
Pak Subagyo dan Fahira masih berada di tempat yang sama, Pak Subagyo berusaha membangkitkan semangat anaknya. Dia tidak ingin kehilangan anaknya lagi.
"Pa ... harusnya Papa jangan mudah percaya dengan orang. Lihat aku Pa, aku orang bodoh yang terlalu percaya pada orang. Aku menyesal mempercayai bajingan itu." Fahira mengepalkan kedua tangannya amarah kembali muncul kala ingatannya tertuju pada sang mantan kekasih. Kekasih yang pintar sekali berkata-kata sehingga Fahira terbuai dan terjerumus masuk ke kubangan dosa. Kekasih yang dia percayai itu tiba-tiba menghilang setelah mengetahui Fahira hamil.
Oh sungguh ingin sekali Fahira membanting kursi ke arah wajah laki-laki biadab itu.
"Tapi dia ini berbeda Fahira, dia laki-laki yang baik dan bersedia menikahimu." Pak Subagyo kembali berbicara.
Fahira memelototkan kedua matanya karena terkejut dengan ucapan sang ayah. Penjahat macam apa lagi yang sedang mengintai mereka begitu fikirnya.
"Apa? Siapa dia? Berani-beraninya memanfaatkan situasi." Fahira sangat geram, Fahira yakin orang yang dibicarakan oleh ayahnya ini adalah orang jahat.
Pak Subagyo melihat kemarahan dimata putrinya oleh karena itu dia segera menepuk punggung Fahira pelan. "Dia bukan orang yang seperti itu, dia orang baik. Meskipun Papa baru tiga kali bertemu dengannya tapi ...."
"Apa?" Fahira memotong perkataan ayahnya karena terkejut.
"Papa bilang apa? Papa baru tiga kali bertemu dengan dia terus Papa percaya begitu saja sama dia, terus Papa ingin aku menikah sama dia. Enggak Pa, enggak akan!" Fahira berjalan dengan marah kemudian membuka pintu kamarnya.
"Sekarang Papa keluar dulu! Aku ingin sendiri."
"Dengar dulu Nak, Papa belum selesai bicara." Pak Subagyo masih berusaha melanjutkan perkataannya yang belum selesai. Namun melihat Fahira yang begitu marah Pak Subagyo mengalah, dia menuruti kemauan Fahira dan keluar dari kamar itu.
Selepas kepergian ayahnya, Fahira segera menutup pintu dan menguncinya. Fahira benar-benar merasa tidak punya harga diri sekarang. Dia kecewa pada ayahnya yang menceritakan masalah pribadi kepada orang yang baru dikenal, akhirnya situasi ini dimanfaatkan.
Fahira marah sekali. Batinnya bergejolak amarahnya menumpuk.
Siapa dia? Berani-beraninya dia. Sekali saja bertemu akan aku beri pelajaran orang itu, aku labrak habis-habisan.
*
Di tempat lain, Farrel pulang ke rumah Uwa. Seperti biasa dia langsung mencari Uwanya di dapur.
"Assalamualaikum Wa."
"Waalaikumsalam, eh anak Uwa. Sini Rel! Cobain nih kue bolu buatan Uwa." Uwa senang melihat Farrel pulang ke rumahnya.
Farrel mengambil potongan kue yang diberikan Uwa dan melahapnya sekali suap. "Emh enak Wa, baru tahu Uwa jago bikin kue."
"Ini diajarin Siti, makasih ya mantu kesayangan ibu. Berkat resep ini Ibu dipuji sama Farrel." Uwa berkata pada Siti yang baru datang ke dapur.
__ADS_1
"Ibu bisa aja, makan Rel!" Siti membalas perkataan mertuanya dengan ringan.
"Iya, nanti aku makan di sini. Eh Wa, kelihatannya seneng banget punya mantu?" Farrel mulai menggoda Uwanya.
"Ya senenglah, apalagi mantunya kayak Siti yang apa-apa sigap. Pokoknya beruntung deh Uwa." Uwa memang sangat menyayangi Siti seperti anaknya sendiri hingga tidak canggung untuk memujinya dihadapan orang lain. Sementara Siti hanya tersenyum malu-malu tanpa ingin membalas ucapan mertuanya.
"Kalau nambah mantu satu lagi, Uwa pasti tambah seneng ya?"
Uwa dan Siti menatap Farrel bersamaan seolah terkejut dengan perkataan Farrel barusan.
Sementara Farrel dengan santainya memakan kue dihadapannya.
"Maksud kamu Ahmad nikah lagi gitu?" tanya Uwa.
"Emang boleh?" Tiba-tiba Ahmad masuk dan antusias dengan topik pembicaraan di dapur saat ini tanpa sadar Siti mentapnya dengan sinis sembari mengacungkan pisau yang memang sedang dipakainya untuk mengiris bawang.
