
Setelah kurang lebih satu jam perjalanan akhirnya Inda dan Hanun sampai di pantai Drini. Hanun memarkirkan motornya di parkiran yang disediakan. Inda menggandeng Hanun memasuki area pantai, mata kedua gadis itu berbinar dimanjakan dengan hamparan pasir putih yang dihiasi payung warna-warni di sekitarnya ada juga tempat berteduh yang beratapkan jerami.
Dari pinggir tebing dapat terlihat jembatan yang memanjang menuju ke sebuah bukit kecil. Inda dan Hanun berlari dengan riang mendekati bibir pantai. Mereka tidak harus berhimpitan dengan banyak orang karena hari itu pantai sangat sepi. Hanya ada beberapa orang pengunjung di sana, warung-warung dan juga penginapan nampak sepi dari aktivitas. Hanun berteriak melepas semua bebannya dia menendang air laut yang menerpa kakinya kemudian kembali menjauh.
Inda berlari-lari masuk ke dalam air dan kembali lari ketika ombak kecil mengejarnya. Dua gadis itu hanyut dalam kebahagiaan sesekali saling melempar air dan saling mengejar mereka tertawa hingga membuat siapa saja iri melihatnya.
Setelah kelelahan dua gadis itu berteduh dibawah atap jerami. Mereka memandangi lautan luas dan mengagumi keindahannya ditemani dua buah kelapa muda lengkap dengan sedotan berwarna putih.
"Nun, apa kamu pernah jatuh cinta?" Inda tiba-tiba saja bertanya tentang cinta kepada Hanun.
Hanun menyibak rambutnya yang melambai-lambai menghalangi wajah karena terpaan angin kemudian menatap Inda dan berkata, "ciri-ciri jatuh cinta itu jantung berdebar saat melihatnya terus selalu ingin melihatnya. Itu kata novel yang pernah aku baca. Mungkin saat ini aku memang sedang jatuh cinta."
Inda melotot tidak percaya kemudian tersenyum menggoda Hanun, "aduh ada yang jatuh cinta ahey."
Hanun menjadi risih karena Inda terus mengerlingkan mata nakal ke arahnya. "Kalau kamu gimana? Kenapa tiba-tiba nanya soal cinta segala?"
Inda berhenti menggoda kemudian menatap laut di depannya. "Tahu gak Nun? Sepertinya aku pun sama, aku sedang jatuh cinta. Sebelumnya aku tidak percaya dengan adanya cinta tapi ternyata aku malah terjebak masuk ke dalamnya."
Hanun yang mendengar itu balik menggoda Inda bahkan menggelitiknya sampai akhirnya mereka kembali saling mengejar.
*
Hari menjelang siang, Hanun dan Inda memutuskan untuk menyebrangi jembatan dengan warna-warni itu. Mereka ingin melihat laut dari pulau kecil di seberang sana.
"Ini namanya jembatan pancawarna. Oh iya In, di sini punya dua sisi laut yang berkebalikan. Pantai tempat kita bermain tadi itu cenderung punya ombak yang tenang, sedangkan sebelah barat sana ombaknya cukup besar biasanya dimanfaatin nelayan buat melaut."
Inda mengangguk-angguk, dia tidak hentinya mengagumi keindahan laut dari atas jembatan. Dia mengeluarkan ponselnya dan mulai mengambil gambar.
"Sini Nun kita foto dulu!" Inda dan Hanun tersenyum lebar menghadap kamera mereka berdua berada di tengah-tengah jembatan mengambil beberapa foto di sana.
Setelah sampai diujung jembatan mereka memutuskan untuk duduk melepas lelah. Inda memberikan air mineral miliknya kepada Hanun.
"Terimakasih In."
Inda tersenyum sambil menyelipkan anak rambut Hanun ke telinganya. "Kamu tahu Nun, aku senang berteman dengan kamu. Bahkan ada yang bilang aku gak kaku lagi, aku tahu itu karena kamu."
__ADS_1
"Emang dulu kamu gak gila begini?"
Inda menggelengkan kepalanya lalu menggeliat dan membuang nafas, "aku dibesarkan sama Nenek, orang tuaku sudah lama di Kalimantan.Kadang aku kesepian dan menutup diri jadi ya banyak yang bilang aku kaku."
