
Inda membisu memperhatikan Hanun yang dengan polosnya bertanya agama itu apa.
Apakah Hanun sedang membuat jebakan untuknya?
Ah sungguh Inda tidak mengerti dengan keadaan ini.
Beberapa saat hening, Hanun masih menunggu jawaban dari Inda dengan raut wajah tak berdosa.
Tidak akan ada yang menyangka sang pemilik wajah polos itu adalah penjambret yang kini mulai bertaubat.
"Nda? Apa ada yang salah dari ucapanku?"
Hanun merubah mimik wajahnya menjadi sendu kembali.
Barusan beberapa menit saja, Hanun merasakan ketenangan. Ya, Hanun merasa sangat tentram mengikuti gerakan Inda. Hanun juga begitu antusias ketika ada hal baru yang dia tidak tahu yakni agama.
Oh mengapa bisa seperti itu?
Inda beristighfar, kemudian mengusap wajahnya yang berwarna merona itu dengan telapak tangannya.
"Hari ini kamu kerja Nun?"
Hanun mengangguk mendapat pertanyaan dari Inda.
"Lain kali kita ketemu, aku bakalan jelasin semua yang tidak kamu ketahui."
Hanun sedikit mendelik untuk mencari kebohongan di wajah Inda. Namun hasilnya, Hanun hanya menemukan wajah yang penuh ketulusan di sana.
Sejak kapan Hanun bisa membaca wajah, oh sebut saja mulai hari ini. Ketika mengenal Inda, Hanun menemukan raut wajah yang berbeda dari semua orang yang telah ditemuinya.
Ah iya, ada Retno juga yang menurut Hanun memiliki ketulusan dalam raut wajahnya.
Retno adalah sang pemilik toko buku yang menjadi tempat Hanun bekerja.
☆☆☆
Setelah rasa canggung mengambil alih, akhirnya Inda dan Hanun berpisah. Inda berjalan pulang menuju tempat kostnya.
Sepanjang perjalanan udara mulai menghangat karena sang raja siang sudah menunjukkan dirinya.
Silaunya cahaya membuat Inda harus menyimpan satu tangannya di atas dahi.
Inda mulai memasuki gang sempit tempat tinggalnya. Pagi hari seperti ini suasana gang memang ramai, ibu-ibu mulai berkeliaran untuk mencari lauk untuk menu masakan terkadang ada yang membawa anaknya membuat suasana makin gaduh.
Penjual makanan pun sudah mulai berdatangan. Hilir mudik kesibukkan pagi hari yang membuat Inda suasana seperti ini.
Beruntung bagi Inda, para pemuda pengangguran yang biasa mengganggunya tidak pernah terlihat di pagi hari.
Inda memasuki tempat kostnya yang hanya berupa kamar sederhana. Di dalamnnya tidak terlalu banyak barang hanya ada alat penanak nasi, kompor gas satu tungku, dan juga dispenser.
Sungguh itu semua sudah cukup untuk Inda. Sementara untuk hal mencuci pakaian Inda selalu menitipkannya pada loundry terdekat.
Kali ini jadwal kuliah Inda dimulai, setelah bersih-bersih kini Inda bersiap berangkat ke kampusnya.
Inda mulai keluar dari kostnya dan berjalan ke depan gang guna mencari angkutan umum yang biasa dia gunakan sampai ke kampus.
Hidup sendiri dengan kesederhanaan membuat Inda nyaman. Walaupun orang tuanya yang berada di luar pulau bukan merupskan orang sembarangan namun Inda nyaman dengan kondisinya saat ini.
Berulang kali Inda diminta untuk pulang dan melanjutkan pendidikan di tempat tinggal ayah dan ibunya namun Inda sering kali menolak dengan alasan ingin mandiri.
__ADS_1
Sesaat di dalam angkutan umum, Inda kembali teringat pada Hanun teman barunya yang menurutnya sangat unik.
Inda masih penasaran dengan pribadi Hanun dan berniat mengunjunginya lagi di toko buku sepulang dari kampus.
Kita akan bertemu lagi Nun.
***
Setelah seharian Inda menghabiskan waktu di kampus dan kegiatan sosial yang mendadak diadakan. Akhirnya sore ini Inda bisa pulang.
Tentu tujuan utamanya bukanlah tempat kostnya, tetapi toko buku tempat Hanun bekerja.
Sesampainya di toko buku itu, Inda yang melihat Hanun berjalan keluar toko segera berlari menghampiri Hanun.
