
Farrel dan Ahmad sudah tiba di rumah Mama Haji, mereka disambut baik terutama Farrel yang sudah sangat dirindukan di sana. Meskipun Farrel bukan termasuk alumni santri di pesantren itu, namun Mama sudah menganggapnya keluarga.
Dihadapan tiga cangkir kopi ketiga orang pria itu asik bercengkrama. Bercerita banyak hal tentang pengalaman masing-masing. Tak jarang nasihat-nasihat kecil terselip dalam obrolan mereka.
"Maaf sebelumnya Ma, sejak dari tadi saya tidak melihat Bi Haji. Kemana beliau?" tanya Farrel disela obrolan mereka.
Mama Haji menatap dalam Farrel dengan senyuman lembut khasnya. "Emangnya Ahmad tidak ngasih tahu Rel?" Mama menoleh pada Ahmad yang sedang menghitung jemari dalam pangkuannya.
"Tiga bulan yang lalu Bi Haji dipanggil yang Maha Kuasa."
Farrel mengangkat kepalanya seakan tidak percaya menatap Mama Haji dengan penuh tanya dan prihatin.
"Innalillahiwainnailaihi roji'un, maafkan saya Ma. Saya tidak tahu." Farrel berkata dengan bersungguh-sungguh.
"Soal itu ... maaf Rel, aku lupa mengabari soalnya kamu waktu itu susah dihubungi akhirnya dengan kesibukkanku juga aku kelupaan. Saya minta maaf Ma." Ahmad menimpali.
Mama Haji kembali tersenyum, "ah sudah tidak apa-apa. Lagian kalian juga sibuk."
"Sekali lagi maaf Ma," ucap kedua pria yang merasa bersalah itu.
Tiba-tiba Mama tertawa kecil, "jangan minta maaf terus, Mama sudah terbiasa jadi duda sekarang. Enak gak enak ya Rel?"
Hah? Apa?
Farrel kembali mengangkat kepalanya menatap Mama yang dia rasa sedang menggodanya.
"Ngomong-ngomong kapan nih Mama dapat undangan? Kamu jangan lama-lama menduda loh. Kamu beda sama Mama, kamu masih muda masa depan masih panjang. Sudah seharusnya kamu memiliki pendamping supaya kehidupanmu lancar ibadah pun tenang."
"Hmm soal itu saya belum memikirkan Ma." Farrel menjawab seadanya.
"Jangan lama-lama nanti keburu tua! Lihat tuh Ahmad semakin hari badannya semakin berisi, itu tanda dia bahagia ada yang ngurus." Mama berbalik meledek Ahmad. Mereka pun berlanjut dengan obrolan-obrolan ringan lainnya.
Hari semakin siang Farrel berpamitan pulang sementara Ahmad masih memiliki urusan di pesantren. Farrel hendak mengambil motor yang tadi dia tumpangi bersama Ahmad di parkiran sebelum tiba-tiba seseorang menepuk punggungnya.
"Assalamualaikum, Farrel."
Farrel pun berbalik, dihadapannya kini ada seorang pria berjanggut dengan sedikit brewok di sana, peci hitam beserta sorban kuning keemasan terlampir di salah satu pundaknya.
Farrel mengernyitkan kening mengingat-ingat apakah dia mengenal orang itu.
Lalu orang itu berdecak dan berkata, "Zamzam ini Zamzam."
Raut wajah Farrel seketika berubah dan menilik lebih dalam penampilan orang yang mengaku bernama Zamzam itu.
__ADS_1
"MashaAlloh ... Ustadz!" Farrel kemudian mengingat Ustadz Zamzam dihadapannya. Mereka pun berpelukan.
"Maaf Ustadz saya sedikit tidak ingat," kata Farrel.
"Halah bilang aja lupa."
Mereka pun tertawa. Niat untuk pulang Farrel urungkan sementara karena Ustadz Zamzam mengajaknya untuk mampir ke rumah miliknya yang memang masih di area pesantren.
Ustadz Zamzam membawa Farrel masuk ke dalam rumah yang masih sama seperti dulu.
"Ada tamu?" Seorang wanita bergamis syar'i datang dari arah dapur. Wanita itu menggendong bayi laki-laki. Farrel sudah tahu bahwa itu Nimas istri dari Ustadz Zamzam.
Nimas sejenak mematung mengetahui tamu yang datang.
"Farrel?"
Farrel mengangguk dengan senyuman tipis.
