
Keesokan harinya Farrel memenuhi janjinya untuk mengajak Inda mencari buku. Sejak pukul tujuh pagi dia sudah menunggu di depan rumah kost yang ditempati Inda. Dia menunggu dengan sabar, Farrel menyesal tidak meminta nomor kontak Inda. Setidaknya kalau dia tahu nomornya dia tidak akan menunggu seperti orang bodoh karena takut Inda sudah pergi dari rumah.
Sesekali warga di sana menyapanya ada pula yang hanya menatap dengan sinis. Farrel maklumi hal itu karena memang dia orang tidak dikenal di lingkungan itu.
Sudah satu jam lamanya, akhirnya pintu pagar terbuka. Inda terkesiap melihat Farrel dengan tenangnya duduk di atas motor kemudian tersenyum padanya. Inda tidak menyangka Farrel akan menemuinya lagi. Tiba-tiba saja kupu-kupu itu beterbangan kembali di hati Inda.
"Akhirnya keluar juga." Farrel merasa lega sehingga dia tersenyum sangat lebar.
Eh? Inda dibuat salah tingkah pagi-pagi begini. "Sedang apa di sini?" tanyanya kaku.
"Kita 'kan mau nyari buku, saya udah nungguin dari jam tujuh kamu di sini." Farrel menjawab sembari membuka bagasi untuk mengambil helm.
Inda dibuat takjub dengan perkataan Farrel barusan hingga tanpa sadar mulutnya sedikit terbuka. Dia sungguh tidak tahu ada yang menunggunya di depan. Padahal tadi dia berleha-leha di dalam bahkan dia sempat membaca buku terlebih dahulu.
Seketika Inda meringis tidak tega, orang macam apa sebenarnya Farrel dia selalu melakukan hal-hal tidak terduga seperti ini.
"Saya minta nomor kamu ya, biar kalau ada urusan panti saya bisa hubungin kamu."
Eh? Aduh Inda tersadar dari lamunannya dan hanya mengangguk mengiyakan.
Sementara Inda dan Farrel bersiap pergi, di atap salah satu rumah Ruli baru saja menggeliatkan tubuhnya. Sudah menjadi kebiasaannya setiap pagi selalu mencuri-curi pandang ke rumah kost Inda hanya untuk memastikan Inda keluar hari ini.
Namun kali ini Ruli dibuat kesal bukan main ketika melihat Inda menaiki motor yang sama dengan yang semalam. Darah Ruli seakan naik tiba-tiba ke ubun-ubun membuatnya hilang kendali dan melempar ember yang kebetulan ada di dekatnya dengan sembarang. Setelah itu dia masuk dengan umpatan kasar yang meluncur bebas dari mulutnya.
Sementara ember yang dilemparnya berguling ke bawah dan mengenai pedagang bubur ayam yang kebetulan lewat.
"Ya Alloh secepat ini Kau kabulkan doaku, terimakasih Ya Alloh telah memberikan hamba ember gratis." Pedagang bubur ayam malah menganggap ember itu jatuh dari langit, karena tadi subuh dia berdoa untuk dilariskan dagangannya supaya bisa membeli ember baru.
*
Dilain tempat, Hanun sedang mengelap kaca toko sambil bersenandung ria. Meski hari ini sedikit kecewa karena saat melewati bengkel dia tidak melihat Farrel, namun nanti sore dia akan mencobanya lagi.
__ADS_1
Hanun tersenyum kala menyadari tingkah konyolnya itu. Tiba-tiba senyum itu menyusut ketika melihat motor yang dikenalnya berhenti di parkiran toko. Hanun melihat Inda turun dari motor yang tidak lain adalah milik Farrel.
Seketika hati Hanun mencelos sakit, Inda dan Farrel datang berdua? Oh kenyataan memang selalu menamparnya.
Beberapa saat kemudian Inda membuka pintu toko, sekuat tenaga Hanun berusaha baik-baik saja. Meski hatinya saat ini sedikit retak karena hantaman kenyataan yang selalu tidak sesuai harapan. Hanun mendekati Inda dan tersenyum kecil dia menyapa dan mempersilahkan masuk.
