Sephia

Sephia
Ngidam


__ADS_3

Rasanya pahit sekali di ulu hati Sephia saat memuntahkan seluruh isi perutnya pagi ini. Tak ada yang bisa dilakukan oleh Danar kecuali memberikan pijatan lembut di tengkuk leher istrinya. Mbok Marni masuk membawakan air hangat dan beberapa biskuit untuk menggantikan makanan yang terbuang.


"Makasih Mbok," ujar Danar kembali menyelimuti istrinya.


"Jendelanya di buka Mbok, tapi tirainya jangan ya," kata Sephia lirih.


Mbok Marni melakukan yang diperintahkan oleh majikannya. Terlihat Danar meraih ponselnya menghubungi Made untuk meng handle pekerjaan hari ini.


"Sayang, aku gak papa kok, kalo kamu tinggal kerja," ucap Sephia menutup separuh wajahnya yang masih terlihat pucat.


"Aku di rumah aja, aku sudah suruh Made handle semua," ujar Danar ikut masuk kembali ke dalam selimut memeluk istrinya dari belakang.


"Gak enak banget perut aku," kata Sephia.


"Gak papa, katanya biasa kayak gitu kan di tiga bulan pertama ... yang penting jangan sampe kosong perutnya, obat sama vitamin udah di minum kan tadi?" tanya Danar, Sephia pun mengangguk.


Danar mengeratkan kembali pelukannya, mengusap usap perut istrinya sembari mengatakan sesuatu pada calon anak mereka.


"Adek, jangan rewel ya ... kasian Bunda, tuh Bunda gak bisa makan kalo adek keluarin terus makanannya ... kalo Bunda sakit nanti Ayah sama adek kan jadi sedih ... jangan rewel ya Nak," ucap Danar, Sephia mengulum senyum mendengarnya.


"Kamu pengen makan apa? nanti biar aku beliin atau mau di bikinin apa sama mbok Marni?"


"Aku mau soto mie Bogor," ujar Sephia membalikkan tubuhnya menghadap suaminya. "Itu enak kayaknya anget-anget buat perut aku."


"Hah? soto mie? di Bali? dimana?" Danar bingung.


"Gak tau, tapi aku pengen soto mie Bogor." rengek Sephia.


"Ya ampun cari dimana?"


Danar mencari ponsel Sephia, menggulir layar ponsel hingga dia menemukan nama Ni Luh di sana. Beberapa kali mengirim pesan pada Ni Luh menanyakan dimana keberadaan soto mie Bogor di daerah Bali.


"Aku jalan dulu ya," ujar Danar mengecup kening istrinya. "Cari soto mie kan?" lelaki itu memastikan lagi keinginan istrinya.


Sephia mengangguk, lalu kembali memejamkan matanya. Tak berapa lama mbok Marni masuk membawakan susu ibu hamil, meletakkannya di nakas.


"Bu, susunya di minum dulu," ujar mbok Marni, "biar enakan."


Sephia meneguk beberapa kali susu hangat itu.


"Katanya kalo lagi hamil muda memang gini ya Mbok?" tanya Sephia bersandar di headboard.


"Macem-macem Bu, ada yang mual muntah parah, ada yang biasa aja tapi suaminya yang ngidam, ada juga yang takut liat cahaya, males mandi, males ngapa-ngapain, malah ada yang maunya jalan-jalan."


"Oh, dulu Mbok Marni gimana?"

__ADS_1


"Saya? saya males mau ngapa-ngapain Bu, tapi bagaimanapun tetap harus di lawan, kalo saya ikutin nanti saya makan apa kalo gak kerja." Mbok Marni tersenyum tipis.


"Iya ya Mbok, kalo diturutin malah kita gak bisa ngapa-ngapain, malah semua terbengkalai."


Mbok Marni menggangguk lalu berpamitan untuk menyelesaikan lagi tugasnya. Sephia beranjak dari tempat tidur, ia memang seharusnya tidak menuruti keluhan-keluhan selama kehamilan, seperti malas mandi dan tak ingin terkena sinar matahari.


...----------------...


Danar mendapati istrinya sedang duduk bermain air di pinggir kolam.


"Sudah wangi," ujar Danar memberikan kecupan di pucuk kepala istrinya.


"Ini nyindir?" Sephia tertawa.


"Seger kan? dari kemarin kamu mandi cuma sore doang, ini kenapa keluar kamar tumben?"


"Kata mbok Marni harus di lawan, biar gak lemes terus."


"Aku gak di dengerin, mbok Marni di dengerin." Danar menarik hidung Sephia.


