
Pak Subagyo dan Fahira sedikit terkejut dengan kenyataan Farrel yang merupakan yatim piatu.
"Jadi Farrel yatim piatu? Tetapi Farrel sangat beruntung dibesarkan oleh Uwanya. Saya yakin Anda mendidiknya dengan baik sehingga Farrel bisa jadi orang baik."
"Itu tidak semuanya benar," Uwa melirik Ahmad yang hanya terdiam. "Farrel didewasakan oleh keadaan. Farrel bisa jadi seperti sekarang ini karena peran mendiang istrinya. Dia begitu berjasa merubah kepribadian Farrel. Saat Farrel kehilangan istrinya, saya takut Farrel tidak bisa lagi membuka hatinya untuk orang lain. Tapi ternyata saya salah, Farrel mampu berdiri lagi dan sekarang melamar anak orang. Itu sebabnya saya ucapkan terimakasih kepada Nak Fahira. Karena sebelumnya Farrel seperti tidak ingin menikah seumur hidupnya." Uwa mengatakan hal tentang Farrel dengan senyuman yang terukir indah.
Fahira dapat merasakan bahwa Farrel mencintai mendiang istrinya sangat besar. Fahira jadi bertanya-tanya seperti apakah orang yang bernama Farrel itu?
Ah tidak!
Dia pasti hanya ingin memanfaatkannya.
Fahira kembali menampik kemungkinan-kemungkinan bahwa Farrel orang baik. Dia masih yakin dengan pendiriannya bahwa Farrel orang yang munafik.
"Wah ternyata kisah hidup Farrel sangat berliku ya, saya tidak menyangka karena itu tidak nampak ketika saya bertemu Farrel."
Pak Subagyo menatap Fahira yang sejak tadi tertunduk, "apakah Farrel sudah menceritakan tentang anak saya kepada Anda?"
"Dia mah jarang ngobrol, bicara dengan saya selalu pada intinya saja. Dia cuma bilang tolong lamarkan putri Bapak, udah begitu saja." Uwa tertawa kecil menceritakan awal mula Farrel memintanya untuk melamar Fahira.
"Oh seperti itu ... Sebenarnya Fahira baru saja melahirkan."
Uwa dan Ahmad saling menatap secara bergantian.
"Saya sudah putus asa, tetapi Farrel tiba-tiba datang dan menyelamatkan saya dari keputus asaan itu. Fahira hamil diluar nikah."
Uwa dan Ahmad sangat terkejut, Uwa mengalihkan pandangannya kepada Fahira yang masih menunduk memainkan jari dipangkuannya.
"Saya tidak ingin ada rahasia diantara keluarga kita dan tidak ingin ada penyesalan dikemudian hari."
"Jika Farrel sudah memutuskan pasti keputusan itu yang terbaik. Saya sepenuhnya mendukung keponakan saya, jika Farrel menerima Nak Fahira apa adanya berarti kami pun akan menerimanya dengan tangan terbuka."
Fahira tidak menyangka dengan ucapan Uwa barusan. Dia tidak menduga keluarga Farrel akan menerimanya.
Tidak! Pasti mereka sengaja karena ingin harta.
Sementara Pak Subagyo tersenyum bahagia dan lega karena Fahira akan memiliki keluarga baru yang baik.
"Tetapi maaf Pak, saya kemari tidak bawa apa-apa." Uwa kembali murung.
__ADS_1
"Tidak bawa apa-apa gimana? Ini 'kan bawa." Pak Subagyo mengambil salah satu kue bolu dari atas meja, dia menggesernya tepat kehadapannya.
"Hanya kue sederhana, Pak."
"Eh ini 'kan bolu kesukaan kamu, Ra." Pak Subagyo membuka wadah kue bolu itu dan terlihat kue bolu polos tanpa hiasan warnanya coklat dan putih perpaduan antara cokelat dan keju.
"Fahira suka sekali sama kue yang ada campuran cokelat dan kejunya."
Fahira melihat kue itu kemudian menatap Uwa yang terlihat sesekali menunduk. "Wah iya bener, ini pasti enak Pa. Boleh saya makan Bu?"
Uwa mengangkat kepalanya dan mengangguk sambil tersenyum kemudian berkata, "panggil saya Uwa, seperti Farrel memanggil Uwa."
Fahira tersenyum dan mengangguk kemudian memotong kue itu dan memakannya dengan lahap tanpa malu.
"Satu lagi Nak, ini ada gamis. Simpan saja sebagai kenang-kenangan." Uwa menyerahkan paper bag berisi gamis yang dibelinya secara mendadak kepada Fahira.
