SETELAH KAU PERGI ~Story About Farrel~

SETELAH KAU PERGI ~Story About Farrel~
CUTI YANG TIDAK SIA-SIA


__ADS_3

Belum selesai Fahira memindai situasi, Farrel keluar dari kamar sambil menggendong Adam. Dia berjalan menuju tiga orang yang tengah duduk di ruang tamu.


"Kenapa masih di sini? Tadi katanya mau kerokin aku." Farrel berbicara pada Fahira.


Fahira menoleh kemudian menatap Hanun dan Arsen secara bergantian. Fahira ingin memastikan kepada siapa Farrel berbicara barusan.


"Eh malah bengong. Nun, nitip Adam sebentar ya! Aku mau kerokan dulu." Secepat kilat Farrel menyimpan Adam dalam pangkuan Hanun kemudian tangannya dengan cepat meraih tangan Fahira agar segera mengikutinya ke dalam kamar.


Setelah pintu kamar tertutup, Arsen memulai aksinya. "Enak ya kalau sudah menikah ada yang ngerokin kalau masuk angin."


Hanun yang sedang menciumi pipi gembul Adam, menoleh ke arah Arsen dengan kening berkerut. Entah mengapa Hanun merasa aneh ketika harus mengobrol akrab pada orang yang baru dikenal, meski sebelumnya memang mereka sering mengobrol via telepon.


Hanun kira tidak akan pernah bertemu lagi dengan Arsen, Hanun kira Arsen akan menjadi teman dunia maya selamanya. Namun nyatanya kini? Hanun bahkan lupa harus menaruh wajahnya dimana.


Setelah semua kegilaan yang pernah dilakukannya melalui alat komunikasi terhadap Arsen, kini Hanun mati kutu. Dia bingung.


Apalagi ketika mata Hanun berserobok langsung dengan tatapan meneduhkan milik dokter muda itu, dirinya kian dibuat malu atas kelakuannya beberapa bulan terakhir ini.


Arsen berdehem guna menghilangkan keheningan yang tercipta di ruangan itu.


"Kok canggung ya." Arsen tertawa hambar.


Hanun menanggapinya dengan tersenyum tipis. Sungguh Hanun malu. Dadanya berdebar sejak tadi karena rasa malu yang menyeruak.


"Bagaimana kabar Bang Dodo?" tanya Hanun.


"Bang Dodo baik di rumah, yang tidak baik-baik saja itu ... Aku."


Hanun kembali mengerutkan keningnya makin bertambah saja rasa canggungnya.


Hening.


Hanun memilih diam sambil memainkan jemari Adam dipangkuannya.


"Kenapa? Kamu gak nyaman ya?" tanya Arsen.


Arsen bukannya tidak menangkap gelagat Hanun sejak tadi, hanya saja dia berusaha untuk mencairkan suasana. Namun nyatanya Hanun sangat susah diajak melebur jadi satu. Padahal awalnya Arsen mengira kalau mereka bertemu suasana tidak akan secanggung ini.

__ADS_1


Hanun menatap Arsen sekilas, kemudian membuat tawa yang dipaksakan.


"Kamu masih syok ya? Aku beneran datang."


Hanun menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya sekedar mengurangi kecanggungan. "Begitulah."


Tiba-tiba Hanun teringat sesuatu yang membuatnya langsung berdiri dan berjalan keluar rumah meninggalkan Arsen yang termangu.


Hanun berjalan cepat menghampiri mobil dimana Dita setia menanti. Hampir saja Hanun melupakannya dan malah asik dengan kecanggungannya.


"Ya ampun Dit, maaf buat kamu nunggu."


Dita yang tengah asik bermain ponsel kemudian menatap Hanun, "aku enggak apa-apa. Lanjut aja! Lagian ini bagian dari tugasku."


Sebenarnya Hanun ingin masuk ke dalam mobil dan segera melarikan diri tetapi tidak segampang itu apalagi kini Adam ada bersamanya. Hanun serasa masuk dalam jebakan.


Hanun melihat ke arah jendela kamar Fahira, fikirannya mengembara kemana-mana ada yang berkobar di lubuk hatinya. Nyeri itu masih ada, apalagi kekaguman yang tercipta tidak bisa hilang begitu saja.