"Hanun!"
Seketika itu Hanun yang terlihat terburu-buru terpaksa berhenti dan menoleh.
"Inda ...."
Inda berhenti tepat di depan Hanun dan sedikit mengatur napasnya.
"Udah pulang? Kita makan dulu yuk!"
Tangan Inda sudah melingkar sempurna pada lengan Hanun. Entah sejak kapan Inda merasa nyaman bila berada di dekat Hanun.
"Maaf Nda, aku harus ke bengkel."
Melepas tangan itu perlahan, Inda mengernyit heran. Perasaan Hanun tidak punya kendaraan, lalu untuk apa Hanun ke bengkel?
"Bengkel?"
Hanun mengangguk dan bersiap pergi. "Nanti kalau kita ketemu lagi, aku kasih tahu kamu."
"Aku boleh ikut?"
Meski awalnya ingin menolak, namun Hanun sudah sangat terlambat tidak mungkin kembali mengulur waktu dengan berdebat.
Oleh karena itu, Hanun mengizinkan Inda untuk ikut dengannya.
***
Menaiki angkutan umum, Hanun dan Inda akhirnya tiba di bengkel milik Farrel. Hanun mencuri-curi untuk mengambil napas dalam. Hanun melirik ke arah Inda yang nampak kebingungan, kemudian tersenyum dan menggandeng tangan Inda mengajaknya masuk ke dalam.
Mereka berjalan pelan dengan pemikirannya masing-masing. Di sisi lain Hanun merasa takut menghadapi pekerjaannya terlebih truck-truck itu selalu mengingatkan pada masa kecilnya.
Ah kenapa dia harus terjebak diantara kendaraan besar itu?
"Weh baru datang?"
Suara seseorang mengagetkan Hanun juga Inda.
"Niat jalanin hukuman gak sih? Kalau enggak, sekarang juga kami lapor polisi."
Intimidasi yang tiba-tiba menghampiri membuat Hanun tergagap, terlebih semalam dirinya sudah berada di kantor polisi menemui Dodo.
Hanun bisa saja menyerah dan memilih masuk penjara, tetapi untuk berada di bengkel kemarin ... Hanun benar-benar tidak untuk mencuri. Kenapa fitnah menghampiri orang jahat juga?
Bukankah orang lemah yang selalu terfitnah?
__ADS_1
Ini semua gara-gara lelaki itu, gara-gara Farrel.
"Maaf Mas, kenapa ngancam teman saya seperti itu?"
Inda memotong tatapan Suryo yang tajam menusuk Hanun.
"Siapa Anda? Berteman kok sama pencuri."
Inda hendak menyela namun belum sempat karena seseorang dari dalam sana datang dan membuat semua bungkam.
"Suryo, ada apa ini?"
Farrel datang sambil menyembunyikan keterkejutannya saat melihat Inda.
Begitu pun dengan Inda, dia terkejut saat melihat Farrel datang.
Ah permainan nasib selalu membuat manusia terkecoh.
"Ini Pak, pencuri kemarin datang buat terima hukuman."
Farrel mengarahkan pandangannya pada Hanun yang sejak tadi terdiam.
"Hukuman? Bukankah saya bilang urus dia, kenapa kamu biarkan pencuri ini masuk lagi kemari?"
Bagaikan tertimpa longsoran gunung, seketika Hanun merasakan sakit yang teramat sangat. Tetapi kenapa Hanun merasakan itu?
Ok, Farrel ternyata hanya menganggapnya sebagai seorang pencuri dan parasit bagi semua orang.
Hanun sakit, tapi kenapa?
"Jangan sembarangan Anda bicara!"
Inda tidak bisa lagi menahan dirinya untuk tidak melabrak Farrel terlebih mulut berbisanya.
Farrel mengalihkan pandangannya, kini Farrel menatap Inda.
Oh Sofia.
Tiba-tiba bayangan Sofia terbersit tatkala pandangan mata itu bertemu.
Farrel memalingkan wajahnya untuk menghindari perasaan tidak nyaman yang tiba-tiba menghampiri.
Di mata itu ada Sofia.
Mengapa wanita ini mengingatkanku padamu Sof?
"Anda siapa?"
Ya, mungkin lebih baik Farrel berkenalan terlebih dahulu.
Ini sih namanya modus Bang Farrel!
.
.
.
.
__ADS_1
.
.