SETELAH KAU PERGI ~Story About Farrel~

SETELAH KAU PERGI ~Story About Farrel~
DETIK-DETIK MENUJU KERUMITAN


__ADS_3

Setelah berjamaah sholat magrib di panti, Inda berpamitan untuk pulang. Dia menunggu angkutan umum di pinggir jalan, seharusnya Inda memesan ojeg online atau semacamnya tapi aplikasi itu tiba-tiba menghilang dari ponselnya. Alhasil dia harus bersabar berdiri menanti.


Sebuah motor tiba-tiba berhenti tepat di depan Inda. Sang pengendara membuka kaca helm berwarna merah itu.


"Nunggu angkot?" tanyanya.


Inda yang sedikit kaget mengangguk cepat sambil melihat-lihat ke arah jalanan.


"Biar saya antar. Bu Tiwi khawatir sama kamu dan menyuruh saya untuk mengantarmu pulang."


Eh?


Inda menatap dan menyelidik ternyata dia Farrel hampir saja dia lari ketakutan karena orang tidak dikenal.


"Biar saya naik angkot saja." Inda masih dengan keinginannya naik angkot.


Farrel tiba-tiba turun, dia membuka bagasi motornya dan mengambil helm cadangan dari sana.


"Pakai ini! Jangan membuang waktu saya!" Farrel memberikan helm itu kepada Inda.


"Tidak, terimakasih."


Farrel menatap Inda dengan sengit, "ini perintah Bu Tiwi ... kalau bukan karena beliau saya juga tidak ingin repot-repot seperti ini."


Tidak sempat Inda menjawab lagi, Farrel meletakkan helmnya di tanah kemudian naik dan menghidupkan mesin motornya.


"Ayo!" Kata itu bagai perintah sehingga mau tidak mau Inda menurutinya dan menaiki motor Farrel.


Duduk di belakang seorang pria seperti Farrel ternyata mampu membuat Inda tersenyum samar. Entah apa yang dirasakannya yang jelas saat ini jantungnya berdebar tidak karuan.


Menyusuri jalanan yang belum terlalu gelap nyatanya berkesan manis bagi Inda. Walau duduk berjauhan Inda masih mampu menghirup minyak wangi yang Farrel kenakan. Wanginya bagai candu yang semakin lama semakin ingin dihirupnya dekat-dekat.


Tanpa sadar, kini Inda duduk hampir melekat pada punggung Farrel. Oh ada magnet apakah di sana?


Untung saja sebelum Farrel menyadarinya Inda sudah sadar dan menjauh. Inda menggeleng-gelengkan kepalanya mengusir setan yang menghasutnya.


"Dimana alamatmu?" tanya Farrel setelah agak lama berkendara.


Eh.


"Ehm di sini belok kiri, nanti ada mesjid Al-Hidayah." Inda menjawab dengan gugup.


Hening ... hanya ada deru kendaran yang saling bersahutan menemani perjalanan itu.


"Ini mesjid Al-Hidayah?" tanya Farrel lagi.

__ADS_1


Inda menatap sekeliling, "eh iya udah nyampe, saya turun di sini saja."


"Biar saya antar sampai depan rumah."


"Tapi sudah dekat kok, itu gang yang ada post ronda kostan saya." Inda tidak tahu mengapa dirinya gugup dan tidak ingin Farrel tahu tempat tinggalnya tetapi hal itu terlambat Farrel sudah membelokkan motornya menuju gang yang Inda tunjuk.


Seperti biasa di pos ronda itu selalu ada Ruli dan teman-temannya mereka sedang asik berbincang sembari bermain catur. Seketika perhatian semua orang di pos ronda itu beralih pada Farrel dan Inda.


Bahkan salah satu dari mereka melempar cangkang kacang tanah dan mengenai tangan Farrel.


Farrel tidak peduli dan terus melaju.


"Wah sial ada orang baru masuk sini." Salah seorang dari berandalan itu berkacak pinggang sambil berdiri memelototi motor Farrel yang berlalu.


Ruli meremas bungkus rokok di tangannya, "kita sikat dia."


"Jangan sekarang! Kita cegat aja nanti kalau dia balik lagi."


"Eh bukannya itu cewek yang kita kerjain waktu itu ya? Berani juga ya dia bawa cowok."


Entah mengapa perkataan temannya membuat Ruli murka dan tidak suka dia membalikkan papan catur di hadapannya dengan kasar sehingga anak catur yang ada di atasnya berserakkan kemana-mana.


"Hei ... hei sabar nanti kita cari tahu." Salah satu temannya berusaha menenangkan Ruli yang terlihat menahan amarahnya.


