SETELAH KAU PERGI ~Story About Farrel~

SETELAH KAU PERGI ~Story About Farrel~
MAKAN SIANG


__ADS_3

Pagi ini kota Jogja diguyur hujan, Farrel menatap langit yang gelap sepertinya hujan ini tidak akan cepat untuk reda. Helaan nafas panjang terdengar jelas ketika dia terpaksa harus menunggu sebentar lagi untuk berangkat ke bengkel.


Farrel masuk kembali ke dalam rumahnya dan membuka benda pintar yang berbentuk pipih di tangannya. Dia mengusap layar nampak berpikir sejenak kemudian dia menyimpan kembali benda itu. Farrel memutuskan untuk menyeduh kopi sembari menunggu hujan reda.


Farrel membawa cangkir berisi kopi hitam yang telah diseduhnya ke ruang tengah. Ah Sofa ini adalah tempat favorit Farrel ketika berada di rumah.


Farrel menyeruput sedikit kopi miliknya, kemudian mengambil kembali ponsel yang disimpannya. Dia mengusap layar dan membuka kontak, matanya tertuju pada nama Fahira. Setelah kekesalannya kemarin Farrel terus kepikiran, haruskah dia meminta maaf?


Farrel gusar sekali, kembali dia memyimpan benda pipih itu di meja. Farrel akan membiarkan semua ini mengambang dahulu. Jujur, Farrel lelah.


*


Di tempat lain, Rulli sedang memanaskan motornya untuk pergi bekerja. Walaupun hujan dari tadi turun, tidak menyurutkan niatnya untuk berangkat bekerja. Dia bertekad untuk merubah hidupnya. Setidaknya saat ini ada tujuan hidup yang ingin dia perjuangkan.


Suara berisik khas pagar besi tua terdengar di seberang tempat Rulli berdiri. Ternyata di sana Inda hendak pergi memulai harinya. Dia menutup kembali pagar dan memakai payung hitamnya, sekilas dia menatap ke arah Rulli dengan takut-takut.


Rulli menyadari ketakutan itu, Rulli memutuskan untuk berpura-pura tidak peduli dia fokus menyalakan motornya.


Inda berjalan cepat menggunakan payung, sepatu pentopel miliknya beradu dengan jalanan yang basah membuat sedikit cipratan pada gamis panjangnya.


Saat Inda melewati Rulli, tiba-tiba degup jantungnya terpacu lebih cepat. Inda takut Rulli tiba-tiba menjegalnya, namun ketakutan itu berubah menjadi sebuah rasa heran.


Rulli tidak melirik ke arahnya atau pun tersenyum seperti biasanya. Laki-laki itu sibuk mengecek bagasi motor.


Apa Rulli sudah menyerah? Begitu pikir Inda, Inda mengedikkan bahu tanpa sadar dan melesat mencari angkutan umum yang mungkin dia temui untuk segera mengantarnya ke kampus.


Dugaan Inda tentang Rulli ternyata salah, sebenarnya Rulli masih mencuri-curi pandang guna melihatnya. Rulli mengulas senyum tipis melihat Inda berlari kecil menuju jalan raya.


Rulli pun memutuskan untuk segera ke bengkel, ini adalah hari kedua dia bekerja setelah kemarin mendapat les kilat dari Suryo. Rulli menjalankan motornya dengan kecepatan tinggi agar dia segera sampai ke bengkel tepat waktu.


Benar saja, jarak tempuh yang seharusnya memakan waktu empat puluh menit mampu Rulli tempuh hanya dengan sepuluh menit. Setelah sampai di bengkel, Rulli menyapa Kartino yang nampak sedang membuka bengkel.


"Hei hei bantu sini angkat!" Kartino meminta bantuan Rulli untuk mengangkat satu ban besar untuk di simpan di luar bengkel.


"Bagus, terimakasih." Kartino merasa terbantu dengan kedatangan Rulli dia jadi tidak sendirian membuka bengkel.

__ADS_1


Waktu merangkak maju tidak terasa sudah siang, hujan sudah berhenti walaupun langit masih berwarna gelap. Farrel baru saja tiba di bengkelnya.


Suryo menghampiri Farrel dan menyambutnya, setelah berbasa-basi Farrel pun bergegas masuk diikuti Suryo.


"Mana orang baru itu Yo?" tanya Farrel sesampainya dia di meja.


