
Dokter muda itu menatap Hanun kemudian bertanya, "apa yang dirasakan sebelum pingsan?"
"Sakit kepala, Dok." Hanun berkata sembari menatap tagname yang melekat di baju Dokter itu."
Terlihat nama Arseno di sana. Kemudian Hanun melihat wajah sang dokter yang terlihat bersahaja meski masih muda.
"Sudah sering atau baru kali ini?" tanya Dokter Arseno lagi.
"Lumayan, tapi sakitnya muncul kalau ...." Hanun tiba-tiba menghentikan ucapannya, dia melirik ke arah Farrel yang sejak tadi menguping di sampingnya.
"Kalau?" Dokter Arseno menaikkan satu alisnya tanda tidak sabar dengan jawaban Hanun.
"Kalau saya teringat sesuatu," kata Hanun cepat.
"Sesuatu? Seperti apa?" tanya Dokter Arseno.
"Masa lalu ... sepertinya kalau saya ingat masa kecil saya disitu kepala saya sakit." Hanun tidak ragu-ragu lagi dia sekarang ingin tahu apa penyebab sakit kepala yang dideritanya ini.
Dokter Arseno nampak mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian menyuruh Hanun beristirahat dan mengajak Farrel ke ruangannya.
Setelah tiba di ruangan Dokter Arseno, Farrel duduk berhadapan dengan sang dokter.
"Apa Anda saudaranya?"
Farrel menggelengkan kepalanya, "saya temannya."
"Nona Hanun menunjukkan gejala amnesia. Apa Anda tahu keluarganya?"
Lagi-lagi Farrel menggelengkan kepala. Dokter Arseno meraup udara lebih banyak kemudian menghembuskannya perlahan. "Kalau begitu tolong sampaikan ke keluarganya atau tanyakan mungkin saja Nona Hanun pernah terjatuh atau semacamnya. Saya tidak berani bertanya lebih jauh karena kondisinya rentan, sakit kepalanya bisa datang kapan. Saya sarankan Nona Hanun untuk melakukan perawatan di rumah sakit yang lebih besar agar diagnosisnya lebih tepat. Untuk saat ini saya akan memberikan resep pereda nyeri saja, nanti ditebus di apotik."
Setelah mencorat-coret secarik kertas, Dokter Arseno menyerahkannya pada Farrel.
*
Hanun sudah boleh pulang, setelah menebus obat Farrel mengantarnya pulang. Sementara motor Hanun disimpan di bengkel milik Farrel.
"Kata Dokter kamu harus periksa ke rumah sakit." Farrel membelah kesunyian di atas motor.
"Kenapa rumah sakit? Ini 'kan udah ada obat," kata Hanun.
"Katanya kamu bisa aja lagi amnesia." Tiba-tiba Hanun tertawa dan menepuk punggung Farrel berkali-kali.
__ADS_1
"Penyakit apaan itu? Kayak pernah denger di sinetron."
"Ini serius Nun! Kamu jangan nyepelein penyakit kamu!" Hanun terdiam, dia baru menyadari bahwa dia tidak mengingat kejadian sebelum dia ditinggalkan di lampu merah itu. Kenapa dia bisa bersama dua orang berjas itu? Hanun tidak ingat.
"Aw." Nyeri dikepala Hanun sedikit terasa lagi.
Farrel yang mendengar itu langsung berkata, "sudah jangan diingat-ingat dulu!"
Hanun mengangguk meski Farrel tidak melihatnya, kemudian dia baru ingat tamu Farrel yang memiliki wajah sama persis dengan salah satu pria berjas yang selalu menghantuinya.
"Tamu tadi siapa?" Hanun berkata sangat pelan, meski begitu Farrel masih bisa mendengarnya.
"Tamu?"
"Iya yang tadi di bengkel."
"Oh itu supir yang mau ambil truk." Farrel menjawab apa adanya.
"Apa dia sering ke bengkel?" tanya Hanun.
"Jarang sih, dia supir luar kota jadi gak menetap disatu tempat. Emangnya kenapa?"
Farrel tidak melanjutkan pertanyaannya karena merasa Hanun hanya mencari topik pembicaraan dengannya.
Setelah beberapa menit berkendara, mereka sudah tiba di depan sebuah rumah sederhana yang merupakan rumah kontrakan Hanun. Ada tiga pintu berjejer menandakan ada tiga rumah yang berdempet.
Hanun turun dari motor Farrel.
