
Farrel menghela nafas, sepertinya akan sulit untuk meluruskan masalah ini.
"Bukankah tadi ayahmu bilang bahwa dia tidak membuangmu."
Hanun memalingkan wajahnya dia masih kesal kepada Farrel. "Dia pasti yang memerintah dua orang berjas hitam itu untuk membuangku di jalanan."
"Berjas hitam?" tanya Farrel.
"Ya! Asal kamu tahu aku pernah bertemu salah satu dari mereka di bengkelmu." Hanun berkata dengan menggebu-gebu mencoba menyalurkan amarahnya yang tidak tahu dia tujukan untuk siapa.
"Tunggu!" Farrel nampak berfikir sejenak kemudian berkata kembali, "apa jangan-jangan ada orang yang sengaja memisahkanmu dengan ayahmu, soalnya ayahmu orang yang sangat sukses dalam pekerjaannya."
"Aku tidak peduli."
"Tadi kamu bilang, kamu bertemu orang dimasa lalumu itu di bengkelku? Yang mana orangnya?" Farrel sepertinya mulai menemukan titik terang.
"Saat itu ketika aku pernah pingsan di bengkelmu."
Farrel kembali mengingat, oh mungkinkah?
"Hanun dengarkan aku! Aku akan membantumu mengungkap semua ini. Tenangkan dirimu dan berdamailah dengan situasi ini." Setelah mengatakan hal itu Farrel berpamitan pergi dari rumah Hanun.
Sepeninggal Farrel, Hanun menatap Inda dengan kesedihan. "Liat dia In! Lagaknya udah kayak detektif."
"Farrel benar, Nun. Kamu jangan membiarkan dirimu dikendalikan oleh amarah. Kamu harus mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan. Aku akan selalu ada di sampingmu."
Inda menggenggam tangan Hanun mencoba untuk memposisikan dirinya sebagai teman yang baik.
*
Sementara itu, Farrel pergi ke bengkelnya. Kartino dan Suryo serta pekerja yang lain merasa heran dengan kedatangan Farrel yang sangat mendadak.
"Loh Bos udah balik lagi?" tanya Kartino.
Farrel hanya mengangguk menjawab pertanyaan Kartino, dia masuk ke dalam bengkel dan berjalan menuju meja yang biasa dia pakai untuk menyimpan banyak catatan.
Farrel mulai membuka satu persatu kertas serta buku besar yang ada di sana.
"Cari apa Bos?" Suryo datang menghampiri.
__ADS_1
"Kamu tahu garasi tempat truk yang waktu itu lama tidak diambil?"
"Maksud Bos yang diambil sama Ferdi?"
Farrel menatap Suryo dia penasaran siapa Ferdi. "Tamu yang waktu itu namanya Ferdi? Yang katanya sekarang dioper ke luar daerah itu Ferdi?"
Suryo mengangguk dan berkata, "Setauku Ferdi memang yang waktu itu mengambil truk, dia bekerja untuk angkutan ekspedisi ke gudang-gudang minimarket."
"Beritahu aku dimana alamat garasinya?" Farrel mendesak dia melihat sedikit penerangan dari gelapnya kasus ini.
"Sebentar ... Sepertinya ada di sini." Suryo membuka laci yang ada di meja itu dan mencari secarik kertas. Setelah kertas yang dicari Suryo temukan, Suryo memberikannya kepada Farrel.
Secepat kilat Farrel mengambilnya setelah mengetahui alamat tersebut Farrel bergegas pergi. Farrel meminjam motor Kartino untuk menuju ke sana.
Mungkin ini sudah digariskan dalam perjalanan hidupnya. Semua ini bukan kebetulan belaka, Tuhan punya rencana yang digariskan kepada setiap manusia. Bahkan saat keterpurukan terjadi, yakinlah bahwa semua itu ada akhir yang bisa kita maknai hikmahnya.
Farrel memberhentikan motornya di depan sebuah tempat yang diyakininya sebagai garasi yang dicarinya. Cuaca yang terik siang itu tidak dihiraukannya, sebenarnya badan Farrel benar-benar lelah, tetapi dia sudah bertekad untuk membantu Pak Subagyo mencari kebenaran.
Truk-truk berjejer rapi memenuhi tempat yang seperti lapangan. Ada pula hilir mudik dan keluar masuk truk yang dilihat Farrel.
