
Hanun masih tertunduk kala Dodo memaki-makinya dengan kasar. Hanun diam, Hanun takut.
"Nanti malam ikut Abang!"
Dodo membuka pintu rumah.
"Ikut kemana?"
Langkahnya yang hendak keluar terhenti dan berbalik masuk ke dalam rumah dengan rahang yang mengeras.
"Cari mangsa di terminal."
Dodo berbisik namun kata-katanya penuh dengan penekanan.
"Boleh 'kan aku gak ikut."
Hanun ragu dengan kalimat yang baru saja keluar dari mulutnya.
"Taubat ya?"
Sindiran yang mengena tepat pada sasaran. Hanun makin tertunduk kala Dodo semakin mendekatinya dengan murka.
"Kesambet apaan kamu?" Tangan kekarnya dipakai untuk mendorong kepala Hanun keras.
"Aku gak mau jadi penjahat selamanya Bang, aku ingin hidup normal tanpa dikejar rasa bersalah. Ayolah Bang ... kita berhenti sama-sama, Abang juga harus berubah. Kita bisa jadi orang baik."
Perkataan Hanun berdengung hebat di telinga Dodo yang kontan membuat amarahnya kian tidak terkendali, lantas capitan pedas mendarat di dagu Hanun.
Hanun dipaksa mendongak menatap abang angkatnya itu. Kesakitan akhirnya terealisasikan dengan buliran air bening yang mulai mengucur melalui celah manik teduhnya.
"Kalau mau taubat ... taubat saja sendiri! Dengar ya anak tidak tahu diuntung! Masih mending dulu aku mungut kamu di jalanan, masih untung aku bawa kamu, tahu gini aku nyesel! Tahu gini aku biarin kamu dilindas truck waktu itu."
Dodo mengatur napasnya yang terengah saking marahnya. Dodo mendorong Hanun ke belakang hingga terjungkal, kemudian Dodo benar-benar keluar dari rumah itu dengan amarah yang membumbung.
Sementara Hanun masih dalam posisinya yang terlentang karena didorong. Hanun menangis kini. Terlebih ucapan Dodo yang mengingatkannya pada satu ketakutan dan trauma yang ingin dia lupakan.
Dua orang berjas, lampu merah, truck ....
Ingin sekali Hanun berteriak setiap memorinya menangkap bayangan-bayangan yang membuatnya ketakutan.
Perlahan Hanun bangkit dan terduduk memeluk lututnya yang lemas. Hanun tidak tahu kini, apakah keputusannya tepat atau akan menjadi bumerang untuk ke depannya. Hanun memejamkan matanya, Hanun takut. Hanun menggigil tak ada sebab.
***
Dua puluh tahun yang lalu, gadis kecil bernama Raihanun terlihat gembira duduk di jok belakang sebuah mobil berwarna hitam. Boneka teddy yang selalu dipeluknya dia ajak berbicara dengan riangnya. Percakapan dua orang dewasa di depannya tidak dipedulikannya dan dia tidak mengerti.
"Baik Bos, kami sudah sangat jauh. Apa kita lakukan sekarang?"
Seseorang tengah menerima telpon di depan sana, sesekali melirik ke belakang tempat dimana Hanun berada.
__ADS_1
Orang itu lantas mematikan sambungan telponnya dan memberi kode pada kawannya yang sedang mengemudi.
"Di depan sana! Lampu merah."
Sang pengemudi mengangguk.
Ketika lampu jalanan itu memerah, dua orang berjas itu menghitung detik sampai kemudian lampu berganti menjadi kuning. Seseorang yang tadi menerima telpon kemudian turun dari mobil. Dibukanya pintu belakang.
"Nona kecil, bisa bantu Om?"
Hanun kecil mengangguk penuh kepolosan.
"Nona pindah duduknya di depan ya, Om ingin tiduran di belakang."
Lagi-lagi Hanun kecil mengangguk dan keluar dari mobil sambil membawa bonekanya. Orang yang tadi menyuruhnya pindah pun masuk mobil sementara Hanun kecil masih berdiri di luar.
Ketika lampu berubah hijau, suara klakson mulai bising secepat kilat mobil itu melaju meninggalkan sang gadis kecil yang terkejut.
