Sephia

Sephia
Tujuan aku, itu kamu


__ADS_3

Memasuki bulan Februari 2021, itu artinya umur pernikahan pasangan ini sudah berjalan satu bulan. Hujan di bulan Februari mengingatkan kembali Sephia pada masa dimana Danar menawarkannya pulang dengan cara memaksa, ya memang lelaki itu selalu memaksa.


"Kok senyum-senyum?" tanya Danar menoleh pada istrinya.


Saat ini mereka akan menuju sebuah restoran milik saudara Kalla. Danar mengajaknya untuk makan malam di sana. Danar mengatakan jika Kalla masih berada di Bali, kabarnya lagi Nami pun datang hari ini.


"Inget gak waktu itu kamu pernah maksa nganterin aku pulang pas ujan gede kayak gini, aku abis lembur kalo gak salah."


"Masa sih? pernah ya?" goda Danar pura-pura lupa.


"Ish, nyebelin," Sephia pun memberikan muka masam.


Danar meraih wajah Sephia menuntunnya untuk bersandar di bahunya, dengan satu tangan membelai pipi istrinya sedangkan satu tangan yang lain masih memegang kemudi.


"Aku inget semua cerita tentang kita, Sayang ... gak ada satupun yang aku lupain, sampe nyari kamu di Sadang seluas itu pun aku masih ingat, hingga hal-hal kecil tentang kamu." Danar memberikan kecupan di kening istrinya.


"Hal kecil apa?"


"Mau tau?"


"Apa?" Sephia penasaran.


"Kamu gak tau kan kalo kamu tidur ... ntar aku parkir dulu," ujar Danar, lalu memarkirkan mobilnya di pelataran restoran dengan desain Eropa dan menghadap ke pantai.


"Kalo gak ujan pasti cakep banget ya suasananya," ucap Sephia bersiap untuk keluar dari mobil.


"Ntar dulu," sergah Danar. "Jadi, mau tau gak kamu kalo tidur gimana?"


"Gimana?"


"Gini ...." Danar memperagakan gaya tidur Sephia, dengan mulut terbuka dan kedua tangan berada di sisi kepalanya. "Terus ya selimut kamu acak-acak, gak pernah sadarkan?"


Sephia tertawa, membayangkannya saja dia sudah malu apalagi sampai di lihat oleh Danar dan ini berlangsung selama mereka berhubungan sebelum menjadi suami istri.


"Kamu juga," kata Sephia sengit.


"Apa?"


"Kamu juga ada hal yang gak aku suka sama kamu."


"Apa?"


"Abis mandi pasti lempar handuk ke sembarang tempat," Sephia mencebikkan bibirnya, "pakaian dalam gak di taro di tempatnya, di biarin nge gantung di kamar mandi ... nyebelin."


Danar tertawa, memang itu kebiasaannya sejak dulu, mungkin karena terbiasa sedari kecil semua ada yang membereskan tapi sekarang berbeda, Danar sudah mempunyai istri dan hidup berdua bersama Sephia.


"Kok baru bilang sekarang? waktu kita belum nikah kamu gak pernah komplen." Danar tertawa, sedikit berbalik ke belakang mengambil payung.


"Waktu kita pacaran kan aku belum tunjukin aslinya aku gimana, tapi kan kamu tau aku orangnya rapih, gak suka berantakan." Sephia kembali cemberut.


"Iya ... iya, besok gak lagi. Besok aku taro handuknya di tempat handuk, aku taro celana kotor aku di tempatnya." Janji Danar.


"Percaya banget aku sama kamu," Sephia tergelak.


"Ayo turun, tuh udah di tungguin."


Berjalan bersisian di bawah hujan, Danar mengeratkan pelukannya di pundak Sephia.

__ADS_1


Menikah adalah cara Tuhan menyatukan semua perbedaan dan persamaan antara dua manusia. Begitu pun dengan Sephia dan Danar, bukan berarti selama berpacaran, hidup bersama sebelum menikah sudah tahu pasti akan sifat baik buruk pasangan kita, kelebihan kekurangan pasangan kita. Semua butuh proses dan pasangan pengantin ini baru saja berproses menuju menjadi sebuah keluarga.


...----------------...


"Jadi, kita mau kasih kabar sama kalian," kata Nami dengan wajah bahagia.


Jari kedua insan itu saling bertaut, memandang satu sama lain. Mereka ingin Sephia dan Danar juga merasakan apa yang mereka rasakan saat ini.


"Aku hamil," kata Nami dengan mata berkaca-kaca.


Sephia mengatup bibirnya, seakan tak percaya tapi juga bahagia mendengar kabar yang menggembirakan ini.


"Sudah enam minggu," tutur Nami lalu mengangguk.


"Selamat Nami ... selamat akan menjadi ibu." Sephia berdiri dari kursinya menghampiri Nami, memberikan pelukan kepada sahabatnya itu.


"Selamat Kal." Danar mengulurkan tangannya menepuk bahu lelaki itu. "Jadi juga akhirnya setelah bercocok tanam selama ini," bisik Danar.


Gelak tawa Danar dan Kalla pun tak luput dari pandangan istri-istri mereka.


"Terus ... terus ada ngidam gak?" tanya Sephia saat makan malam sudah terhidang di atas meja mereka.


"Baru tadi," jawab Kalla.


"Minta apa?" Sephia penasaran.


"Minta ke Sangeh." Kalla menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal.


"Ngapain?" Danar dan Sephia sudah tertawa mendengar jawaban Kalla.