Seseorang tiba-tiba menghampirinya. "Kayak kenal?"
"Wah Pak Farrel 'kan? Yang punya bengkel per di jalur selatan?"
Farrel mengangguk, "alhamdulillah ada yang saya kenal, tadinya saya bingung mau tanya siapa di sini." Farrel tertawa kecil.
"Kebetulan sekali ya, omong-omong ada urusan apa nyasar ke sini?" Supir itu bertanya dengan nada bercanda.
Farrel memperhatikan sekeliling meski sambil menyipitkan kedua matanya karena terik matahari yang seakan tengah berada di titik paling panas saat itu. "Saya cari seseorang."
"Siapa?"
"Ferdi namanya, saya ada urusan." Farrel menjawab sambil menyeka keringat yang mulai mengucur di dahinya.
"Ferdi? Dom ... Dom, tahu yang namanya Ferdi gak di sini?" Supir itu bertanya ke temannya yang kebetulan lewat di depannya.
Pria yang dipanggil Dom itu sedikit berfikir kemudian berkata, "Mungkin si Afer. Dia 'kan nama aslinya Ferdi."
"Oh, terimakasih ya." Supir yang bertanya itu kemudian kembali menatap Farrel.
__ADS_1
"Maklum ya soalnya di sini semua supir punya nama samaran, jadi agak bingung kalsu ada yang nyebut nama aslinya."
Farrel tersenyum.
"Kalau si Afer yang dimaksud ... Dia kemarin habis bongkar di Lindomarko, itu loh gudangnya minimarket Lindomart. Mungkin sekarang masih di sana karena biasanya kita nunggu surat jalan dulu kalau mau ngirim barang lagi ke tempat lain. Denger-denger si Afer ngambil dua kali jalan dalam satu waktu. Coba aja ke Lindomarko dulu cari. Memangnya ada apa nyari si Afer?"
Farrel mendengarkan penjelasan dari supir itu, "saya ada urusan dengan dia."
"Kalau urusannya soal hutang atau bon waktu ke bengkel bisa langsung ke manager kita, kebetulan sedang ada di dalam."
"Oh tidak, ini urusan pribadi. Terimakasih atas informasinya, nanti saya kasih diskon kalau ke bengkel. Assalamualaikum."
Farrel pun pergi meninggalkan garasi itu tujuannya adalah gudang barang yang disebutkan oleh supir tadi. Mata Farrel sudah berkunang-kunang di bawah teriknya matahari tetapi dia harus segera menyelesaikan ini semua.
*
Beberapa saat kemudian Farrel tiba disebuah gudang barang yang bertuliskan Lindomarko. Tidak salah lagi ini tempatnya, dia memarkirkan motornya di tempat parkir. Kemudian bertanya pada satpam yang kebetulan ada di sana. Keberuntungan kali ini berpihak padanya, orang yang dimaksud Hanun memang berada di sana. Dia sedang duduk di atas kemudi truk sambil mengipasi badannya dengan topi.
Farrel berjalan menghampirinya.
"Assalamualaikum."
Orang yang bernama Ferdi itu memperbaiki duduknya supaya lebih tegak. Dia memandang ke arah Farrel dan menjawab salamnya.
"Loh, Anda 'kan pemilik bengkel per?"
Farrel mengangguk, "ada hal penting yang ingin saya bicarakan tapi ... Apa bisa Anda ikut saya?"
Ferdi mengerutkan keningnya penasaran, "hal penting apa?"
"Anda tahu gadis yang waktu itu pingsan di bengkel saya?"
Ferdi mencoba mengingat kemudian menganggukkan kepalanya. "Ada hal penting yang perlu diluruskan tentang gadis itu dan itu berhubungan dengan Anda."
Ferdi tidak mengerti dengan maksud Farrel namun karena rasa penasarannya akhirnya dia mau ikut bersama Farrel. Dia meninggalkan truknya di gudang itu dan pergi bersama Farrel menaiki motor.
Setelah setengah jam perjalanan, Farrel tiba di rumahnya. Dia mempersilahkan masuk Ferdi kemudian mencari mertuanya yang kebetulan sedang bersama Fahira di dalam kamar.
Pak Subagyo akhirnya keluar kamar dan terkejut melihat siapa yang ada di hadapannya saat ini.
__ADS_1