*


Setelah membuka helm dan memberikannya kepada Farrel, Inda bersiap membuka pagar rumah tetapi Farrel menghentikannya.


"Kamu tinggal di lingkungan seperti ini?"


Inda berbalik badan dan melihat Farrel yang sudah duduk santai di atas motornya sambil memangku helmnya. Ah itu terlihat keren dimata Inda.


"Di sini kostan terdekat menuju kampus."


"Gak ada niatan pindah gitu? Sebaiknya cari tempat tinggal yang lebih nyaman, lingkungan yang baik. Saya khawatir kamu sendirian di sini, jadi pertimbangkan saran saya ya. Kalau begitu saya permisi pulang. Assalamualaikum." Farrel tersenyum diakhir kalimatnya yang membuat jiwa Inda serasa melayang.


Apakah ini?


"Waalaikumsalam." Inda masih terpaku memandangi Farrel yang menjauh dengan motornya. Beberapa detik kemudian Farrel berbalik arah dan kembali menemui Inda.


Inda menjadi salah tingkah dibuatnya dia gelagapan karena tertangkap basah mencuri-curi pandang.


Farrel menghentikan motornya, "untung kamu belum masuk." Farrel kembali tersenyum.


Tetapi Inda sulit mengartikan arti senyuman itu sehingga dia terdiam di tempatnya.

__ADS_1


"Saya mau minta tolong, bisakah besok kamu menemani saya mencari buku untuk anak-anak panti? Kata Bu Tiwi kamu sering membacakan anak-anak buku, jadi saya rasa kamu tahu selera anak-anak. Bagaimana?"


Inda hampir membuka mulutnya takjub dengan permintaan Farrel, ia pun mengiyakan dengan senang hati. Setelah itu Farrel benar-benar pergi meninggalkan taman bunga yang sedang bermekaran di hati Inda, kupu-kupu berdatangan menggelitik jantungnya. Inda hampir melompat-lompat karena bahagia.


*


Saat akan melewati pos ronda, jalanan yang sempit itu dijadikan tempat bermain kartu oleh para berandalan. Sepertinya mereka sengaja menghadang Farrel.


Farrel memencet klakson beberapa kali namun tidak digubris oleh orang-orang itu. Mereka berpura-pura tidak mendengar.


Farrel terpaksa turun dari motornya dan mendekati gerombolan itu.


"Permisi ... bukankah ini jalanan?" kata Farrel sarkas.


Para berandalan itu menatap Farrel bersamaan. "Kalian denger suara gak?"


"Ada. Tapi suara kucing." Berandalan itu tertawa terbahak-bahak mencoba memancing Farrel.


Farrel hanya menggelengkan kepalanya karena kelakuan mereka. "Maaf saya numpang lewat."


"Eh dia numpang-numpang dikira lagi lewat kuburan." Mereka kembali tertawa.


Akhirnya Farrel terpancing juga dia menyalakan lampu motornya dan menyorot wajah salah satu dari orang-orang yang sedang tertawa itu.


Ruli seketika bangkit dari duduknya tatkala lampu itu menyilaukan matanya. Dia berjalan mendekati Farrel kemudian mencengkram kerah jaket yang dikenakan Farrel. Menilik setiap inci wajah di hadapannya kemudian meludah ke samping.


"Dengar baik-baik! Jangan pernah berani lagi datang ke kompleks ini!" Ruli mengancam dengan beringas.


"Kenapa?" tanya Farrel santai.


Ruli menyentak jaket milik Farrel dengan keras. "Karena ini daerah kekuasaan kita."


"Baru tahu ada kerajaan lain selain Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat di sini." Masih dengan santainya Farrel meladeni Ruli yang menggebu-gebu.


"Ngelunjak dia! Sialan!" Salah satu dari teman Ruli mendekat dengan emosi yang sudah membumbung.


Ruli hendak melayangkan tinjunya ketika adzan isya berkumandang di mesjid Al-Hidayah. Seiring dengan itu satu persatu orang mulai keluar dari rumah dan berbondong-bondong menuju mesjid. Jalanan yang tadi sepi mendadak ramai sedikit demi sedikit, Ruli melepas Farrel dan mendorongnya dengan kasar. Dia dan teman-temannya segera membubarkan diri dan pergi begitu saja.


Farrel bernafas lega, setidaknya dia tidak perlu mengeluarkan jurus kodok ngorek miliknya untuk menghadapi mereka. Farrel percaya bahwa Alloh Subhanahuwataala akan senantiasa melindunginya.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2