"Anak baru! Hei ke sini!" Suryo berteriak memanggil Rulli yang memang sedang berdiri untuk membantu Kartino menyelesaikan pekerjaannya.


Farrel duduk di kursi, dia membuka buku besar yang ada di depannya.


"Ini Bos orangnya." Suryo menepuk punggung Rulli pelan seraya memperkenalkannya pada Farrel. Mata Farrel bergerak naik melihat Rulli, sejenak mereka saling bersitatap namun kemudian Farrel tersenyum.


"Selamat bergabung di sini, semoga betah." Farrel mengulurkan tangan yang dibalas oleh Rulli dengan ragu-ragu.


Sungguh Rulli tidak tahu bahwa ini bengkel milik Farrel. Ah mundur lagi juga tidak mungkin, Rulli akhirnya pasrah. Terserah jika nanti Farrel mengerjainya atau semacamnya.


Rulli menunduk sebelum akhirnya Suryo menyuruhnya untuk kembali bekerja.


"Dua hari yang lalu Dokter Arseno mencari Anda." Suryo masih berada di dekat Farrel ketika Rulli kembali bekerja.


Suryo mengedikkan bahunya lalu berkata, "beliau hanya berpesan jika Bos sudah pulang dia minta Bos segera menemuinya."


Farrel menaikkan satu alisnya heran.


*


Hari ini Farrel tidak ikut membongkar truk dia sibuk dengan semua bon yang menumpuk di laci mejanya.


Saat hari sudah memasuki waktu makan siang, Farrel beranjak dari duduknya setelah membereskan apa yang tadi berserakan di meja.


Farrel berjalan keluar langkahnya terayun menuju klinik tempat Dokter Arseno bertugas. Farrel sudah hafal mobil milik Dokter Arseno yang terparkir tepat di depan klinik dan dia memilih berdiri bersandar pada mobil itu. Farrel yakin sebentar lagi dokter muda itu akan segera keluar.


Benar saja baru lima menit dia menunggu Dokter Arseno sudah muncul. Dokter Arseno menatap Farrel dengan sumringah seperti ada sesuatu yang nembuatnya bahagia bertemu dengan Farrel.


Farrel pun bergidik ngeri mengapa Dokter muda berkulit putih itu sebahagia itu saat melihatnya.

__ADS_1


"Sudah lama menunggu?" tanya Dokter Arseno sambil menyalami Farrel. Tidak lupa senyuman maut yang tersungging jelas dimulutnya membuat Farrel semakin keheranan akan sikap Dokter itu.


"Baru saja kok. Aku dengar dari Suryo dua hari yang lalu Dokter ke bengkel?"


Dokter Arseno mengangguk, senyuman tidak lepas dari bibirnya.


"Biar enak ngobrolnya, bagaimana kalau sambil makan siang?"


Farrel mengiyakan ajakan Dokter Arseno, dia masuk ke dalam mobil setelah Dokter Arseno terlebih dahulu masuk.


*


Kini, di sinilah mereka berada di sebuah rumah makan dengan nuansa alam. Rumah makan yang terdiri dari saung-saung kecil di atas kolam ikan yang sangat besar.


Farrel dan Dokter Arseno memilih saung yang paling tengah. Mereka bisa leluasa memberikan makan pada ikan yang bergerombol di bawah sana sambil menunggu pesanan mereka datang.


"Wih ikannya jumbo-jumbo ya," kata Dokter Arseno.


Farrel hanya tertawa kecil melihat tingkah teman barunya itu.


"Di kampungku kolam ikan seperti ini ada di belakang rumah."


Dokter Arseno menatap Farrel, dia tidak percaya dengan ucapan Farrel.


"Serius?"


Farrel mengangguk membenarkan, tidak lama pelayan datang membawa menu makan siang dua lelaki tampan di tengah kolam itu. Tidak sedikit pengunjung rumah makan yang menjadikan Farrel dan Arsen sebagai pusat perhatian.


Belum lagi tempat yang mereka pilih berada paling tengah memudahkan para gadis muda untuk mencuri-curi pandang.


"Dua bulan lagi aku akan mengajukan cuti liburan. Sepertinya berkunjung ke kampungmu akan sangat menyenangkan." Farrel menatap Dokter Arseno dengan tatapan heran, namun Farrel mengenyahkan pikiran-pikiran yang mengganggunya dia sangat lapar, ikan bakar dihadapannya sudah menunggu untuk disantap.


.


.

__ADS_1


__ADS_2