SETELAH KAU PERGI ~Story About Farrel~

SETELAH KAU PERGI ~Story About Farrel~
TIBA-TIBA MELAMAR


__ADS_3

Farrel berdiri dan berpindah kebelakang Pak Subagyo, dia mengusap-usap punggung Pak Subagyo untuk menenangkannya.


Setelah cukup tenang, Farrel kembali ke tempatnya.


"Bapak yang sabar ya, semua pasti ada hikmahnya." Farrel mencoba menguatkan.


"Iya Nak, saya tahu. Saya juga merasa pertemuan kita bukan suatu kebetulan."


Farrel mengernyitkan keningnya mendengar perkataan Pak Subagyo.


"Semenjak pertemuan pertama kita, saya sudah tahu kamu orang baik. Kamu berhasil membuat saya terhibur Nak, terimakasih. Jujur saja, saya sangat kecewa pada diri saya karena tidak bisa menjaga anak saya. Tetapi bertemu dengan kamu membuat beban saya sedikit ringan. Walaupun kita baru tiga kali bertemu tetapi saya yakin Alloh Sang Pencipta mentakdirkan kita berjodoh."


Hah? Farrel tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya, dia buru-buru mengambil air putih dalam gelas dan meminumnya mungkin dia butuh minum.


Farrel memang sudah lama menduda, hei tunggu dulu Farrel merasa masih normal.


Pak Subagyo tertawa melihat tingkah Farrel, "kamu sedang berfikir apa tentang saya Nak? Kita berjodoh maksudnya kamu dikirimkan untuk jadi penghibur bagi saya. Sebelum ini boro-boro bisa ketawa tersenyum pun sulit."


Farrel ber'oh ria dalam hatinya, lucu sekali dia berfikiran pendek seperti tadi. Tetapi waspada dan jaga-jaga itu perlu zaman sekarang.


"Kalau boleh tahu siapa nama putri Bapak?" tanya Farrel.


"Namanya Rihana Fahira, umurnya dua puluh lima tahun. Awalnya kehidupan kami baik-baik saja, Fahira anak yang baik sebelum mengenal laki-laki itu." Pak Subagyo menerawang kenangan indah bersama putrinya.


"Sekarang masa depannya hancur, dia akan memiliki anak tetapi tidak bersuami. Kelak saya tidak yakin akan ada orang yang mau menikahi dia." Pak Subagyo kembali mengeluarkan air matanya.


Melihat Pak Subagyo yang sangat terpuruk membuat hati Farrel tergelitik entah dorongan dari mana bibir Farrel tiba-tiba berucap, "bagaimana kalau saya melamar anak Bapak?"


Bagai sambaran petir disiang bolong Pak Subagyo menatap Farrel tidak percaya. Bagaimana mungkin ada seorang laki-laki yang mau menikahi wanita hamil anak orang lain bahkan laki-laki itu tidak pernah melihat wanita itu?


"Apa saya tidak salah dengar? Bagaimana mungkin?" tanya Pak Subagyo.


"Saya seorang duda, istri saya meninggal dua tahun yang lalu. Jika Bapak tidak keberatan, saya akan datang melamar anak Bapak secara resmi setelah anak Bapak melahirkan." Farrel berkata dengan sungguh-sungguh.


Farrel tersentuh hatinya betapa melihat seorang ayah yang mengkhawatirkan masa depan anaknya sebesar Pak Subagyo.


"Apa kamu tidak sedang mempermainkan saya?" tanya Pak Subagyo lagi.

__ADS_1


"Saya tidak pernah seserius ini sebelumnya," ucap Farrel mantap.


Pak Subagyo menatap Farrel dengan keraguan, "kalau saya minta Nak Farrel untuk menikahi anak saya sekarang bagaimana?"


Rupanya Pak Subagyo masih merasa tidak yakin sebab Farrel bisa saja hanya menghiburnya.


Farrel menghela napas, "bukannya saya tidak mau hanya saja saya pernah mendengar kajian tentang ini sebelumnya ada hadist isinya janganlah kamu setubuhi wanita hamil karena zina sebelum kelahiran. Kalau tidak salah hadist itu riwayat Abu Daud dishahihkan oleh Al Hakim."


Pak Subagyo menatap Farrel dengan takjub, bahkan dia saja tidak tahu ada hadist seperti itu.


"Ternyata wawasanmu sangat luas tentang agama apa Nak Farrel pernah menjadi santri?"


