SETELAH KAU PERGI ~Story About Farrel~

SETELAH KAU PERGI ~Story About Farrel~
MENCARI ALAMAT


__ADS_3

Terhitung sudah seminggu Hanun tidak bertemu dengan Inda, ada rasa penasaran dan juga khawatir melingkupi dadanya. Saat di toko buku pun, Hanun tidak henti melihat siapa yang membuka pintu toko.


Orang yang diharapnya tidak pernah datang.


Inda kemana ya?


Sembari membereskan buku-buku di raknya pikiran Hanun selalu berkelana pada Inda. Apa Hanun terlalu berharap Inda benar-benar mau berteman dengannya?


Buktinya, sudah seminggu Inda tidak menemuinya. Oh apakah Inda menghindar?


Pikiran-pikiran buruk mulai berseliweran tidak jelas dalam benak Hanun.


***


Sepulang dari bengkel, Hanun nampak lesu wajahnya sedikit pucat. Sungguh Hanun tidak peduli dengan kondisi badannya yang terasa tidak enak. Hanun berjalan menyusuri trotoar berharap segera sampai di gubuknya dan terlelap melewati malam.


Saat sepertinya energi telah habis, Hanun putuskan untuk sejenak duduk di sebuah bangku di pinggir jalan. Hanun mengelap keringat yang bercucuran di dahinya.


Tiba-tiba sebuah motor melintas di depannya dan kemudian berbalik arah berhenti tepat di depan Hanun. Hanun tahu siapa orang itu, ya dialah Farrel.


"Ada apa?"


Suara di balik helm itu membuat Hanun terpaksa harus menatapnya. Sejenak tarapan itu terkunci lalu kemudian Hanun berpaling ke sisi lain.


"Tidak ada apa-apa."


"Lantas? Ngapain duduk di bawah pohon gede mana gelap lagi?" Farrel mulai menyelidik.


"Itu bukan urusan Anda, lagipula ini sudah larut sebaiknya Anda pulang kasihan istri menunggu di rumah."


Hanun menarik kesimpulan tentang status Farrel. Jika dipikir dan dilihat dari perawakan Farrel, Hanun yakin Farrel sudah menikah. Ah kenapa baru kepikiran sekarang?


Lalu kenapa kemarin Hanun tidak berpikir ke arah sana karena melihat pesona seorang Farrel. Mungkin inilah pemikiran para pelakor di luaran sana, mereka terbutakan pesona.


Uh baru kali ini Hanun tidak menyesali keputusannya untuk insaf dan menjauhi Farrel.


***


Setelah hening beberapa saat, Farrel berdehem ringan.


"Istri saya sudah tidur. Jadi, mari saya antar pulang!"


Tuh kan tebakan Hanun tepat.


Ish orang ini, sudah punya istri masih mau nganterin cewek lain pulang.


"Tidak terima kasih." Hanun dengan cepat berdiri, namun seakan kehilangan keseimbangan Hanun terhuyung hampir jatuh.


Tangan Farrel spontan menggapainya dan memegang lengan Hanun. Segera Hanun menepisnya, tidak ingin adegan ini dicatat sebagai sebuah kenangan.


"Maaf."


Farrel melepas tangan itu dan mengangkat kedua tangannya ke udara.


"Permisi saya duluan."


Hanun melangkah walau langkahnya serasa melayang.


Entah mengapa terbersit rasa kasihan di hati Farrel sehingga tanpa menunggu persetujuan Hanun, Farrel menarik tangan Hanun untuk menghadapnya. Farrel menuntun dengan tegas Hanun agar duduk di motornya.


"Naiklah! Biar saya antar."

__ADS_1


Mencoba melawanpun Hanun sudah kehilangan tenaga, ah sudahlah Hanun pasrah dan memilih menerima kebaikan Farrel.


Kini, di atas motor ini. Hanun duduk canggung sambil menatap punggung yang berbalut jaket hitam itu. Hanun menyisakkan jarak yang lumayan jauh antara dirinya dan Farrel.


Jika diingat lagi, entah takdir apa yang membawa pertemuan antara Farrel dan Hanun. Kesan pertama yang tidak ada manis-manisnya.


Kemudian dilanjutkan dengan pertemuan kedua yang tidak ada baik-baiknya. Lalu sekarang?


Hanun tidak menyangka dirinya bisa berdekatan begini dengan Farrel. Ah andai bukan suami orang eh.


Hanun mencoba membuang pikiran itu jauh-jauh..


***


"Ngomong-ngomong teman kamu ga ikut lagi ke bengkel?"


Farrel bertanya untuk mengalihkan kecanggungan.


