
Waktu terus bergulir meninggalkan hari kemarin menjadi kenangan. Sang waktu tidak pernah berhenti berjalan walau kadang lelah mengejarnya, waktu tidak mungkin berhenti dan menunggu. Akhirnya kita jualah yang harus mengejar waktu menantang dan berjalan beriringan dengannya.
Sudah dua minggu waktu berlalu, hari Ini Inda mengajak Hanun untuk menemaninya. Selama berada di Jogja lebih tepatnya Gunungkidul, Inda belum pernah sama sekali menginjakkan kaki di pantai. Entah darimana hasrat itu datang Inda ingin sekali melihat ombak dan mendengar deburannya.
"Ayolah Nun! Aku traktir deh." Saat ini Inda sedang bergelayut manja pada tangan Hanun yang sejak tadi menolak ajakannya.
Hanun mencebik ternyata Inda memiliki sifat menyebalkan juga. "Sebenernya kamu mau ke pantai apa?"
"Yang deket-deket aja Nun, kamu 'kan tinggal di sini dari kecil pasti tahu pantai yang ada di sini."
Hanun sedikit berfikir sambil mengingat-ingat pantai yang jaraknya dekat dari sana. Hanun hanya beberapa kali mengunjungi pantai itu pun saat Dodo mengajaknya untuk beraksi di sana. Dulu Hanun tidak fokus menikmati keindahan pantai yang dia lakukan hanya mencari mangsa di sana.
Ah Hanun baru menyadari bahwa dia telah membuang-buang waktu. Jika masih ada yang halal mengapa dulu dia dan Dodo bersusah-susah mencari yang haram.
Hanun kembali mengingat Dodo, abangnya itu hilang bak ditelan bumi sejak perpisahan itu. Hanun sudah mencarinya ke gubuk lama mereka tetapi kata tetangga Dodo tidak pernah pulang. Rindu sekali Hanun pada Dodo.
"Hei! Malah ngelamun sih?" Inda menepuk pipi Hanun menyadarkan Hanun dari lamunannya.
Hanun sedikit terlonjak dan mengusap wajahnya. "Hayu deh, kita ke pantai Drini aja yuk!"
Inda berbinar menatap Hanun dia mengangguk antusias, "dimana itu dimana?"
"Di Kecamatan Tanjungsari mungkin satu jaman dari sini."
Inda sangat senang dia segera pulang untuk bersiap-siap padahal mereka baru akan berangkat besok.
Sementara Hanun meminta izin kepada Retno agar besok bisa libur. Tentu saja Retno yang baik selalu mengizinkan. Saat bertemu Hanun dia merasa memiliki adik, bahkan saat anak yang baru dilahirkannya meninggal dunia Hanun selalu berada di sisinya untuk menyemangati dan menghiburnya. Disitulah Retno mulai menyayangi Hanun bukan sekedar karena pegawainya.
*
Keesokan paginya Inda sudah datang menggedor rumah Hanun. Sang pemilik rumah keluar dengan geliatan manja sambil menguap berkali-kali, rambut yang berantakan menandakan dia baru bangun dari tidurnya.
__ADS_1
"Ya ampun Nun ko belum mandi sih? Pasti baru bangun ya? Tadi sholat subuh gak?" Inda mencecar Hanun sambil menggiringnya kembali masuk ke dalam rumah.
"Aku kesiangan In, masih boleh sholat subuh gak sih jam enam?" Hanun melihat jam dinding yang baru menunjukkan angka enam dan Inda sudah datang. Semangat sekali dia ingin ke pantai.
"Bisa. Tapi kamu sholat fajar dulu baru deh sholat subuh. Kamu udah baca 'kan buku dari aku tentang sholat-sholat sunat?"
Hanun mengerti dia mengangguk dan segera masuk ke kamar mandi untuk bersuci. Sementara Hanun di kamar mandi, Inda menunggunya sambil memainkan ponsel dia membuka status whatsapp dan menemukan satu status yang membuatnya penasaran karena selama memiliki kontaknya dia belum pernah menemukan status dari orang itu. Tetapi kali ini Farrel membuat status dan itu sangat membuat Inda penasaran.
Menghitung hari, jadikan ini jalan terbaik dari takdirku Ya Rabb.
