
Dokter Arseno meringis sendiri merasa ngilu karena ditatap sinis oleh Fahira, padahal terakhir bertemu Hanun terlihat cukup ramah.
Saking lamanya ditatap seperti itu Dokter Arseno pun mengangkat tangannya dan membiarkan Fahira pergi. Setelah kepergian Fahira Dokter Arseno melihat ke kiri dan kanan dia berharap tidak ada yang melihatnya tadi bisa-bisa hancur reputasinya sebagai dokter di sini.
Sementara Fahira melanjutkan acara jalan-jalannya, dia berhenti di sebuah kantin dan memilih masuk ke sana. Fahira membeli banyak makan berupa snack dan juga roti tidak lupa air mineral dan jus dalam kemasan dia beli.
Fahira segera melanjutkan langkahnya menuju ke ruangan Farrel dia berharap bisa mengobrol dengan Hanun.
Hmm sepertinya ngobrol di bawah pohon itu asik, biar berasa lagi camping. Hihi.
Fahira membayangkan betapa serunya mengobrol berdua dengan Hanun di samping klinik. Fahira jadi teringat dulu ayahnya selalu membatasi dirinya untuk bermain apalagi pergi untuk acara-acara sekolah. Fahira selalu absen jika sekolah mengadakan acara. Fahira benar-benar tidak memiliki teman.
Fahira kesepian.
Tetapi kini dia sudah banyak berharap lebih pada Hanun. Dia berharap Hanun mau kembali bersama dengannya dan juga sang ayah.
Setelah sempat salah memasuki ruangan, kali ini akhirnya Fahira tidak salah membuka pintu. Di ruangan itu ada dua gadis yang tengah berbisik-bisik sambil menatapi pria yang sedang tidur di depan mereka.
Fahira berdehem membuat dua gadis itu menoleh. Fahira tersenyum dan mengangkat dua kantong kresek yang dibawanya.
Hanun dan Inda saling menatap kemudian Inda membalas senyuman Fahira.
Fahira berjalan mendekati Hanun dan Inda kemudian berkata, "kita camping di luar yuk!"
Hanun dan Inda kembali saling menatap mereka merasa heran dan ingin sekali menyentuh dahi Fahira yang mereka duga sedang panas.
"Ayo dong, nanti makanan ini mubazir."
"Tapi Mas Farrel?" tanya Inda ragu.
Fahira merotasikan kedua matanya jengah kemudian menatap Farrel. "Dia ini tidur bukan koma, nanti juga bangun sendiri. Ayolah ayo!"
Fahira akhirnya berhasil membujuk Inda dan Hanun untuk keluar dari ruangan itu. Mereka berjalan menuju ke samping klinik dimana terdapat sebuah pohon besar di sana.
Sementara Farrel yang terbangun beberapa menit yang lalu tersenyum geli karena kelakuan Fahira. Dia mendengar semua yang dibicarakan ketiga gadis itu.
__ADS_1
"Camping di klinik." Farrel tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
*
Di bawah pohon Mahoni Fahira dengan semangat menggelar tiga lembar kertas koran yang sengaja dia beli di kantin. Sang pemilik kantin awalnya tidak menjualnya karena itu koran untuk menutupi gorengan tetapi Fahira yang cerdik berhasil membuat alasan dan akhirnya koran itu menjadi miliknya.
"Nun, gak apa-apa nih kita duduk di sini?" Inda menatap pohon di depannya dengan tatapan ngeri.
Hanun juga bergidik membayangkan ada ular yang akan mematuk kepalanya. Spontan Hanun meraba kepalanya.
"Kok masih berdiri? Ayo duduk! Jarang-jarang loh aku melayani orang, biasanya aku yang dilayani."
Mendengar itu Hanun dan Inda mendadak merasa iba, mereka tahu mungkin saja Fahira kehilangan kebebasannya sehingga dia melakukan hal yang dianggap orang aneh. Contohnya seperti sekarang ini.
"Yuk Nun!" Inda sedikit menarik tangan Hanun kemudian memilih salah satu koran yang disediakan tuan putri.
"Agak-agak licin gitu ya," ceplos Hanun.
