
Fahira masih tidak menyangka ayahnya akan berkata sekasar itu padanya. Setelah sampai di rumah Farrel, Fahira segera masuk ke dalam kamar membiarkan Hanun sendirian di ruang tamu.
Tidak lama kemudian Pak Subagyo dan Farrel tiba di rumah. Mereka sedikit terkejut melihat Hanun seorang diri duduk di sofa.
"Loh? Fahira mana?" tanya Pak Subagyo.
"Tadi dia pamit ke kamarnya," jawab Hanun.
"Dia memang seperti itu, Papa terlalu memanjakannya dia jadi tidak bisa menghargai orang lain. Papa minta maaf Rel atas sikap Fahira." Pak Subagyo kemudian duduk di samping Hanun.
Hanun tidak tahu kesalahan apa yang Fahira perbuat kepada Farrel. Hanun mulai merasa ada yang janggal saat ini.
"Papa jangan terus menyalahkan Fahira, dia mungkin masih belum terbiasa. Boleh aku susul dia?"
Eh ... Eh?
Hanun menatap Farrel yang masih berdiri menjulang di depannya. Apa katanya tadi? Menyusul Fahira ke kamar?
Pak Subagyo hanya bisa mengangguk, Farrel pun berjalan menuju ke kamar. Mata Hanun terbelalak dia tidak mengerti dengan keadaan yang sedang terjadi di hadapannya.
"Ke-ke ... Kenapa Farrel masuk ke kamar itu?"
Hanun sangat terkejut hingga sulit untuk berkata-kata. Pak Subagyo menoleh ke arah Hanun lalu tersenyum.
"Masih banyak yang belum Papa ceritakan padamu termasuk pernikahan Fahira dan Farrel."
Bagaikan diterjang air bah yang datang tiba-tiba, hati Hanun remuk redam. Harapan dan mimpi itu terbawa hanyut pergi entah kemana. Hanun sangat sangat terkejut dia mematung beberapa saat kemudian terburu-buru pamit pulang.
"Nak ... Nak ...." Pak Subagyo yang mengejar dan memanggilnya sampai keluar rumah tidak Hanun pedulikan. Hanun terburu-buru menyalakan mesin motornya dan melaju tanpa arah.
Beberapa kali Hanun menyeka air matanya yang mengucur deras begitu saja membuat pandangannya kabur. Hanun tidak percaya ini!
Betapa dia sudah menggantungkan harapannya kepada Farrel. Ingin segera mengungkapkan perasaan yang selama ini dia pendam. Namun kenapa?
Kenapa kenyataan yang begitu kejam menghantamnya hingga hati yang dulu berbunga kini hancur berserakan.
Sakit sekali.
"Aaaaa ...." Hanun berteriak sekeras mungkin untuk sedikit melegakan hatinya yang sangat sesak. Dia tidak peduli ini di jalanan Hanun tidak peduli.
__ADS_1
Hanun menepikan motornya di pinggir sungai besar. Dia meninggalkannya begitu saja, dia berlari menuju perairan itu. Setelah cukup dengan air Hanun menghentikan langkahnya dan memandang betapa derasnya laju air di hadapannya. Air itu seperti perasaannya saat ini yang hanyut tetapi tidak mau hilang.
Oh bodohnya.
Hanun merasa sangat bodoh, seharusnya dia tidak memberikan hatinya begitu saja pada sembarang orang. Bodoh!
Hanun berjongkok dan menundukkan kepalanya dia memeluk erat dirinya sendiri sembari terisak meratapi kenyataan yang tidak berpihak kepadanya.
*
Sementara itu Farrel yang sudah memasuki kamar, melihat Fahira di depan jendela. Fahira menatapi pesawahan yang sudah mulai menguning di depan matanya. Dia menoleh ke arah Farrel dengan tatapan yang sengit.
"Puas kamu?" tanya Fahira sarkas.
Farrel berjalan untuk mendekati Fahira yang terlihat kembali menitikkan air mata.
Setelah berada tepat di depan Fahira, Farrel berhenti berjalan kemudian berkata, "mari terima takdir ini bersama-sama."
Fahira berdecih kemudian kembali menatap pesawahan. "Sebenarnya apa maumu? Benar kata Papa lelaki mana yang bisa berlapang dada menerima pezinah seperti aku Pezinah seperti aku!" Fahira menaikkan volume suaranya diakhir kalimatnya. Dia sungguh ngilu dengan predikat yang kini memang disandangnya sebagai seorang yang nerdosa besar.
