Sephia membuang wajahnya keluar jendela.
"Ya ampun, udah punya anak juga orangnya kenapa jadi mikir yang macem-macem sih," sergah Danar.
"Ya kali aja, kan siapa tau ... amit-amit," ucap Sephia lalu mengetuk-ngetuk meja dan kepalanya.
"Kamu ada-ada aja."Danar mengacak rambut gadis itu.
Namun, sempat terbersit di pikiran Danar tentang Cindy, wanita itu sempat menghilang setelah kelulusan SMA, hubungan mereka pun tak pernah ada kata putus. Iya, Cindy pacar pertama Danar, gadis itu salah satu primadona sekolah saat itu. Dan Danar adalah salah satu yang dulu mengejarnya dan mendapatkan balasan.
"Tuh kan, kalo dulu gak ada hubungan mah gak bakal ngelamun." Sephia melihat raut wajah Danar yang berubah. "Mau ngaku apa aku cari tau sendiri."
"Apa sih? udah deh gak usah di bahas." Danar menjawab saat makanan mereka telah di hidangkan.
"Pacar kamu jaman SMA?" tanya Sephia ingin tahu.
"Hah?"
"Kenapa sih kan tinggal jawab aja."
"Iya, dulu waktu SMA," Danar nyengir.
"Jelek banget begitu," ujar Danar meraup bibir calon istrinya itu dengan tangannya.
"Cantik," ucap Sephia.
"Cantik kan kamu kok."
"Pantesan masih di hati," kata Sephia lagi.
"Siapa?"
"Ya si Cindy ... Cindy itu," sungut Sephia.
"Tau bakal kayak gini, harusnya tadi kita gak usah ketemu ya," Danar menyesal.
"Tau ah." Rasa cemburu itu sekarang sering sekali bertandang di hati Sephia.
"Tuh kamu kan ... Phi, dia udah istri orang kenapa di cemburuin sih, lagian yang sekarang di sini aku ...," Danar menunjuk hatinya, "dan di sini aku," Danar kembali menunjuk kepalanya, "sudah penuh dengan kamu, mana aku mikirin orang lain." Danar menyeruput lychee tea nya.
Sephia hanya diam, malas untuk membahasnya. Sephia harusnya menuruti kata-kata orang tua mereka untuk tidak bertemu sebelum hari pernikahan mungkin gunanya untuk ini, menghindari kesalahpahaman.
Dering ponsel Sephia berbunyi, ada nama Mama Diana di sana. Ragu-ragu Sephia mengangkatnya.
"Iya Ma," jawab Sephia.
"Dimana, Phi?"
"Lagi makan siang, Ma."
"Sama Danar?"
__ADS_1
Sephia melirik lelaki itu yang masih memasang wajah marah dan datar.
"Gak, Ma ... Phia sendiri."
"Oh ya udah ... Mama sama Ibu mau tanya, itu cincin nikah kalian udah ada kan? kita sampe lupa mikirin itu ... padahal itu yang penting," kekeh mama Diana.
"Udah, Ma ... Danar yang simpan, udah di siapin semua."
"Ya sudah, langsung pulang ya ... jangan curi-curi kesempatan loh buat ketemu Danar," ujar Mama Diana lalu memutus obrolan mereka.
Setelah sama-sama diam, Sephia menyelesaikan makan siangnya. Masih dengan mode diam, Danar dan Sephia melaju menuju rumah.
"Nanti aku berenti jangan di depan rumah, takut bapak liat," kata Sephia menoleh pada Danar, Danar hanya diam.
"Kamu kenapa sih? tiba-tiba diem," tanya Sephia melihat muka Danar yang masih saja datar.
"Marah sama aku?"
"Gak suka aku nanya-nanya tentang si Cindy ... Cindy itu? kesinggung? ya udah kan aku cuma nanya, salah?"
Danar masih diam.
"Aku turun di sini aja deh," ujar Sephia kesal.
Danar menepikan mobilnya di jalur Sunset road.
"Turun kalo mau turun," kata Danar dingin.
"Ih ... nyebelin banget." Sephia beringsut dari duduknya, meraih tas tangannya di jok belakang, membuang mukanya dengan kesal.
"Mau kemana?" tanya Danar mencekal tangan gadis itu.
"Tadi nyuruh aku turun." Mata Sephia berkaca-kaca.
"Aku minta maaf," ujar Danar menatap netra Sephia. "Maaf aku udah marah ... aku cuma pengen kamu dengerin kata-kata aku, kalo aku bilang aku gak ada mikir apa-apa tentang si Cindy itu please tolong percaya jangan malah dibesar-besarkan masalahnya, Phi. Kita udah mau nikah, harusnya hal-hal kayak gitu udah gak harus kamu curigai lagi ... aku bilang kan, yang ada di hati dan pikiran aku itu cuma kamu mana mungkin aku mikirin orang lain," jelas Danar.
Sephia terdiam, bodoh memang memikirkan hal-hal sepele seperti itu apalagi sudah tahu hati Danar memang sudah untuknya. Tapi sebagai seorang wanita wajar saja sebenernya cemburu dengan teman wanita kekasihnya yang dulu sempat menjalin hubungan.
"Ya ... buang jauh-jauh pikiran itu," ujar Danar meraih dagu Sephia.
Sephia mengangguk tanda mengiyakan, dia hanya tak ingin masalah ini berlarut-larut, apalagi yang diributkan orangnya sudah memiliki keluarga sendiri.
"Pulang?" tanya Danar namun bibirnya mendekati bibir merah milik Sephia.
"Hhmm?"
"Mau pulang apa di sini?" bisik Danar lembut di telinga Sephia.
"Hhmm," nafas Sephia mulai menghangat, dadanya sedikit membusung, dia siap menerima ciuman dari calon suaminya.
"Di sini?"
Sephia mengangguk lalu bibir itu seketika di raup lembut oleh bibir Danar yang sedari tadi menunggu ijin untuk berlabuh. Gigitan-gigitan kecil serta sesapan dari Danar membuat Sephia melayang, dua hari tak merasakan sentuhan hangat itu ternyata memang membuatnya gila. Sephia membalas sama liarnya bahkan saat Danar ingin melepaskan ciumannya, Sephia kembali menarik kerah baju lelaki itu untuk kembali mencumbui dirinya.
Nafas yang saling memburu dengan posisi yang tak nyaman sama sekali dan membuat tubuh Danar sedikit kesakitan.
"Lain kali jangan di mobil ya," ujar Danar.
"Kenapa?"
"Sempit, Sayang." Mereka pun tertawa dan kembali menautkan bibir itu untuk kesekian kalinya.
***1 part lagi menuju halal pantengin yaaa...
sesuai kesepakatan dress code kondangan berwarna merah 😂 tiket pesawat ke Bali semua sudah di bayar sama Danar..🤣
makasih masih setia di sini, 😘 buat kalian semua kesayangan, jangan lupa like dan komen biar ramai dunia halu kita 💃
__ADS_1
enjoy reading 😘
Chida ❤️***