SETELAH KAU PERGI ~Story About Farrel~

SETELAH KAU PERGI ~Story About Farrel~
SULIT MELURUSKAN


__ADS_3

Fahira melihat sekeliling yang nampak sangat asing itu. Dia bertanya-tanya untuk apa dia datang kesini.


"Kenapa kalian datang lagi?" Terdengar suara Hanun dari arah rumah, ternyata Pak Subagyo dan Farrel sudah mengetuk pintu dan Hanun terkejut melihat kedatangan Farrel kembali.


Sementara Fahira yang tertinggal di belakang segera menyusul Farrel dan juga ayahnya.


"Papa akan menunjukkan bukti yang akan membuatmu yakin bahwa kamu memang benar anak Papa." Langkah Fahira terhenti, apa dia tidak salah mendengar.


Anak Papa?


"Lihatlah Jahira! Dia saudaramu." Pak Subagyo menoleh ke belakang dimana Fahira sedang mematung sekarang. Hanun bisa dengan jelas melihat Fahira begitu pun sebaliknya. Mereka berdua sama-sama terkejut, mereka seperti melihat pantulan di cermin yang membedakan hanya rambut mereka.


Hanun memiliki rambut yang hitam legam serta panjang, sementara Fahira memangkas rambutnya sampai sebatas bahu.


Cukup lama mereka saling tatap dengan keterkejutan, sampai Pak Subagyo merangkul Fahira agar mendekat.


"Ra, kamu masih ingat Jahira? Dia saudaramu yang hilang dua puluh tahun lalu. Kita menemukannya sekarang."


"Papa?" Fahira memanggil ayahnya dengan suara bergetar.


Fahira melihat wajah ayahnya yang terlihat sangat bahagia.


*


Dua puluh tahun yang lalu, Fahira dan Jahira kecil merasa bosan dengan pesta orang dewasa yang ada di dalam ruangan. Mereka memutuskan keluar dari gedung itu untuk bermain.


Kedua anak kecil itu tidak tahu ada yang mengintai mereka.


"Aku pinjam bonekanya Jahira." Fahira kecil berlari mengejar Jahira kecil, dia ingin meminjam boneka yang dibawa oleh saudaranya itu.


"Gak mau ... Kenapa boneka kamu gak dibawa?" Jahira kecil masih tidak memberikan boneka itu dia memegangnya sangat erat.


Jahira tiba-tiba merasa aneh karena Fahira tidak lagi mengejarnya. Kemudian Jahira membalikkan badannya dan mendapati saudaranya sedang bersama dengan pria asing.


Tangan sebelah kanan Fahira dicengkeram kuat, Fahira hanya menatapi wajah pria itu tanpa melawan. Jahira kecil tahu saudaranya dalam bahaya memutuskan untuk berlari ke arah Fahira.


"Wah satu lagi nyamperin," gumam pria asing itu.


Saat tangannya hendak meraih tangan Jahira, anak kecil itu dengan berani menggigit tangan pria itu sekuat tenaga. Hingga pria itu melepaskan tangannya yang sedang mencengkeram Fahira.

__ADS_1


"Aw ... Sialan!" Pria itu marah kemudian menatap Jahira dengan murka. Jahira yang merasakan adanya sinyal bahaya segera berlari kemudian berteriak kepada Fahira kecil, "Lari Ra! Pergi!"


Sementara Jahira masih terus berlari namun sayang kakinya tersandung dan Jahira terjatuh. Kepalanya membentur dinding tembok ruangan tempat ayahnya berada. Tadinya Jahira berniat untuk menemui ayahnya dan memberitahukan ada penjahat tetapi dia malah terjatuh.


Jahira jatuh tidak sadarkan diri, pria itu tersenyum dan mengambil kesempatan untuk membawa Jahira pergi.


Fahira yang melihatnya dari kejauhan berusaha mengejar, tangisannya pecah melihat saudaranya dibawa pergi menggunakan mobil oleh pria asing itu. Dia bersimpuh di pinggir jalan tanpa tahu harus berbuat apa.


*


Kini setelah dua puluh tahun berlalu, Fahira bisa melihat saudaranya kembali. Oh sungguh ini seperti mimpi.


Fahira perlahan mendekati Hanun yang masih terpaku menatapnya. Fahira menyentuh pipi Hanun dengan kedua tangannya. Dia sangat bahagia akhirnya bertemu kembali dengan saudaranya.


Hanun mencengkeram kedua tangan Fahira karena saat ini kepalanya kembali sakit. Hanun menghempaskan tubuh Fahira ke belakang. Sungguh Hanun tidak bisa menerima ini begitu saja.