Fahira membiarkan deraian air matanya karena kalimat itu tadi terlontar dari mulut ayahnya sendiri.
"Tuhan telah membimbingku untuk menerimamu. Aku akan berusaha menjadi suami yang baik walau belum tentu bisa mencitaimu. Karena seseorang sudah terlanjur membawa hatiku pergi."
Fahira menatap Farrel walau kini pandangannya tertutupi kabut air mata.
"Apa maksud kamu Sofia?"
Farrel terkejut karena Fahira mengetahui hal tentang Sofia. Apa Uwa yang memberitahunya?
"Iya."
Fahira tersenyum kecut pantas saja tadi Farrel sampai menyebut nama itu beberapa kali dalam tidurnya. Ternyata sedalam itu rasa cintanya kepada orang itu.
"Sofia adalah istriku yang meninggal beberapa tahun yang lalu. Aku memperlakukannya dengan sangat tidak baik diawal pernikahan. Kemudian Tuhan menegurku dan memanggilnya pergi meninggalkanku. Aku yang sangat sombong karena menyia-nyiakannya kemudian kehilangannya sebelum sempat memperbaiki semuanya. Untuk itu, aku tidak akan melakukan halnya sama untuk kedua kalinya. Aku akan menerima ikatan suci kita dan menjadikan kamu istriku yang sesungguhnya."
"Bagaimana jika aku tidak mau?" tanya Fahira.
"Kamu harus mau ... Karena aku tidak akan melepaskanmu." Farrel berkata dengan sungguh-sungguh kemudian berlalu keluar kamar yang terasa semskin sempit itu. Setiap kali teringat Sofia hatinya akan sesak.
__ADS_1
Fahira menatap punggung Farrel yang perlshan lenyap dibalik pintu.
Ini semua gara-gara Ammar! Karena dia aku tidak bebas menentukan kehidupanku sendiri. Aku sangat membencimu lelaki sialan.
*
Di tepi sebuah sungai, Hanun masih meratapi nasibnya. Walau kini air matanya telah mengering namun hatinya masih belum sembuh. Dia melempar batu kecil ke tengah-tengah sungai beberapa kali. Dia memutuskan melawan arus, dia tidak ingin terbawa perasaan terlalu jauh. Namun bisakah dia menerima ini semua?
Hanun berdiri kemudian berjalan menuju motornya. Hanun akan pulang karena hari sudah mulai menggelap.
Ditengah perjalanan pulang, motor Hanun melaju tersendat-sendat. Hanun menyadari apa yang terjadi, dia tidak mengisi bensin hari ini. Benar saja bahan bakar di motor itu habis, Hanun melihat sekeliling mencari tukang bensin yang mungkin ada di pinggir jalan. Tetapi yang Hanun lihat hanya pohon dan pohon.
Jalanan ini sangat sepi, hati yang hancur itu telah membawanya pergi dan tidak tahu arah. Dimanakah ini?
Hanun mendorong motornya berharap di depan sana ada tanda-tanda kehidupan. Remang-remang dari kejauhan Hanun melihat sorot lampu mobil. Dia menghentikan langkahnya dan memilih untuk meminta tolong daripada dia harus berada di tempat sepi seperti ini.
Hanun melambaikan tangannya membuat mobil putih itu berhenti. Hanun tersenyum lega kemudian menghampiri pintu kemudi.
Kaca mobil kemudian terbuka menampilkan seseorang yang mungkin dikenalnya.
Hanun terpaku di tempatnya karena melihat Dodo dibalik kemudi itu.
"Bang?"
"Siapa Do?" Tiba-tiba suara seorang perempuan terdengar di kursi penumpang.
Dodo tidak menjawab pertanyaan itu, dia sibuk memperhatikan Hanun yang berpenampilan kusut.
"Kamu ngapain di sini Nun?" tanya Dodo.
"Aku sepertinya tersesat." Hanun menundukan kepalanya. Ini sungguh memalukan.
"Nyonya apa boleh saya menolongnya, dis tersesat."
Nyonya yang dipanggil oleh Dodo hanya mengangguk untuk mengiyakan.
Hanun pun akhirnya ikut menumpang di mobil itu. Sementara motornya akan dibawa oleh seseorang yang ditelepon oleh Dodo.
.
__ADS_1
.