SETELAH KAU PERGI ~Story About Farrel~

SETELAH KAU PERGI ~Story About Farrel~
LEWAT VIDEO CALL


__ADS_3

Farrel mengisi daya ponselnya di mobil dan sialnya mobil itu masih berada di tempat yang sama. "Pak, kenapa bisa macet begini?" Farrel memutuskan bertanya kepada tukang parkir yang kebetulan berada di dekatnya.


"Di pertigaan ada perbaikan jalan."


Farrel memegang stir kemudi, jari telunjuknya bergerak-gerak menepuk benda bulat itu. Ah Farrel menyesal melewati jalan ini seandainya tadi dia mengambil jalan alternatif mungkin dia sudah sampai saat ini.


Ditengah keputus asaannya Farrel mencoba menghidupkan ponselnya. Ponsel pun menyala, tertera pukul sembilan dilayar. Farrel mendapat banyak pesan dan panggilan tanpa berfikir panjang kemudian dia menghubungi Uwanya.


"Assalamualaikum Farrel? Dimana kamu Nak?"


"Aku masih di jalan, udah nyampe alun-alun tapi macet banget."


"Biar Ahmad jemput ya? Uwa juga belum berangkat ke rumah Fahira karena cemas nungguin kamu."


"Sebaiknya Ahmad jangan jemput karena percuma gak ada jalan juga. Katanya ada perbaikan jalan, Uwa pergi duluan saja ke rumah Pak Subagyo nanti pasti aku nyusul."


Hening sebentar sepertinya Uwa sedang berfikir kemudian Uwa pun menuruti perkataan Farrel dia beserta Ahmad, Siti dan juga Reasad pergi terlebih dahulu ke rumah Pak Subagyo.


Satu jam kemudian, Uwa telah tiba di kediaman Pak Subagyo. Pak Subagyo yang sedari tadi berada dekat pagar seketika lega, namun ketika tidak mendapati Farrel di sana dia pun bertanya-tanya.


"Loh Farrelnya mana?"


"Masih di jalan Pak, katanya terjebak macet." Uwa melihat guratan kepanikan di wajah Pak Subagyo.


Pak Subagyo mempersilahkan Uwa beserta rombongan masuk terlebih dahulu sementara dirinya masih setia berdiri di ambang pintu pagar. Sungguh hatinya tak tenang, apalagi ketika penghulu sudah tiba di sana.


Mereka berbincang di luar, Pak Subagyo mencoba mengulur waktu karena mempelai pria belum datang.


Sungguh Pak Subagyo dilema, harapannya begitu besar kepada Farrel.


Beberapa saat kemudian Pak Subagyo mempersilahkan penghulu beserta staf kantor urusan agama untuk masuk. Dia pun terpaksa ikut masuk.


Di ruang tamu yang disulsp menjadi tempat ijab kabul sudah penuh dengan kerabat-kerabat Pak Subagyo. Mereka bertanya-tanya dimanakah mempelai pria?


Tidak sedikit dari mereka yang mencibir dan menyepelekan.


"Kita taruhan gak akan ada pernikahan hari ini." Salah seorang yang ada di sana berbisik pada temannya. Mereka pun bertaruh dan berbahagia dikeadaan genting seperti ini.


Pak Subagyo yang tidak bisa diam akhirnya menghampiri penghulu karena penghulu itu melambaikan tangan kepadanya.

__ADS_1


"Saya masih ada jadwal ke tempat lain, sebaiknya hubungi mempelai pria."


Pak Subagyo makin ketar-ketir dibuatnya, akhirnya menyuruh pelayan untuk mengambil ponselnya.


Setelah itu Pak Subagyo mencoba menghubungi Farrel lewat video call. Sambungan telepon pun tersambung dan dengan cepat menampilkan Farrel yang masih berada di dalam mobil.


"Nak, penghulunya sudah datang. Apa kamu bisa lebih cepat?" Pak Subagyo memelas itu terdengar dari setiap kata yang dikeluarkannya.


"Maafkan saya Pak, saya tidak tahu kapan mobil ini bisa melaju kembali. Hm ... Coba tanya Pak Penghulu, apa bisa saya melakukan ijab kabul dari sini?"


Pak Subagyo pun bergegas menghampiri penghulu dan menanyakannya ternyata ijab kabul melalui video call sah asal ada syarat nikahnya.


Pak Subagyo merasa sangat lega akhirnya dia meletakkan ponselnya di atas meja. Dimulailah ritual ijab kabul itu.


