SETELAH KAU PERGI ~Story About Farrel~

SETELAH KAU PERGI ~Story About Farrel~
ROH JAHAT


__ADS_3

"Karena sebenarnya kamu memiliki saudara kembar. Hal itu tidak terbantahkan karena kamu memang serupa dengan anak yang ada bersama Pak Subagyo." Farrel berkata dengan tegas, entah harus bagaimana menjelaskan situasi ini kepada Hanun.


Hanun menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang dikatakan Farrel. "Di dunia ini yang mirip bukan berarti kembar, sudahlah lebih baik kalian pulang!"


"Papa yakin kamu anakku! Apalagi setelah Papa melihat itu ...." Pak Subagyo menunjuk boneka usang yang disimpan Hanun di tumpukkan barangnya yang tidak sempat dia bereskan di sudut ruangan itu.


"Boneka itu khusus Papa pesan di toko boneka untuk ulang tahun kamu dan Fahira. Hanya ada dua boneka seperti itu di dunia karena Papa memesan agar tidak ada yang menyamainya."


Boneka?


Hanun mulai merasakan denyut di kepalanya, Hanun tidak ingin terlihat lemah di sini. "Farrel ... Aku mohon, pergi! Pergi kalian!"


Hanun berjalan cepat menuju ke arah pintu dan membukanya lebar-lebar. Pak Subagyo berdiri mencoba mendekati Hanun, tetapi Hanun menjauh dan mengangkat tangannya. Betapa Hanun sedang menahan sakit dikepalanya sekarang.


"Papa sangat merindukanmu, Nak." Pak Subagyo tidak kuasa menahan air matanya yang kini mengucur deras menuruni pipinya yang sudah mulai mengendur.


Hanun sedikit tersentuh dibuatnya kemudian dia menurunkan kedua tangannya dan berkata, "Beri aku satu bukti lagi! Mungkin aku akan mempertimbangkannya."


Pak Subagyo menatap Hanun dan mengangguk yakin, "Papa akan bawa Fahira ke sini."


Hanun mengangguk kemudian tangannya dia pakai untuk mempersilahkan tamunya keluar. Pak Subagyo tidak bisa memaksa, dia yakin setelah bertemu dengan Fahira, Hanun pasti akan percaya.


Akhirnya Pak Subagyo bersama Farrel dan Yunus keluar dari rumah Hanun. Setelah memastikan semua orang telah keluar, Hanun segera menutup pintu dan menguncinya kemudian terduduk sambil memegangi kepalanya yang saat ini benar-benar sakit. Hanun menangis sejadi-jadinya dan mencengkeram rambut indahnya berharap rasa sakit itu berkurang.


Sementara Pak Subagyo yang belum benar-benar pergi mendengar tangisan Hanun ingin rasanya Pak Subagyo kembali masuk. Namun Farrel mencegahnya, "Biarkan Hanun sendiri dulu. Mungkin dia terkejut karena semuanya serba mendadak."


Pak Subagyo mengangguk dan berjalan gontai dan menjauh dari rumah Hanun. Farrel memesan taxi online untuk mengantar mereka pulang ke rumahnya.


*


Setelah sampai di rumah, Farrel mempersilahkan Pak Subagyo dan Yunus untuk masuk. Mereka duduk di sofa.


"Nus, pesankan tiket untuk Fahira supaya besok dia datang kemari!"


Yunus mengangguk dan segera mengotak-atik ponselnya, sedetik kemudian dia kembali menatap majikannya.


"Apa tidak sebaiknya dilakukan tes DNA, Pak?"

__ADS_1


Pak Subagyo menatap Yunus, pancaran matanya menggambarkan kesedihan dan juga kepasrahan. "Saya percaya dia memang Raihanunku, sudah aku bilang tadi bahwa selain wajahnya yang mirip dengan Fahira ternyata ada boneka itu di sana. Jahira masih menyimpan boneka itu, asal kamu tahu boneka itu limited edition. Orang lain tidak mungkin memilikinya. Oh satu lagi, saya tahu persis kebiasaan Jahira dari kecil ternyata sampai besar begini dia masih melakukannya. Jadi, apa kamu fikir insting seorang ayah itu bisa salah?"


Yunus menggeleng dan melanjutkan niatnya untuk memesankan tiket agar Fahira bisa datang besok.


Sementara Farrel hanya menyimak karena saat ini dia merasakan tubuhnya remuk redam. Ah dia harus kuat!


Semangat Farrel.


*


Keesokan paginya Fahira terbangun dan tertawa bahagia karena tidak mendapati Farrel di rumahnya. Tetapi anehnya, sang Papa juga menghilang.


