
Malam itu, Ruli dan teman-temannya berada di pinggir jalan sambil sesekali menggoda pejalan kaki khususnya wanita di sana. Mereka bersenang-senang dengan cara seperti itu, ketika lapar melanda mereka merebut makanan yang dibawa pejalan kaki. Mereka terbiasa hidup seenaknya, untuk pertama kalinya Ruli menjadi sedikit pendiam dia tidak ikut mengerjai pejalan kaki. Ruli lebih memilih duduk di trotoar sambil merokok.
Tiba-tiba saja seorang teman Ruli berkata, "Hei liat! Liat! Itu kayak orang yang pernah nantangin kita."
Dia menunjuk ke arah minimarket di seberang jalan. Terlihat Farrel keluar dari sana sambil membawa kantong kresek di tangannya.
Ruli dan temannya yang lain mengalihkan pandangannya dan melihat Farrel di sana. Ruli membuang rokoknya dengan kasar kemudian berdiri mengambil helm.
"Kita ikuti dia!" ucapnya.
Tentu saja teman-temannya mengiyakan dan segera menaiki motor mereka. Ruli menunggu sampai Farrel benar-benar berlalu kemudian mengikutinya dari belakang.
Farrel mengendarai motor dengan santai sampai tiba di jalan yang sedikit sepi tiba-tiba dua motor menyalipnya lalu muncul motor lain di belakangnya sampai akhirnya Farrel berhenti.
Ketiga motor itu mengelilingi Farrel yang kebingungan, salah satu dari motor itu menyalakan gas motornya sehingga menimbulkan suara bising.
Farrel melepas helmnya kemudian bertanya, " mau apa kalian?"
Ruli dan teman-temannya berhenti kemudia mereka membuka helm masing-masing.
"Masih ingat kami?" tanya Ruli.
"Siapa kalian?" Farrel benar-benar tidak ingat dengan Ruli dan teman-temannya.
"Sialan!" Salah satu teman Ruli mencengkeram leher Farrel.
Farrel sedikit kesulitan bernafas sehingga dia melepas paksa tangan yang mencengkeramnya. "Kalian mau apa?"
"Kami mau menuntaskan sesuatu yang tertunda dengan kamu, sialan!" Seorang dari mereka berteriak sambil menunjuk wajah Farrel.
"Saya rasa, saya tidak pernah berurusan dengan kalian."
Kali ini Ruli maju dia mendekati badan Farrel yang memang memiliki tinggi sama dengannya, dia menatap wajah Farrel secara seksama kemudian meludah ke samping. Cara yang sama ketika mereka pertama kali bertemu, kali ini Farrel mengingat Ruli.
"Oh jadi kalian penunggu kompleks itu ya?"
Ruli tersenyum sini kemudian menepuk pipi Farrel dua kali. "Bagus kalau ingat, sekarang ksmi akan menuntaskan urusan kita yang belum selesai."
"Urusan apa? Adu otot? Maaf saya tidak mengurusi hal-hal tidak ada gunanya seperti itu." Farrel hendak berbalik sebelum kemudian bogem mentah mendarat tepat di rahangnya. Farrel memegangi rahang dan pipinya karena rasa ngilu yang menjalar. Dia mencoba meredam emosi yang tiba-tiba muncul begitu saja.
__ADS_1
Dari arah belakang teman Ruli menendang betis Farrel hingga Farrel menekuk lututnya sebelah. Saat Ruli hendak kembali memukulnya kali ini Farrel melawan. Dia menangkisnya dan berdiri meninju Ruli. Ketiga orang teman Ruli menyerbu, memukul membabi buta. Meski sedikit kewalahan Farrel masih bisa melawan dan mwmbuat teman-teman Ruli terkapar di aspal.
Kini Farrel berduel melawan Ruli mereka saling meninju dan menangkis sampai akhirnya Farrel mendapat kesempatan untuk memelintir tangan Ruli ke belakang.
"Sudah puas mainnya?" tanya Farrel dengan nafas memburu.
"Sialan!" Ruli masih berteriak ingin membalas meski tidak dapat bergerak.
"Lain kali hati-hati cari lawan."
Ruli tidak menjawab dia masih berusaha meronta.
"Sebenarnya apa masalah kalian heuh?"
"Lepasin sialan! Jangan pernah menggertak! Awas saja kalau masih berani mendekati Inda!" teriak Ruli.
