SETELAH KAU PERGI ~Story About Farrel~

SETELAH KAU PERGI ~Story About Farrel~
SALAH PAHAM


__ADS_3

Hanun berlari sekencang yang dia bisa, yang penting tidak tertangkap oleh seseorang yang saat ini tengah mengejarnya. Hanun melihat sebuah bangunan yang terbuka lebar, tanpa berpikir panjang Hanun memasuki bangunan tersebut.


Awalnya Hanun tidak memperhatikan apa yang ada di sana, setelah beberapa saat berada di bangunan itu barulah Hanun tertegun. Hanun bersembunyi diantara truck-truck besar.


Hanun mengendap-endap bagaikan pencuri terlebih sayup-sayup terdengar orang sedang mengobrol di tempatnya bersembunyi.


"Kami makan siang duluan Pak."


"Ayolah Bos kita sama-sama saja makan siangnya! Nanti kita bisa lihat gadis-gadis montok loh."


"Mulai si Kartino!"


"Saya nanti saja, kalian duluan."


Setelah itu tidak ada lagi suara selain deru suara motor yang menjauh dari bangunan itu.


Ya, bangunan itu adalah bengkel milik Farrel. Jika diibaratkan dunia memang seperti selembar daun kelor. Jika takdirnya bertemu maka akan bertemu jua.


Hanun merasa aman untuk keluar dari sana, maka dengan sedikit keberanian Hanun berjalan pelan menuju pintu keluar. Namun prediksi Hanun salah, di bengkel itu masih ada Farrel yang sangat jelas melihatnya dari belakang.


"Siapa kamu?"


Seketika jantung Hanun serasa berhenti berdetak, tubuhnya terpaku tidak bergerak. Ingin melarikan diri tetapi sisa tenaganya tidak mampu untuk melakukannya.


Farrel berjalan cepat mendekati sosok yang tidak dikenalnya itu.


"Saya tanya siapa kamu? Ada perlu apa di sini?"


Hanun tetap bungkam, sungguh dirinya bingung harus menjawab seperti apa.


Masa iya dia jawab lagi sembunyi. Lah dikira bocah lagi main petak umpet kali ah.


Hilang kesabaran Farrel, dengan kasar Farrel membalikkan tubuh Hanun supaya menghadap dirinya.


Tiba-tiba saja Farrel terkejut begitu pun dengan Hanun.


Mereka pernah bertemu?


Jawabannya ya.


"Kamu mau mencuri ya?"


Hanun melotot tidak terima.


"Sebaiknya saya lapor polisi, tidak baik pencuri dibiarkan berkeliaran di kota ini."


"Saya tidak mencuri!"


"Iya, tapi a-kan."

__ADS_1


Farrel menarik tangan Hanun masuk lebih dalam ke bengkelnya, dicengkramnya kuat pergelangan tangan itu sambil tangan yang satu lagi sibuk mengetikkan nomor pada ponselnya.


"Saya bilang saya tidak mencuri."


Hanun berusaha melepas tangannya sekuat tenaga namun genggaman seseorang yang tiap hari memegang per jelas beda kuatnya.


"Kamu beruntung, saya tidak melaporkan kamu malam itu. Tapi hari ini dan yang kedua kali saya tidak akan melepaskan kamu!"


"Tapi hari ini saya tidak berniat mencuri, saya hanya kebetulan lewat."


"Di mata saya, sekali pencuri tetap pencuri!"


Nada tegas dari Farrel tidak bisa dibantahkan oleh Hanun.


Ini sih namanya keluar dari lubang buaya masuk kandang singa. Malangnya kamu Nun.


Sekian lama Farrel mengotak-atik ponselnya sembari sibuk memegangi tangan Hanun namun nomor polisi tidak ditemukannya juga.


Ah kadang Farrel menyesal tidak menyimpan nomor-nomor penting itu.


Sekali lagi Hanun coba berontak sampai Farrel yang sedang lengah hampir melepaskannya. Tetapi dengan cepat Farrel mengejar dan kembali menarik tangan Hanun. Bahkan saking kerasnya badan Hanun sampai bersandar di kepala truck dan Farrel berhasil menahannya.


Dalam situasi yang tidak menyenangkan tiba-tiba para pegawai Farrel mulai berdatangan. Mereka terkejut dengan apa yang ada di hadapannya.


Bagaimana tidak, Farrel menghimpit tubuh Hanun dengan jarak yang sangat dekat. Bahkan author saja cemburu.


"Bos ...."