"Nikah lagi matamu ...." Farrel melempar sedikit potongan kue kepada Ahmad yang sedang kegirangan itu.
Ahmad tidak suka dengan tindakan Farrel dan hendak membalasnya tetapi setelah melihat ekspresi istrinya dia mengurungkannya dan lebih memilih mendekati Siti.
Bahaya ini bahaya bisa-bisa nanti tidur di luar. Batin Ahmad menggeliat cemas.
Farrel tertawa puas melihat adegan di depannya itu, baru kali ini Farrel melihat wajah Ahmad yang sangat pucat karena ketakutan.
"Tadi kamu ngomong apa Rel?" Seketika tawa Farrel terhenti dan menatap Uwanya yang kini tepat berada di depannya.
"Oh itu, iya aku nanya kalau Uwa nambah mantu lagi seneng gak?" kata Farrel.
"Iya maksudnya apa?" Uwa dengan tidak sabaran menunggu jawaban Farrel.
Ditatap dalam seperti itu oleh Uwanya membuat Farrel kembali pada mode seriusnya. "Tiga bulan lagi, tolong lamarkan seseorang untukku!"
Uwa terkesiap dengan ucapan Farrel, dia mengira saat ini pasti sedang bermimpi. Melihat Uwanya yang melamun Farrel mengibaskan tangannya dihadapan Uwa, "Uwa kenapa? Uwa sakit?"
Uwa tersadar dengan sedikit gemetar tangannya meraih tangan Farrel dan memegangnya erat. "Kamu gak lagi ngerjain Uwa 'kan?"
"Ya engga Wa! Masa ngerjain orang tua 'kan dosa." Farrel meyakinkan Uwanya.
"Siapa wanita itu? Dimana dia tinggal?" tanya Uwa.
__ADS_1
"Kalau itu ... aku juga belum tahu Wa. Aku langsung melamar pada ayahnya."
Hening sejenak, Uwa mencoba untuk mencerna ucapan Farrel. "Apa kamu yakin?"
Farrel mengangguk pasti, "sepertinya aku memang harus memiliki pasangan. Sofia pun pasti ingin aku melanjutkan hidup. Tiba-tiba saja kemantapan itu datang ketika aku bertemu dengan seorang ayah yang sangat menyayangi putrinya. Aku jadi membayangkan jika aku memiliki anak pasti akan melakukan hal yang sama seperti Bapak itu."
"Uwa bahagia Rel, semoga ini memang yang terbaik buat kamu." Uwa menangis haru, Farrel memeluk Uwanya dengan kasih sayang.
"Sambil nunggu tiga bulan itu, besok aku balik ke Jogja. Nah renovasi rumahku juga terus berjalan, biar setelah nikah ada rumah yang layak buat keluarga baruku."
Uwa melepas pelukannya belum pernah dia melihat Farrel merencanakan banyak hal untuk hidup kedepannya, tetapi kali ini biarpun mendadak Farrel sudah mempersiapkannya dengan matang.
Uwa tentu saja mendukung apapun keputusan Farrel sambil berharap yang terbaik untuk keponakannya itu.
Setelah makan malam Farrel berkemas untuk keberangkatannya besok pagi. Dia akan kembali bekerja setelah sekian lama berada di kota kelahirannya.
Ada banyak hal yang Farrel tinggalkan di Jogja, jadi dia akan menyelesaikannya.
Karena rumahnya sedang direnovasi jadi dia tidur sekamar dengan Reasad. Anak kecil itu sejak tadi memperhatikan Omnya yang sibuk dengan tas.
"Om, katanya mau ajak Icad."
Farrel menatap anak kecil itu kemudian duduk bersamanya di atas ranjang. "Nanti ya, kapan-kapan."
"Ah Om mah nanti-nati terus, keburu jamuran aku nunggunya." Reasad merajuk karena kesal dengan janji Farrel.
"Emangnya Icad mau jamuran? Hih Om mah gak mau, ih nanti gak ganteng lagi gimana tuh." Farrel menggoda keponakannya.
Perlahan Reasad merubah ekspresinya, "Emangnya jamuran bisa bikin jelek ya Om?"
"Bukan jelek lagi Cad, tapi berdebu," canda Farrel.
Reasad melotot dan memeluk Farrel, "enggak jadi deh gak jamuran."
"Nah gitu dong, lagian kasihan jamur dibawa-bawa mending dimakan aja enak."
Obrolan absurt itu berlanjut hingga tengah malam. Reasad tidak mau disuruh tidur dengan alasan akan rindu dengan Farrel akhirnya Farrel pun meladeninya mengobrol hingga larut.
.
__ADS_1
.