
Pak Subagyo terkejut melihat Ferdi berada di rumah Farrel. Pak Subagyo berjalan menghampiri Ferdi yang sedang salah tingkah saat ini. Dia menggaruk tengkuknya sambil memalingkan wajah kesana kemari. Ferdi tidak tahu kalau Farrel akan membawanya bertemu dengan Direktur di perusahaan tempatnya bekerja dulu.
Farrel datang sembari membawa minuman untuk dua orang yang belum bertegur sapa itu. Mereka masih sama-sama kebingungan, apalagi Pak Subagyo. Pak Subagyo tidak mengerti mengapa Farrel membawa mantan pegawainya yang dulu dia pecat ke rumahnya.
"Mari kita duduk!" Farrel mengajak dua orang yang masih berdiri itu untuk duduk.
Pak Subagyo mengamati wajah Ferdi yang masih belum berubah. Bahkan ketika dulu dia memecatnya karena terbukti memanipulasi penjualan alat-alat medis ke rumah sakit.
"Papa tidak mengerti, ada apa ini Rel? Dimana kamu mengenal dia?" Pak Subagyo sungguh-sungguh tidak paham saat ini.
"Apa Papa mengenalnya?"
Pak Subagyo mengangagguk kemudian menatap Ferdi, "dulu dia bekerja di perusahaan Papa tapi dia korupsi."
"Tidak Pak! Sudah saya katakan dari dulu kalau saya tidak melakukan manipulasi itu." Ferdi dengan cepat menyanggah tuduhan Pak Subagyo.
Pak Subagyo tersenyum kecut.
"Semua bukti mengarah padamu, sudahlah percuma dibahas. Ada apa ini sebenarnya Rel?"
Sebelum Farrel menjawab tiba-tiba Fahira datang dan langsung berlari ke arah ayahnya. Dia terkejut melihat orang yang membawa Jahira pergi dulu ada di sini.
"Papa dia orangnya Pa. Dia orangnya."
Pak Subagyo menangkup wajah Fahira yang sayu karena dari tadi hanya menangis karena bertemu kembali dengan saudaranya.
"Orangnya apa, Nak?" Pak Subagyo dapat merasakan tubuh Fahira yang bergetar seperti sedang ketakutan.
"Dia orang yang membawa Jahira pergi."
"Apa?" Mata Pak Subagyo membulat sempurna dia tidak menyangka ada orang yang sengaja melakukan hal itu kepadanya. Sejurus kemudian Pak Subagyo bangkit dan mendekati Ferdi dia mencengkeram kaos yang dipakai oleh Ferdi.
"Jadi kamu yang punya niat jahat pada saya. Apa maksudnya? Jawab! Kamu ingin apa? Ingin apa?"
__ADS_1
Farrel berusaha menenangkan Pak Subagyo yang mulai tidak terkendali dia menahan pergerakan lelaki tua itu dan menjauhkannya dari Ferdi yang kini sudah duduk bersimpuh di bawah kursi.
"Maafkan saya Pak, sebenarnya ada orang yang menyuruh saya." Ferdi merekatkan kedua tangannya dan memohon untuk dimaafkan.
Pak Subagyo tidak habis fikir kenapa Ferdi melakukan hal itu padanya, jika karena dendam tapi dendam apa. Pak Subagyo memecat Ferdi jauh sesudah kejadian Jahira hilang terjadi. Jadi apa sebenarnya alasan Ferdi? Pak Subagyo semakin marah tetapi Farrel berusaha menenangkannya.
"Istighfar Pa! Mari kita bicarakan baik-baik agar semuanya jelas."
Amarah Pak Subagyo berangsur-angsur reda, dia mendengarkan Farrel dan duduk kembali bersisian dengan Fahira yang tidak hentinya menangis.
"Coba ceritakan semuanya Pak Ferdi, agar menjadi jelas!" Farrel mencoba menengahi dan membiarkan Ferdi berbicara agar semuanya tuntas.
"Pak Satria yang menyuruh saya."
Pak Subagyo menatap Ferdi dengan penuh pertanyaan dibenaknya. Kenapa Satria dibawa-bawa?
"Pak Satria mengincar posisi Bapak sebagai direktur, dia melakukan segala cara untuk membuat Anda terpuruk. Dia fikir setelah Bapak kehilangan anak, Bapak akan hancur. Nyatanya Bapak mampu tegar walau saya tahu Bapak sangat terpukul. Saya sangat merasa bersalah."