Farrel menoleh dan belum menyadari apa kesalahannya. "Yo, dia pencuri Yo."


"Pencuri hati ya Bos."


Kartino melancarkan godaan terhadap bosnya tersebut.


Farrel melipat keningnya sangat dalam dan menatap Kartino tajam.


"Bantu saya hubungi polisi!"


"Bos sabar dulu ... tapi Bos jaga jarak dulu, kami malu lihatnya."


Eh.


Seketika itu Farrel menjauh dari Hanun yang sejak tadi menahan gelora panas di wajahnya. Baru pertama kali dia berdekatan dengan seorang pria bahkan sangat dekat seperti itu.


Hanun belum pernah merasakan salah tingkah atau bahkan diam saja seperti tadi jika ada yang mengganggunya. Tapi dihadapan Farrel?


Kenapa?


Atau mungkin karena Hanun mempunyai perasaan bersalah pada Farrel, sehingga dirinya mengalah?

__ADS_1


Entahlah, yang jelas setelah kejadian barusan Farrel menjauh dan duduk di kursi yang biasa dipakai para pekerja untuk beristirahat.


Kini, semua orang di sana bahkan sudah mengikutinya duduk di sana termasuk Hanun.


Farrel dan Hanun bak dua insan yang kepergok berduaan oleh Pak Rt. Mereka pun seperti disidang oleh Suryo dan Kartino. Sementara tiga pekerja lain melanjutkan pekerjaan mereka.


Farrel menatap Kartino dan Suryo dengan pandangan nyalang. Farrel tahu sekarang ini sedang terjadi kesalahpahaman di sini. Terlebih wajah Kartino yang minta ditonjok itu menampilkan senyuman usil.


"Kalian jangan salahpaham! Saya tadi hanya menangkap pencuri ini. Dia juga yang jambret saya malam itu. Kamu tahu kan Yo, waktu hidung saya berdarah dia orangnya."


Farrel sangat menggebu-gebu menjelaskan membuat Hanun menggelengkan kepalaya.


"Baiklah, begini ... memang benar malam itu saya menjambret tapi hari ini saya tidak mencuri bahkan saya tidak berniat sedikitpun untuk mencuri."


Farrel memijat keningnya yang mendadak berdenyut, bertahun-tahun Farrel membuka bengkel di Yogya baru kali ini Farrel mengalami hal yang tidak menyenangkan seperti ini.


"Urus dia Yo! Saya pulang duluan."


Kemudian tanpa ingin berdebat lagi Farrel berdiri dan berlalu meninggalkan masalah yang belum sepenuhnya selesai itu.


Farrel keluar dari bengkel berharap semua akan berakhir tanpa perlu dia tangani lagi. Terlebih kali ini Farrel sangat tidak ingin melihat wajah Hanun lagi.


***


Sebelum pulang ke rumah, Farrel menyempatkan masuk ke dalam mesjid di tengah perjalanan. Farrel beribadah dengan khusyuk di sana.


Setelah selesai Farrel berniat untuk pulang, namun niatnya diurungkan ketika mendengar ceramah di madrasah sebelah mesjid yang rupanya sedang diadakan pengajian.


Farrel memilih untuk mendengarkan di mesjid itu, sungguh dirinya belum ada keberanian untuk mendatangi langsung acara-acara seperti itu. Dirinya merasa malu, Farrel malu pada Tuhannya. Apakah orang yang suka mengeluh seperti dirinya layak untuk hadir di pengajian yang berisikan orang-orang sholeh?


Farrel masih merasa rendah sehingga memilih untuk diam-diam berubah tanpa menunjukkan pada semua orang.


Sayup-sayup terdengar penceramah sedang mengutarakan sebuah hadist yang diriwayatkan Bukhori dan Muslim bahwa orang yang perkasa bukanlah orang yang menang dalam perkelahian tetapi orang yang perkasa adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.


Sesaat itu Farrel teringat kembali pada Hanun, bukankah tadi Farrel marah?


Oh pengendalian dirinya masih bernilai nol dimata Alloh SWT ketika itu Farrel sadar dan menangkup wajahnya penuh sesal seraya beristighfar.


Ternyata masih jauh sekali keinginannya untuk menjadi orang yang benar. Lalu bisakah Farrel bertemu Sofia kelak?


Mampukah Farrel menampakkan wajahnya dihadapan Sofia? Tidak malukah Farrel?


Farrel masih perlu belajar dan mempelajari semua, semoga Farrel bisa.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2