"Terimakasih."
Farrel hanya mengangguk sambil membenarkan helmnya, "kapan pindah ke sini?"
"Sejak dikasih pesangon yang gede sama pemilik bengkel per," jawab Hanun. Farrel menatapnya sekilas.
"Bagus deh, ini lebih layak daripada rumah kamu yang kemarin. Eh iya, sebaiknya kamu ajak Inda tinggal di daerah sini. Teman kamu gak bisa milih tempat kasihan." Farrel menyalakan mesin motornya tanpa menunggu Hanun berbicara. Dia berpamitan kepada Hanun dan menjalankan motornya meninggalkan Hanun.
Ada sedikit rasa tidak suka ketika Farrel membahas Inda di depannya tetapi Hanun abaikan dan membenarkan ucapan Farrel. Hanun akan mengajak Inda pindah karena tepat di samping rumahnya masih ada yang kosong.
*
Hanun masuk ke dalam rumahnya kemudian menutup pintu. Dia duduk di sebuah kursi yang ada di rumahnya kemudian kembali mengingat tamu Farrel.
__ADS_1
"Siapa Bapak itu? Apa benar dia orangnya? Apa dia tahu masa laluku?"
Hanun menggelengkan kepalanya kemudian ada suara ketukan pintu di luar. Hanun menoleh dan heran siapa yang datang. Dia memutuskan untuk segera membuka pintu.
Setelah pintu terbuka, nampaklah seorang pria gondrong di hadapannya. Tato memenuhi sebagian tangannya, Hanun terlonjak kaget sedetik kemudian memeluk sosoj itu dengan erat.
"Bang Dodo ... Bang." Hanun menangis di pelukkan Dodo.
Setelah tenang, Hanun melepas pelukannya dan mengajak Dodo masuk ke dalam.
"Sudah enak ya rupanya hidup kamu." Ucapan Dodo menghentikan langkah Hanun.
"Abang duduk dulu!" Hanun menunjuk satu kursi yang tadi didudukinya. Dodo hanya melirik sekilas kursi itu tanpa berniat untuk mendudukinya.
"Ternyata memang benar, hidup kamu akan jauh lebih baik tanpa Abang."
Hanun berbalik menatap Dodo yang sedang menunduk, ini tidak seperti Dodo yang Hanun kenal. Hanun melihat wajah sendu Dodo di sana.
"Abang ngomong apa sih? Aku mau tahu kapan Abang bebas?"
"Sudah tiga minggu yang lalu."
Hanun terkejut, "itu udah lama. Maaf aku jarang datang jenguk Abang."
"Karena sebaiknya memang kita gak usah bertemu lagi." Perkataan Dodo bagaikan petir menyambar bagi Hanun.
"Apa sih Bang? Abang kenapa? Abang mau minum?" Hanun mulai gugup dan takut. Sungguh jika diharuskan memilih, Hanun lebih memilih Dodo yang sangar dan galak daripada Dodo yang mendadak jadi sadboy seperti ini.
"Abang minta maaf Nun, selama kamu hidup dengan Abang hidup kamu menderita. Abang bahkan menjerumuskanmu pada kejahatan."
Tidak terasa air mata Hanun meluncur deras, dia mengambil lengan kakaknya dan menatapnya tidak kalah sendu. "Abang jangan ngomong kayak gini! Aku gak suka! Abang adalah abang aku, selamanya begitu. Abang kenapa tiba-tiba mau ninggalin aku Bang? Abang benci sama aku? Abang boleh pukul aku, jambak aku lagi Bang. Tapi jangan kayak gini!"
Bukannya memukul atau menjambak, Dodo malah merangkul Hanun dan mengusap kepalanya. "Kamu udah gede, udah bisa hidup tanpa Abang. Maafin sikap Abang kemarin, satu yang harus kamu tahu Abang sangat menyayangimu seperti adik kandung Abang sendiri. Kamu adalah satu-satunya alasan Abang masih hidup di dunia ini. Selama dalam penjara Abang banyak merenungi hal ini dan memang benar lebih baik kita hidup terpisah. Abang minta maaf karena membesarkanmu dengan kekerasan. Adik kecil manisnya Abang. Abang pamit."
Dodo melepas tangan Hanun yang mencengkramnya kuat, Dodo pergi meski Hanun meraung dan mengejarnya. Dodo yakin ini yang terbaik untuk Hanun.
.
..
.
__ADS_1