SETELAH KAU PERGI ~Story About Farrel~

SETELAH KAU PERGI ~Story About Farrel~
KEHIDUPAN BARU


__ADS_3

Ketika Farrel sudah memasukkan mobilnya ke dalam garasi, dia melihat ketua RT setempat melewati rumahnya. Farrel sedikit berlari memanggil dan menghampiri ketua RT tersebut.


"Pak! Pak RT tunggu!"


Orang yang dipanggil itu pun berhenti melangkah dan tersenyum ke arah Farrel. "Assalamualaikum Pak, apa kabar?" Farrel menjabat tangan ketua RT tersebut.


"Waalaikumsalam, tumben ada di sini Pak Farrel. Ada yang bisa saya bantu?"


Farrel tersenyum dan berkata, "Iya Pak. Saya sekarang akan tinggal lagi di sini bersama istri saya. Untuk itu saya memberitahukan kepada Bapak, nanti saya akan memberikan kartu keluarga baru milik saya setelsh saya selesai mengurusnya."


Pak RT tertawa sambil menepuk lengan Farrel seraya berkata, "Pak Farrel sudah menikah lagi? Wah kejutan sekali, selamat ya Pak."


Farrel membalas ucapan Pak RT dengan senyuman. Beberapa saat mereka mengobrol hingga akhirnya Pak RT berpamitan pulang.


Farrel pun masuk ke dalam rumah. Farrel baru menyadari bahwa Fahira masih berada di dalam mobil.


Farrel bergegas menuju garasi dan mendapati Fahira yang kesulitan untuk menggendong bayinya.


"Lama amat sih Pak? Sengaja ya Anda."


Farrel terkekeh melihat kekesalan Fahira, dia pun membantu menggendong Adam. Akhirnya Farrel dan Fahira kini sudah tiba di rumah baru mereka.


Farrel akan berusaha menjadi kepala keluarga yang baik untuk keluarga kecilnya.


*


Keesokan paginya di rumah Pak Subagyo, Hanun yang baru pertama kalinya tidur di kasur yang empuk dan besar bangun kesiangan.


Dia terduduk tiba-tiba dan menatapi sekeliling. Hanun menyadari pagi ini dia bukan Raihanun yang dulu lagi, saat ini dia adalah Raihanun Jahira.


Meski masih betah bergelung dengan selimutnya, Hanun terpaksa pergi ke kamar mandi. Dia mencuci wajahnya dan menatap cermin di depannya.


"Kurang apa sih aku, Rel?" guman Hanun.


Hanun belum bisa melupakan perasaan yang baru pertama kali dia rasakan. Sakit itu masih tersisa walau sengaja dia tutupi.

__ADS_1


Tidak lama kemudian Hanun turun memakai baju Fahira, dia mendapati sang ayah sudah berpakaian rapi di meja makan. Pak Subagyo menyambut Hanun dengan senyuman dan mempersilahkannya untuk duduk.


"Selamat datang dihari barumu, putriku."


Hanun tersenyum kikuk, dia tidak pernah diperlakukan layaknya putri seperti saat ini. Hanun pun duduk, dia menatap piringnya yang terisi dengan dua lembar roti tawar. Hanun menatap seluruh meja tidak ada nasi di sana.


"Kenapa Nak? Ayo cepat makan!" Pak Subagyo heran yang melihat Hanun hanya terdiam menatapi piringnya.


Hanun tersenyum dan berkata, "Apa gak ada nasi? Minimal nasi uduk gitu."


Pak Subagyo baru sadar yang ada bersamanya saat ini bukanlah Fahira, Pak Subagyo merasa bersalah karena tidak bertanya lebih dulu menu yang diinginkan Jahira.


Sedetik kemudian Pak Subagyo memanggil pelayan dan menyuruhnya membelikan nasi uduk di depan kompleks. Meski terkejut pelayan itu menurutinya.


"Sambil nunggu kamu minum susu dulu!" titah Pak Subagyo.


Hanun menggelengkan kepalanya, dia benar-benar asing dengan kehidupan seperti ini. Dia ingat setiap pagi dia harus berlari-larian mengejar waktu hanya untuk bisa makan nanti siang. Sedangkan di sini, Hanun merasa waktu berjalan sangat lambat. Hanun sangat bosan.


"Oh iya Nak, nanti Yunus asisten pribadi Papa akan mengurus surat-surat data diri kamu. Kamu akan memiliki identitas aslimu," kata Pak Subagyo.