Sebelum menjawab, Hanun menatap kembali punggung lebar itu.


"Saya tidak bertemu sudah seminggu."


Jangan bilang Anda kangen. Duh dasar genit, udah punya istri masih mikirin cewek lain.


Farrel tidak berbicara lagi, dia hanya fokus mengendarai motornya sesuai petunjuk Hanun. Tiba di pinggir sebuah rumah mewah, Hanun meminta Farrel untuk berhenti.


Farrel pun menghentikan motornya dan menelisik lebih jauh ke arah rumah mewah itu.


"Kamu tinggal di sini?"


Hanya anggukan kepala yang diberikan oleh Hanun. "Terimakasih sudah mengantar saya."


Hanun hendak berjalan, namun langkahnya terhenti. "Kenapa lewat samping? Gerbangnya kan di sini."


Hanun melorotkan dagunya merasa takjub dengan perkataan Farrel.


Mata Hanun mengikuti arah pandang Farrel yang sedari tadi menyorot ke arah rumah mewah itu.


"Bukan ini rumah saya, tapi di belakang rumah ini."


Ok, Hanun harus meluruskan kesalahpahaman ini.


"Ha? Terus kenapa berhenti di sini?"


Hanun mulai merasa jengah dengan sikap Farrel. "Karena lewat jalan sini gak bisa lewat motor, cuma bisa dilewatin dengan jalan kaki. Ya sudah ini sudah malam, terimakasih sudah mengantar saya."


Hanun berjalan membelah kegelapan, melewati jembatan reyot dengan kegelapan. Ah akhirnya dia tiba di gubuk miliknya.


"Ini rumahnya?"


Hanun tersentak mendengar suara di belakangnya, dengan cepat Hanun berbalik badan.


Farrel?


Mata Hanun terbelalak melihat sosok Farrel di belakangnya.


"Sedang apa Anda di sini?"


Mata Hanun menatap sekeliling. Hening.


"Saya hanya memastikan kamu sampai dengan selamat. Kalau begitu saya permisi. Assalamualaikum."

__ADS_1


Farrel berlalu meninggalkan Hanun yang masih terpaku di depan rumahnya.


Hanun merasa takjub dengan keajaiban yang ada pada diri bos sementaranya itu.


Orang seperti apa dia?


Baru saja Hanun hendak membuka pintu tiba-tiba suara Farrel kembali terdengar. "Satu lagi, besok saya izinkan kamu tidak ke bengkel. Istirahatlah."


Akhirnya Farrel benar-benar pergi ditelan kegelapan, Hanun masih berjaga siapa tahu Farrel kembali.


Ah tapi sudah agak lama dan hanya terdengar suara kucing liar mengeong, akhirnya Hanun tersadar dan masuk ke dalam rumahnya.


***


Keesokan harinya Hanun berencana mencari alamat Inda. Biar bagaimanapun Hanun ingin tahu apa alasan Inda tidak muncul selama lebih dari seminggu ini.


Untuk itu sepulang dari toko buku yang biasanya dipakai untuk pergi ke bengkel, kini dia manfaatkan untuk mencari tahu dimana Inda tinggal.


Ternyata ada untungnya juga Farrel memberinya izin.


Kenapa bisa pas begini?


Menyusuri jalanan, Hanun tiba di depan sebuah mesjid tempat dimana dia pernah bertemu dengan Inda waktu subuh itu.


Hanun mencari siapa saja yang bisa ditanyai tentang keberadaan Inda.


Kemudian mata Hanun melihat seorang ibu dan anaknya yang terlihat baru pulang sekolah paud.


"Permisi, boleh saya bertanya?"


Baru satu kalimat terlontar dari mulut Hanun, sang ibu mendelik tajam sembari menelisik menatap Hanun dari atas sampai bawah.


Tanpa menjawab pertanyaan Hanun, ibu itu segera menggendong anaknya dan mempercepat jalannya.


Hanun hanya bisa menghela napas lelah.


Apa ada yang salah dengan penampilannya?


Hanun pun melihat jaket abu yang dikenakannya, ah memang lusuh tapi tidak kotor.


Lebih baik Hanun segera menemukan alamat Inda.


Hanun kemudian menghampiri seorang pedagang soto di seberang jalan.


"Pak, maaf boleh saya bertanya?"


Sang penjual lagi-lagi memperhatikan penampilan Hanun.


"Apa?"


"Apa Bapak tahu alamat Inda?"


"Di sini banyak yang namanya Inda, ada tukang nasi uduk tapi udah pulang, oh ada juga guru Sd tapi sudah meninggal."


Ish ... ini akan jadi pencarian yang panjang.


.


.


..

__ADS_1


.


.


__ADS_2