Setelah membersihkan diri, Fahira turun ke lantai bawah untuk sarapan. Di meja makan yang sangat besar itu sudah tersedia roti beserta selai kesukaannya, tidak lupa susu hangat yang selalu menemaninya sarapan setiap pagi.


Fahira akui, rumah sebesar ini kadang membuatnya kesepian. Untuk itu dulu dia selalu mencari keramaian di luaran hingga akhirnya bertemu dengan Ammar si pecundang itu. Ah Fahira jadi tidak berselera makan, dia menyimpan kembali roti yang hampir dia masukkan ke dalam mulut. Kemudian dia menatap sekeliling, tiba-tiba pandangannya berhenti pada sebuah jendela kaca yang sangat besar itu. Jendela yang menghadap langsung ke kolam renang.


Fahira melihat bayi yang dilahirkannya sedang dijemur dibawah teriknya mentari pagi oleh pengasuhnya. Bayi itu tidak memakai pakaian, sangat mungil.


Fahira buru-buru memalingkan wajahnya, dia tidak ingin melihat bayi itu. Dia sangat membencinya.


"Terus?" tanya Fahira acuh.


"Beliau bertanya kenapa Nona tidak menjawab teleponnya?"


Fahira baru teringat bahwa dia belum mengecek ponselnya pagi ini. "Tolong bawakan ponselku di kamar!"


Pelayan mengangguk dan segera berlari ke kamar Fahira. Tidak lama kemudian ponsel Fahira sudah ada digenggaman pemiliknya.


Fahira membuka ponsel itu, benar saja banyak sekali panggilan telepon dari ayahnya. Kemudian ponsel itu berdering menampilkan nama ayahnya di layar. Fahira segera mengangkatnya dengan terburu-buru.


"Nak, segera berkemas! Susul Papa ke Jogja! Tiket sudah Papa pesankan, jangan dulu bertanya biar nanti di sini Papa bicara."


Pak Subagyo tidak membiarkan Fahira untuk bertanya, dia tidak sabar mempertemukan Fahira dan juga Hanun.


"Hallo Pa? Papa?" Fahira kebingungan karena ayahnya memutuskan sambungan telepon begitu saja tetapi Fahira tidak merasa heran sebab begitulah ayahnya. Jika ada sesuatu yang penting pasti dia tidak akan berbasa basi.


Fahira berdiri dan hendak pergi meninggalkan meja makan, entah mengapa dia ingin sekali menoleh ke arah kolam renang. Tetapi apa yang ingin dilihatnya sudah tidak ada. Fahira pun bergegas ke kamar untuk berkemas.

__ADS_1


Fahira merasa ini kesempatan bagus untuk keluar rumah karena beberapa bulan kebelakang dia seperti terkurung di dalam rumah. Ini kesempatan baik yang tidak akan peenah dia sia-siakan, apalagi di Jogja Fahira tidak akan mendengar tangisan bayi. Fahira tersenyum lebar.


Fahira berangkat ke bandara diantar supir sang ayah, tidak berselang lama dia sampai.


Akhirnya Fahira terbang menyusul sang ayah tanpa tahu ada sesuatu yang menunggunya di sana.


Setelah penerbangan yang cukup singkat Fahira kini sudah berada di Bandara Internasiomal Adisudjipto. Dia menunggu orang yang akan menjemputnya seperti kata ayahnya. Beberapa saat kemudian seseorang menghampirinya.


"Maaf lama menunggu." Dialah Farrel, Fahira menoleh dan menatapnya dengan sinis.


Apa jangan-jangan ini rencana bulan madu?


Fahira bergidik ngeri dibuatnya, sungguh dia menyesal datang ke Jogja jika itu alasan ayahnya.


"Mana Papa?"


"Papa ada di rumah, ayo kita harus segera pergi dari sini!" Tanpa menunggu persetujuan, Farrel menjinjing tas Fahira dan membiarkan Fahira mengikutinya dari belakang.


Setelah sampai di parkiran, Farrel berjalan menuju ke tempat motornya terparkir.


Farrel sedikit kesusahan mengeluarkan motornya dari barisan motor-motor yang lain karena saat ini tangannya masih memegang tas milik Fahira.


Fahira yang melihatnya langsung merebut tas miliknya dan berkata, "Repot amat sih Masnya." Farrel membalasnya dengan senyuman, Fahira menutar bola matanya malas. Fahira kecewa karena ternyata Farrel tidak pergi seperti dugaannya.


Setelah berhasil mengeluarkan motornya, Farrel berdiri dan mengambil helm cadangan. Saat hendak memakaikan helm itu Fahira menolaknya.


"Saya bisa sendiri, Maaf."


Farrel kembali tersenyum, hal itu membuat Fahira risih karena belum pernah dia melihat senyuman yang sedamai itu.


Eits! Batin Fahira menggeliat mengusir roh-roh jahat yang akan merasukinya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2