SETELAH KAU PERGI ~Story About Farrel~

SETELAH KAU PERGI ~Story About Farrel~
JEMBATAN PENGHUBUNG


__ADS_3

Farrel dan Dokter Arseno masih berbincang siang itu, mereka membicarakan banyak hal. Karena umur mereka yang tidak terpaut jauh menjadikan mereka akrab begitu cepat. Dokter Arseno dua tahun lebih muda dari Farrel, hal itu membuat Farrel nyaman mengobrol dengannya begitu pun sebaliknya.


"Bagaimana kabar Nona Hanun?" tanya Dokter Arseno.


Farrel yang hendak menyuapkan makanan ke dalam mulutnya kembali menyimpan makanannya ke atas piring.


"Sepertinya baik, Dokter tenang saja dia bukan wanita yang lemah."


"Bagaimana dengan sakit kepalanya?" tanya Dokter Arseno lagi.


Farrel menggaruk tengkuknya dia bingung harus menjawab apa, sementara hubungannya dengan Hanun tidak sedekat itu. "Saya kurang tahu, saya jarang bertemu dengan dia."


Dokter Arseno mengangguk tanpa ekspresi, Dokter Arseno memang agak pendiam dan tidak pandai berbasa-basi sehingga dia tidak banyak memiliki teman. Bahkan sebulan di klinik, dia tidak pernah bertegur sapa dengan rekan kerjanya.


Namun sesuatu yang berbeda terjadi ketika dia mulai mengenal Farrel, entah apa yang membuatnya nyaman. Bahkan beberapa kali menemui Farrel hanya untuk menanyakan kabar Hanun.


Tunggu! Apa ini gara-gara Hanun?


Sepertinya Dokter Arseno memang tertarik dengan gadis itu, buktinya dia peduli padanya dan selalu ingin tahu kabar terbarunya.


Dokter Arseno menjadikan Farrel sebagai jembatan yang menghubungkannya dengan Hanun. Naif memang tetapi itulah kenyataannya.


"Dokter bisa tanya langsung pada orangnya, dia bekerja di toko buku Lintang di pusat kota." Farrel memberikan saran kepada Dokter Arseno untuk menemui Hanun.


Sang dokter tidak menjawab, dia mulai sibuk mengunyah makan siangnya.


*


Toko buku Lintang.


Sore ini, Hanun membantu Retno menutup toko. Hanun menyapu lantai sebelum mengunci toko tiba-tiba pintu toko terbuka. Nampak lelaki berkacamata dengan pakaian rapi masuk ke dalam toko.


"Maaf kami sudah tutup." Hanun menghampiri orang itu.


"Saya ke sini untuk menemui pasien saya."


Hah?


Hanun menyipitkan matanya karena heran. Kemudian matanya mulai menelisik wajah itu yang ternyata pernah dilihatnya.


"Saya Arseno, dokter di klinik Harapan."


Hanun membulatkan mulutnya tanpa bersuara tetapi dia baru ingat ucapan dokter itu.

__ADS_1


*Menemui pasien*?


Bukankah itu berarti Dokter Arseno ingin menemuinya. Buat apa?


"Dokter ingin menemui saya?" tanya Hanun.


Dokter Arseno mengangguk kemudian tanpa di suruh duduk dikursi yang biasa dipakai pengunjung ketika membaca buku.


"Apakah kamu sudah ke rumah sakit?"


Boro-boro ke rumah sakit, mantai aja dibayarin.


"Belum Dok."


Dokter Arseno menatap Hanun sekilas kemudian menyimpan kepalan tangan di bibirnya.


Sesaat hening, Hanun masih menelisik sikap Dokter Arseno yang masih mematung di tempatnya. Dokter Arseno kemudian berdiri begitu saja membuat Hanun terlonjak kaget.


Monyong! Untung gak jantungan.


Hanun menggerutu dalam hati saking kagetnya.


"Kalau begitu saya pergi." Dokter Arseno berlalu meninggalkan Hanun yang masih melongo di tempatnya.


Baru kali ini Hanun bertemu orang yang super-super tidak ada kerjaan versi dirinya. Setelah puas menggerutu, Hanun kembali menyelesaikan pekerjaannya dan segera menutup toko.


*


Pukul sebelas malam, Farrel baru pulang ke rumahnya. Dia sangat kelelahan karena hari ini bengkelnya ramai. Bahkan masih ada beberapa truk yang belum tertangani tetapi sungguh badannya sudah tidak kuat lagi. Farrel memutuskan untuk pulang dan mandi, dia ingin segera menyapa bantalnya dan terlelap dikehangatan selimutnya.


