
Setelah seharian penuh berada dalam penatnya jalanan ditambah bisingnya suara kendaraan, malam ini Farrel baru tiba di rumahnya yang berada di Jogja. Farrel membuka pintu rumahnya yang sudah ditinggal lama itu dengan perlahan.
Suasana yang sama sejak terakhir dia tinggalkan, bahkan gelas kopi yang mengering masih ada di atas meja karena waktu itu dia lupa untuk mencuci saking cemasnya dengan keadaan Uwa.
Farrel memulai malamnya dengan membersihkan kamar tidur. Ruangan yang lain dia biarkan dulu, yang penting tempatnya untuk tidur malam ini.
Setelah selesai bersih-bersih kini Farrel terlihat segar karena baru saja mandi. Tidak perlu dideskripsikan bagaimana handuk putih melilit indah dipinggangnya itu sudah bisa terbayangkan.
Selesai berpakaian Farrel merebahkan badannya di atas kasur single miliknya. Ah sungguh nikmat sekali badan yang kaku kini dapat meregang.
Tiba-tiba ponselnya berdering, Farrel segera mengambilnya dari dalam tas. Nama Pak Subagyo tertera di layar.
"Assalamualaikum."
"Ah iya ... waalaikumsalam Nak Farrel, Bapak ganggu malam-malam nih," seru Pak Subagyo.
"Tidak Pak, ada apa?" Farrel menumpuk bantalnya supaya dia merasa nyaman bertelepon ria bersama calon mertua.
"Bisakah besok siang kita bertemu? Fahira bersikeras ingin bertemu denganmu." Terdengar suara perempuan dibalik telepon, Farrel yakini itu suara calon istrinya senyum tipis tersungging tanpa sadar kala mendengarnya.
Bagaimana tidak, suara wanita di ujung sana terdengar seperti rangkaian gerbong kereta api yang sedang melaju. Nampaknya Fahira memang benar-benar sedang kesal saat ini.
"Saya minta maaf Pak, pagi tadi saya pergi untuk merantau. Tolong bilang sama putri Bapak, saya pergi untuk mengumpulkan biaya pernikahan kita nanti." Farrel menjawab dengan santai.
"Hei apa kamu bilang?! Emangnya siapa yang mau menikah dengan penipu?" Suara Fahira memekakkan telinga sehingga Farrel menjauhkan sedikit ponselnya dari telinga.
"Dengar baik-baik orang tidak dikenal! Jangan kira aku bodoh bisa dibohongi! Gak akan aku biarkan kamu memanfaatkan keadaanku demi keuntunganmu!"
Farrel menggelengkan kepalanya lalu berbicara, "galak bener."
Sambungan terputus karena Fahira mematikannya secara sepihak.
Farrel yang mengetahui itu hanya bisa mengelus-elus dadanya.
"Sepertinya aku harus bersiap-siap punya istri galak nih."
*
"Fahira! Apa yang kamu lakukan?" Pak Subagyo merebut ponselnya dari tangan Fahira. Sementara Fahira sibuk mengatur napasnya yang tersenggal-senggal akibat teriak-teriak barusan.
__ADS_1
"Papa denger aku deh! Orang itu pergi 'kan? Orang itu pergi merantau alasan aja, dia lari Pa. Lari seperti bajingan itu!"
Pak Subagyo menatap anaknya tidak terima, "Farrel tidak seperti itu! Farrel tidak seperti mantan kamu itu."
"Darimana Papa tahu? Kenal juga baru, aku berani taruhan dia gak bakal datang buat nikahin aku." Fahira berkacak pinggang dan berdiri hendak meninggalkan Pak Subagyo.
"Jaminannya apa?" Pak Subagyo menghentikan Fahira yang hendak melangkah.
"Jaminannya apa? Kalau Farrel benar-benar datang." Pak Subagyo menantang putrinya.
Fahira sedikit berfikir, "kalau dia benar-benar datang, aku bersedia menikah dengan dia. Itu semua demi Papa, bukan demi anak ini."
Fahira melanjutkan langkahnya meninggalkan sang ayah. Sementara Pak Subagyo tersenyum lega dia yakin Farrel pasti akan datang.
*
Suatu pagi di kota Jogja, seorang gadis berambut indah terbangun dari tidurnya. Hari ini dia sudah menempati rumah yang lebih layak daripada sebelumnya. Ya, gadis itu Hanun.
Hanun bergegas ke kamar mandi yang kini ada di dalam rumah, dia tidak harus mengantri atau bahkan digedor-gedor seperti dulu lagi.
