
Sudah dua hari Rulli berkeliling kota Jogja untuk mencari pekerjaan. Namun sampai detik ini pekerjaan itu tak kunjung dia dapat. Itu semua karena ulahnya sendiri, kebanyakan dari toko maupun pedagang-pedagang sudah mengenal Rulli. Biasanya Rulli dan teman-temannya selalu datang untuk meminta jatah keamanan walau mereka tahu yang mengancam keamanan itu mereka sendiri.
Sekarang disaat Rulli bersungguh-sungguh ingin berubah mereka semua memandangnya sebelah mata bahkan tidak sedikit yang mencibir.
"Beraninya keroyokan kalau lagi sendiri begini kayak kucing yang kelaparan. Pergi!"
Entah sudah berapa kali Rulli mendapat cacian seperti ini namun dia terima. Mungkin ini sedikit sanksi sosial yang harus dia terima.
Rulli berhenti di halte bus, dia mengistirahatkan dirinya yang sudah lelah. Ternyata mencari yang halal tidak semudah mencari yang haram. Dimana yang haram selalu menyenangkan dan yang halal perlu perjuangan.
Rulli menatap setiap kendaraan yang lewat di depannya, dia kini bingung harus mencari pekerjaan seperti apa? Rulli hanya memiliki tenaga, dia sama sekali tidak berpendidikan.
Sudah cukup Rulli merenung, disaat itu dia melihat sebuah bengkel yang penuh dengan truk-truk besar. Langkahnya terayun menuju bengkel itu.
Rulli berhenti di depan bengkel itu, di sana nampak kesibukkan layaknya suasana bengkel. Pakaian mereka hitam dan lusuh tanda mereka bekerja dengan sungguh-sungguh.
Rulli berjalan menghampiri seseorang yang tengah sibuk memasang dongkrak.
"Permisi ...." Rulli ragu untuk menyapa, bermodalkan tekad dan menahan malu Rulli tersenyum.
Orang itu menatap Rulli dan bertanya, "iya? Kenapa?"
"Maaf menggangu, mm apa ada lowongan pekerjaan di sini?" Rulli berkata sesopan mungkin.
Orang yang diajak bicara oleh Rulli itu menatapnya dari atas sampai bawah seperti sedang menilai kemudian dia berteriak memanggil temannya. "Yo! Suryo! Kemari sebentar!"
Ya, langkah Rulli ternyata membawanya ke bengkel milik Farrel.
Suryo keluar dari dalam bengkel menghampiri Kartino yang memanggilnya. "Ada apa, No?"
"Ini ... Katanya nyari kerjaan." Kartino menunjuk Rulli dengan dagunya. Suryo kemudian menatap Rulli dia menjabat tangan Rulli dan mengajaknya masuk ke dalam.
"Tunggu di sini! Sebentar saya telepon Bos dulu, kebetulan Bos lagi mudik."
Rulli hanya mengangguk, dia kemudian duduk di kursi yang disediakan Suryo. Matanya menatap sekeliling, semua orang di sana tidak ada yang diam mereka sibuk dengan pekerjaan mereka.
Sementara Suryo mencoba menghubungi Farrel. Tidak butuh waktu lama, telepon pun tersambung.
"Assalamualaikum, kenapa Yo?"
__ADS_1
"Waalaikumsalam begini Bos, ada orang yang nyari kerjaan. Aku fikir kita memang butuh tambahan pekerja. Kami keteteran Bos."
"Gimana baiknya aja, Yo. Saya percaya sama kamu. Besok saya berangkat ke Jogja. Untuk hari ini kamu handle aja semuanya."
*
Setelah selesai menelepon Farrel, Suryo kembali menemui Rulli.
"Kamu boleh bekerja di sini."
Rulli mengangkat kepalanya dan tersenyum bahagia. Akhirnya dia bisa mendapatkan pekerjaan. Rulli pun bersedia langsung bekerja hari itu juga dibawah bimbingan Suryo yang mengajarinya.
*
Farrel masih mengotak-atik ponselnya setelah selesai menerima telepon dari Suryo. Dia duduk di sofa ditemani bayi laki-laki imut yang kini tidur di sampingnya.
"Kamu besok ke Jogja?" Tiba-tiba saja Fahira keluar dari kamar dan bertanya kepada Farrel. Fahira sempat menguping pembicaraan Farrel ditelepon.
Farrel mengangguk dan menyimpan ponselnya kemudian mengelus pipi bayi di sampingnya.