"Kamu itu memang awet muda Rel, wajah kamu mudah dikenalin karena masih sama kayak dulu. Lah masa Neng, tadi Farrel gak ngenalin aku. Emang aku setua itu ya?"
"Eh baru nyadar," celetuk Nimas yang membuat Farrel menahan tawanya. Sementara sang Ustadz sedikit memberengut.
"Bukan tua Ustadz, tapi penampilannya sekarang lebih keren dari yang dulu. Sekarang Ustadz agak-agak mirip raja dangdut." Farrel mencoba meluruskan.
"Loh bukan Ustadz!"
"Sudah sudah! Kalian kalau bertemu pasti ribut. Sebentar saya bawakan minum." Nimas berlalu meninggalkan dua orang yang sedang berdebat itu.
Beberapa saat kemudian Nimas kembali dengan dua gelas kopi.
"Aduh dari tadi saya ngopi melulu nih, tapi kalau enggak diminum mubazir." Farrel mengambil kopinya dan menyesapnya sedikit.
"Kamu apa kabar Rel?" tanya Nimas.
"Alhamdulillah baik, beginilah kondisinya." Farrel tersenyum samar.
"Oh iya, kalian sudah nambah anak lagi?" tanya Farrel.
"Ya jelas dong, anak kami sudah tiga." Ustadz Zamzam menimpali dengan bangganya.
Nimas hanya menggelengkan kepalanya dengan kelakuan sang suami. Sementara Farrel masih asik melayani Ustadz Zamzam tidak jarang mereka saling meledek bahkan berdebat.
Setelah solat dzuhur, Farrel akhirnya benar-benar pulang. Memang tidak pernah sebentar kalau dia mengunjungi pesantren.
__ADS_1
Farrel melajukan motornya dengan kecepatan sedang di bawah rintik-rintik air hujan yang turun di tengah hari itu.
Baru setengah perjalanan, di depannya sebuah mobil hitam melaju dengan kecepatan tinggi dan hampir saja menabraknya sebelum kemudian mobil itu membanting stir menabrak pembatas jalan.
Farrel sangat terkejut dia pun menepikan motornya dan bergegas menghampiri mobil yang berhenti tepat di dekatnya itu. Satu persatu orang mulai berdatangan ada yang ingin menolong ada juga yang tidak ingin kehilangan moment untuk dijadikan berita.
Farrel beserta beberapa orang mengintip kaca mobil itu. Mereka mengetuknya hingga orang yang ada di balik kemudi membuka pintu mobilnya.
Seorang pria paruh baya dengan wajah kusut terlihat di sana.
"Bapak tidak apa-apa?" tanya Farrel dengan cemas.
Pria itu menggeleng kemudian menatap satu persatu orang yang berkerumun di dekatnya lalu berkata, "saya tidak apa-apa, mohon maafkan saya sudah membuat keributan."
Kecelakaan ringan itu tidak sampai melibatkan polisi lakalantas karena tidak ada korban dan juga tidak ada yang melaporkannya. Orang yang berkerumun itu hanya sibuk dengan ponsel mereka, setelah situasi terkendali mereka bubar dengan tertib. Sekarang hanya tersisa Farrel di sana.
Pria itu bergerak hendak keluar mobil meski sedikit meringis.
"Bapak bisa berdiri?" tanya Farrel.
Pria itu mengangguk.
Farrel mengajaknya ke sebuah warung pinggir jalan yang kebetulan tidak jauh dari sana. Farrel menyodorkan sebotol air mineral kepada pria itu.
"Terimakasih Nak."
Farrel tersenyum kemudian duduk di samping pria itu, "Bapak tinggal dimana? Biar saya antar."
"Tidak usah Nak, nanti merepotkan."
Pria itu menunduk sambil memegangi dadanya.
"Bapak kenapa? Sakit? Dadanya sakit?" Kecemasan Farrel sangat kentara membuat pria paruh baya itu menatapnya dengan tatapan tidak terbaca.
"Tidak Nak, ini bukan karena kecelakaan tadi. Ada sesuatu yang membuat hati saya hancur sebagai seorang ayah. Hari ini menjadi saksi bahwa saya telah gagal menjadi seorang ayah. Saya gagal menjadi kepala keluarga yang melindungi anggota keluarganya."
Sebutir cairan bening nampak disudut mata pria paruh baya itu. Farrel tidak mengerti apa yang dikatakan pria itu, tetapi Farrel dapat memahami beban berat yang sedang dipikul pria itu.
.
.
..
__ADS_1