Inda mengerutkan kening kala membacanya, dia tidak mengerti dengan apa yang ditulis Farrel. Saking herannya, Inda tidak sadar membalas status itu dengan emoji tepuk tangan.
Tiba-tiba denting ponsel terdengar dan membuyarkan lamunan Inda. Inda menggelengkan kepalanya kemudian membuka ponsel. Inda terkejut bukan main hingga memelototkan matanya. Dia menyalahkan jempolnya yang lancang membalas status Farrel akhirnya dibalas dengan kata, kenapa?
Hei kenapa?
Inda juga tidak tahu kenapa dia malah bertepuk tangan membalas status Farrel. Inda gelagapan menyimpan ponselnya di lantai kemudian mengambilnya lagi, menyimpannya lagi dan dia ambil lagi.
Oh sungguh bodoh Inda kembali menghapusnya karena alasan itu tidak masuk akal namun usahanya sia-sia Farrel sudah terlanjur membacanya dan membalas dengan emoji senyum itu lagi.
Tiba-tiba Inda tersenyum melihatnya, kupu-kupu itu beterbangan lagi membuai Inda dalam kebahagiaan.
"Senyam-senyum, kesambet ya In?"
Hais Hanun mengganggu saja, kupu-kupunya pada kabur 'kan tuh.
Inda mentap Hanun yang sekarang sudah rapi mereka bersiap pergi ketika tiba-tiba Inda sakit perut dan pamit numpang ke kamar mandi. Hanun lagi-lagi mencebik, "tahu begini tadi aku bikin alis dulu."
"Emangnya bisa?" tanya Inda sambil memegangi perutnya.
"Enggak." Hanun menyengir kemudian tertawa melihat Inda lari ke kamar mandi.
__ADS_1
"Jangan lupa siram," teriak Hanun.
Saat Hanun hendak duduk tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar dari luar. Hanun membuka pintu dan melihat sosok Farrel di sana dia mendapatinya tengah tersenyum.
"Ada apa?" tanya Hanun.
"Ini. Saya cuma mengantarkan obat dari Dokter Arseno, kemarin dia nitip."
Hanun mengambil obat itu dan kembali menatap Farrel, "ini berapa?"
"Kata Dokter Arseno itu gratis. Diminum ya obatnya jangan sampai pingsan lagi! Oh iya ini ada bubur tadi sekalian aku beli buat kamu."
Jantung Hanun saat ini hampir jatuh karena debarannya terlalu kencang. Dia sedikit gemetar dan kelu hanya untuk mengucapkan terimakasih. Bahkan ketika Farrel berpamitan pulang dia hanya mengangguk tanpa menjawab salamnya.
Setelah motor Farrel tidak terlihat lagi barulah Hanun tersadar dan melompat kegirangan. Farrel rela pagi-pagi datang hanya untuk mengantarkan obat untuknya. Oh Hanun tidak tahu sebahagia apa dirinya saat ini yang jelas sentuman lebar terukir jelas dari bibirnya.
Ketika Hanun masih berbahagia, Inda datang dengan keheranan. Inda mengahampiri Hanun dan merebut bubur ditangan Hanun.
"Ih kamu beli bubur gak bilang-bilang, aku juga belum sarapan. Minta ya! Kita makan dulu sebelum mantai hehe. Tadi aku terlalu semangat tapi berhubung lapar kita makan dulu deh."
Inda lantas membuka bungkus sterofoam itu dan memakan bubur itu duluan kemudian menyodorkan suapan berikutnya kepada Hanun. Berhubung Hanun sedang bahagia dia akhirnya membuka mulut untuk makan.
Sepuluh menit berlalu Inda dan Hanun menghabiskan sarapan mereka. Kini Hanun bersiap memanaskan motor dan memakaikan Inda helm.
Mereka akhirnya pergi liburan berdua setelah berbulan-bulan menjadi teman. Hari ini mereka akan menghabiskan waktu di pantai Drini. Motor yang dibawa Hanun membelah hiruk pikuk jalanan dipagi hari. Tidak ada hambatan berarti walau sempat mengisi bahan bakar tetapi itu tidak mengganggu suasana hati mereka yang tengah dilanda bahagia.
.
.
.
__ADS_1