Hanun berkata seperti itu karena dia menduduki kertas koran yang sudah dipakai untuk menutupi gorengan. Sudah pasti ada minyak yang menempel di kertas itu.
"Gak apa-apa Nun, anggap aja itu lantai kamar mandi kamu yang belum disikat." Inda berkata sembari menahan tawanya.
"Jahira."
Hanun dan Inda menoleh ke arah Fahira yang tiba-tiba menyebut nama Jahira.
"Kamu gak marah lagi 'kan?" tanya Fahira.
Seketika Hanun diam, entahlah perasaan apa yang kini dirasakannya. Hanun memang marah tetapi dia juga takut salah. Semuanya belum terbukti kalau dia benar-benar bagian dari keluarga Fahira.
"Coba tanya temen kamu ini, kita mirip 'kan?" tanya Fahira kepada Inda.
Inda hanya mampu mengangguk karena memang dia melihat dua orang dengan wajah yang sama ada bersamanya saat ini.
"Kamu mau banget ya kita sodaraan?" Hanun menatap wajah Fahira yang memang seperti menatap dirinya sendiri.
__ADS_1
"Karena kita memang saudara. Kamu inget gak dulu kita sering camping-campingan begini di halaman belakang. Terus Papa nyariin kita di kamar gak ada, Papa panik terus nyuruh semua pelayan nyari terus ...."
"Cukup!" Hanun menyela ucapan Fahira karena saat ini kepalanya mulai berdenyut.
"Aku gak ingat semua itu, bahkan aku gak yakin pernah mengalami itu. Jadi stop membicakan masa lalu! Atau aku pergi." Hanun hendak berdiri tetapi Fahira segera memegang tangannya. Fahira tahu ini tidak segampang itu, dia akan berusaha lebih bersabar lagi.
"Makan dulu! Maafkan aku, aku tidak akan memaksa lagi."
Hanun pun menuruti keinginan Fahira dia mengambil salah satu makanan dan memakannya. Suasana sudah mencair kembali meskipun Fahira hanya menjadi figuran di sana sebab Hanun sibuk bercanda dengan Inda.
Mereka saling menyuapi bahkan tertawa bersama-sama. Fahira melihatnya sambil tersenyum.
Ingin sekali dia berada di posisi Inda saat ini. Apalah daya dia hanya dianggap orang asing oleh Hanun.
*
Setelah jamuan di bawah pohon, Inda berpamitan terlebih dahulu karena ada kelas siang hari ini.
Sementara Hanun membantu Fahira membereskan sisa-sisa pesta mereka.
Setelah semuanya beres mereka memutuskan untuk kembali ke ruangan dimana Farrel berada. Tidak ada percakapan yang berarti selama mereka berjalan menuju ruangan itu.
Hanun sangat enggan berbicara dengan Fahira karena dia masih belum menerima semua ini.
Beberapa saat kemudian mereka tiba di ruangan Farrel di sana ternyata sudah ada Pak Subagyo.
Pak Subagyo tengah mengobrol bersama Farrel yang kini terduduk di bangkarnya.
Awalnya Hanun ingin kembali keluar ruangan karena tidak ingin bertemu dengan Pak Subagyo tetapi Farrel memanggilnya dan ingin bicara padanya. Hanun pun menuruti Farrel dan berjalan menuju samping sebelah kanan di bangkar itu supaya tidak berdekatan dengan Pak Subagyo yang sedang duduk di samping bangkar sebelah kiri.
Pak Subagyo tersenyum menatap Hanun. Oh sungguh dia benar-benar rindu pada Hanun.
"Papa sudah tahu kamu terkena amnesia dari Farrel. Jadi Papa tidak akan memaksamu untuk mengingat apapun dimasa lalu. Tetapi Papa ingin kamu melihat masa depan, mari kita jalani masa depan itu bersama. Papa akan menggantikan masa-masa yang hilang dulu dengan masa depan yang lebih baik."
Beberapa saat Hanun terdiam kemudian menatap Farrel meminta pendapatnya. Kemudian Farrel mengangguk sembari tersenyum lebar.
__ADS_1
.
.