SETELAH KAU PERGI ~Story About Farrel~

SETELAH KAU PERGI ~Story About Farrel~
AGAMA ITU APA?


__ADS_3

Kini, Hanun berdiri di depan sebuah kantor polisi. Di dalam sana ada abangnya.


Tubuh Hanun bergetar hebat, saat langkah kaki yang gemetar itu perlahan maju untuk memasuki tempat itu.


Ah mungkin di sini juga seharusnya dia tinggal. Mungkin di sini juga dia mempertanggung jawabkan semua dosa dan kesalahannya pada semua orang selama ini.


Namun sejak kapan Hanun peduli pada dosa?


Sejak kapan Hanun merasa bersalah.


Sejak bertemu Farel.


Ya, sejak malam itu Hanun dihantui rasa bersalah. Entah apa yang telah diperbuat Farrel hingga membuatnya seperti sekarang ini.


Mungkinkah pelet?


Ah jangan ngaco! Hanun tidak sedang jatuh cinta saat ini. Hanun hanya sedang berada di puncak kebimbangan.


Memasuki kantor polisi, Hanun berusaha tetap mendirikan tubuhnya tanpa sempoyongan. Hanun kuat! Hanun bisa!


Tiba di dalam Hanun mengedarkan pandangannya mencari sang Abang. Hanun enggan untuk bertanya, melihat seragam mereka saja sudah membuat Hanun bergidik ketakutan apalagi berbicara.


Hanun berjalan walau ragu, kemudian di sebuah ruangan yang terbuka pintunya terdengar suara-suara yang membuat Hanun mendekatinya.


"Sudah berapa lama kamu beraksi?"


Suara ketikan keyboard komputer terdengar nyaring ditengah-tengah ringisan seseorang.


Hanun sedikit mengintip ke ruangan itu, dan ternyata Hanun melihatnya.


Hanun melihat Dodo duduk di hadapan seorang penyidik yang sedang mengorek keterangan darinya. Begitupun di meja lain nampak para penjahat lain sedang diinterogasi.


Hanun melihat betis Dodo terluka, apakah itu luka tembak?


Batin Hanun bergetar dibuatnya, selama dia hidup bersama Dodo belum pernah sekalipun melihat Dodo terluka sedikitpun. Atau mungkin Dodo tidak mau Hanun melihatnya terluka, oleh karena itu jika dia terluka maka Dodo tidak pulang selama beberapa hari.


Memang interaksi keduanya selalu dengan kekerasan, namun percayalah cara menyayanginya berbeda dari kebanyakan orang.


"Bang ...."


Suara Hanun yang bergetar membuat semua orang yang ada di ruangan itu menoleh ke arahnya.


Hanun tidak peduli.


Hanun berjalan mendekati Abangnya yang terkejut melihatnya.


"Bang Dodo."


"Apa dia termasuk komplotan kamu?"


Dodo lantas semakin terkejut karena polisi yang sedang mengintrogasinya bertanya hal yang membuatnya ketakutan.


"Ti-tidak jelas tidak Pak, ini adik saya. Dia tidak tahu apa-apa. Izinkan saya berbicara dengannya sebentar."


Polisi itu menyipitkan matanya penuh curiga, tetapi gerakan tangannya mempersilahkan Dodo berbicara pada Hanun. Dodo meringis ketika berdiri, disambut Hanun yang kemudian memapahnya.


Dodo membawa Hanun ke sudut ruangan itu agar suaranya tidak terlalu terdengar oleh polisi yang masih saja memperhatikannya.


"Bodoh! Anak bodoh! Pulang!"


Dodo berbisik tepat pada telinga Hanun.


"Tapi Bang ... Abang bagaimana? Abang terluka."


Wajah Hanun memelas membuat dunia Dodo serasa hancur dibuatnya.

__ADS_1


"Pulang bodoh!"


Dodo mendorong tubuh Hanun keluar ruangan.


Kemudian Dodo kembali ke kursinya sebelum polisi itu semakin curiga dengan keberadaan Hanun. Hanun yang diusir sang Abang terpaksa berjalan menjauh.


Oh ingin sekali Hanun menggantikan posisi Dodo saat ini.


Hanun ingin berdo'a supaya Dodo terbebas, tetapi do'a seperti apa?


Apakah itu do'a?


Pantaskah dia berdo'a?


Selama ini Hanun tinggal dilingkungan yang jauh dari agama, di lingkungannya yang ada hanyalah mencari uang, uang, dan uang. Tidak peduli cara mendapatkannya yang penting mereka dapat uang.


Ya, uang yang tidak berkah ternyata tidak dapat membuat kehidupan mereka berubah. Mereka selalu dalam kekurangan, selalu kelaparan.


Uang seakan hanya lewat di kehidupan mereka.


