SETELAH KAU PERGI ~Story About Farrel~

SETELAH KAU PERGI ~Story About Farrel~
MEMPERKENALKAN


__ADS_3

Dokter Arseno mondar-mandir menunggu balasan pesan dari Hanun tetapi sampai sepuluh menit menunggu, pesannya masih belum terbalas padahal sudah centang biru.


Ah Arsen mengguyar rambutnya frustasi, dengan langkah gontai dia masuk ke dalam kamar mandi. Menyelesaikan ritual mandinya dengan tidak bersemangat.


Ditempat lain, Hanun yang mendapat pesan dari Arsen merasa heran mengapa dokter itu mengetahui nomornya. Hanun bertanya-tanya ada perlu apa Arsen mengiriminya pesan.


Belum sempat membalas pesan yang terlanjur dibaca, Hanun dipanggil Pak Subagyo ke ruang makan untuk makan malam bersama.


Seperti biasa Hanun menyendok makanannya dengan canggung. Masakan pelayan di rumah ini memang enak tetapi dia rindu makan bakso bersama Inda atau pecel lele di pinggir jalan.


Ah Hanun bertanya-tanya kapan dia bisa menikmati masa-masa itu lagi. Di rumah ini yang dia lakukan hanya belajar dan belajar, bosan sekali. Dia ingin membaca novel, novel online juga tidak apa-apa.


"Kenapa murung, Nak?"


Pak Subagyo membuyarkan lamunan Hanun yang terlanjur melambung jauh.


"Eh enggak, Pa."


"Oh iya, besok kamu ikut Papa ke kantor ya."


Hanun menatap ayahnya penuh tanya untuk apa dia ke kantor?


"Buat apa Pa?" tanya Hanun akhirnya.


Pak Subagyo tersenyum lalu berkata, "Papa akan memperkenalkanmu kepada semua direksi dan karyawan."


Hanun hampir tersedak mendengarnya, buru-buru dia minum sebelum benar-benar terbatuk-batuk.


"Tapi Pa?"


"Kamu tenang saja, Dita akan banyak membantumu. Ikuti saja pertunjuk dari Papa."


Hanun hanya mampu mengangguk, dia tahu tidak ada celah untuk menolak.


Setelah selesai makan malam, Hanun kembali ke kamar. Dia teringat akan ponselnya yang tergrletak di kasur. Segera dia mengusap layar, kemudian membalas pesan Arsen. Dia tidak enak jika tidak membalas pesan pria yang terlihat baik ketika memperlakukan Dodo.


Hanun tersenyum penuh arti, dia akan memanfaatkan Arsen untuk mengetahui kabar sang abang.

__ADS_1


"Oh Dokter, apa kabar?"


Pesannya langsung dibalas kilat oleh Arsen, sepertinya dia tidak peduli meskipun kentara menunggu balasan dari Hanun.


"Kabar aku baik, kamu gimana?"


Ah berbasa-basi dahulu untuk memanjangkan cerita selanjutnya.


"Baik Dok. Gimana kabar Bang Dodo? Bilangin saya kangen." Hanun menambahkan emoji tersenyum malu diakhir kalimatnya.


"Tadi saya ngobrol sama Abang kamu, sepertinya dia juga merindukan adiknya."


Tanpa sadar mata Hanun berkaca-kaca saat ini, andai saja Bang Dodo mau ikut dengannya. Bayangan masa-masa sulit terlintas dibenaknya. Bang Dodo yang dulu kasar kini menjelma menjadi seseorang yang sedikit berwibawa.


Lama Hanun tidak membalas pesan Arsen, dia terlanjur menyelam ke masa lalunya. Bagaimana rasanya dijambak dan dibanting pernah dia rasakan. Namun semua itu tidak merubah perasaannya kepada Dodo, baginya Dodo adalah pahlawan sejati yang akan selalu dia sayangi.


Setelah menghapus jejak air mata yang tidak sopan meluncur, Hanun kemudian mengetikkan pesan kepada Arsen. Dia berpamitan untuk tidur duluan.


Ya, Hanun tidak ingin kesiangan besok, sepertinya besok dia harus terlihat segar dan berubah menjadi Raihanun Jahira.


*


Pak Subagyo menatap Hanun yang tengah gelisah di sampingnya.


"Kamu tenang saja, tidak akan ada hal buruk yang terjadi. Mohon bantuannya Dit!"


Dita yang berada di kursi depan bersama supir mengiyakan dengan patuh.


