SETELAH KAU PERGI ~Story About Farrel~

SETELAH KAU PERGI ~Story About Farrel~
PEMUJA BIDADARI


__ADS_3

Di kota Jogja, seorang pria menatap cermin di kamarnya yang pengap. Sudah seminggu dia bersembunyi di ruangan itu. Dia memegang telinganya yang ditusuk tindik panjang, kemudian perlahan melepasnya. Dia menggigit bibir bawahnya menahan nyeri pada telinga.


Dibukanya laci lemari guna mencari alkohol karena kini telinganya itu sedikit mengeluarkan darah.


Semua aksesoris dia lepaskan termasuk kalung yang membelit lehernya selama beberapa tahun ke belakang.


Laki-laki itu berjalan mengambil alat cukur untuk menghilangkan kumis dan janggutnya yang sudah mulai lebat.


Setelah selesai dengan kegiatannya pria itu bergegas membuka pintu yang berada di atas atap. Dia mengambil sebatang rokok yang sengaja dia simpan di atas sebuah pot di depan pintu kamarnya.


Dia menyulut rokoknya kemudian membuang kepulan asapnya ke udara. Dia berdiri dengan santai seolah sedang menunggu sesuatu.


Mentari yang sudah cukup terik tidak dia hiraukan, dia terus menatapi satu persatu atap milik para tetangganya. Entah sudah berapa kali dia mengepulkan asap ke udara. Saat hati sudah bosan dia membuang puntung rokok yang masih menyala itu ke bawah begitu saja.


Tanpa disangka seorang bidadari berkerudung biru muda kebetulan melintas. Puntung rokok itu tepat mengenai kerudung bagian depannya. Gadis itu berhenti karena terkejut kemudian melayangkan tatapan tajam pada pria di atas atap itu. Pria itu terpaku seulas senyum tipis dia berikan, namun sang bidadari membuang muka begitu saja.


Inda sang bidadari itu sangat kesal bukan kepalang, niat hati pulang ke rumah hanya untuk mengambil buku yang tertinggal kali ini dia juga terpaksa harus mengganti kerudungnya.


Saat memasuki kamar kost yang ditempatinya, Inda melebarkan kerudung miliknya. Inda melihat kerudung kesayangannya itu sudah bolong terkena rokok.


Inda membuang nafasnya dengan kasar, dia sedang berusaha menahan emosi yang kini membumbung. Inda kemudian duduk di pinggiran ranjang. Apa yang harus dia lakukan sekarang?


Beberapa hari yang lalu Inda merasakan patah hati untuk pertama kalinya ketika orang yang selama ini disukainya ternyata memiliki wanita lain.


"Harusnya aku jangan berharap lebih pada Farrel."


Inda kemudian bangkit dan bergegas mencari buku yang tertinggal kemudian dia mengganti kerudungnya.


Inda pun kembali keluar rumah karena hari ini dia ada kelas tambahan. Saat melewati gang yang lumayan sepi, Inda melihat Rulli berdiri sambil bersandar pada sebuah tembok salah satu rumah milik warga.

__ADS_1


Inda menghentikan sejenak langkahnya, tatapannya tertuju pada Rulli yang kini juga tengah menatapnya. Inda melihat berandalan itu sedikit berubah hari ini. Namun jika harus memilih Inda lebih nyaman jika tidak melihatnya.


Beberapa minggu kebelakang Inda sudah tidak mendapati para berandalan itu berkeliaran. Hari-harinya sangat tenang, dia pun dengan nyaman bertegur sapa dengan tetangga yang lain. Tetapi kali ini lingkungan itu menjadi sepi kembali.


Inda berjalan perlahan untuk melewati Rulli yang sedikit menghalangi jalan.


Rulli memperhatikan setiap gerak-gerik Inda, setelah Inda melewatinya Rulli pun berjalan mengikuti. Inda berhenti Rulli pun berhenti. Inda kembali berjalan kali ini dengan menambah kecepatan langkahnya. Sungguh saat ini Inda takut.


Kejadian malam itu berkelebatan kembali dalam benaknya. Tidak!


Rulli pernah melecehkannya, Inda tidak ingin itu terjadi lagi. Untuk itu Inda memutuskan untuk berlari.