Lalu kali ini, Hanun ingin adanya do'a dan keajaiban. Dodo adalah seorang abang yang jauh dari kata sempurna namun Hanun sangat menyayanginya.


Hanun tidak ingin abangnya itu menderita.


Berpuluh-puluh tahun beraksi sebagai penjahat ternyata hari ini adalah hari sialnya. Sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga.


***


Hanun berjalan kaki tidak tentu arah, Hanun tidak berniat untuk pulang ke rumah. Hanun hanya ingin berjalan supaya beban pikirannya hilang.


Sejak awal hobi Hanun berjalan kaki sepertinya.


Hanun berjalan dengan pandangan kosong ditengah kedinginan udara yang kini memasuki waktu shubuh. Sayup terdengar suara mengaji dilanjutkan suara adzan yang saling bersahutan.


Ah ini kali pertama Hanun mendengar lantunan-lantunan itu dipagi buta. Hanun terbiasa tidur shubuh, Hanun tidak pernah mendengar suara-suara indah itu.


Hanun berdiri terpaku memandang ke arah sebuah mesjid. Tidak berniat untuk masuk ke sana, Hanun kembali berjalan pelan.


"Assalamualaikum, Hanun ya?"


Sebuah suara di belakangnya membuat Hanun berbalik. Nampak di sana seorang gadis cantik berbalut mukena, bibir merona walau tanpa pewarna, pipi memerah walau tanpa polesan.


Ini sih bidadari.


"Bener kan Hanun."


Gadis itu mendekati Hanun dengan riangnya.


"Ngapain di sini?"


Hanun begitu kaku menghadapi gadis itu.


Gadis yang bernama Inda itu tersenyum ramah, "Di sini kan lingkungan aku tinggal. Ternyata dunia sempit ya, kita ketemu lagi. Eh bentar lagi masuk waktu shubuh, yuk masuk!"


Hanun enggan menuruti Inda yang kini menggandengnya. "Aku kotor Nda, jangan dekat-dekat!"


Hanun berusaha menjauh namun Inda tetap menempel padanya.


"Kotor apanya si? Bersih ini. Aku tungguin kamu wudhu ya."


Inda mengantar Hanun sampai ke depan toilet untuk berwudhu.


Hanun bingung sekali bagaimana caranya menolak. Kemudian setelah di dalam kamar mandi, Hanun termenung.


Wudhu?

__ADS_1


Apa itu?


Hanun menghela napas kemudian keluar dari toilet. Nampak Inda masih menungguinya.


"Udah?"


Hanun terpaksa mengangguk dengan senyuman yang diipaksa. Inda nampak memperhatikan Hanun, dirasa ada yang aneh namun Inda memilih untuk mempercayai Hanun.


Yang terjadi selanjutnya adalah Inda mengajak Hanun masuk ke dalam mesjid.


Hanun melangkah dengan ragu, berat rasanya kaki yang dia pakai. Hatinya bertanya-tanya bagaimana bisa dia terjebak dalam situasi ini?


"Kamu pakai ini Nun!"


Inda mengambil mukena di rak penyimpanan.


"Ini punya siapa?"


Hanun ragu untuk mengenakannya, jujur saja dirinya merasa tidak pantas berada di tempat ini.


"Pakai saja, tidak apa-apa."


Hanun menurut dan mengikuti semua yang dilakukan Inda. Hanun bahkan berdiri di belakang Inda ketika sholat akan dimulai.


Inda sempat kebingungan karena shaf tidak penuh. Inda pun mengajak Hanun untuk berdiri di sampingnya. Hanun pun terpaksa menurut saja walau kebingungan.


Setiap gerakan Inda diikuti Hanun dengan asal. Setelah sholat usai dan semua jamaah keluar, Inda menatap Hanun dalam.


"Kenapa?"


Hanun merasa risih karena Inda menatapnya seperti itu.


"Sebelumnya aku minta maaf, aku boleh nanya sesuatu?"


Inda berkata penuh kehati-hatian.


Hanun mengangguk. Jantungnya berdentam hebat, entah mengapa bisa seperti itu.


"Sebenarnya kamu muslim atau bukan?"


Hanun kebingungan untuk menjawabnya, Hanun kemudian menggeleng.


Inda terlihat sangat terkejut dengan apa yang baru saja dia ketahui.


"Lalu kenapa kamu tidak menolak saat aku ajak sholat?"


"Jadi gerakan tadi namanya sholat?"


Inda mengangguk, oh sungguh dia gegabah.


"Maafkan aku Nun. Aku tidak bertanya dulu tadi. Seharusnya aku bertanya apa agamamu sebelum aku mengajakmu beribadah."


"Agama?"


"Nda, agama itu apa?"


Inda semakin tercengang dengan apa yang baru saja Hanun ucapkan.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2