Seketika Farrel tahu alasan mereka menghadangnya, "oh ternyata ... Kamu pengagum Inda ya?"
"Berisik!" Ruli merasa lidahnya tidak bisa dikontrol.
"Kalau mau dekati Inda bukan begini caranya, Inda tidak mungkin bersimpati pada seorang berandalan begini. Saya kasih saran kamu rubah hidup kamu! Nanti kamu akan lihat hasilnya."
*
Sesampainya di rumah Farrel menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Sungguh dia lelah karena sudah berkelahi, otot-ototnya terasa ngilu. Farrel memejamkan matanya sampai terdengar dering ponsel berbunyi. Farrel mengambil ponselnya dari saku jaket.
Nama Pak Subagyo tertera di sana seketika sakit di tubuh Farrel menghilang, Farrel tersenyum dan mengangkat teleponnya.
"Hallo assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, ada apa Pak?" tanya Farrel.
"Begini Nak, tiga hari yang lalu Fahira melahirkan."
"Alhamdulillah, laki-laki atau perempuan bayinya?"
"Laki-laki, emm saya mau menanyakan ...."
"Tentang janji saya, pasti saya tepati Pak. Nanti saya akan menghubungi Uwa saya untuk datang ke rumah Bapak."
__ADS_1
Farrel dan Pak Subagyo berbicara panjang lebar via telepon mereka membahas hari pernikahan dan rencana Farrel pulang seminggu lagi untuk menikahi Fahira.
Setelah menutup sambungan telepon kini Farrel kembali membuka ponsel untuk menghubungi Uwanya.
Setelah tersambung Farrel mengutarakan niatnya dan disabut baik oleh Uwa yang bersedia melamarkan Fahira besok untuknya.
Farrel lega akhirnya hutang janji akan segera terpenuhi dia berharap keputusannya untuk menikahi Fahira menjadi keputusan yang tidak salah.
Farrel melakukan ini semata karena Alloh dan karena melihat air mata seorang ayah yang belum pernah dia lihat. Farrel tidak pernah tahu kasih sayang seorang ayah begitu besar untuk anaknya. Beban yang dipikul untuk melindungi anaknya sampai mengerahkan sekuat tenaga. Farrel melihat itu dari Pak Subagyo dan dia bersedia mengambil beban itu untuk membantu memikulnya.
"Sofi, izinkan aku menikah lagi aku akan tetap menyayangimu."
Farrel bergumam ketika merasa saat ini Sofia sedang memperhatikannya. Sofia tersenyum sangat lembut dan mengangguk begitu nyata.
Farrel terkejut dan membuka matanya ternyata dia ketiduran di sofa setelah menelepon Uwa. Farrel mengusap wajahnya kemudian terbayang kembali wajah Sofia yang tersenyum padanya.
Baru kali ini Sofia datang dalam mimpinya, apakah benar Sofia datang?
Farrel mengusap sudut matanya kemudian membacakan surat Al-Fatihah khusus untuk Sofia.Farrel semakin yakin bahwa ini memang yang terbaik.
*
Setelah menerima telepon dari Farrel Uwa memanggil Ahmad untuk berbicara. Uwa meminta Ahmad untuk mengntarnya besok ke rumah Pak Subagyo.
"Subhanalloh, alhamdulillah Bu. Anak itu." Ahmad sangat terharu, dia tidak menyangka sepupunya itu sudah punya niatan baik dan akan menjalani harinya seperti orang-orang.
"Iya Mad, Ibu seneng banget. Kita bawa apa ya ke sana?" Uwa sangat bahagia hal kecil saja dia perhatikan.
"Bawa apa saja terserah Ibu." Ahmad tersenyum melihat ibunya yang bahagia.
"Eh tapi Bu, apa Farrel udah kirim alamatnya?"
"Udah nih, ternyata gak terlalu jauh." Uwa memperlihatkan pesan dari Farrel yang menunjukkan alamat Pak Subagyo.
"Udah ah Ibu mau tidur biar besok seger, bilangin sama Siti tolong besok buatkan ibu sarapan. Kayaknya Ibu gak bisa ke dapur besok pagi soalnya mau dandan." Uwa berlalu pergi ke kamarnya sambil berdendang meninggalkan Ahmad yang menggelengkan kepalanya sambil tersenyum melihat sikap ibunya.
.
.
__ADS_1
.