"Setelah beberapa bulan anak Bapak hilang, saya sudah coba untuk mencarinya. Saya pergi ke jalanan tempat saya meninggalkan anak Bapak tetapi saya tidak menemukannya." Ferdi menunduk menahan penyesalan yang kini mulai memyesakkan dadanya.
Mendengar hal itu Pak Subagyo merasa sangat sedih dan murka. "Bagaimana mungkin kamu tega meninggalkan anak sekecil itu di jalanan? Dimana hati kamu? Dimana?"
Pak Subagyo menangkup wajahnya dia tak kuasa menahan air mata dan juga emosi dijiwanya manakala membayangkan bagaimana Jahira kecil hidup terlunta-lunta di jalanan. Oh sungguh hatinya perih mengetahui fakta ini.
"Saya menyesal Pak, saya menyesal." Ferdi menunduk dalam dia benar-benar merasa menyesal atas perbuatannya.
Beberapa saat hanya terdengar isakan tangis di sana. Fahira dan Pak Subagyo larut dalam kesedihan. Mereka sangat sedih mendengar bagaimana Ferdi meninggalkan Jahira di jalanan.
Tiba-tiba Pak Subagyo mengambil ponselnya dan menelepon Yunus yang tadi pagi dia suruh pulang. Pak Subagyo meminta Yunus untuk mengecek data-data perusahaan terutama di manajemen pemasaran tempat Satria menjabat sebagai manajer.
Pak Subagyo akan mengusut tuntas hal ini, jika memang terbukti ada kecurangan dia tidak akan segan memecat Satria.
Bagaimana mungkin Pak Subagyo akan melepaskan Satria begitu saja setelah apa yang dilakukannya. Satria akan membayar semuanya, begitulah tekad Pak Subagyo.
__ADS_1
"Satu lagi Pak." Ferdi kembali berbicara setelah beberapa saat diam. Membuat semua yang ada di sana melihat ke arahnya.
"Bapak harus tahu, bahwa saya difitnah. Saya tidak pernah memanipulasi apapun. Itu perbuatan Satria, dia marah karena saya akan memberitahukan semua ini pada Bapak. Sebelum itu terjadi dia membuat trik agar saya terlihat seolah-olah mencurangi perusahaan. Sehingga saya pergi dari perusahaan dan dia merasa bebas."
Pak Subagyo tidak memberikan respon apa pun dia masih tidak menyangka bahwa orang-orang terdekatnya tega melakukan ini padanya.
*
Hari menjelang sore, Farrel baru saja tiba di rumah setelah mengantarkan Ferdi kembali ke gudang. Pak Subagyo sudah memaafkan Ferdi walaupun tidak ingin melihat wajahnya lagi. Pak Subagyo kini hanya berfikir bagaimana caranya meluluhkan Jahira. Dia ingin membawanya pulang dan menggantikan masa-masa kecilnya yang hilang dengan kebahagiaan.
Pak Subagyo sedang termenung di sofa, Farrel pun mendekatinya.
"Semua ini serba mendadak Rel, Papa bahkan lupa caranya bernafas dengan baik karena kejutan-kejutan ini."
Farrel paham dia mengusap punggung Pak Subagyo sebagai bentuk dukungan.
"Farrel ...." Pak Subagyo menyebut nama Farrel sehingga membuat si empunya menoleh.
"Terimakasih sudah datang di kehidupan Papa, berawal dari kamu akhirnya semua terungkap. Kamu adalah berkah yang dikirimkan Tuhan untuk menolongku."
"Papa jangan berlebihan, ini semua sudah ditakdirkan Tuhan. Kita memang sudah seharusnya bertemu dan berjodoh." Farrel tersenyum hangat sembari menatap mertuanya.
"Rel, Papa minta tolong sekali lagi. Kamu mau mengabulkannya?"
Farrel mengangguk sungguh-sungguh.
"Papa ingin kamu menjaga Fahira, menjadikannya istrimu seutuhnya. Tolong sayangi dia dan lindungi dia! Sesungguhnya Fahira anak yang baik tetapi karena pertemuannya dengan orang itu membuat Fahira terjerumus dalam dosa. Papa mohon kamu bisa mengabulkan permintaan Papa. Tolong bimbing dia agar menjadi istri dan ibu yang baik untuk anaknya."
Pak Subagyo menyeka air matanya yang tiba-tiba mengucur deras. Farrel mengerti dan menganggukkan kepalanya tanda bahwa dia sanggup menerima amanat ini.
.
.
__ADS_1