Sesampainya di kantor, Pak Subagyo menggandeng tangan Hanun. Semua karyawan bertanya-tanya mengapa Fahira bekerja kembali di kantor itu? Bukankah dia sudah dipecat secara tidak hormat?


Ya, Walaupun Fahira anak dari pemilik perusahaan namun dia diperlakukan sama seperti karyawan lain yang akan dipecat jika melakukan kesalahan.


Pak Subagyo tersenyum sumringah setiap ada karyawan yang menyapanya. Pak Subagyo lebih terlihat ramah dari sebelum-sebelumnya.


Para karyawan bertanya-tanya, rasa penasaran semua orang semakin memuncak ketika Pak Subagyo menyuruh Yunus untuk menyiapkan acara penyambutan kedatangan Hanun.


Halaman depan kantor disulap menjadi tempat penyambutan. Ada panggung kecil yang dibuat seadanya namun terlihat kokoh, Kursi-kursi plastik berjejer memenuhi halaman kantor. Bahkan entah kapan tenda terpasang di halaman itu.

__ADS_1


Seluruh karyawan diminta keluar dari kantor dan menduduki tempat masing-masing yang telah disiapkan. Mereka dibuat semakin penasaran, tidak terkecuali Satria.


Dia akan menonton acara sirkus seperti apa yang akan ditampilkan atasannya itu. Satria berjalan bersama pegawai lain dari berbeda-beda mangemen.


Setelah dirasa semua telah berkumpul, Pak Subagyo naik ke atas panggung.


"Assalamuaikum warahmatullohi wabarakatuh, salam sejahtera semuanya. Sengaja saya kumpulkan kalian di sini untuk memperkenalkan anak saya."


Tangan Pak Subagyo terulur mengajak Hanun naik ke atas panggung. Meski rasanya enggan sekali, Hanun terpaksa menuruti ayahnya karena tidak ingin membuatnya malu.


Langkah Hanun pelan menaiki panggung, ditatapnya orang-orang yang ada di hadapannya satu persatu.


Ada rasa malu dan tak pantas dirinya berada diantara orang-orang yang berpenampilan sempurna itu. Hanun sadar darimana dia berasal dan takdir apa yang membawanya berada dilingkungan yang asing ini.


Terlihat olehnya orang-orang saling berbisik, ada yang menatapnya sinis ada juga yang terlihat penasaran.


"Jika kalian mengira ini adalah Fahira, kalian salah besar! Dia adalah anak saya yang sempat hilang beberapa tahun yang lalu. Dia adalah saudara dari Rihana Fahira, namanya Raihanun Jahira."


Tempat itu mendadak bising karena mereka sangat terkejut. Mereka tidak tahu jika Pak Subagyo memiliki anak kembar.


Begitu pun dengan Satria, dia sangat terkejut mengetahui fakta yang terjadi di depan matanya.


Bagaimana mungkin ini terjadi? Aku sudah membuang anak itu sangat jauh. Kenapa bisa si Subagyo menemukan anaknya.


Wajah Satria berubah menjadi tegang ketika Pak Subagyo menatapnya sembari berbicara, "Saya percayakan Jahira berada di bagian pemasaran bersama Anda, Pak Satria. Saya yakin dibawah bimbingan dari Anda anak saya bisa cepat beradaptasi. Saya sudah mengatur dan mengganti dua orang di bagian pemasaran, Jahira dan Dita akan masuk menggantikan dua orang yang saya pindahkan ke bagian lain."


Rahang Satria mengeras menahan emosi, bagaimana mungkin Pak Subagyo membuat keputusan tanpa berdiskusi dahulu. Satria yakin pasti Pak Subagyo sedikit banyak telah mengetahui kebusukannya.


Satria berpura-pura tersenyum walau hatinya dongkol, dia memutar otaknya agar bisa membuat situasi kembali berpihak kepadanya.


Hari itu perusahaan hanya bekerja setengah hari. Pak Subagyo membiarkan para karyawannya pulang lebih cepat. Dia pun pulang bersama Hanun, sementara Dita masih ditugaskan untuk mengawasi gerak-gerik Satria.


"Kamu pasti tegang tadi, Papa minta maaf."


Pak Subagyo melirik ke arah Hanun yang hanya terdiam setelah semua yang terjadi hari ini.


"Papa tidak perlu minta maaf." Hanun terseny menenangkan ayahnya.

__ADS_1


.


.


__ADS_2