Tubuh Fahira terhuyung ke belakang tetapi untungnya ada Farrel yang sigap menahannya dari belakang. Hanun menatap tangan Farrel yang saat ini merangkul Fahira dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya lelaki yang disukainya begitu mudahnya menyentuh seorang perempuan.


Hanun murka.


"Kalian semua pembohong! Pergi!"


Hanun mundur beberapa langkah kepalanya semakin berdenyut nyeri. "Kamu bohong! Kenapa kamu kembuangku di jalanan? Kenapa?"


Pak Subagyo terkejut mendengar perkataan Hanun. "Papa tidak membuangmu Nak, Papa kehilanganmu."


Namun perkataan Pak Subagyo tidak membuat Hanun luluh. Hanun marah semarah-marahnya, dia membanting apa yang ada didekatnya. Dia benci sangat benci keadaan ini.


Puncaknya, Hanun masuk ke dalam rumah dan menguncinya meninggalkan Pak Subagyo dan Fahira yang saat ini sedang menangis sambil berpelukan. Sementara Farrel melihat sekeliling dimana semua tetangga sedang menonton sekarang, mereka keluar rumah karena mendengar keributan.


Farrel berinisiatif untuk berkata, "Maaf atas keributan ini. Ini masalah keluarga."


Terdengar diantara orang-orang itu saling berbisik dan bergumam.


"Sebaiknya Papa dan Fahira pulang terlebih dahulu, saya akan coba untuk berbicara dengan Hanun."


Pak Subagyo mengiyakan, dia dan Fahira pulang terlebih dahulu setelah sebelumnya Farrek memesankan taxi secara online.


Kini Farrel masih terpaku sendirian di depan rumah Hanun, para tetangga sudah membubarkan diri. Farrel maju untuk mengetuk pintu rumah Hanun.

__ADS_1


"Nun, mari kita bicara."


Namun tidak ada jawaban dari dalam. Farrel masih belum menyerah dia mengetuk kembali pintu itu.


"Benarkah yang tadi itu keluarga Hanun?" Tiba-tiba saja ada suara seorang wanita di belakang Farrel. Farrel pun menoleh ternyata itu Inda.


"Benar, situasi ini sangat rumit." jawab Farrel.


"Maaf tadi aku mendengar semuanya, saat sampai di sini kalian sedang membicarakan itu."


Farrel yang sangat lelah akhirnya mendudukkan dirinya di tembok yang kebetulan terletak memanjang di depan rumah Hanun.


"Memang kami yang salah telah membuat keributan di sini."


Inda kemudian mengetuk pintu rumah Hanun. "Nun ... Ini aku? Tolong buka pintunya."


Tidak butuh waktu lama pintu pun terbuka, Hanun tidak bisa menolak kalau itu Inda. Dia mengalah untuk membuka pintunya.


Hanun keluar dengan rambut yang acak-acakkan dia memandang Farrel dengan tatapan tidak terbaca, saat ini hatinya sedang berkecamuk. Dia marah dengan keadaan ini, dia marah dengan Farrel. Karena apa?


Entahlah. Hanun tidak suka melihat sikap Farrel tadi memperlakukan Fahira.


Apa Hanun cemburu? Hanun membuang mukanya kemudian berhambur memeluk Inda. Sungguh saat ini dia butuh sandaran.


Inda membawa Hanun ke dalam rumah, Farrel pun mengikuti mereka. Hanun mau mendengarkan Inda untuk berbicara dengan kepala dingin. Sepertinya Inda memang pawangnya Hanun.


Mereka kini duduk di ruangan yang sedikit berantakkan karena kemarahan Hanun.


"Sebenarnya dimana kamu bertemu mereka?" Hanun bertanya kepada Farrel masih dengan nada marah. Oh seandainya saja Farrel ini pasangannya akan dia pukuli habis-habisan karena telah berani-beraninya menyentuh perempuan lain dihadapannya.


"Sepertinya ini takdir Tuhan, aku bertemu ayahmu secara kebetulan. Setelah itu terjadilah hubungan yang membuat kami saling terikat."


Hanun dan Inda tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Farrel.


"Apa pun maksud kamu, aku sangat membenci orang itu. Jika benar dia ayahku, kenapa dulu dia membuangku tetapi tidak membuang anaknya yang satu lagi."


Farrel menghela nafas, sepertinya akan sulit untuk meluruskan masalah ini.


.

__ADS_1


__ADS_2