"Minta duit!" Fahira menengadahkan tangannya di depan Farrel.
Farrel menatap tangan Fahira kemudian menatap wajahnya. "Nanti aku transfer."
"Kamu butuh buat apa?" tanya Farrel.
Fahira memutar bola matanya jengah, dia sudah menduga Farrel adalah orang yang pelit atau mungkin Farrel tidak memiliki uang.
"Jangan nanya buat apa deh! Susu si Adam terus bedak aku udah mau habis. Jangan bilang kamu gak mampu buat menuhin itu semua! Makanya jangan sok-sokan mau nanggung hidup aku deh. Hidup aku tuh mahal."
Farrel tersenyum membuat Fahira kesal dibuatnya, "jangan senyum! Gak ada yang lucu di sini."
"Ayo!" Farrel tiba-tiba berdiri dan berjalan keluar rumah. Fahira melongo dibuatnya, ayo kemana maksudnya?
Fahira terpaksa mengikuti Farrel setelah pengasuh Adam pulang dari warung. Dia menghampiri Farrel yang sudah berada di dalam mobil dan menyalakan mesinnya.
"Masuk!" Farrel membuka pintu mobil mempersilahkan Fahira untuk masuk.
"Mau kemana sih?" tanya Fahira.
__ADS_1
"Tadi katanya mau belanja, hayu! Biar Adam sama Sus dulu. Kasihan lagi tidur."
Fahira ragu-ragu untuk masuk, niat hati hanya ingin menguji tetapi Farrel menanggapi. Ah tetap saja, Farrel itu tipe orang yang pelit. Buktinya dia memilih untuk ikut berbelanja ketimbang memberikannya uang.
"Kenapa?" Pertanyaan Farrel yang mendadak membuat Fahira kelabakan sepertinya dia terciduk tengah melihat ke arah Farrel dengan tatapan menyelidik.
Fahira tidak mau kehilangan harga dirinya, dia memperbaiki posisi duduknya dan berdehem menetralkan rasa terkejutnya.
"Sebenarnya apa sih mau kamu sebenarnya? Tiba-tiba nikahin aku." Fahira bersedekap dada.
Farrel tertawa kecil melihat tingkah Fahira kemudian berkata, "perasaan aku udah pernah bilang ya. Jadi stop mempertanyakan itu, yang terpenting sekarang kita jalani semua ini mengalir saja."
Enak bener dia ngomong, di sini selalu aku yang merasa dipungut. Huh.
Fahira menatap lurus ke depan lalu menarik nafas dalam. "Lalu Sofia? Apa kamu tidak merasa bersalah padanya? Kelihatannya kamu cinta mati sama dia."
"Itu bukan urusan kamu." Kalimat Farrel yang menohok mampu membuat Fahira bungkam. Fahira tahu betapa besar Farrel mencintai wanita itu.
Obrolan itu diakhiri dengan saling diam, Farrel dan Fahira bergelut dengan pikirannya masing-masing. Hingga roda mobil berhenti di sebuah pusat perbelanjaan yang tidak terlalu besar.
Farrel keluar lebih dulu diikuti Fahira yang membuntutinya dari belakang. Mereka nampak seperti dua orang asing yang tidak saling mengenal.
"Kamu mau beli apa dulu?" tanya Farrel.
Tanpa berkata, Fahira berjalan mendahului Farrel. Fahira memasuki sebuah tempat yang menyediakan berbagai macam keperluan bayi.
Farrel mengerti dia tidak bertanya lagi dan memilih mengikuti Fahira yang mulai memasukkan beberapa dus susu bayi untuk Adam.
*
Setengah jam berlalu, Fahira sudah selesai berbelanja keperluan Adam. Kini saatnya dia mencari skincare untuk dirinya. Fahira lagi-lagi ingin menguji Farrel, apakah sanggup pria yang berpredikat sebagai suaminya itu memenuhi segala kebutuhannya?
Fahira tersenyum miring ketika mendapati Farrel sedang menggelengkan kepalanya karena melihat keranjang yang dibawa Fahira sudah penuh dengan berbagai maca alat make up.
Kena kau.
Fahira tertawa jahat dalam hati dan merasa puas melihat ekspresi wajah Farrel.
Namun sorak bahagia itu tidak berlangsung lama, Fahira melihat sesuatu yang membuatnya membatu dan tidak bergerak sama sekali.
__ADS_1
.
.