Setelah berganti pakaian, Farrel merebahkan badannya di atas kasur kedua tangannya dia lipat ke belakang kepala. Dia teringat bahwa seminggu lagi dia akan menikah.


Apa ini benar?


Farrel mendadak ragu dengan keputusannya, tetapi sekali lagi ini semata karena Alloh. Akhirnya Farrel menyerah dengan keadaan dan tertidur pulas meninggalkan jam dinding yang terus berdetak.


*


Waktu seminggu sungguh tidak terasa, hari bahagia Farrel tinggal satu hari lagi. Namun mengapa bengkelnya semakin ramai saja. Niatan untuk pulang hari ini dia urungkan dan memutuskan untuk pulang setelah pekerjaannya selesai.


Sore itu, Farrel masih bekerja padahal besok dia akan menikah. Uwa sudah beberapa kali menghubunginya begitu pun dengan Pak Subagyo. Calon mertuanya itu mulai merasa cemas karena sejak pagi Farrel tidak dapat dihubungi.


Fahira hanya tersenyum mengejek ayahnya.

__ADS_1


"Papa, ngapain sih repot-repot ngadain acara begini? Nyatanya nanti Papa kena prank."


Pak Subagyo tidak memperdulikan ocehan Fahira, dia masih sibuk mengotak-atik ponselnya berharap Farrel segera menjawabnya.


Bukan hanya Pak Subagyo yang cemas, Uwa pun merasakan hal yang sama dia heran mengapa ponsel Farrel tidak aktif. Itu tidak seperti biasanya.


"Gimana ini Mad? Kenapa Farrel gak bisa dihubungi begini? Ibu takut terjadi apa-apa."


Ahmad sama cemasnya dengan Uwa tetapi dia mencoba tenang dan berusaha menenangkan ibunya.


*


Farrel menyelesaikan pekerjaannya sebelum magrib, setelah itu dia pamit pulang tanpa memberitahu bahwa dia akan menikah. Seperti biasa dia mempercayakan bengkelnya kepada Suryo dan Kartino.


"Tumben Bos pulang kampung terus? Biasanya setahun sekali itu pun jarang." tanya Kartino.


"Saya ada urusan di sana. Saya percayakan bengkel pada kalian dan maaf mungkin beberapa hari atau minggu saya tidak membantu kalian."


"Hish Bos 'kan bos, duduk manis aja terima uang biar kita yang kerja. Iya gak Yo?" Kartino menyenggol Suryo dan tertawa.


Suryo hanya mengangguk mengiyakan ucapan Kartino.


Setelah berpamitan, Farrel pulang ke rumahnya. Di sana dia langsung menyambar kunci mobilnya.


Farrel memutuskan untuk membawa kendaraan supaya lebih cepat sampai daripada menaiki kendaraan umum.


Farrel menghidupkan mesin mobil untuk menghangatkannya karena mobil miliknya itu jarang sekali dia pakai, jadi butuh beberapa pengecekkan. Setelah itu Farrel kembali ke dalam rumah untuk menunaikan solat magrib sembari berdo'a supaya diberi kelancaran dalam segala hal.


Ternyata Farrel memutuskan untuk berangkat setelah sholat isya sambil menunggu waktu Farrel berdzikir sebisanya.


Setelah semua selesai, barulah Farrel menaiki mobilnya dan bersiap pergi.


Do'a-do'a keselamatan dia ucapkan sepanjang perjalanan. Farrel memacu mobilnya dengan kecepatan sedang membelah jalanan menuju kampung halamannya.


Perjalanan Farrel sangat lancar sampai dia tiba di perbatasan kota kelahirannya sebelum subuh. Farrel tersenyum lega karena yakin dia akan tiba tepat waktu.


Namun dugaan Farrel salah, karena setelah solat subuh jalanan menjadi agak ramai. Cahaya samar-samar mulai menerangi bumi, perlahan perjalanan Farrel tersendat.


Hilir mudik kendaraan mulai memperlambat lsju kendaraan Farrel dan ketika tiba di ousat kota ternyata jalanan macet parah. Mobil Farrel tidak dapat bergerak sama sekali kemudian dia mengambil ponsel untuk melihat jam. Ternyata ponselnya mati karena kehabisan daya.


Farrel baru sadar dari kemarin dia tidak mengecek ponselnya. Farrel menjadi sedikit cemas karena tahu pasti banyak orang yang saat ini mengkhawatirkannya.


.

__ADS_1


__ADS_2