"Terimakasih."
Mereka berbincang-bincang selama hampir satu jam sampai akhirnya Uwa dan Ahmad berpamitan pulang.
Setelah kepergian Uwa dan Ahmad, Fahira segera berlalu untuk pergi ke kamarnya tetapi Pak Subagyo menahannya.
Fahira hanya mengangguk dan bergegas pergi ke kamar. Tiba-tiba tangisan bayi kembali terdengar, Fahira tidak peduli dan memilih mengunci pintu kamarnya supays tidak ada yang mengganggunya.
*
"Apa Ibu baik-baik saja?" Ahmad bertanya kepada ibunya setelah setengah perjalanan mereka lalui untuk pulang. Ahmad khawatir melihat ibunya yang diam sejak pulang dari rumah Pak Subagyo.
"Kenapa nanya seperti itu Mad? Ibu gak apa-apa."
"Terus kenapa Ibu diam saja dari tadi? Apa Ibu menyesal melamar Fahira untuk Farrel?"
"Bukan seperti itu, Mad. Hanya saja Ibu tidak menyangka Farrel melakukan ini. Kita tahu sendiri dulu Farrel orangnya mana peduli sama orang lain, tapi sekarang? Ibu jadi kangen Sofi." Uwa menyeka sedikit air mata yang tiba-tiba merangsek keluar.
"Seperti yang Ibu bilang tadi sama Pak Subagyom Mungkin ini sudah jodohnya Farrel."
Uwa mengangguk mengiyakan ucapan Ahmad.
Uwa sangat ingin berterimakasih pada Sofia karena dia telah merubah keponakan kesayangannya menjadi lebih baik.
__ADS_1
*
Sementara di Pulau Jawa bagian tengah, Farrel yang sedang sibuk dengan pekerjaannya menerima kabar bahwa Uwa sudah pergi ke rumah Fahira. Hal itu membuatnya menyunggingkan seulas senyum.
Farrel menyimpan kembali ponselnya dan memakai sarung tangannya kembali. Dia akan memasang leaf spring atau per daun pada sebuah truk. Dongkrak sudah disiapkan dengan terampil Farrel memasang bagian-bagian per daun. Tidak lupa juga hollow spring dia gunakan untuk menjadi bantalan pencegah bentrokan antar per.
Meski memiliki tujuh orang pegawai tetapi Farrel selalu membantu mengerjakan pergantian per itu sendiri. Apalagi minggu-minggu ini bengkelnya selalu ramai. Farrel ikut terjun untuk membantu untuk mengejar waktu.
"Bos istirahat dulu!" teriak Kartino.
Farrel mengangguk dan berkata, "kalian istirahatlah dulu! Saya masih harus memasang ini."
Suryo mendekati Farrel berniat membantu tetapi Farrel menolaknya dan menyuruh Suryo untuk beristirahat.
Ketika semua pegawainya keluar bengkel untuk beristirahat, Farrel masih berkutat dengan pekerjaannya.
Tiba-tiba dari arah luar terdengar salam, Farrel pun menghentikan pekerjaannya dia berjalan menghampiri si pemberi salam sambil melepas sarung tangannya.
"Waalaikumsalam, Eh Dokter? Duduk Dok! Sebentar, saya ganti baju dulu."
Farrel terkejut ternyata Dokter Arseno mengunjungi bengkelnya, setelah mempersilahkan duduk Farrel bergegas masuk ke dalam bengkel untuk berganti pakaian.
Tidak lama kemudian Farrel sudah sedikit rapi dan bersih dari sebelumnya. Untuk kenyamanan, Farrel memutuskan mengajak Dokter Arseno ke restoran di dekat sana untuk makan siang.
Dokter Arseno dan juga Farrel kini duduk saling berhadapan tersekat meja persegi di depan mereka. Sambil menunggu makanan pesanan mereka Farrel memulai pembicaraa. "Tumben Dokter datang ke bengkel."
"Saya tidak punya teman mengobrol untuk menghabiskan waktu istirahat," kata Dokter Arseno.
"Lah? Saya kira ada hal penting." Farrel tertawa. Farrel tahu dokter muda itu adalah dokter pengganti di klinik itu, terhitung baru sekitar sebulan lebih Farrel melihatnya ada di klinik.
"Apa saya ganggu?" tanya Dokter Arseno.
"Tentu tidak, Dok. Saya malah senang berbaur dengan orang-orang sekitar. Apalagi seorang dokter seperti Anda."
Dokter Arseno tersenyum mendengar penuturan Farrel.
.
.
__ADS_1