"Aku lebih percaya yang pernah hamil dibanding yang belom pernah hamil." Sephia terkekeh.


"Aku cuma bisa menghamili Sayang," kata Danar mengusak rambut Sephia.


"Dapet soto mie nya?"


"Tadi mama telpon, mama bilang mama sama ibu mau kesini."


"Kesini? terus suami-suami mereka?" tanya Sephia dengan alis mengkerut.


Danar mengangkat kedua bahunya.


"Mereka kok jadi akrab gitu ya?" Sephia tersenyum.


"Mama emang gitu, dia kalo satu aliran pasti langsung akrab."


"Kayak perguruan silat, pake satu aliran." Mereka pun tertawa


"Enak gak?"


"Apa?"


"Soto mie nya, emang mau enak yang mana?" Danar mengerlingkan matanya.


"Haha ... sudah seminggu ya?" goda Sephia.

__ADS_1


"Iya, kamu gak kasian sama aku." Wajah Danar cemberut.


"Itu bisa nahan," lagi-lagi Sephia tertawa.


"Kamu beneran goda aku ya." Danar meneguk air minumnya hingga tandas lalu berdiri masih menatap netra sang istri.


"Mau ngapain?" tanya Sephia tertawa.


"Mau gendong kamu bawa kamu ke kamar," ujar Danar lalu menggendong Sephia yabg tertawa karena tingkah suaminya.


"Mbok Marni tolongin aku." Mbok Marni hanya dapat menggelengkan kepalanya melihat pasangan pengantin baru itu yang masih harum baunya.


Gelak tawa itu pun terdengar seantero ruangan kamar mereka. Danar mulai merangkak, mengungkung tubuh istrinya. Danar melucuti kemeja tunik yang Sephia pakai, menyingkapkannya hingga dada sang istri terlihat menggoda matanya. Danar membuka kaosnya dan melemparkannya ke atas sofa.


"Seminggu aku gak nyobain ini ... kamu nyiksa aku Sayang," ujar Danar memberikan ciuman lembut di bibir Sephia.


Tangan lelaki itu sudah bermain di atas puncak dada sang istri, memilinnya membuat Sephia menegang. Ciumannya kadang terlepas kadang memulai lagi dengan lembut. Danar melepaskan braa istrinya agar lebih leluasa dalam melakukan aktivitasnya. Menyusuri lekuk tubuh istrinya, sementara Sephia menggigit bibir bawahnya menahan desahan yang mungkin akan semakin memacu adrenalin Danar.


Helai demi helai yang berbalut di tubuh mereka pun terlepas. Danar membuka lebar kedua paha istrinya, satu minggu ini Danar hanya bisa memeluk Sephia. Dia begitu merindukan istrinya.


"Sayang," ucap Sephia lirih saat Danar menyentuh miliknya.


"Iya."


"Kata dokter pelan-pelan."


"Iya aku tau ... aku tau," ujarnya seraya memasuki tubuh sang istri.


Sephia mendesah, Sephia melenguh ... wanita itu pun sama rasanya merindukan kehangatan dari suaminya. Konyol bukan, setiap hari bertemu dan bersentuhan namun untuk ini mereka saling merindukan.


Danar perlahan bergerak dengan ritme yang cukup santai. Masih menyesap dan menggigit kecil-kecil bibir Sephia. Turun ke leher Sephia, Sephia mencengkeram erat lengan suaminya saat hentakan lembut itu terasa.


"Sakit?" tanya Danar, Sephia menggeleng.


Dia kecup kening Sephia, lalu perlahan menggerakkan tubuhnya kembali. Kali ini tempo itu semakin lama semakin cepat, Danar menegaskan rahangnya, ia menciumi Sephia. Desahan Sephia semakin memburu, siang itu kamar mereka bak sauna, Danar kembali menghentakkan pinggulnya ketika pelepasan itu terjadi sementara Sephia menatap mata lelaki itu dengan sendu berharap satu kali lagi hentakan mereka melepaskannya bersama-sama. Desahan dan erangan saling bersahutan Danar kembali memompa istrinya dan Sephia pun akhirnya mendapatkan pelepasannya.


"Gak papa kan?" tanya Danar saat semua sudah terjadi, dia meraba lembut perut istrinya.


"Gak papa ... kayaknya adek tau, Ayah lagi kangen." Sephia tersenyum.


Ciuman sekilas itu diberikan Danar berkali-kali pada istrinya.


"Makasih, Phi."


***enjoy reading 😘

__ADS_1


tinggalkan like dan komen kalian ya ... makasih***


__ADS_2