"Ya liat monyet lah ... masa mau liat Danar di sana," ujar Kalla.


"Ada-ada aja Nami ngidamnya." Sephia masih tertawa lalu tawa itu terhenti ketika dia melihat sosok yang ia kenal masuk ke dalam restoran.


Seorang wanita yang seminggu lalu menemuinya, meminta suaminya memberikan pekerjaan, alih-alih minta pekerjaan ternyata mempunyai niat buruk setelahnya. Cindy berjalan berdampingan dengan seorang pria berkebangsaan asing yang memakai setelan jas berwarna hitam, begitu juga Cindy yang terlihat cantik dengan gaun berwarna senada.


"Kenapa Sayang?" tanya Danar mengikuti arah mata Sephia menuju ke suatu tempat.


"Cindy, Dan," kata Kalla dan Nami yang tak mengerti apa-apa seakan mencari jawaban dari suaminya.


"Sama bule, Kal," pungkas Danar.


"Naek level apa turun level, Dan?" tanya Kalla lagi.


"Mana gue tau."


"Kalian ngomongin apa sih? siapa?" Nami penasaran.


"Itu." Tunjuk Sephia dengan lirikan matanya ke arah Cindy yang duduk tak jauh dari mereka.


"Iya, kenapa cewek itu?"


"Temen SMA aku sama Danar, waktu itu minta kerjaan sama Danar katanya dia baru cerai sama suaminya, terus ya di tolak sama Sephia karena emang gak ada lowongan, eh ternyata maksud dia ngelamar kerja tempat Danar mau ngedeketin Danar lagi," celoteh Kalla yang kali ini mulutnya seperti ibu-ibu komplek nge gosip saat membeli sayur di tukang sayur.


"Emang dulu pacaran?" Nami semakin ingin tahu.


"Iya, tapi gak lama lulus dan si Cindy itu gak ada kabar, denger kabar ternyata maennya sama sugar," kata Kalla lagi.

__ADS_1


"Sugar? gula?" tanya Nami lugu.


"Kamu kalo udah malem mudeng nya lama," sungut Kalla kesal. "Untung gak lagi operasi."


Nami tertawa, ia raup wajah suaminya yang sudah cemberut itu.


"Simpanan om-om katanya sih, aku juga gak banyak tau, yang kita tau dulu dia primadona lah di sekolah," jelas Danar.


"Udahlah gak penting di bahas, yang penting dia udah ada tempat baru jadi Danar aman Phi," Kalla terkekeh.


"Sembarangan lo, gue juga ga tertarik ... pasti bulanannya mahal Kal." Dua orang lelaki itu pun tertawa lepas.


Hingga akhirnya mereka berpisah setelah acara makan malam yang seru malam ini.


...----------------...


Udara setelah hujan begitu dingin, apalagi malam sudah menunjukkan pukul 10. Danar baru saja keluar dari kamar mandi membersihkan dirinya. Ia taruh handuk setelah di pakai pada tempatnya, baju-baju yang sudah tak lagi ia pakai di letakkan di keranjang pakaian kotor.


Sementara Sephia sudah membaringkan tubuhnya di tempat tidur, masih menggulir layar ponselnya. Danar ikut masuk menyelinap di dalam selimut, mendekatkan tubuhnya pada istrinya.


"Liat apa?" tanya Danar.


"Baju bayi." Sephia menjawab menunjukkan poto di salah satu online shop di Instagram. "Lucu ya?"


"Mau bayi?" tanya Danar yang sudah membelai perut istrinya.


"Mau." Sephia tersenyum.


"Mau berapa?"


"Tiga."


"Ayo, kita bikin sekarang." Danar menaikan pahanya ke atas paha Sephia.


"Bikin? kayak ngajakin buat kue." Sephia terkekeh. "Nami bahagia banget ya Sayang," kaya Sephia.


"Iya pasti, kamu juga gitu kalo nanti hamil anak aku." Danar sudah memasuki tangannya ke dalam daster yang Sephia kenakan.


"Sayang." Tubuh wanita itu mulai menegang saat Danar meremat dada istrinya.


"Sayang, kalo aku lama kasih anak buat kamu, gimana?" tanya Sephia menahan tangan Danar.


"Ya kita coba terus sampe kamu punya anak dari aku." Danar sudah menyusuri leher istrinya.


"Walaupun 10 tahun kemudian?" tanya Sephia lagi.


"Iya, yang penting kita fokus untuk coba terus." Danar sudah mengungkung tubuh istrinya.


Danar mencium lembut bibir Sephia. "Kamu gak usah mikir macem-macem, apapun yang terjadi seandainya kita lama atau cepat punya anak yang pasti satu, tujuan aku itu kamu ... kamu tempat dimana aku melangkahkan kaki untuk pulang ... dimana pun aku berada, aku akan selalu mengarah ke kamu, Phia ... jadi, jangan pernah berpikir aku bakal ninggalin kamu, bahkan sebaliknya aku yang takut kamu tinggalin."


Danar merapikan anak-anak rambut Sephia lalu memberikannya kecupan di kening, di kedua mata istrinya, hidung, pipi dan terakhir Danar memberikan kecupan pada bibir Sephia.


Sephia menerima kecupan itu ia balas dengan ciuman yang lembut, dia dorong perlahan tubuh Danar.


"Aku di atas," bisik Sephia mesra, Danar pun tersenyum.


***enjoy reading 😘

__ADS_1


jangan lupa tinggalkan jejak kalian, boleh jiga di sebar bunga biar bercocok tanam nya Mas Danar berhasil 😂***


__ADS_2