Sementara itu, Fahira di dalam kamar sedang asik memainkan ponselnya dia yakin tidak akan ada pernikahan hari ini. Apalagi saat dia mendengar kabar bahwa Farrel belum juga datang. Fahira memainkan ponselnya sembari tiduran, dia sama sekali tidak berdandan atau memakai baju pengantin. Dia berguling-guling sambil sesekali tertawa kecil melihat video dalam ponselnya.


Namun tiba-tiba Fahira mendengar suara mikrophone berbunyi. Dia lantas mendudukkan dirinya di atas kasur, dia keheranan mengapa terdengar seperti ijab kabul di bawah sana.


Saya terima nikah dan kawinnya Rihana Fahira binti Subagyo ....


Ketika suara Farrel lantang mengucap namanya dalam ijab kabul, Fahira menjatuhkan ponselnya begitu saja.


Dan kata sah yang terdengar akhirnya membuat Fahira terpaku.


Apa?


Sah?


Kini Fahira sudah menikah? Oh Fahira tidak tahu apa yang akan dilakukannya, dia tidak pernah berfikir bahwa pernikahan ini akan benar-benar terjadi.


Tiba-tiba pintu kamar terbuka menampilkan wajah Pak Subagyo dengan seulas senyum haru. Air matanya menganak sungai tidak terbendung, dia menghampiri Fahira dan memeluknya.


"Selamat Nak, selamat berbahagia." Pak Subagyo berkata diiringi air mata yang terus keluar.


"Segeralah ganti pakaian, kita harus menjamu tamu. Papa akan menyuruh pelayan untuk membantumu."


Pak Subagyo pun pergi meninggalkan Fahira yang masih terpaku dia tidak percaya dengan kenyataan ini.


Sampai ketika dua orang pelayan perempuan datang ke kamar itu. Fahira bingung harus memakai pakaian apa. Sementara kemarin dia terus menolak ketika Pak Subagyo mengajaknya untuk membeli kebaya. Fahira tidak memiliki baju yang cukup sopan untuk acara seperti ini.

__ADS_1


Namun tiba-tiba pandangannya mengarah pada paper bag yang diberikan Uwa seminggu yang lalu. Fahira pun turun dari kasurnya dan mengambil paper bag yang ada di atas meja riasnya.


Saat dia membukanya, ada gamis berwarna lavender di sana lengkap dengan pashmina warna senada namun dengan tambahan corak bunga di area pinggirnya.


Fahira pun memutuskan untuk memakai gamis itu dan ternyata ukurannya pas dibadan Fahira hanya saja sedikit kepanjangan. Fahira meminta bantuan pelayannya untuk memakaikan pashmina kepadanya.


Fahira melihat pantulan di cermin yang memperlihatkan dirinya. Fahira melihat seseorang yang berbeda dalam cermin itu.


"Nona cantik sekali," ucap pelayan yang meriasnya.


"Auranya bercahaya," timpal pelayan yang satu lagi.


Fahira hanya diam yang dia fikirkan saat ini ialah melihat siapa yang telah menjadi suaminya. Orang yang dengan berani-beraninya menikahi dia bahkan tanpa persetujuan darinya.


Setelah selesai, Fahira turun ke lantai bawah. Langkahnya pelan, melihat satu persatu orang yang ada di sana.


Dimana suaminya?


Fahira kebingungan saat tidak mendapati orang yang mengucapkan ijab kabul tadi. Apalah Fahira sedang berhayal? Dan apakah suaminya tidak benar-benar ada?


Uwa menghampiri Fahira yang masih mematung di dekat tangga. Uwa sangat bahagia saat ini apalagi melihat Fahira yang mengenakan gamis pemberiannya untuk hari pernikahan ini.


Uwa sangat terharu akhirnya Farrel memiliki pendamping dalam hidupnya.


"Selamat ya Nak, kamu terlihat sangat cantik."


Fahira hanya mengangguk dengan seulas senyum yang dipaksakan. Benaknya masih menerka-nerka apakah ini mimpi atau kenyataan.


Jika ini kenyataam kenapa laki-laki itu tidak ada?


Pak Subagyo mengerti dengan kebingungan Fahira dia menghampirinya dan berkata, "suamimu masih diperjalanan, tadi ijab kabulnya lewat telepon."


Oh.


Jadi seperti itu, ah pernikahan ini sangat jauh sekali dengan harapannya. Dulu dia nerangan-angan menikah dengan Amar mantan kekasihnya di sebuah gedung dengan acara yang mewah. Tapi ini apa?


Pernikahan sederhana dengan orang tidak dikenal, melalui telepon lagi. Ah sungguh hal yang tidak terprediksi sebelumnya oleh Fahira dan dia terpaksa harus menerimanya.


.

__ADS_1


..


__ADS_2