Kemudian Rulli mempercepat jalannya, dia mengejar Inda. Inda semakin panik, dia mengumpulkan kekuatannya untuk berhenti berlari dan berbalik badan menantang Rulli.


"Apa maumu?" tanya Inda.


Rulli melambatkan langkah kakinya, dia berjalan perlahan mendekati Inda. Inda yang merasa terancam mundur beberapa langkah. Matanya memutar ke segala arah berharap ada yang sudi memberi pertolongan.


"Apa maumu?" Inda bertanya sekali lagi.


Tanpa diduga Rulli mengulurkan tangannya membuat Inda bertanya-tanya.


"Boleh kita berkenalan?"


Inda memandang sinis pria yang paling dibencinya itu. "Tidak! Terimakasih."


Inda kemudian berbalik badan dan berjalan cepat meninggalkan Rulli yang mematung dibawah terik matahari.


Rulli tersenyum miris menatap tangannya yang masih terulur tanpa sambutan. Rulli teringat kata-kata Farrel yang mengatakan bahwa Inda tidak akan menoleh ke arahnya kalau dia masih menjadi Rulli yang sekarang.

__ADS_1


Rulli menatap Inda yang sudah menjauh, sesungguhnya sejak pertama kali melihat Inda dirinya sudah tertarik. Apalagi setelah kejadian malam itu, dia melihat mata Inda yang bersinar terang dalam kegelapan. Ketika Inda memohon dan mengiba kepadanya, Rulli sudah merasakan getaran yang tak biasa.


Saat bibirnya mereguk rasa manis dari bibir yang berwarna merah muda itu, Rulli tidak ingin membaginya dengan orang lain. Untuk itu dia melepaskan Inda malam itu.


Setelah kejadian itu hari demi hari Rulli lalui dengan rasa penasarannya pada gadis itu. Rulli ingin selalu melihatnya walau dari kejauhan. Rulli menyadari posisinya hanya akan selalu menjadi seorang pengagum rahasia setelah melihat Farrel bersama Inda.


Rulli tidak ingin kalah, dia ingin dapatkan Inda dan akan mendekatinya. Tetapi nampaknya akan sulit.


Setelah apa yang dilakukannya, Rulli yakin bahwa dia akan sulit mendekati Inda. Rulli menyesal karena bergaul dengan orang-orang yang salah.


Rulli menyesal dulu selalu membantah orang tuanya yang kini tiada. Dulu Rulli memilih untuk bermain daripada belajar. Rulli senang berkumpul dengan orang-orang yang dianggapnya memiliki hobi yang sama.


Tetapi matanya mulai terbuka ketika malam itu terjadi. Malam dimana teman-temannya mengajak dirinya untuk berkonvoi. Rulli menolak ajakan itu karena belum melihat Inda pulang ke rumahnya. Rulli selalu memastikan Inda pulang ke rumah kostnya setiap hari. Dan hari itu Inda pulang terlambat.


Rulli merasa Inda sebagai penolongnya, andai saja Rulli berangkat malam itu mungkin dirinya kini tidak berada di rumah.


Malam itu teman-temannya dirazia oleh kepolisian dan mereka semua terbukti mengkonsumsi obat-obatan terlarang. Andai saja Rulli ikut, dia yakin akan bernasib sama seperti teman-temannya.


Beberapa minggu ini Rulli mengurung diri di kamar, semakin hari semakin terasa bahwa hidupnya terasa kosong. Hanya setiap melihat Inda lah dia merasa tenang.


Hal itu semakin membuatnya yakin dan ingin terus mengejar Inda bagaimana pun caranya. Rulli akan merubah dirinya sedikit demi sedikit agar dapat membuat Inda menoleh ke arahnya walau sedikit.


Rulli memutuskan untuk kembali ke rumahnya mempersiapkan diri untuk mencari pekerjaan.


Ya, dia akan mencari pekerjaan sebagai permulaan. Selama ini dia memenuhi kebutuhan hidupnya dari merampas hak orang lain.


Itu sangat membuat Rulli lelah, dia ingin hidup seperti orang-orang yang normal.


Rulli berharap masih ada tempat untuk pemalas sepertinya mendapat pekerjaan. Rulli berjalan sambil bersiul dan menebarkan senyuman membuat setiap orang yang berpapasan dengannya merasa aneh sekaligus heran.

__ADS_1


.


.


__ADS_2