Hanun hanya mengangguk terselahlah apa yang akan terjadi Hanun pasrah.


Hanun tersedak ludahnya sendiri, apa katanya tadi?


Lingkungan kantor?


"Aku gak ngerti apa-apa, sekolah pun enggak."


Pak Subagyo tersenyum sesungguhnya Pak Subagyo sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Dia sudah menyewa seorang pengajar dan mendaftarkan Hanun melalui jalur paket.


Pak Subagyo akan membuat Hanun bertransformasi menjadi orang yang baru.


"Kamu tenang saja Papa sudah urus semuanya. Nanti siang kamu akan pergi ditemani Dita, dia akan menjadi asisten pribadimu."


Lagi-lagi Hanun terkejut, dia tidak menyangka kehidupannya akan banyak aturan seperti ini.

__ADS_1


"Pergi kemana?" tanya Hanun penasaran.


"Nanti kamu akan tahu." Pak Subagyo tersenyum dan melanjutkan sarapannya dia harus segera ke kantor untuk mempersiapkan jebakan yang ampuh untuk Satria.


Setelah selesai sarapan Pak Subagyo bergegas pergi ke kantor meninggalkan Hanun seorang diri. Hanun menatap sekeliling yang terlihat sepi dia kemudian berjalan ke kamar sambil menunggu orang yang bernama Dita datang ke rumah itu.


Hanun membuka pintu kamar dia melihat penampakkan kasurnya yang kini telah rapi padahal terakhir dia tinggalkan kasur itu sangat berantakan.


Ah ternyata kehidupan Nona-Nona sangat membuat Hanun bosan. Dia menatap sekeliling kamar itu dan baru ingat kalau ini adalah kamar Fahira. Hanun merasa bersalsh karena dia menempati kamar orang lain. Dia merasa sebagai seorang perebut.


*


Ketika hari menjelang siang, orang yang bernama Dita itu akhirnya datang. Hanun melihatnya hampir persis seperti pembawa acara berita di televisi. Tampilan yang sempurna dan anggun membuat Hanun malu sendiri.


Ini seperti terbalik Hanunlah yang seharusnya ada diposisi Dita. Dunia sungguh kejam! Kenapa kehidupannya berubah drastis? Baru dua hari Hanun di sini dia sudah rindu Jogja.


"Anda sudah siap Nona?"


"Aduh jangan panggil Nona! Panggil Hanun aja." Hanun merasa risih karena Dita dari tadi berbicara formal kepadanya.


"Maaf itu tidak sopan, Nona. Mari kita pergi!" Saat ini Dita dan Hanun sudah berada di sebuah mobil. Dita pun menginjak gas membuat mobil itu melaju.


"Kita mau kemana sih?" tanya Hanun.


"Nanti Anda akan tahu." Jawaban yang sama seperti yang dilontarkan Pak Subagyo membuat Hanun jengah.


Beberapa saat kemudian Dita menepikkan mobilnya di parkiran sebuah pusat perbelanjaan. Dia kemudian mengajak Hanun untuk masuk ke dalam. Hanun merasa sangat canggung, dia memilih berjalan di belakang Dita meski Dita terus-terusan mensejajarkan langkahnya dengan Hanun.


Setelah menaiki sebuah lift, kini Hanun berada di salon kecantikan dia akan dipermak menjadi Hanun yang baru. Serangkaian perawatan Hanun jalani, hanya saja Hanun menolak untuk mewarnai rambutnya. Dia mempartahankan rambutnya yang hitam legam miliknya.


Hampir dua jam Hanun menjalani perawatan, akhirnya dia keluar dengan penampilan baru yang lebih segar dan cantik. Dia benar-benar terlihat seperti Fahira saat ini.


Setelah keluar dari salon, Dita membawa Hanun ke toko pakaian. Dia dipaksa memilih pakaian, lebih tepatnya dipilihkan oleh Dita karena Pak Subagyo yang memerintahnya. Banyak sekali baju yang dibeli Hanun, eh bukan.


Pak Subagyo menyuruh Dita untuk membeli baju yang bayak untuk Hanun.

__ADS_1


Setelah selesai berbelanja baju, Hanun pun diajak Dita ke sebuah toko ponsel. Lagi-lagi Dita memilihkan apa yang akan dibeli Hanun. Dia memilihkan sebuah ponsel keluaran terbaru yang harganya membuat Hanun menahan nafasnya saking terkejut.


.


__ADS_2