Hanun kecil tidak menangis ataupun berteriak sungguh dia tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Hanun kecil menatap mobil yang menjauh itu dengan perasaan bingung hingga mobil itu lenyap dari pandangannya. Hanun kecil menatap sekitar yang penuh dengan kendaraan sedang berlalu lalang.
Hanun kecil berjalan lima langkah kemudian kembali lagi ke tempatnya semula. Hanun kecil berjalan lagi dan kembali lagi. Sungguh si kecil itu bingung.
Ada apa?
Kenapa?
Suara pengamen, suara pedagang asongan, dan kebisingan yang lain membuat kepalanya berputar di tengah terik matahari.
Hanun kecil sampai di tengah jalan, Hanun berhenti berjalan. Kemudian tepat di hadapannya sebuah truck besar berwarna hijau datang dengan cepat. Hanun terpaku melihatnya, truck itu kian dekat sementara Hanun masih berdiri di tempatnya.
Saat semua tidak pasti, saat semua hal yang tidak mungkin jadi mungkin saat itu pula truck berhasil berhenti tepat di depan Hanun.
Sang sopir yang terkejut memaki Hanun dari dalam truck.
Si kecil yang tidak mengerti itu hanya menatap truck besar yang ada di depannya tanpa menghiraukan suara-suara yang tertuju padanya.
Sampai ketika itu, Hanun melayang dan berjalan. Hanun bukan terbang!
Tetapi ada yang mengangkat tubuhnya menjauh dari keramaian itu. Seseorang yang kemudian mengajaknya untuk pulang.
Bukan.
Bukan rumah Hanun kecil yang sesungguhnya, tetapi sebuah gubuk yang kini menjadi tempat Hanun dewasa sedang menangis.
Air mata yang tidak pernah keluar meski ditinggal sendirian di jalanan, air mata yang tidak pernah keluar walaupun banyak orang yang mencacinya. Air mata yang tidak pernah keluar walaupun kelaparan.
Namun kini, air mata itu keluar tatkala Abang yang selama ini bersamanya berujar menyesal telah membawanya.
Sang pahlawan itu menyesal telah menyelamatkan Hanun kecil.
__ADS_1
Air mata itu tumpah, oh sakit rasanya.
Semenyesal itukah Abang?
Hanun masih sesenggukan ketika pintu yang masih terbuka itu tiba-tiba tertutup dengan sendirinya karena tiupan angin.
Hanun terperanjat dan menyeka air mata yang masih menetes. Hanun berdiri dan mengambil napas sedalam-dalamnya.
Hanun mengambil peralatan mandinya dan pergi ke toilet umum yang berada di lingkungannya tinggal.
Hanun menimba air sampai dirasa cukup untuk membersihkan tubuhnya.
Hanun harus membuang jauh sisi kelemahannya ini. Tidak boleh ada yang tahu, bahwa dia pernah menangis. Hanun tidak mengizinkan matanya kembali berair.
***
Malam ini, Hanun benar-benar tidak pergi kemanapun. Sang abang yang ditunggunya tak kunjung pulang.
Ah kenapa Hanun menunggu?
Bukankah Dodo sudah sering tidak pulang ke rumah?
Tetapi kenapa kali ini Hanun cemas?
Sampai dini hari mata Hanun masih enggan untuk menutup. Tempat tidur sekaligus ruang tamu itu mungkin tidak nyaman tetapi bukan itu sebabnya.
Hanun cemas Dodo tak kunjung pulang.
Ketika gedoran dari luar mengagetkannya, Hanun bergegas membuka pintu.
Di sana terlihat seorang bapak-bapak yang biasa ada di terminal sebagai tukang parkir sedang mengatur napasnya untuk berbicara pada Hanun.
"Nun ... Dodo, Nun."
Begitu nama itu disebut, Hanun segera melihat ke belakang bapak itu dengan penasaran. Gerakan matanya yang mengisyaratkan kecemasan yang belum pernah dia rasa sebelumnya.
"Bang Dodo ... Bang Dodonya mana Pak?"
Pria parubaya itu masih mencoba menenangkan dirinya sebelum akhirnya berkata, "Dodo ketangkap polisi."
Dor ....
Bagai tembakan pistol yang mengenai dadanya. Hanun terpaku dengan keterkejutan yang tinggi.
.
.
.
__ADS_1
.
.