Farrel menggaruk tengkuknya sambil tersenyum, "saya anak nakal Pak dulu saya tidak mau mondok saya selalu ingin main. Saya tahu itu semua karena rutin mengikuti kajian, ada yang berjasa membawa saya jadi seperti ini dia adalah mendiang istri saya. Maaf kalau saya sudah sok tahu, karena 'kan kalau kita punya ilmu walau secuil kita wajib menyampaikannya."


Farrel tersenyum simpul hal berat yang selalu dirasakannya kala mengenal Sofia selalu membuatnya sakit.


Kini Pak Subagyo yakin jika Farrel tidak bermain-main. Mereka akhirnya bertukar nomor ponsel untuk memudahkan komunikasi.


"Kapan-kapan mainlah ke rumah, kamu harus tahu wajah Fahira bukan? mana mungkin membeli barang tanpa melihatnya." Pak Subagyo berkata kembali setelah beberapa detik keheningan.


"Fahira melahirkan kira-kira tiga bulan lagi, kamu pasti akan datang 'kan?" tanya Pak Subagyo kembali ragu.


Farrel menjabat tangan Pak Subagyo dan berkata, "inshaalloh ... inshaalloh, semoga kami memang berjodoh."


Pak Subagyo menatap haru dengan kesungguhan Farrel, memang benar Farrel dikirim Tuhan untuk menyelamatkannya dari keterpurukkan.


Beberapa saat kemudian asisten pribadi Pak Subagyo datang. Akhirnya Pak Subagyo berpamitan, dia tidak sabar untuk memberi tahu Fahira tentang kabar baik ini.


*


Pak Subagyo tiba di rumah mewahnya, tujuannya satu yakni kamar Fahira. Pintu kamar tidak dikunci, Pak Subagyo melihat beberapa barang berserakan di sana tetapi dia tidak melihat anaknya.


Pak Subagyo segera bertanya kepada pelayan tentang keberadaan Fahira.


Pak Subagyo berjalan cepat ke belakang rumahnya dimana ada kolam renang di sana. Menurut pelayan Fahira sedang berenang di sana.


Memang benar, setibanya di sana Pak Subagyo melihat anaknya sedang berada di tengah kolam. Dia menyelam, eh tunggu?

__ADS_1


Seketika Pak Subagyo panik dan berlari sambil berteriak memanggil siapa saja yang ada di rumahnya. Pelayan beserta mulai berdatangan salah satu dari mereka turun ke kolam dan membawa tubuh lemah Fahira naik ke permukaan.


Mereka segera melakukan pertolongan pertama. Syukurlah Pak Subagyo datang tepat waktu, Fahira belum sepenuhnya tidak sadarkan diri. Setelah membuka matanya, Fahira membuang wajah ke samping.


Pak Subagyo sangat lega Fahira tidak apa-apa, dia sangat takut dengan apa yang dilakukan Fahira barusan.


"Bawa Fahira ke kamar dan bantu dia berganti pakaian!" Pak Subagyo meminta tolong kepada pelayannya.


"Fahira, tunggu Papa di kamar! Ada yang ingin Papa bicarakan!"


Pak Subagyo berlalu lebih dulu meninggalkan keadaan kacau Fahira beserta para pelayannya.


*


Beberapa saat kemudian Fahira telah selesai berganti pakaian dia merasa jauh lebih baik walau sesekali menatap perut buncitnya dengan tatapan jijik.


Pak Subagyo mengetuk pintu kemudian masuk tanpa disuruh. Dia melihat Fahira yang sedang berdiri menghadap jendela kamar.


"Nak tolong jangan lakukan lagi! Jangan kamu berniat meninggalkan Papa!" ujar Pak Subagyo.


"Kenapa jangan?! Sudah tidak berarti lagi aku hidup Pa, aku hanya akan menjadi beban Papa aku sudah mempermalukan Papa." Fahira kini menangis.


"Awalnya Papa juga sama sepertimu Nak, rasanya ingin pergi saja dari dunia ini. Papa juga sama sakit sepertimu."


Pak Subagyo berjalan mendekati anaknya.


"Itu sebelum Papa bertemu dengan seseorang."


Fahira berbalik badan dan menatap ayahnya.


Pak Subagyo meraih tangan anaknya, "sepertinya Tuhan sayang sama kita, Tuhan mengirimkan seseorang untuk membantu kita."


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2