Baru saja mendapat pelampiasan melalui Arsen yang mampu membuatnya sedikit mengalihkan kecemburuannya terhadap kehidupan saudaranya. Namun tiba-tiba semua terasa menjebak. Hanun merasa menjadi orang yang paling jahat di dunia karena melibatkan Arsen dalam mengobati luka hatinya.


Sungguh Hanun tidak berharap bertemu dengan laki-laki itu. Bagaimana pun Hanun tidak tega melihat langsung wajah orang yang dimanfaatkannya.


Arsen mengikuti arah pandangan Hanun, Arsen masih belum mengerti.


Ternyata tidak semudah yang dibayangkan, kamu benar-benar licin.


Batin Arsen tergelitik hingga senyum tipis menghiasi sudut bibirnya.


*


"Kamu ngapain sih?" Fahira bersedekap dada melihat tingkah Farrel yang sedari tadi mengintip ruang tamu melalui lobang kunci di kamar.


Ya, semenjak masuk ke dalam kamar Farrel bukannya merebahkan diri meminta kerokan tetapi dia langsung menutup pintu dan melakukan aksi yang tak terduga.


Awalnya Fahira tidak berniat untuk bertanya tetapi lama kelamaan dia menjadi jengkel.


Farrel menegakkan badannya lalu berbalik badan menghadap Fahira yang sedang dalam mode garang. Daster motif kupu-kupu selutut berwarna dusty yang dikenakan Fahira mampu membuat Farrel sedikit tercengang.

__ADS_1


Hei kemana saja dia sejak tadi? Sehingga baru menyadari Fahira berpakaian layaknya ibu-ibu rumahan.


Farrel berdehem guna menetralisir suasana yang mulai agak panas menurutnya.


"Aku lagi ngawasin takutnya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di luar."


"Kalau gak mau ada hal-hal yang enggak-enggak ngapain juga kita masuk kamar. 'Kan lebih baik kita di luar nemenin mereka." Fahira duduk di atas tempat tidur sambil menggelengkan kepalanya karena merasa hal yang dilakukan Farrel adalah sebuah kebodohan.


"Pokoknya aku punya misi." Farrel berucap mantap membuat Fahira menatap sengit kepadanya.


"Jangan dikira aku bodoh ya! Kamu mau jodohin si Dokter sama saudaraku 'kan? Dapat izin darimana? Yakin aku izinin?"


Seketika Farrel bungkam, entahlah rasanya jadi serba salah. Niatnya membantu teman malah menjadi boomerang bagi dirinya sendiri.


Farrel pun merasa lucu sendiri, dirinya bersemangat membuat orang lain mendapatkan cinta. Nyatanya dia sendiri tidak memiliki itu. Hubungannya dengan Fahira tidak seperti drama-drama percintaan benci menjadi cinta.


Ya, karena Farrel tidak pernah membenci Fahira.


"Udah ah aku mau keluar." Fahira yang melihat Farrel melamun merasa kesal sehingga dia berdiri dan hendak menerobos keluar kamar.


Sebelum pintu berhasil dibuka, Farrel mencekal pergelangan tangannya. "Sebelum keluar, baiknya ganti bajumu!"


Setelah megucapkan kalimat itu, Farrel bergegas membuka pintu kamar dan keluar menuju ruang tamu. Fahira hanya bisa menatap pintu yang kini telah tertutup kembali kemudian mengerjap-ngerjapkan matanya. Fahira segera berlari ke arah cermin guna melihat penampilannya.


"Emangnya kenapa dengan baju ini?" Fahira memutar tubuhnya di depan cermin guna mencari letak kesalahan dari penampilannya tetapi dia merasa tidak ada yang salah.


"Huh dasar aneh!" dengus Fahira.


Fahira segera menuju ke lemari pakaian miliknya, dia meraih sebuah jaket rajut dan memakainya. Ya, dia tidak mengindahkan perintah Farrel. Cukup memakai jaket sudah beres begitu fikir Fahira.


*


Sementara itu Farrel dan Arsen sudah terlibat dalam obrolan yang seru. Farrel berencana mengajak Arsen untuk berlibur ke tempat wisata di kota itu.


Bagaimana pun Farrel harus bersikap sebagai tuan rumah yang baik bagi Arsen. Untuk itu dia ingin membuat cuti sang dokter tidak sia-sia.


Setidaknya mereka bisa bersenang-senang layaknya kawan yang akrab.

__ADS_1


.


__ADS_2