"Kita lagi cari buku anak-anak Nun." Kata itu bagai tombak yang menusuk hati Hanun. Apa katanya tadi, kita?
"Eh Nona pen- eh maksud saya Nona Hanun kerja di sini?"
Bahkan Farrel masih menganggapnya sebagai pencuri. Padahal setiap harinya Hanun habiskan hanya untuk memuja Farrel, sungguh tega!
"Ayo sebelah sini tempatnya!" Hanun berkata sedikit gemetar menahan gejolak yang membuncah dihatinya.
Setelah sampai di rak buku yang ditunjuk Hanun, Farrel dan Inda mulai sibuk memilah buku yang akan mereka beli.
"Baiknya buku kita beli satu-satu sesuai judul apa gimana?" tanya Farrel pada Inda yang sibuk mengambil buku dongeng.
Hanun sedari tadi memperhatikan mereka dengan sendu, Farrel bisa seramah itu pada Inda tetapi tidak pada dirinya. Apa sebenarnya yang diharapkan Hanun?
Farrel sudah pasti menyukai wanita anggun seperti Inda bukan wanita jalan seperti Hanun. Setitik air mata lolos dari sudut matanya dengan cepat Hanun menghapus jejak itu dan berpura-pura sibuk menata buku untuk mengalihkan perhatiannya.
*
Buku yang dibeli Inda dan Farrel ternyata cukup banyak, mereka kesulitan untuk membawanya akhirnya Retno menyuruh Hanun untuk mengantarkan sebagian buku itu. Hanun membonceng Inda membawa beberapa buku sementara Farrel membonceng dus besar berisi buku di belakangnya. Mereka melaju menyusuri jalanan menuju panti.
"Jadi buku ini buat anak-anak yatim?" tanya Hanun.
"Iya Nun, ternyata Mas Farrel orangnya baik dia menjadi donatur baru di panti."
Mas Farrel?
__ADS_1
Panggilan yang sangat manis dan sopan membuat Hanun semakin merasa jauh untuk mengejar.
Beberapa saat kemudian mereka tiba di panti asuhan. Seperti biasa Inda disambut hangat oleh anak-anak. Melihat itu Hanun tersenyum haru, anak-anak ini seumuran dengannya sewaktu bertemu dengan Dodo.
Apakah dirinya juga anak panti yang hilang? Ataukah dirinya memang dibuang?
Setiap kali mengingat itu sakit kepala Hanun selalu terasa. Bahkan sakitnya serasa menusuk tidak karuan, Hanun hampir saja terjatuh sebelum Farrel menangkapnya dengan sebelah tangan. Farrel tidak sengaja melihat perubahan wajah Hanun dan benar saja ketika Farrel akan berjalan melewatinya Hanun tiba-tiba oleng, untung saja Farrel tepat waktu.
"Hanun? Kamu kenapa?" Inda baru menyadari temannya akan pingsan dan panik dibuatnya. Dia segera memapahnya sementara Farrel sibuk dengan anak-anak sambil sesekali melirik ke arah Inda dan Hanun yang masuk ke dalam suatu ruangan.
*
Setelah memberikan minyak kayu putih pada kepala dan juga hidung Hanun. Inda terpaku menatap Hanun yang lemah dan juga pucat.
Tiba-tiba Hanun menggeliat dan membuka matanya. Dia kemudian duduk di kursi itu dibantu Inda. "Maaf In, aku jadi ngerepotin."
Inda menggeleng cepat, "kalau sakit jangan maksa kerja Nun! Aku khawatir tahu sama kamu."
Inda memeluk Hanun erat dia merasa takut jika terjadi apa-apa pada Hanun.
"Aku gak sakit In, hanya saja aku teringat sesuatu dan tiap kali aku ingat itu kepalaku selalu sakit."
"Kalau begitu jangan ingat-ingat hal yang bisa membuat kepalamu sakit lagi ya!" kata Inda.
Hanun tersenyum, dia beruntung bertemu dengan Inda dan mengenalnya. Inda sangat baik bahkan sangat memperhatikannya sebagai teman. Hanun berjanji akan selamanya menjadi teman Inda.
.
.
.
__ADS_1
.