"Kamu enak masih punya orang tua, punya nenek. Aku?" Hanun tiba-tiba teringat nasibnya yang dibuang di jalanan.
Inda mengusap punggung Hanun, dia tahu Hanun tidak seberuntung dirinya. "Aku cuma ingat namaku Raihanun, selebihnya aku gak pernah ingat wajah orang tuaku."
"Aku ngerti Nun, sesungguhnya kamu orang kuat jadi Tuhan memberikanmu ujian seperti ini." Inda mencoba menguatkan Hanun.
Hanun menatap lautan yang luasnya tiada terkira, "kadang aku bertanya-tanya apakah salahku? Kenapa aku dibuang?"
"Mungkin bukan seperti itu kenyataannya kamu harus berhusnudzon Nun."
Hanun menggeleng kemudian tersenyum kecut, "seandainya aku ditakdirkan bertemu kembali dengan orang tuaku aku tidak yakin akan memaafkan mereka."
"Hush gak baik ngomong begitu. Hayu ah kita foto lagi malah jadi mellow begini."
Inda mengalihkan pembicaraan dan mengambil ponselnya kembali.
*
Mereka bergegas pergi meninggalkan pantai karena tidak ingin pulang kehujanan.
*
"Terimakasih untuk hari ini ya Nun."
"Sama-sama In, lain kali kita ke pantai lagi." Hanun masih berdiri di depan rumah kost Inda, mereka baru saja tiba dan Hanun mengantar Inda terlebih dahulu.
"Kemarin susah banget diajakin sekarang malah pengen lagi." Inda mencibir Hanun kemudian mereka tertawa bersama.
Kemudian Hanun memasang wajah serius dia memandangi Inda.
"In, apa gak sebaiknya kamu pindah dari sini? Sebelah rumahku masih kosong, atau kita berbagi rumah gimana?"
__ADS_1
"Nanti aku fikir-fikir dulu Nun," jawab Inda.
"Apa kamu gak risih diperhatiin dari atas kayak gini?"
Hah?
Inda tidak mengerti dengan ucapan Hanun sampai ketika Hanun memberi kode agar Inda melihat ke atap sebuah rumah. Benar saja, Ruli sedang menatapnya di sana tanpa berkedip.
Inda mendadak ingat kejadian malam itu ketika Ruli menciumnya secara paksa dan melecehkannya. Sorot mata kebencian terpancar dari matanya ketika menatap Ruli. Tanpa diduga Ruli tersenyum kecil ketika mereka saling menatap. Hal itu sungguh membuat Inda muak dan membuang pandangannya.
"Dia siapa In?" tanya Hanun.
"Berandalan tidak berguna, kamu mau masuk dulu apa gimana?"
"Udah sore lain kali aja aku mampir ya, cape nih pengen cepet rebahan." Hanun berpamitan.
"Huh laganya, ya udah sampai ketemu lagi ya. Sekali lagi terimakasih."
Setelah berpelukkan Hanun pergi menaiki motornya tidak lama kemudian Inda pun masuk ke dalam rumah setelah sempat melihat ke arah Ruli yang masih menatapnya dari atas.
Ruli yang melihat Inda sudah pulang kembali masuk ke dalam kamarnya. Bau rokok menguar dari dalam sana, dinding yang bercart putih usang itu ditempeli beberapa poster. Ruli berjalan ke arah tembok, dia menatap satu gambar wanita di sana. Inda yang ada digambar itu.
Ruli mengusapnya kemudian menjambak rambutnya sendiri. Tiba-tiba tiga orang pria masuk ke dalam kamarnya tanpa permisi. Mereka teman-temannya.
"Ngamar aja Bro, persis anak perawan."
Tawa menggema di kamar pengap itu, mereka menyalakan rokok dan memainkan asapnya ke udara.
"Nongkrong yuk ah! Udah lama gak keluar kandang, kita liat yang bening-bening diluar. Lumayan." Salah satu dari teman Ruli mengajak untuk pergi.
Disaat itulah para berandalan itu memutuskan untuk mengendarai motor mereka pergi ke pusat kota untuk bersenang-senang.
.
.
__ADS_1
.