Rumah ini dia kontrak selama setahun ke depan, semua ini tidak lepas dari kerja kerasnya dan juga peran seseorang.
Alih-alih menghukumnya, orang itu malah membantunya. Hanun dipekerjakan di bengkelnya dengan alasan hukuman tapi ternyata dibatas waktu terakhir orang itu memberinya gaji yang cukup besar.
Farrel orangnya, Hanun tersenyum sendiri kala mengenangnya.
Setelah mandi dan berpakaian Hanun menyisir rambut hitamnya, dia akan berangkat ke toko buku tempatnya bekerja.
Anehnya, Hanun selalu berangkat lebih pagi hanya untuk bisa melewati bengkel milik Farrel dia berharap bisa melihat pria itu sekali saja.
Hanun kini mengendarai motor yang dipinjamkan pemilik toko buku untuk alat transportasinya. Seperti biasa Hanun mengambil jalan yang melewati bengkel. Hanun hampir saja menyalahkan matanya ketika melihat Farrel berada di sana. Dia melihat laki-laki yang selama ini dia tunggu.
Oh apakah ini mimpi?
Tanpa sadar Hanun berhenti tepat di depan bengkel hanya untuk memastikan orang itu memanglah dia.
Farrel yang sedang sibuk membuka bengkelnya tidak menyadari keberadaan Hanun di sana. Selama beberapa menit Hanun terpaku di sana mau menyapa tapi mereka tidak seakrab itu.
"Hanun! Lagi ngapain di sini?" Tiba-tiba saja suara seseorang membuat Hanun dan Farrel menoleh.
__ADS_1
Dia adalah Kartino pegawai Farrel yang baru datang. Hanun salah tingkah dibuatnya apalagi Farrel yang kini menatapnya heran. Tanpa pikir panjang Hanun menjalankan motornya, membuat dua lelaki di sana saling menatap satu sama lain.
"Eh bos, ya ampun kapan balik? Ko gak ngasih tahu?" Kartino membuyarkan pandangan mata mereka.
"Semalam, sengaja aku datang pagi-pagi ke sini buat bikin kejutan." Farrel masuk ke dalam bengkel miliknya diikuti Kartino di belakangnya.
"Ko bisa barengan sama si Hanun? Atau jangan-jangan?" Kartino tidak bisa menyembunyikan rasa curiganya.
Farrel berbalik badan dan menatap Kartino heran, "barengan dari Hongkong. Aku gak tahu kalau dia ada di sini tadi."
"Masa sih bos? Percaya gak ya?" Kartino menggoda Farrel sambil menaik turunkan alisnya.
"Bukannya dia udah gak kerja di sini 'kan? Terus ngapain dia ke sini?" Farrel heran.
"Kangen kali sama Bos," celetuk Kartino.
Farrel mendelik tidak suka, "jangan-jangan kamu gak ngasih uang gajinya ya? Jadi dia mau nagih."
Kartino terkejut, "Bos jangan sembarangan kalau ngomong itu sama aja fitnah! Aku udah ngasih sesuai jumlah yang Bos bilang."
Farrel tertawa kecil melihat ekspresi Kartino yang berubah. "Bagus deh, mungkin dia kebetulan lewat. Truk ini ko masih di sini No?"
Farrel menghampiri sebuah truk yang terparkir di bengkelnya, seingatnya truk itu sudak selesai diperbaiki sebelum dia pulang.
"Belum ada yang ambil Bos. Katanya supir yang waktu itu meninggal jadi gak tahu deh gimana."
Farrel menganggukkan kepalanya, kemudisn mengecek suku cadang yang ada di sana. Hari pertama Farrel bekerja akan sangat panjang karena dia meninggalkannya cukup lama. Hari ini pun dimulai.
.
.
.
**Assalamualaikum, sedikit surat cinta dari aku untuk kalianš Terimakasih kalian yang sudah menunggu Aa Farrel dengan setia, gak nyangka sih masih ada yang nyimpen si Aa difavoritnyaš Maaf ya kemaren itu aku gak up bukan apa-apa kukira kemaren NT gangguan eh ternyata kuotaku yang gangguanš¤£š¤£Yok yook kasih dukungan lagi buat si Aa biar dia nongol tiap hari, jangan lupa like dan komennya dong biar si aku semangat maklum moody ku kadang gak bisa diajak kompromi.
Kalau mau promoin si Aa juga boleh banget ya, biar si A Farrel tambah banyak penggemarnya (ngarep dikitš¤£)
Yaudah deh happy reading aja buat kalian**.
__ADS_1